Absurditas Pemahaman yang Sempurna dan Persoalan di Seputar Tabayyun

Kita manusia adalah korban sesama kita sendiri. Yang terberat adalah ketika kita disalahpahami. Yang termudah adalah menyalahpahami orang.

Psikologi menjadikan isu “memahami” ini topik sentral dalam lapangan kesadaranku. Memahami itu tidak hanya berkenaan dengan bagaimana kita secara menangkap keadaan objek yang kita pahami secara utuh dan apa adanya, tetapi juga tentang kita sebagai diri yang aktif memahami, sebagai subjek tindakan memahami. Objek sering telah berbicara banyak pada kita, tetapi karena satu dan lain hal, telinga kita dapat tiba-tiba tuli pada sebagian suara. Penyakit kita, demi mempertahankan keutuhan diri kita sendiri (status quo), kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar, hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Kita sering sudah punya konsepsi tentang apa yang benar dan apa yang salah sehingga kita dapat dengan mudah mencap hal-hal di luar konsepsi kita sebagai “tidak layak dengar” atau “tidak layak lihat”. Kita pun mengunci telinga dan mata kita.

Selain itu, psikologi pun membuatku memberikan perhatian lebih pada perilaku memahami diri sendiri dan orang lain. Ini lebih dari sekedar fenomena kognitif dan bagaimana informasi tercerna dalam otak. Pemahaman sosial selalu diikuti dengan penilaian sosial. Singkatnya, terdapat dua jalur memahami, yaitu jalur emosional dan jalur rasional, yang mana jika digunakan secara ekstrem (sangat emosional atau sangat rasional), penggunaan dua jalur tersebut akan sama-sama menimbulkan kerugiaan atau tidak memberikan manfaat optimal. Orang memahami dengan emosi yang terlalu kental pada dasarnya tidak memahami. Mereka berpikir dengan jalan pintas, berdasarkan rasa suka atau benci, dan perasaan itu cukup untuk digunakan sebagai bahan menilai. Sementara itu, memahami dengan rasio yang terlalu tajam memunculkan pemahaman yang terlalu hitam-putih dan mengarahkan pada dimunculkannya penilaian-penilaian yang kejam, salah-benar yang semena-mena.

Ada satu teori menarik yang aku pelajari minggu ini, yaitu Teori Identifikasi Tindakan (Action Identification Theory; Vallacher & Wegner, 2012). Teori ini pada awalnya dikembangkan untuk mengetahui bagaimana seseorang “menamai” tindakan yang akan, sedang, dan telah dilakukannya. Dalam perkembangannya, teori ini juga berguna untuk menjelaskan bagaimana seseorang “menamai” tindakan orang lain. Ada sejumlah premis penting dalam teori ini.

Pertama, bahwa tindakan manusia sesungguhnya bersifat ambigu dan tidak tentu. Satu tindakan yang sama, dapat dinamai berbeda-beda menurut siapa yang melihatnya. Jika ada sepuluh orang yang melihat, maka kita akan punya sepuluh identitas bagi tindakan tersebut. Contoh, “blusukan” Jokowi yang kita sudah sama-sama tahu. Berikan sepuluh orang dan kita akan punya sepuluh pendapat. Kita sederhanakan menjadi dua kubu saja, orang yang suka Jokowi akan menyatakan “blusukan”-nya sebagai usaha memahami masyarakat, melihat masalah langsung di lapangan, mendekatkan diri dengan rakyat, dan menjadi pemimpin daerah yang baik. Tapi, bagi orang yang tidak suka Jokowi, mereka mungkin akan menyatakan itu sebagai buang-buang uang saja, buang-buang waktu dan tenaga saja, usaha pencintraan, mencari perhatian, dan sebagainya. Manakah yang benar? Yang jelas, kita akan suka jawaban kita sendiri.

Kedua, “people are constrained by reality in identifying their own action, but the sky is the limit when thinking about the action of other people” (h. 342). Orang terbatasi oleh realita dalam menamai tindakan mereka sendiri, tetapi langitlah yang jadi batasnya ketika memikirkan tentang tindakan orang lain. Dengan kata lain, pendapat kita tentang tindakan orang lain cenderung liar dan tak terbatas. Kita bicara apa saja, sesuka kita, sekreatif imajinasi, dan sedangkal atau dalam pemikiran kita, tentang tindakan orang lain. Contoh yang baru-baru saja aku dapatkan, seseorang “muslim sejati” mengatai Tan Malaka yang muslim sebagai seorang munafik lantaran dukungannya pada Marxisme. Di suatu seminar akademik besar tentang riwayat hidup Tan Malaka sebagai seorang negarawan yang terbuang, dia dikagumi sebagai pahlawan tak dikenal lantaran dugaan afiliasinya pada partai komunis. Di jalanan, tanyakanlah siapa Tan Malaka, anak SMP atau SMA yang tak belajar akan menjawab, “Mana aku tahu… Itu nama selat ya?” Jadi, mana yang benar? Lagi-lagi kita akan suka jawaban kita sendiri.

Dari dua contoh itu, jika kita hanya suka jawaban kita sendiri dan memandang jawaban kita sendiri yang benar, sadarkah kita bahwa kita sedang memahami seseorang secara parsial dari mengandalkan pengetahuan tentang tindakannya saja? Kita yang merasa cukup dengan memahami berdasarkan tindakan yang tampak saja terancam salah paham karena tindakan manusia punya sisi yang “tak tampak”, katakan itu sebagai maksud, niat, tujuan, misi, dan visi yang abstrak dan tidak material; mengapa orang tersebut berperilaku seperti itu? Sepanjang kita menceraikan apa yang “tampak” dari yang “tidak tampak”, hanya 50% kemungkinan kebenaran pemahaman kita tentang orang tersebut. Lebih buruk lagi kondisinya pada kita yang merasa cukup dengan memahami apa kata orang tentang tindakan orang lain; kita tidak melihat tindakan itu secara langsung melainkan lewat perantara cerita orang lain atau kata media. Jika kita demikian adanya, tinggal berapa persen kemungkinan kebenaran pemahaman kita?

Perkirakanlah dan pikirkan. Apa yang selama ini kita makan? Berita benar atau berita salah? Pemahaman yang benar atau pemahaman yang salah? Kita yang cuma mengandalkan apa yang terlihat, kita yang cuma mengandalkan apa kata orang, seberapa besar kehilangan yang sesungguhnya sudah kita alami? Kapankah kita akan mulai mengutamakan kehati-hatian dalam memahami orang lain?

***

Persoalan di Seputar Tabayyun

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” QS Al Hujurat 49: 6

Kita semua orang fasik. Kita tidak bisa sekali pun menjamin bahwa diri kita sepenuhnya berada dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul. Kita ini fasik, meskipun tentu dalam kadar yang berbeda-beda, yang mana itu hanya kita saja yang tahu. Jika kita memahami kefasikan diri kita, ada baiknya kita gunakan logika yang sama untuk memahami bahwa orang lain, termasuk yang kita percayai, juga tidak bebas dari kefasikan. Karena itu, kewajiban setiap dari kita adalah memeriksa dengan teliti berita, perkataan, pendapat, tentang sesuatu hal, terutama keadaan orang lain, agar kita tidak menimpakan musibah pada orang tersebut, tanpa mengetahui keadaannya. Menaati perintah ini insya Allah akan mencegah kita dari menjadi manusia yang zalim pada sesamanya. Demikianlah konsep tabayyun sebagai salah satu akhlak mulia dalam Islam.

Berdasarkan pemahaman sebelumnya, kita mengerti adanya dua hal yang menghambat kita mencapai pemahaman yang terang. Pertama, kita tidak secara langsung melihat dan mendengar, dan dengan mudah percaya pada apa kata orang. Kedua, ketika kita menyaksikan tindakan, kita tidak melakukan penggalian pada aspek yang tidak tampak dari tindakan orang yang kita lihat. Dengan kata lain, kita tidak bertanya, “Mengapa?” Dua hal inilah yang menjadikan tabayyun menjadi perintah yang sangat sulit dilakukan, terutama pada orang-orang yang sejak awal sudah punya label tertentu dalam benak kita.

Pertama, mengapa kita mudah percaya apa kata orang?

Ada banyak hal yang bisa menjelaskan ini. Salahkan diri kita sendiri, kita akan mendapati persoalannya adalah defisit sikap kritis. Ada dalam diri kita kecenderungan untuk berpikir secara ceroboh dan dangkal, yang mana itu bisa jadi mencerminkan kemalasan kita memanfaatkan properti kemanusiaan terbesar kita, yaitu akal budi. Bisa jadi pula itu mencerminkan konsep diri kita yang buruk.  Tertanam dalam diri kita konsep bahwa kita ini orang biasa, bukan ulama, sedikit ilmunya, bukan orang pintar, sehingga untuk amannya kita ikut apa kata orang yang sudah diakui kecerdasannya.

Mudahnya kita percaya apa kata orang juga menunjukkan dinamika pengaruh-mempengaruhi dalam kehidupan sosial. Orang yang lemah dipengaruhi orang yang kuat, terutama dalam pengetahuan. Orang yang tahu, dialah yang berkuasa. Dia mengarahkan kita ke apapun dia pikir benar, dan menjauhkan kita dari apapun yang dia pikir salah. Taklid buta terjadi lewat dinamika yang seperti itu, terutama ketika dalam kondisi terpengaruh tersebut kita mendapati diri kita mengagumi orang yang lebih tahu itu. Kita berpikir orang tersebut luar biasa sehingga apapun yang dikatakannya benar. Faktor lain selain kekaguman adalah teror bahwa jika kita berpikir di luar yang biasa akan ada hukuman, dosa. Kita takut pada “dosa” semacam itu, karenanya kita berani mengabaikan perintah Allah jadilah orang yang menggunakan akal, yang melihat dengan mata hati. Kita pun hanya membuka diri pada kebenaran dari sisi orang tersebut.

Kedua, mengapa kita tidak bertanya “mengapa?”

Ada banyak penjelasan pula yang bisa diberikan untuk pertanyaan ini, tetapi dapat kusimpulkan akar maupun puncaknya adalah ketiadaan rasa kasih sayang. Aspek “tak tampak” dari tindakan manusia, berupa tujuan, sebab, motif, atau alasan, adalah hal pribadi. Ia tersembunyi dalam benak. Membuka jalan menuju benak seseorang tidak semudah membuka pintu dan memasuki ruangan di balik pintu tersebut. Orang tidak akan mengungkapkan dirinya tanpa adanya rasa percaya, bahwa jika ia terbuka, ia tak akan disakiti, dizalimi, disalahpahami, dinilai atau dicap yang tidak ia sukai, atau yang ia tahu tidak ada pada dirinya. Jawaban yang kita inginkan tak akan ada jika kita tidak dipercayai oleh orang tersebut. Persoalannya, mengapa kita bisa tidak dipercaya? Karena kita sebagai muslim gagal menjadi pribadi yang memberikan rasa aman, yang mana itu berarti pula ketiadaan silaturahmi. Itulah indikator kegagalan sosial seorang muslim.

Persoalan lain yang lebih buruk adalah jika memang tidak ada niat dalam diri kita untuk mendekati orang tersebut dan bertanya. Mengapa sampai bisa tak ada keinginan untuk itu? Bisa jadi karena dalam benak kita sudah ada mental set tidak ada gunanya mendekat dan bertanya. Mengapa kita bisa berpikir itu tak ada gunanya? Karena kita berpikir keburukan dan kejahatan adalah kualitas permanen dari orang tersebut. Kita datang dengan harapan bisa mengubah orang tersebut menjadi seperti kita, dan ketika kita sudah beranggapan adanya permanensi tersebut, kita berpikir, untuk apa kita datang? Kondisi tak akan berubah, kita tetap kita dan dia tetap dia. Tak ada yang perlu dipahami lagi. Kita membekukan diri dengan pemahaman “terbaik” yang sudah kita yakini. Perhatikan bagaimana kita mengorbankan pemahaman yang lebih baik demi menjaga “pemahaman terbaik” kita. Kita tak ingin ada pemahaman-pemahaman baru yang menggoncang fondasi kita sebagai individu maupun kelompok sosial kita.

Kita tidak percaya orang lain bisa berubah sama seperti kita tidak percaya diri kita bisa berubah. Kita tidak berpikir orang lain mau berubah karena kita pada dasarnya tidak mau berubah. Kita enggan bertanya mengapa karena kita tidak senang menerima dan menjawab pertanyaan mengapa. Kita tidak suka dievaluasi, kita tidak suka “dibongkar”, kita tidak ingin cacat dalam “tak tampak” kita terungkap. Kita berakhir menzalimi orang justru karena kita takut dizalimi. Kita tidak bisa dipercaya karena kita pun tak menaruh kepercayaan bahwa orang lain akan memberikan keamanan pada kita.

Sungguh hidup yang aneh, padahal Allah berfirman, “… barang siapa yang mengikuti Petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” QS Al Baqarah 2: 38

Katakan ini krisis keimanan. Benarlah, kita semua memang orang fasik dalam kadar yang berbeda-beda.

***

Kita tidak suka diri kita yang tidak mengerti. Kita ingin mengerti, kita ingin paham, tetapi kita sering lupa bahwa sebagian pemahaman sifatnya labil dan berubah-ubah. Sebagian tujuan belajar adalah menguatkan pemahaman yang sudah ada, tetapi sebagian tujuan belajar yang lain adalah memperbarui pemahaman yang sudah ada. Dunia berubah sehingga mustahil jika manusia bertahan tidak berubah. Periksalah, kapan terakhir kali kita memeriksa keusangan pemahaman-pemahaman kita tentang orang, benda, maupun peristiwa? Kapan terakhir kali kita mengevaluasi dan memperbarui pemahaman-pemahaman kita?

Kita tidak ingin disalahpahami. Itu sama seperti orang lain yang jika tidak ingin disalahpahami. Tidak salah paham itu adalah minimal kita tidak salah “menamai” tindakan seseorang, karena kita mengerti maksud di baliknya. Kita tak mungkin bisa sempurna memahami orang lain, tetapi setidaknya kita tidak memahami orang lain dengan cara atau sebutan yang tidak disukai orang tersebut, yang tidak benar ada pada diri orang tersebut. Yang paling dimurkai Allah adalah mengkafir-kafirkan muslim. Namun, di dalam itu ada hal-hal lain yang tentu tidak disukai Allah juga, seperti mengatai seorang muslim munafik, padahal kemunafikan sesungguhnya adalah perkara iman dalam hati, sama seperti kekafiran, menyebarkan berita-berita yang tidak akurat (kalau bukan berita bohong), menyebarkan aib atau keburukan orang lain, dan masih banyak lagi.

Kita ingin mengerti, kita ingin paham, tetapi sungguh ironis jika semua itu dilandaskan pada kesalahpahaman akan objek yang kita ingin pahami. Baguslah jika orang tersebut masih hidup sehingga bisa memberikan klarifikasi, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang sudah tiada, yang hidup puluhan atau ratusan tahun yang lalu, yang tidak lagi mampu membela diri dan memberikan klarifikasi? Pengetahuan tentangnya tersebar liar dalam kesalahpahaman, akibat pembelajar-pembelajar yang tidak bertanggung jawab, yang cuma inginkan kebenaran dan memuaskan akal, tetapi tidak mau tahu bahwa kebenaran dan akal yang terpuaskan itu tidak bebas risiko. Pembelajar-pembelajar itu hanya mengandalkan cerita dari mulut ke mulut atau dari buku-buku. Mereka tak punya pemahaman tentang sejarah kehidupan orang itu atau konteks yang menglingkungi orang itu. Mereka memakan yang seperti itu dengan lahapnya dan menceritakan kepada orang-orang bagaimana rasa dan kesannya.

Pembelajaran itu mahal. Kebenaran itu perkara yang berat. Ada baiknya kita tidak menukarnya dengan harga yang murah demi memuaskan nafsu sesaat. Ada baiknya pula kita tidak dengan mudah mengobral kata “kebenaran”; sedikit-sedikit ini kebenaran, sedikit-sedikit ini kebenaran, karena kebenaran yang banyak itu sesungguhnya terdiri atas beragam kebatilan. Baik-baiklah kita menjaga lisan dan tulisan. Jika kita tidak tahu benar persoalannya, belum pernah bertanya apalagi menyaksikan, ada baiknya kita cegah lisan kita dari berkomentar yang tidak berguna; cegah tangan kita dari menuliskan pemikiran-pemikiran bebas yang tak berdasar. Utamakan dan bersabarlah dalam tabayyun. Lebih baik menghabiskan waktu 20 tahun untuk menemukan pemahaman yang terang. Lebih baik 20 tahun diam dalam doa semoga Allah memberikan kita pengetahuan dan pemahaman yang kelak bisa kita gunakan untuk menebarkan kebaikan, bukan kesalahpahaman yang berbuah permusuhan.

8 thoughts on “Absurditas Pemahaman yang Sempurna dan Persoalan di Seputar Tabayyun

    • Saya menulis tulisan ini tepat setelah membaca tulisanmu yang ada Tan Malaka-nya itu. Saya tidak menggugat sikap terhadap Marxisme karena memang begitulah adanya, tetapi ketika ini sudah menyangkut diri seseorang yang kita lebih banyak tidak kenal dan tidak tahunya, saya jadi berpikir-pikir, bagaimana caranya tabayyun terhadap yang seperti itu?

      Di zaman ini, kita bebas berpendapat. Namun, dalam kebebasan itu tetap ada tanggung jawab. Pada intinya, berhati-hatilah🙂 karena lisan dan tulisan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ini pun peringatan bagi diri sendiri.

      • sip mbak,syukran khatsiran atas nasihatnya, sangat berguna bagi saya yg baru belajar ini, namun ada beberapa klarifikasi saya mengenai Tan dan sikap saya di tulisan lanjutan saya, bukan “ngeyel” cuma menjelaskan mindset sayamemandang seorang yg masih tergolok “mamak(paman): saya itu🙂

  1. Point tabayyun ini yang sangat jarang dilakukan oleh beberapa orang. Dan memang sangat sulit, ketika kita cepet percaya pada kata-katanya orang yang kebenarannya masih dipertanyakan.
    Semoga saya dan banyak orang lainnya yang mendahulukan tabayyun sebelum menghakimi sepihak apapun itu. Nice share mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s