Reaching Dream Bag. 18: Kau, Calon Ilmuwan Sosial

Agak sia-sia jika kau sudah memutuskan melanjutkan sekolah (dalam kasusku, di magister sains psikologi), tetapi tidak sadar atau tidak sedikit pun memiliki gambaran bahwa kau akan menjadi ilmuwan di masa depan. Menjadi seorang ilmuwan berarti menjadi orang yang hidup untuk mengetahui, yang sedikit banyak lebih mengerti tentang apa yang telah, sedang, dan akan terjadi, menjadi tempat bertanya orang-orang yang kurang mengerti, membantu orang-orang untuk mengerti, dan memberikan saran-saran yang dibutuhkan untuk perbaikan.

Ilmuwan atau ulama adalah salah satu peran yang esensial dalam kehidupan masyarakat manusia. Jika kau perhatikan, pengetahuan adalah sumber kekuatan, yang ditetapkan oleh Tuhan. Allah berfirman, “… Allah akan Meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” QS Al-Mujadilah 58: 11. Kekuatan ilmu adalah salah satu daya yang dibutuhkan untuk mengubah diri sendiri dan mengubah masyarakat, demi mencapai kondisi yang baik dan lebih baik lagi. Bersama dengan ilmu, ada kuasa untuk berbuat, ada kepemimpinan untuk mengarahkan dan menjaga orang-orang agar tetap berada di jalur yang benar.

Aku selalu berusaha ingat sabda Nabi Muhammad, Tegaknya suatu negara dengan adanya empat perkara: ilmu para alim ulama, keadilan para pemimpin, kemurahan hati  orang kaya, dan doa rakyat jelata yang miskin.” Dari situ aku mengerti, ilmuwan atau ulama adalah unsur esensial dalam sistem sosial manusia, yang mana jika itu korup, hancurlah kehidupan. Aku merenungkan, posisi ilmuwan sama seperti posisi pemimpin. Itu bukan jenis pekerjaan, sehingga pada dasarnya menjadi ilmuwan atau pemimpin tidak ternilai dengan uang. Aku membandingkan, sama-sama memiliki kapasitas ilmu, tidak semua peneliti, dosen, atau guru adalah ilmuwan; tetapi ilmuwan, dia meneliti, belajar, mengajar, dan mendidik dirinya sendiri dan orang-orang, maka ia bisa menjadi apa saja, dalam bentuk apa saja. Dan, di antara bermacam-macam apa saja itu, ada satu yang menyamakan.

Sikap hidup.

***

Aku memasuki kampus keduaku dengan satu tujuan yang sebelumnya tidak pernah aku punya. Memahami sikap hidup para ilmuwan; apa yang berhasil diberikan oleh waktu, pengalaman, dan perjuangan kepada mereka, para guruku. Di samping semua kuliah yang aku dapatkan dari mereka, satu yang tidak akan aku lupakan adalah “cahaya” yang mereka berikan, yang menyinari pemahamanku yang semula gelap tentang apa aku seharusnya menjadi sehingga aku punya dasar dan acuan untuk mengembangkan diri.

Aku melihat dan mendengarkan mereka. Mereka semua tak lagi muda, tetapi dulu pernah muda. Mereka telah mencapai gelar akademik tertinggi, tetapi dulu pernah juga duduk sama seperti aku. Mungkin mereka pernah terkungkung idealisme-idealisme, lalu mendobrak batas-batas dan lahir kembali sebagai diri sendiri? Pernah melakukan kesalahan-kesalahan dan tersesat tak tahu harus bagaimana? Pernah hanya tahu mimpi, baru setelah bertahun-tahun memahami realita? Pernah berada dalam dunia yang sempit lalu sadar bahwa sesungguhnya ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan?

Entahlah. Aku tersenyum saja. Sesungguhnya aku sedang berusaha mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan hidupku dalam diri mereka. Hidup itu memang begini. Yang membuatmu terus hidup adalah pencarian-pencarianmu. Sebelum itu berakhir, kau tak akan mati sampai Allah menghendakimu mati.

1# Dermawan ilmu, bukan penjual ilmu

Ini yang paling aku ingat dari dosen Kepemimpin Strategik-ku. Itu yang membuatku meyakini, biarkan Allah yang membalas. Kau yang berusaha memelihara hidup orang lain, memudahkan hidup orang lain, semoga Allah memelihara kehidupanmu dan memudahkan hidupmu. Sampai mati mungkin aku tak akan paham bagaimana mekanismenya bahwa aku tak akan mati dengan sikap tak takut miskin ini, tapi itulah yang aku tanamkan dan niatkan. Bagaimana kau percaya bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Memelihara mungkin tak butuh kekuatan rasio yang besar.

Aku tahu rasanya tak sanggup membeli buku, bisa memahami rasanya tak bisa bersekolah, tahu rasanya hanya bisa melihat dan membayangkan; bertanya-tanya mengapa pendidikan mahal? Mungkin salah satunya itu karena para pemilik ilmu tak rela akan sesuatu. Ilmu tak akan habis jika disedekahkan, tak akan pernah habis sekalipun kau telah hilang dimakan bumi.

Mengapa bisa ada hal yang seluar biasa ini?

2# Suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar 

Ini yang paling aku ingat dari dosen Psikologi Hukum dan Forensik-ku. Sikapnya yang berapi-api ketika mengajar membuatku ingat pada seorang dosen yang juga pernah mengajarku. Keduanya sama-sama berkecimpung dalam dunia masalah-masalah sosial yang sering dijauhi banyak orang. Satu hal yang menonjol dari mereka: keberanian. Juga kejujuran. Juga sensibilitas yang besar pada kebenaran dan kebatilan.

Ada guru-guru yang lembut dan penyayang, ada yang tegas dan menyayangi dengan cara yang galak. Karena mereka mengerti dan meyakini apa yang benar, dan tahu apa risiko dari membiarkan apa yang salah, mereka memberanikan diri untuk bicara dan bertindak. Aku bertanya-tanya, tidakkah mereka takut pada risiko bersikap demikian? Aku tahu rasanya tidak disukai orang, tidak punya teman, dan ditinggalkan, bisa membayangkan betapa menakutkannya mendapatkan ancaman dan teror, juga kecelakaan karena mengusik ketenteraman orang-orang yang berbuat tidak benar.

Seperti apakah rasa tidak nyaman membiarkan hal yang tidak benar berlangsung? Apakah lebih berat daripada menghadapi risiko bertindak berani dan jujur? Mungkin inilah kekuatan idealisme yang menggantungkan dirinya pada Yang Maha Perkasa.

3# Tanggung jawab sosial

Beliau bercerita bahwa dirinya yang sekarang tidak sama dengan dirinya yang dulu. Ada kehidupan yang lebih bermakna ketika dirinya bersungguh-sungguh membantu orang lain yang punya keperluan dengannya. Jika dulu meneliti, mengajar, dan berkarya sekenanya saja, sebisanya saja, seselesainya saja, sekarang meneliti, mengajar, dan berkarya sebaik mungkin. Apa sebabnya?

Ingat akhirat. Ingat mati. Dan hari di mana manusia akan ditanya, apa saja yang telah dilakukan dengan ilmu yang dimiliki.

Beliau dosen Analisis Multivariat-ku. Aku selalu senang melihat beliau. Hidupnya hidup. Ada vitalitas. Ketika beliau tertawa. Ketika beliau menceritakan apa saja yang tengah dikerjakan, target-targetnya, keinginan-keinginannya, yang hendak dilakukan dan dicapainya di masa depan bersama mahasiswa-mahasiswanya. Beliau orang yang mendorong orang agar menjadi lebih maju dan lebih tinggi.

Jika nanti ditanya Allah, ada yang bisa dikatakan, jika kau bersungguh-sungguh dengan apa yang menjadi tanggung jawabmu.

***

Kita meluruskan niat dari hari ke hari, bukan? Suatu ketika kita lupa, tetapi ada hal-hal yang selalu bisa membuat ingat, kita sesungguhnya hendak ke mana.

Bersama dengan ilmu ada kedermawanan, kewajiban menegakkan apa yang benar dan mencegah yang salah, dan tanggung jawab sosial. Bersama dengan ilmu ada kekuatan, juga kasih sayang, kesediaan memahami orang lain, kesediaan ikut memahami masalah, kesediaan ikut berpeluh, berair mata, dan berdarah-darah pada suatu ketika perjuangan yang besar dibutuhkan. Bersama dengan ilmu ada risiko juga harapan, ketika kita tidak lagi menjadikan ilmu itu potensi saja, sesuatu yang diam saja. Ilmu menjadikan kita tahu kapan harus diam, kapan harus mendengarkan, kapan harus berbicara, kapan harus menulis, kapan harus bertindak; kapan harus belajar lagi, kapan harus mengoreksi diri, kapan harus mengajak orang belajar, kapan harus mengoreksi orang lain. Juga, kapan harus mengembalikan semuanya kepada Allah.

Rasanya kita tidak sedang berilmu dengan benar jika ilmu itu menjadikan kita patah semangat, mengeluhkan manusia, juga dunia dan masa.

***

Aku akan menjadi ilmuwan sosial yang seperti apa?

Selalu ada orang yang bertanya, mengapa aku tidak masuk magister profesi psikologi saja. Jawab sederhanaku, aku ingin menjadi ilmuwan. Tidak ada yang bertanya, mengapa aku ingin menjadi ilmuwan. Bagiku, bagus tak ada yang bertanya, karena aku punya banyak sekali alasan dan itu bukan untuk diketahui umum. Itu mimpi yang aku bagi dengan Allah saja, karena Dia-lah yang memberiku kesempatan sehingga aku bisa bermimpi demikian.

Ketika tahu aku mahasiswa psikologi, seorang kerabatku berkata agar aku hati-hati. Tidak sedikit orang-orang yang belajar psikologi terperosok dan tidak bisa keluar dari “lubang biawak”. Beliau berkata agar aku membekali diriku dengan agama dan aku berkata, ya. Aku belajar agama. Insya Allah, aku beragama. Di dalam kampus, ketika aku berusaha belajar agama dan memahami psikologi dengan agama, juga sebaliknya memahami agama dengan psikologi, aku justru bertemu orang-orang yang berseteru dalam pemikiran. Mereka berebut mendefinisikan apa itu kebenaran.

Tahun keduaku di kampus ketika S1 dulu, aku mengeluarkan diriku dari kerohanian Islam fakultas. Organisasi itu tidak membuatku belajar Islam, justru berusaha membuatku berafiliasi dengan gerakan tertentu. Satu hal pertama yang aku pelajari tentang bias, ironisnya, adalah bias agama, di mana definisi Islam dikunci dalam ruang gerakan keagamaan tertentu saja. Sejak saat itu aku memulai perjalananku memahami Islam, dan berusaha menggunakannya untuk memahami psikologi dan menggunakan psikologi untuk memahami Islam secara independen, termasuk dari ahli mana pun yang disebut “bapak-bapak psikologi Islam” di Indonesia. Keputusan-keputusan itu terkait kesadaranku akan bias kedua, bias ilmuwan dengan segala latar belakangnya, di mana dia mengunci definisi Islam dalam batas pemahaman dan pemikirannya.

Jadi, biarkan aku mendefinisikan psikologiku sendiri. Biarkan aku mendefinisikan Islam-ku sendiri.

Ketika aku bergerak keluar, aku menemukan dunia yang luar biasa besar. Melihat-lihat pemikiran filsafat, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, dan hukum; dan agama dari berbagai sisi. Aku tak akan pernah sempurna memahami semuanya, tetapi ketika aku sudah berkenalan dan cukup mengenalnya, ada pemahaman tentang manusia yang lebih lengkap dan jelas. Aku cuma mengerti bahwa semua hal memiliki keterhubungan, baik positif maupun negatif. Memahami yang satu membantuku memahami yang lain. Mendapatkan yang satu membantuku mendapatkan yang lain. Naik ke puncak yang satu membantuku naik ke puncak yang lain. Dan agama sungguh-sungguh memberikan prinsip yang mendudukkan pemahaman-pemahaman yang berseteru dalam kepalaku, sehingga aku dapat bersyukur, tak pernah sekalipun aku mengeluhkan lagi, mengapa manusia makhluk yang seperti ini?

Penghargaan atas manusia, dalam kecacatan dan kelemahannya, dalam kekurangan dan kesalahannya, dalam ketidaksempurnaannya, dalam sisi gelapnya, bukan sekadar karena itu tertulis dalam Kitab Suci, melainkan karena Allah Menciptakannya seperti itu. Penghargaan atas manusia, dalam perjuangannya untuk hidup dan bertahan, untuk bahagia, dalam perjuangannya mencari pertolongan dan petunjuk, dalam perjuangan untuk mengerti eksistensinya sendiri dan dunia ini, bukan sekadar karena itu tertulis dalam Kitab Suci, melainkan karena Allah Menghendakinya hidup seperti itu. Selalu ada kebaikan, dan itulah tanda-tanda kekuasaan Allah dalam diri manusia, dalam jiwa manusia. Dan itu lebih terang daripada bintang-bintang, bulan dan matahari.

Perasaan yang muncul tak bisa membuatku membenci manusia. Karena setiap saat selalu ada yang bisa membuatku berkata dalam hati, ya, aku mengerti. Betapapun pengertian itu tak sempurna, ya, aku mengerti. Aku belajar psikologi, belajar semua yang aku pelajari sekarang, “hanya” agar ada lebih banyak saat di mana aku bisa berkata, ya, aku mengerti: kebaikan dan kejahatannya, kepatuhan dan kekufurannya, kebahagiaan dan kesedihannya; agar ada lebih banyak saat di mana aku bisa bersikap adil dan tidak berlebih-lebihan padanya.

Tahukah kau siapakah manusia di sini ini?

Manusia ini adalah diri ini sendiri.

Bertahun-tahun pembacaan dan perenungan, berpuluh-puluh jilid dan beribu-ribu halaman buku, berjuta tarikan napas dan kedipan mata yang melihat dan memperhatikan, dan telinga yang tak berhenti mendengarkan demi satu hal: memahami diri yang hanya satu ini saja. Dan apakah telah selesai? Sampai mati, tidak akan pernah.

Aku ingin menjadi ilmuwan sosial yang seperti apa?

Yang benar memahami, minimal, diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s