Menguraikan Persoalan Hijab

1# Kembalikan tanggung jawab pada pribadi

Seorang teman mengangkat persoalan hijab dalam tulisan-tulisan terbarunya. Tulisan pertamanya berisi tentang, bisa dikatakan, kekesalannya pada, keluhannya atas diri, perempuan-perempuan yang tidak berhijab (berpakaian terbuka) dan mengganggu “pemandangan” di tempat-tempat umum, salah satunya jalanan. Temanku itu laki-laki. Katanya pada intinya yang kutangkap, perempuan-perempuan yang demikian mengganggu ketenteraman pikiran para lelaki, termasuk laki-laki yang baik-baik. Salah perempuan itu sendiri jika perempuan itu diganggu laki-laki tak bertanggung jawab karena tidak berpakaian cukup. Perempuan biasanya tidak mau jadi yang disalahkan, dan tetap menyalahkan laki-laki yang tidak mampu kontrol diri dan berpikiran kotor. Akhirnya, jika ada yang tetap harus disalahkan, temanku itu menawarkan agar para perempuan menyalahkan bapak-bapak mereka yang gagal mengajari dan membuat mereka berhijab.

Persoalan behijab, atau juga bisa dikatakan jilbab, agaknya memang cukup pelik. Membaca tulisan itu, aku  takjub justru pada perkembangan perilaku salah-menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Atas masalah sosial (seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual) yang disebabkan oleh defisit berpakaian, laki-laki menyalahkan perempuan yang tidak menutupi tubuhnya. Perempuan merasa tidak bersalah atas keputusan sebagai manusia bebas dan menyalahkan laki-laki yang berpikiran kotor, yang mengalami defisit moralitas. Laki-laki yang tidak mau disalahkan karena merasa dirinya bermoral akhirnya menyalahkan “orang lain” yang seharusnya bertanggung jawab mendidik perempuan agar bermoral, yaitu “para bapak”.

Ahaha… aku geli. Siapa pula ini? Tapi dari sinilah justru aku mulai berpikir.

Apakah besok kita akan menyalahkan ibu-ibu juga, lalu paman, bibi, kakek dan nenek atas persoalan perempuan dan laki-laki? Lalu teman, kakak dan adik? Apakah kita akan menyalahkan negara, pemerintah yang tidak menerapkan sistem Islami, dan zaman yang sudah gila? Atau kita salahkan Barat yang entah kenapa selalu dipandang sebagai kiblat defisit berpakaian dan defisit moralitas, para kapitalis yang berdagang di atas tubuh perempuan, Yahudi yang entah bagaimana selalu bisa ada di mana-mana mengkampanyekan anti-Islam, sehingga membuat perempuan-perempuan muslim tidak berhijab? Bersikap seperti itu, kita sesungguhnya seperti menuding udara kosong. Apa yang bisa dilakukan oleh udara kosong sekalipun kita berteriak-teriak menyuarakan ini itu dengan segala logika dan argumen penuh dalil penguat? Ia tidak mendengar!

Ubahlah arah tangan kita, tunjuk ke arah diri ini sendiri. Seharusnya ada rasa bersalah, karena sebagai orang yang mengerti apa yang benar, kita diam tak melakukan apa-apa kecuali mengeluhkan keadaan kaum wanita dan melemparkan tanggung jawab ke sana ke mari. Seharusnya ada pertanyaan, berdasarkan peran sosial yang kita miliki, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan?”

Sebagai pribadi, Allah tidak mewajibkan kita untuk mengurusi/ membuat seluruh wanita yang kita lihat belum berhijab berhijab. Itu di luar kemampuan kita. Kewajiban kita sebatas pada diri mereka yang ada dalam lingkaran tanggung jawab kita untuk mengurus dan menjaga mereka. Atas perintah berhijab, suami bertanggung jawab mengajarkan pada istri. Orangtua bertanggung jawab mengajarkan anak. Kakak bertanggung jawab mengajarkan adik. Di luar lingkaran yang wajib itu, kewajiban kita hanyalah mengingatkan agar orang berpakaian yang layak, menasihatkan dengan memahami sebelumnya keadaan orang yang dinasihati, dan mendakwahkan hijab dan manfaat-manfaatnya dengan cara yang ma’ruf; bukan dengan mengeluhkan, menyindir, mengancam, menyalah-nyalahkan, menakut-nakuti, merendahkan, menjelek-jelekkan, menyudutkan, mengintimidasi, atau menyebarkan keburukan berkaitan dengan perempuan yang belum berhijab dalam tulisan maupun secara lisan.

Harapan kita adalah agar mereka mengerti. Sekalipun belum secara aktual berhijab, setidaknya mereka tidak menjadi muslim yang membenci hijab, tidak mendustakan perintah berhijab, tidak mengolok-olok orang-orang yang berhijab, dan ada keinginan untuk berhijab suatu hari nanti, atas pertolongan dan kemudahan dari Allah, setelah lulus sekolah, setelah menikah, setelah menjadi ibu, ketika bekerja, kapan pun, termasuk ketika mereka telah menjadi nenek. Kita doakan mereka.

***

2# Redefinisi kesadaran berhijab

Orang tidak hanya menyalahkan siapa terkait persoalan berhijab, tetapi juga menyalahkan “kesadaran”. Misal bertanya, mengapa perempuan tidak berhijab? Jawabnya, karena kesadarannya kurang. Sudah diberitahu, sudah didakwahkan, tetapi kesadarannya untuk berhijab rendah. Apa sih kesadaran ini? Apakah sadar itu semacam, “Oh, tahu. Yang benar adalah ini, maka saya harus begini”?

“Celakanya” belajar psikologi, kau mengerti bahwa manusia jarang sekali semekanistis itu: diberitahu apa, langsung menjalankan, atau mengerti apa, langsung dilakukan. Ini fakta yang harus diterima. Manusia tidak semudah itu untuk diarahkan ke arah yang dikehendaki, dibentuk sedemikian rupa. Percuma jika kita punya bayangan bahwa manusia itu selembek plastisin, karena manusia itu dapat sekuat baja, sekeras batu. Manusia itu berubah-ubah naik menurut perubahan situasi dan kondisi. Menetap pada satu keadaan diri saja, sementara situasi di luar dirinya berubah, justru dapat menyakitkan baginya. Manusia itu senantiasa mencari cara dan menyesuaikan diri untuk memecahkan konflik atau kesenjangan dalam pikiran dan nuraninya, juga untuk memenuhi tuntutan sosial atau kebutuhan hidup di lingkungannya.

Persoalannya kemudian, bisakah kita memahami perilaku berhijab dengan kerangka yang demikian? Bahwa orang memutuskan berhijab atau tidak itu sesungguhnya tidak mudah dan cepat, melainkan melalui proses panjang penyesuaian-penyesuaian baik yang sifatnya internal (berkenaan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadi) maupun eksternal (berkenaan dengan nilai-nilai dan keyakinan orang lain atau kelompok sosial dan komunitas). Bahwa perilaku berhijab atau tidak itu merupakan wujud dari usaha manusia beradaptasi dengan tuntutan sosial-agama dan kebutuhan pribadi di situasi kehidupan tertentu, merupakan hasil dari usaha mencari titik optimal mewujudkan apa yang ideal di tengah tuntutan realita dan kebutuhan praktis?

Kita akan menemukan orang yang mengejar idealisme bersama dengan mencari kepraktisan dalam berhijab maupun tidak berhijab. Kita tidak bisa mengatakan bahwa berhijab dengan model A-lah yang ideal, model B yang paling buruk, dan sebagainya, karena yang menentukan berhijab itu baik atau buruk bukan pada modelnya, melainkan sejauh mana hijab itu dirasakan optimal bagi yang mengenakannya. Optimal dalam arti hijab tersebut menenangkan hatinya yang ingin takwa (mematuhi perintah Allah), tetapi tetap membuatnya nyaman dalam menghadapi tuntutan kehidupan dan aktivitas menurut peran sosialnya di masyarakat. Kita akan menemukan bahwa orang berhijab-tidak berhijab seperti membentuk suatu kontinum berdasarkan fungsi kebutuhan dan situasi. Yang paling ekstrem adalah yang ada pada kutub positif dan negatifnya, yaitu orang yang menutup semuanya dan orang yang membuka semuanya. Di tengah-tengah itu ada banyak variasi berhijab dari yang lebar sampai kecil, dari yang membutuhkan sarung tangan dan kaos kaki sampai yang menyingsingkan lengan dan menggulung bagian bawah celana, dari yang warnanya gelap polos sampai yang berwarna-warni, dari rok, celana-rok, sampai celana, dari yang berbahan tebal sampai tipis, dari yang longgar sampai yang agak mengepas tubuh. Bermacam-macam.

Kembali pada persoalan kesadaran, ketika kita sudah memahami duduk perkara variasi berhijab, apakah kesadaran berhijab itu?

Menurutku, kesadaran berjilbab bukan kesadaran pada model, melainkan pada “mengapa saya perlu berhijab dan memilih hijab yang seperti ini”. Perempuan tidak cukup hanya mengerti apa perintah Allah, tetapi juga bagaimana ia menerapkan perintah tersebut dengan mempertimbangkan kondisi, yaitu keadaan dirinya, sosialnya, tuntutan tugasnya, kebiasaan di lingkungannya, kondisi alamnya. Pemahaman ini penting demi kesejahteraan psikologis dan sosial perempuan, agar perempuan tidak merasa bersalah atau malu pada orang lain atas keputusan berhijab model tertentu yang sebenarnya tidak berdosa. Kita tidak boleh membuat wanita petani merasa bersalah karena tidak mengenakan hijab yang longgar dan bercelana ketika ia bekerja di sawah. Kita tidak boleh membuat wanita karier merasa bersalah karena dia memilih mengenakan hijab yang modis dengan aksesoris tertentu di tempat kerjanya. Kita tidak boleh membuat atlet wanita merasa bersalah karena memakai celana dan penutup kepala yang kecil ketika bertanding. Itu contohnya.

3# Kembali pada prinsip-prinsipnya

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah Menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya…” (QS Al A’raaf 7: 26-27)

Berhijab itu pada dasarnya adalah berpakaian. Berpakaian itu untuk menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh ditampakkan ke umum karena dapat menimbulkan mudarat) dan menghias diri. Ayat ini menunjukkan setidaknya ada dua fungsi pakaian, yaitu untuk melindungi tubuh dan mendukung kehidupan sosial. Dari pakaian kita bisa melihat bagaimana peradaban manusia berkembang. Kemajuan manusia dapat dilihat dari cara berpakaian dan pakaian itu sendiri (misal bahan baku, desain, gaya, hiasan/ aksesoris, kegunaan, dan sebagainya) bukan?

Dari ayat tersebut kita belajar bahwa manusia pasti dan akan selamanya berpakaian karena itu adalah kebutuhannya untuk bertahan hidup, tak peduli apa bahan dan bagaimana modelnya. Manusia pasti dan selamanya akan berpakaian karena dalam diri manusia pasti ada hasrat untuk berhias dan tampil indah di antara sesamanya, tak peduli apa bahan dan bagaimana modelnya. Persoalannya, bukan dua jenis pakaian itu yang dikatakan paling baik, melainkan pakaian takwa, yaitu pakaian yang dikenakan berdasarkan petunjuk Allah. Dari sini, kita tidak bisa lagi berkata “tak peduli apa bahan dan bagaimana modelnya”. Kita harus memperhatikan apa bahan dan bagaimana modelnya. Mengapa? Karena berpakaian tidak hanya menyangkut kebutuhan/ kepentingan individu, melainkan juga orang-orang lain yang hidup bersama dengan kita dan juga alam yang menyediakan bahan.

Mungkin dua hal ini bisa dijadikan gambaran. Di balik pakaian yang indah dan mewah, ada orang-orang yang “diperbudak” untuk mewujudkan kemewahan itu. Ada orang yang memandang pakaian itu dengan sakit hatinya karena mereka mempersiapkan bahan, membuat barang, atau melihat keindahan yang tidak bisa dinikmatinya karena tidak mampu mendapatkannya. Di balik pakaian yang dipergunakan secara boros dan mubazir, ada alam yang tersedot sumber dayanya, ada sampah yang bertumpuk di mana-mana. Demi melindungi diri sendiri, orang lain, dan alam, berpakaianlah menurut petunjuk Allah, yaitu yang cukup dalam jumlah, sederhana, layak, dan indah dalam bahan dan model, serta peduli pada orang lain dan alam dalam penggunaannya.

Dari sini, ayat-ayat Al Quran dan hadist-hadist nabi yang mendeskripsikan detail pakaian Islami menjadi masuk akal, dan bagiku pribadi, sangat psikologis.

Pertama, masing-masing pihak harus saling mengendalikan nafsu diri untuk saling menjaga, bukan mengandalkan tutupan pada tubuh perempuan semata. Perempuan memang diperintahkan agar jangan menampakkan bagian tubuh yang sensual dan mengundang laki-laki untuk mengganggu; tapi laki-laki dan perempuan diperintahkan pertama kali untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluannya (QS An Nur 24: 30-31). Meskipun perempuan sudah berpakaian baik, kalau laki-laki berpikiran kotor, tetap akan terjadi pemerkosaan atau pelecehan seksual. Itu akan semakin mungkin jika perempuan berpakaian tidak baik bertemu laki-laki berpikiran kotor. Artinya, yang utama bagi semua pihak adalah kontrol diri.

Kedua, berpakaian Islami untuk menegaskan identitas muslim (QS Al Ahzab 33: 59). Identitas muslim terjaga lewat banyak cara. Ada orang yang cukup di KTP-nya tercantum kata Islam di baris agama. Ada orang yang menjaga ke-Islam-annya dengan menjalankan ibadah-ibadah yang diwajibkan maupun sunnah. Ada yang ingin lebih tegas lagi, “Saya muslim,” secara konkret dan empiris dengan berpenampilan Islami. Yang lebih tegas itu dipandang fungsi penjagaannya lebih kuat. Begitu tidak ibadah yang seharusnya atau berperilaku tidak pantas orang akan mudah mengingatkan, “Kamu kan muslim,” hanya dari melihat penampilan, tanpa perlu bertanya, “Apakah kamu muslim?” Dari situ ada rasa malu kalau diri tidak beragama secara otentik. Dari mengetahui orang di samping kita muslim, saudara kita, kita jadi tahu apa kewajiban kita atas dirinya, seperti melindunginya dari gangguan orang-orang yang iseng, membantunya ketika ia kesusahan di jalan, mengingatkannya jika ia berbuat kesalahan, dan mengajaknya pada kebaikan jika ia terlupa. Penampilan yang menunjukkan identitas muslim membantu amar ma’ruf nahi munkar pada orang lain juga diri sendiri.

Ketiga, jika lebih detail lagi, pakaian yang Islami itu: tidak boleh terlalu tipis hingga tembus pandang sampai menampakkan aurat dan terlalu ketat sampai menampakkan bentuk tubuh, tidak boleh berlebihan dalam mengenakan wewangian (persoalan zaman sekarang detergen sudah harum dari pabriknya) dan bersolek (memakai riasan wajah, perhiasan ini dan itu) agar tidak menarik perhatian lelaki, tidak boleh meniru pakaian orang kafir atau pakaian orang jenis kelamin lain karena dapat membuat kita disalahkenali sebagai orang kafir atau salah dikenali sebagai perempuan atau laki-laki, dan tidak boleh menjadikan pakaian sebagai sarana memamerkan kekayaan.

Sudah. Cukup hal-hal yang jelas dan terang itu saja yang kita gunakan untuk menasihati atau mengevaluasi penampilan atau pakaian kaum perempuan. Ada baiknya kita tidak terjebak pada detail sehingga membuat perempuan susah menyesuaikan diri, tidak nyaman, tambah repot dengan pekerjaannya, lantaran pakaian yang tidak sesuai kebutuhan. Poin pentingnya adalah: berpakaianlah yang baik, dan dalam berpakaian yang baik itu, kenakanlah dengan hati yang penuh iman dan ingin bertakwa (bukan untuk pamer kekayaan atau menarik perhatian laki-laki).

***

4# Pakaian ideologis belum tentu pakaian takwa

Orang berpakaian, terutama perempuan berhijab, dilandasi oleh nilai dan keyakinan dalam hatinya. Berdasarkan pemaparan di atas, bisa disimpulkan adanya pakaian yang optimal dan pakaian takwa. Dalam pemikiranku, pakaian optimal lebih dekat pada pakaian takwa ketimbang pakaian ideologis. Pakaian optimal dilandaskan pada kesadaran “saya ingin bertakwa kepada Allah dan kebutuhan saya/ tuntutan situasi saya adalah begini” sehingga saya memutuskan berpakaian seperti ini, sesuai petunjuk agama, yaitu tidak menampakkan aurat, tidak menonjolkan bentuk tubuh, tidak berlebihan dalam hiasan, tidak untuk pamer (pamer apapun! termasuk ketakwaan, dan kekayaan, gaya hidup, selera, dan sebagainya), dan untuk menunjukkan bahwa “saya perempuan muslim”.

Persoalannya, ada perempuan yang mengenakan model hijab tertentu karena afiliasinya pada golongan dengan ideologi tertentu. Hijabnya lebih berfungsi sosial sebagai penanda afiliasi. “Jika ingin masuk dan berteman dengan orang-orang di sini, ubah penampilanmu.” “Penampilan yang benar itu ya seperti orang-orang yang ada dalam kelompok ini. Jilbabnya panjangnya segini, warnanya ini, aksesorisnya ini, ini, dan ini, mereknya ini”, dan seterusnya. Apa ciri-cirinya orang yang hijabnya ideologis? Jika mereka keluar dari kelompoknya, gaya hijab mereka berubah tidak seperti itu lagi, bisa berubah model atau bahkan tidak berhijab lagi. Mengapa? Untuk menunjukkan bahwa “saya bukan lagi bagian dari mereka”. Mereka yang tidak mapan (berubah-ubah) dalam berpenampilan, biasanya juga tidak mapan dalam nilai dan keyakinan. Katakan mereka galau, tidak begitu salah. Katakan mereka masih mencari titip optimal mereka, tidak salah.

***

Lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa mengajak perempuan berhijab bukan sekadar mengajaknya menutup tubuhnya. Tetap berpedoman pada yang prinsip, ajakan berhijab seharusnya adalah ajakan menuju hijab yang optimal, bukan hijab ideologis yang menjebak orang pada detail model hijab yang kaku; benar hanya menurut kelompok afiliatif si pendakwah, di luar itu salah. Kita perlu mengembalikan gaya berhijab pada orang yang membutuhkannya karena dialah yang paling mengerti diri dan situasinya. Jika kita kembalikan pada ajaran Islam, sesungguhnya berhijab itu dalam aktualisasinya adalah fleksibel. Semoga tidak kita mengharamkan apa-apa yang sesungguhnya tidak haram. Semoga kita tidak mempersulit perempuan-perempuan yang hendak berhijab dengan terlalu banyak mengatur detail, lupa pada yang prinsip.

13 thoughts on “Menguraikan Persoalan Hijab

  1. Waah ga ada tombol likenya ya😦 mau like nih, suka sama paragraf terakhir.
    Iya agak mengganggu aja dogma orang-orang yang ‘mengharamkan’ jilbab pendek/ketat/warna-warni, padahal sebagian perempuan berjilbab pendek dulu sebelum mereka ‘upgrade’ jadi jilbab lebar.

  2. lucu sekali, kita ingin keluar dari term mengkotak-kotakkan muslim, tapi disisi lain kita malah mengkotak-kotakkan hijab dengan afilisai ini lah dan itu lah. ngapain repot, yang pernting kita berhijab berdasarkan apa yg diperintahkan Rasulullah, yaitu Gamisan (bisa dilihat baju gamis/jilbab peninggalan Aisyah R.A), mau kaku kek, mau tidak fleksibel, jalnkan saja jika demikian perintahnya. mengapa kita suka sekali membuat sesuatu yg simple menjadi begitu bertele-tele?

    #sederhanakan aja, ini malah bikin ribet…🙂

    • Pertama, sebenarnya, yang bermasalah itu penggunaan kata “pengkotak-kotakan”. Jika itu artinya = variasi, memang umat Islam sebagai individu bervariasi. Saya tidak ingin keluar dari istilah “pengkotak-kotakan” yang artinya variasi individual tersebut. Yang ingin saya keluar darinya adalah pengkotak-kotakan berdasarkan ideologi kelompok, karena itulah satu-satunya hal yang diperingatkan Allah dalam Al Quran -> pengkotak-kotakan = memecah-belah agama, yang memunculkan bermacam-macam golongan dalam tubuh Islam. Jadi, ada baiknya jika Muri bisa membedakan ini.

      Kedua, bagi saya, persoalan hijab dalam penggunaan aktualnya adalah persoalan variasi individual. Argumentasi saya telah jelas saya sampaikan dalam tulisan. Jika Muri punya pandangan yang lain, alhamdulillah. Itu pemikiran Muri, semoga bermanfaat untuk Muri dan orang-orang yang ada di sekitar Muri.

      Ketiga, memahami persoalan hijab, kita memang perlu agak “repot”. Perintah hijab pada dasarnya sederhana, tetapi ada banyak orang yang tidak bisa bersikap sederhana. Dampak dari sikap yang semacam itulah yang justru menjadi kompleks. Seharusnya, sebagai aktivis muslim, kamu mengerti adanya kasus perempuan yang dikeluarkan dari golongan muslim gara-gara hijabnya tidak “syar’i” menurut golongan tertentu, yang tidak diajak bergaul lagi gara-gara penampilannya berbeda, yang dilabel ini dan itu gara-gara hijabnya tidak besar, dan sebagainya. Inilah latar belakang mengapa saya menulis. Saya ingin perempuan percaya diri dengan pilihan hijabnya, yang meskipun berbeda-beda dalam batas yang bisa diterima, dilandasi keinginan untuk takwa, bukan mengikuti doktrin kelompok.

      Keempat, mungkin bagi kelompok tempatmu berafiliasi dan bagimu sendiri, perintah hijab bisa sesederhana “yang pernting kita berhijab berdasarkan apa yg diperintahkan Rasulullah, yaitu Gamisan” dan lakukan saja tanpa peduli apakah itu kemudian membatasi karena kaku dan tidak fleksibel. Silakan, teguhlah dengan keyakinan itu. Yakini itu dan bertanggungjawablah dengan keputusan itu. Namun, ada baiknya kamu ingat, model berhijab yang seperti itu OPTIMAL bagi kelompokmu dan kamu. Ada orang-orang di luar sana yang tidak bisa hidup jika mengikuti cara berhijab yang seperti itu. Mereka punya hijab optimal mereka sendiri. Ketika mereka memilih berhijab menurut kebutuhan dan keadaan mereka, dan kita tidak bisa menghukum mereka “agamanya kurang” atas dasar model hijab tersebut. Ketakwaan tidak diukur dengan model jilbab. Semakin besar dan gelap warna hijab, belum tentu semakin kuat iman dan murni ketakwaannya. Saya kira, inilah poin yang kamu lewatkan, menunjukkan kamu tidak mengerti betul isi tulisan saya. Dan jika sebabnya adalah kamu sudah punya keyakinan yang kamu anggap paling benar tentang hijab, semoga kamu bisa menerima bahwa tidak semua orang berpikiran yang sama denganmu, dan yang tidak sama denganmu itu, tidak lantas salah.
      🙂

      • nah, saya menarik kesimpulan dari komentar mbak yg panjang ini adalah, mengenai standar hijab, pertanyaannya;
        “apakah kita berhijab itu boleh dengan sekehendak hati saja, sesuai aktivitas kita atau sesuai yg diperintahkan syara’?”

        disini maaf saya lancang menilai, mbak bisa terjebak dengan logika liberal dari sini :

        “Mereka punya hijab optimal mereka sendiri. Ketika mereka memilih berhijab menurut kebutuhan dan keadaan mereka”

        yang saya yakini bahwa kita harus menjadikan islam sebagai maqayis, dalam setiap perbuatan, termasuk hijab, nah ketika kita menjadikan islam sebagai maqayis, kita wajib berhijab berdasarkan apa yg diperintahkan, bukankah begitu? masalah nanti kaku atau tidak fleksibel atau apanya, itu bisa diakali, malah gamisan itu lebih fleksibel, yang saya yakini, kalau Allah perintahkan sesuatu pasti itu tak akan menyulitkan kita, adapaun menylitkan adalah perkara yang diada-adakan dan dalam cara berfikir sekuler memang hijab itu menghambat produktifitas, bahkan melanaggar HAM,

        mari kita bermaqayis (menjadikan standar) kepada islam saja, bukan kepada kaku atau tidak, saya yakin semua yg diperintahkan Allah ke kita pasti adalah hal yang tidak memberatkan kita, apalagi sampai memberikan kerugian pada kita, justru sebaliknya.

        dan mengenai semua itu, mbbak gak bisa hanya membangun argumen masalah hijab ini dengan logika “kaku dan fleksibel” saja, kita harus berpatok ke dalil, begitulah seharusnya sebagai seorang muslim kan, menjadikan islam sebagai standar setiap perbuatannya.🙂

      • Apakah saya berpendapat tanpa dalil? Apakah tidak ada dalil dalam tulisan saya, jika yang kamu butuhkan adalah dalil? Saya tidak bersikap liberal. Pendapat saya mengacu pada yang ideal, tetapi realistis dan praktis dalam penerapannya.

        Apakah contoh-contoh yang saya berikan tentang optimalitas berhijab belum cukup jelas untuk menunjukkan apakah optimalitas itu? Kalau Muri lelah membaca yang banyak, inilah inti dari tulisan saya.

        “… mengajak perempuan berhijab bukan sekadar mengajaknya menutup tubuhnya. Tetap berpedoman pada yang prinsip, ajakan berhijab seharusnya adalah ajakan menuju hijab yang optimal, bukan hijab ideologis yang menjebak orang pada detail model hijab yang kaku; benar hanya menurut kelompok afiliatif si pendakwah, di luar itu salah. Kita perlu mengembalikan gaya berhijab pada orang yang membutuhkannya karena dialah yang paling mengerti diri dan situasinya. Jika kita kembalikan pada ajaran Islam, sesungguhnya berhijab itu dalam aktualisasinya adalah fleksibel.”

        “Kita akan menemukan orang yang mengejar idealisme bersama dengan mencari kepraktisan dalam berhijab … Kita tidak bisa mengatakan bahwa berhijab dengan model A-lah yang ideal, model B yang paling buruk, dan sebagainya, karena yang menentukan berhijab itu baik atau buruk bukan pada modelnya, melainkan sejauh mana hijab itu dirasakan optimal bagi yang mengenakannya. Optimal dalam arti hijab tersebut menenangkan hatinya yang ingin takwa (mematuhi perintah Allah), tetapi tetap membuatnya nyaman dalam menghadapi tuntutan kehidupan dan aktivitas menurut peran sosialnya di masyarakat.”

        “… kesadaran berjilbab bukan kesadaran pada model, melainkan pada “mengapa saya perlu berhijab dan memilih hijab yang seperti ini”. Perempuan tidak cukup hanya mengerti apa perintah Allah, tetapi juga bagaimana ia menerapkan perintah tersebut dengan mempertimbangkan kondisi, yaitu keadaan dirinya, sosialnya, tuntutan tugasnya, kebiasaan di lingkungannya, kondisi alamnya. Pemahaman ini penting demi kesejahteraan psikologis dan sosial perempuan, agar perempuan tidak merasa bersalah atau malu pada orang lain atas keputusan berhijab model tertentu yang sebenarnya tidak berdosa. Kita tidak boleh membuat wanita petani merasa bersalah karena tidak mengenakan hijab yang longgar dan (memilih) bercelana ketika ia bekerja di sawah. Kita tidak boleh membuat wanita karier merasa bersalah karena dia memilih mengenakan hijab yang modis dengan aksesoris tertentu di tempat kerjanya. Kita tidak boleh membuat atlet wanita merasa bersalah karena memakai celana dan penutup kepala yang kecil ketika bertanding. Itu contohnya.”

        Kalau yang optimal bagimu dan perempuan-perempuan di sekitarmu adalah gamisan, silakan bergamis. Ketahui saja, ada perempuan yang tidak optimal dengan gamisan. Ada yang hijabnya dipadukan dengan pakaian tradisional, ada yang disesuaikan dengan seragam di tempat kerja/ sekolah, cuaca, tuntutan aktivitas, waktu, dan macam-macam. Apakah bijak memukul rata semua perempuan harus gamisan?

        Jika rujukanmu ‘Aisyah istri nabi, ketahuilah bahwa beliau bergamis karena itulah yang optimal baginya, pada zamannya, di lingkungannya. Di tempat ia hidup dan beraktivitas tidak ada perkantoran, sekolah-sekolah umum, aktivitas masyarakat yang kompleks, tidak ada sawah dan ladang, tidak ada gunung-gunung yang tinggi seperti di sini, tidak ada pantai… Di zaman sekarang, perempuan bisa ke bulan, keliling dunia, atau menyelam ke dalam lautan, bekerja di lab atau ruang operasi, atau bertanding di berbagai kejuaraan dan lapangan olahraga, menjadi wanita karier, dan sebagainya. Tanpa membuka aurat, mereka berhijab sesuai kebutuhan dan situasi. Apakah salah jika model hijab mereka jadi bermacam-macam? Bijakkah memerintahkan mereka semua harus bergamis?

        Saya mengajakmu untuk memikirkan ini. Jika ada respon, buatlah tulisan tentang ini. Pasti akan saya baca.
        🙂

  3. Pingback: Muslim-Muslimah Modis: Why or Why Not? | I love life, life loves me.

  4. Pingback: Mengurai Persoalan Hijab Bag. 2: Hijab dari Seluruh Dunia | I love life, life loves me.

  5. Pingback: Mengurai Persoalan Hijab Bag. 3: Fenomena Jilboobs dalam Definisi, Perspektif, dan Reaksi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s