Apa yang Aku Pelajari tentang Islamisasi Psikologi Bag. 2

Di artikel pertamaku dengan topik ini, aku mendapatkan respon berupa pertanyaan yang menarik dari seorang pembaca. Sesungguhnya aku berharap dia akan balas memberikan feedback atas jawabanku, tetapi rupanya tidak.  Aku menginginkan sebuah diskusi sehingga aku bisa mengetahui di titik mana aku telah lurus, di titik mana aku luput. Semoga orang itu datang kembali.

***

Farid Ivoed says:

assalamu’alaykum ..
saya telah membaca apa yang anda tulis .. semoga rahmat dan hidayahNya tetap tercurahkan terhadap kita semua ..
saya beri komentar dan saya harap ada feedback dari setiap point yang saya komen
1. hal ini berkait dengan islamisasi sains. sebenarnya yang dikatakan islamisasi sains bukan klaim mengklaim seperti yang anda katakan (tunggu menunggu bis).. dalam dunia islamisasi ilmu, sebenarnya adalah islamisasi epistemologi ilmu itu sendiri atau bagaimana ilmu tersebut lahir .. ilmu Islam lahir dari kesadaran thelogis, artinya epistemologi ilmu harus berasaskan theologis..nah, ketika adanya integrasi antara ilmu dan dan iman, maka ketika lahir sebuah ilmu dan berkembang dsana tidak terjadi pemisahan antara keduanya .. dengan kata lain dalam perkembangan psikologi selalu ada kesinambungan antara keduanya ..
2. sebagai contoh dalam memandang kebahagiaan.
silahkan anda mencari definisi kebahagian perspektif psikologi yang anda pelajari (tentunya psikologi barat), maka anda akan menemukan kebahagian yang sifatnya materialistis. mulai dari kebahagiaan kekayaan, kekuasaan, hubungan seksual dll..
jika ini diterapkan dalam kehidupan manusia maka mereka akan memandang kebahagiaan adalah kebahagiaan duniawi saja .. lantas apakah orang yang tidak kaya, orang bawahan dalam kekuasaan adalah orang yang tidak bahagia ?? (jika menggunakan perspektif psikologi barat)
3. akan berbeda jika kita tarik konsep kebahagiaan dalam Al Qur’an yang telah lahir jauh lebih dulu.. dalam Al Qur’an selalu disebutkan sa’adah .. kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan yang tidak hanya duniawi saja, melainkan bahagiaa dunia dan akhirat .. tidak hanya kebahagian materalistis saja, tapi bahagia materi dan spiritual .. dan itu tidak boleh terpisahkan.. maka jika kebahaiaan ini diterapkan dalam kehidupan, maka manusia akan mempertimbangkan aspek ketuhanan dalam setiap berbuat .. maka tak heran jika di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz para amil zakat kesulitan mencari para penerima zakat. padahal harta untuk para mustahiq lumayan besar ketika itu .. karena para penerima zakat sudah bahagia (karena mereka tidak ingin dikatakan mustahiq) dengan apa yang dia miliki, maka mereka tidak ingin menerima apa yang orang lain lebih membutuhkan dari dirinya sendiri .. hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak memandang kebahagiaan yang materialistis saja ..
4.jangan terburu-buru untuk menjustifikasi bahwa semua ilmu itu netral .. berikut dahulu dan saya harap feedbacknya ..

***

1#

Untuk persoalan pertama, “menunggu bus” itu mengacu pada pengamatan saya terhadap dinamika yang terjadi di tataran masyarakat umum, bukan masyarakat keilmuwan. Mereka adalah “konsumen” ilmu pengetahuan yang sangat bersemangat, dan yang namanya konsumen, terkadang mereka tidak mengerti betul duduk perkara ilmu yang sesungguhnya, betapa “produksi”-nya tidak mudah dan tidak sesederhana “Wah, semua itu sudah ada dalam Al Quran”. Kebermanfaatan pengetahuan bagi mereka terbatas pada kemampuan mereka untuk mengunyah fakta dan kesimpulan ilmiah, dan terkadang tidak tertutup kemungkinan mereka memanfaatkan pengetahuan tersebut secara semena-mena, misal untuk alat justifikasi kebenaran ideologi atau kepentingan kelompok mereka.

Seperti inilah perbedaan makna ilmu pengetahuan bagi orang biasa dan ilmuwan. Menuliskan yang di atas itu, saya bukan hendak menggugat Islamisasi ilmu atau apa, tetap menarik garis yang jelas, seperti apa yang seharusnya saya lakukan jika saya ingin menjadi ilmuwan. Saya tidak bisa memelihara sikap orang awam dalam diri saya, jika saya ingin ikut mengembangkan ilmu. Itulah maksud saya.

2#

Kedua, terkait kebahagiaan… Saya merasa pengetahuan Mas Farid tidak terlalu lengkap akan hal ini. Perkembangan psikologi saat ini sebenarnya tidak bisa dikatakan mengecewakan karena ia pada kenyataannya mengakomodasi pula pemikiran-pemikiran yang, biasa menurut pemikiran pendek sebagian orang Islam, tidak mungkin ada di Barat. Selama ini, kita sering terjebak dalam dikotomi bahwa Barat itu selalu materialistis dan Timur itu spiritualistis. Dalam kehidupan, yang terjadi tidak seperti itu. Materialisme dan spiritualisme; kesenangan hedonistis maupun kebahagiaan yang eudaimonis terjadi di mana-mana, di seluruh dunia, dalam diri semua manusia. *Oya, kalau boleh saya mengatakan, tesis saya akan tentang materialisme-antimaterialisme. Jadi, saya cukup tahu persoalan kesenangan dan kebahagiaan hidup ini.

Dalam psikologi, jenis kebahagiaan yang Mas Farid contohkan, masuk dalam konsep subjective well-being (SWB; Diener). Memang akarnya adalah filsafat hedonisme-Epicurean, dan materialisme termasuk di dalamnya. Menurut konsep tersebut, seseorang dikatakan sejahtera jika ia merasa (secara subjektif) hidupnya memuaskan, dalam arti kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi, ia merasakan perasaan/ afek yang positif, seperti senang, gembira, tenang, nyaman, aman, dll; tidak merasakan perasaan/ afek yang negatif, seperti sedih, takut, khawatir, cemas, dll.

Jenis kebahagiaan yang Mas Farid harapkan lebih spiritual, tidak hanya duniawi, masuk dalam konsep psychological well-being (PWB; Ryff). Konseptualisasinya berbeda dengan SWB. Menurut teori yang ini, orang bahagia itu jika ia mampu menerima dirinya sendiri, menumbuhkan diri, memiliki tujuan hidup yang bermakna, hidup otonom (tak tergantung pada orang lain), dan memiliki hubungan yang positif dengan orang lain. Konsep ini berakar pada filsafat eudaimonia-Aristoteles. Kalau Mas Farid tahu bahwa pemikiran Aristoteles juga banyak dijadikan rujukan oleh para ilmuwan muslim di masa lalu, jadi pada dasarnya, tidak ada masalah dengan konsep Barat ini, bukan?

Semacam itulah perspektif Barat. Barat itu tidak melulu berisi hal-hal yang tidak kita suka. Mengatakan bahwa yang buruk-buruk itu semua adalah Barat dan yang baik-baik adalah Islam, itu tidak benar. Yang baik dan benar menurut saya datang dari mana saja. Kecenderungan saat ini justru lebih menggembirakan ketika ada dialog antara Barat dan Timur. Timur belajar dari Barat dan Barat belajar dari Timur. Memang agak memprihatinkan, jika saat ini yang dianggap Timur adalah Asia Timur dan India, yang Buddha dan Hindu. Kenapa tidak Islam, ya? Saya kira, bisa jadi ini akibat stigma yang berkembang sepanjang zaman antara Barat-Kristen dan Timur-Islam. Dampaknya sekarang, psikologi yang Islami tidak banyak dilirik, yang karenanya tidak banyak ada kerja sama dalam mengembangkan ilmu. Tapi, semoga ini hanya masalah waktu saja, di mana kita harus menunggu dan berusaha agak lebih keras agar bisa terjalin pertemanan keilmuan.

3#

Ketiga, memang sudah diakui luas bahwa kebahagiaan itu bukan hanya kebahagiaan material, tetapi juga kebahagiaan spiritual. Dalam agama (Islam) dan psikologi sama-sama mengatakan itu. Islam sudah benar memberikan tuntunan sejak awal dan psikologi mendukung itu dengan membantu memberikan penjelasan rasional ilmiahnya. Persoalannya yang paling penting itu bukan di ranah teoretis lagi, melainkan praktis. Kalau kita sudah tahu yang sebaiknya bagaimana, bersediakah kita hidup berdasarkan itu? Persoalan selanjutnya, ini bukan sekadar masalah mau atau tidak mau. Ini sangat dalam, jauh menghujam ke dalam jiwa kita.

Studi psikologi tentang mengapa orang hidup dengan nilai materialistis menunjukkan bahwa akarnya sesungguhnya ada pada “kesempurnaan penciptaan manusia yang diilhamkan ketakwaan dan kefasikan”, dalam bahasa saya yang juga mempelajari Islam. Setidaknya ada tiga sebab dan akibat (membentuk lingkaran setan), yaitu:

1) Rasa tidak aman -> rasa takut mati, takut sakit, takut miskin, takut tidak bisa hidup, takut akan masa depan, takut tantangan dan ancaman kehidupan, dll. Manusia adalah makhluk yang menghendaki keberlangsungan hidup, keamanan dan kestabilan dalam hidupnya, makanya ia membangun rumah, memakai pakaian, bekerja mencari uang, dan sebagainya. Materi itu untuk membangun “benteng” baik secara fisik juga psikis. Ada banyak sekali hal yang manusia takutkan, makanya Allah bilang, “Takutlah pada Aku saja.”

2) Diri yang rapuh, lemah -> merasa rendah diri, inferior, merasa tidak berharga, merasa dilecehkan, mengevaluasi diri secara negatif, selalu merasa kurang, selalu merasa ada kesenjangan, tidak merasa cukup. Karena itu, muncul keinginan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan yang sempurna, kepuasan hidup yang sempurna, diri yang sempurna dalam arti apa saja. Pada sebagian orang, yang muncul bisa obsesi pada agama/ spiritualisme -> beribadah terus-menerus, hidup asketis, ingin jadi pertapa/ rahib/ orang suci. Pada sebagian orang yang lain, obsesinya pada materi. Apakah dua-duanya baik? Tidak. Makanya Allah bilang, “Kejar duniamu, tapi jangan lupakan akhirat; berorientasilah pada akhirat, tapi jangan abaikan dunia.”

3) Relasi sosial yang buruk -> tidak punya hubungan yang bermakna/ berharga dengan orang lain atau keluarga, tidak menghargai manusia, memandang manusia hanya objek, memperlakukan manusia seperti memperlakukan objek yang bisa dimanipulasi. Demi “dilihat” orang lain, seseorang berinvestasi dengan materialisme, tetapi bersamaan dengan itu, sikap hidup materialistisnya membuat dia tidak dilihat. Itulah orang yang hatinya ada penyakit riya’, ada syirik kecil yang membuat syirik besar -> memuja harta benda.

Nah, dari contoh itu, bukankah benar ilmu dan iman itu bersahabat baik? Hanya saja, tidak banyak ilmuwan atau agamawan/ ulama muslim yang bisa “melihat” benang merah itu. Banyak orang yang, kalau tidak mengagung-agungkan agama adalah solusi segala macam masalah, mengagung-agungkan ilmu sebagai solusi. Memang agama itu solusi, tetapi bagaimana caranya, kebijaksanaan menerapkannya butuh ilmu?

Kamu ingin hidup seperti zaman khalifah Umar II? Sadarlah bahwa situasinya kini berbeda. Jika kamu menakar kebahagiaan negara itu dari banyak sedikitnya zakat atau orang-orang yang mau atau tidak mau menerima zakat, hati-hatilah, karena sebenarnya kamu sedang menggunakan takaran material untuk mengukur religiusitas dan spiritualitas. Kamu termasuk orang yang MATERIALISTIS secara tidak sadar. Kita dengan “semena-mena” menafsirkan bahwa itulah masa keemasan, itulah yang ideal, itulah yang harus dijadikan model. Tapi, apakah itulah yang benar? Saya rasa, seorang ilmuwan tidak akan berpikir sependek itu. Jika ia sadar bahwa religiusitas dan spiritualitas itu hanya Allah yang tahu, ia tidak akan terlena pada aspek superfisial atau artifisial dari kehidupan dan fokus pada bagaimana membuat agar ada lebih banyak muslim yang berzakat dan yang menerima zakat, bukannya menciptakan negara yang tak butuh zakat lagi. Allah tidak memerintahkan kita untuk menciptakan surga di bumi, karena memang belum masanya. Dalam pikiranku, tugas manusia adalah bagaimana agar bumi ini tidak menjadi neraka sebelum waktunya. Setiap dari kita bertanggung jawab atas generasi kita, jadi, untuk apa melihat terus ke belakang, pada “zaman keemasan” yang lewat yang tidak menyumbang apapun bagi zaman ini selain romantisisme?

4#

Keempat, sebenarnya ini pertanyaan pertama dalam ujian Filsafat Ilmu tahun lalu. “Ilmu itu netral atau tidak netral? Sebagai ilmuwan, kamu berpihak pada yang mana?” Jawaban saya masih saya ingat. Terima kasih, sudah mengangkat topik ini lagi 🙂

Semua ilmu itu berpihak secara absolut pada satu, yaitu Tuhan (Allah), yang merupakan Pemiliknya. Karena ia berpihak pada Tuhan sejak awal, perjalanannya hingga sampai pada manusia yang mencarinya berpihak pada kebenaran dan kebaikan; mengajak manusia untuk berpihak pada Tuhan -> membenarkan Tuhan, mengagumi Tuhan, memuji Tuhan, mengikuti Tuhan, berserah diri pada Tuhan. Berdasarkan pemikiran ini, saya merasa benar berpendapat bahwa orang-orang yang mencela atau merendahkan ilmu yang ditemukan di Barat dan mengagung-agungkan ilmu yang ditemukan di Dunia Islam, mereka sedang tidak “melihat”. Seharusnya ada tanda-tanda Tuhan dalam setiap hal yang ada di langit dan bumi. Jika mereka tidak berhasil melihat bahwa tanda-tanda itu ada, termasuk ada pada ilmu yang ditemukan di Barat, maka mereka tidak benar-benar “melihat”. Ilmu, sekalipun ditemukan di Barat, bukan lalu menjadi ilmu Barat, melainkan tetap ilmu Allah; ditemukan di Dunia Islam, tetap ilmu Allah; ditemukan dalam belantara hutan oleh orang-orang yang tak mengenal peradaban modern, juga ilmu Allah. Dengan membagi ilmu secara rata itulah, Allah memberdayakan manusia, agar manusia hidup dengan baik, punya kekuasaan untuk mengelola dunia. Tidak ada manusia yang berwewenang berkata ilmu Barat buruk dan ilmu Islam baik; ilmu Barat tidak boleh dipelajari, ilmu Islam satu-satunya yang wajib dipahami. Pada tataran ini, karena Tuhan, ilmu berpihak pada seluruh manusia.

Persoalannya menjadi lain ketika ilmu mulai dalam “penguasaan” manusia. Ternyata kemanfaatan suatu ilmu bergantung pada kondisi. Pada awalnya, ini sekadar, “Kalau hujan, buka payung; kalau tidak, tutup.” Tetapi, kondisi ini berkembang, dari yang sekadar sifatnya kondisi lingkungan fisik, menjadi lingkungan sosial. “Di sana, orang kalau hujan tidak pakai payung, tapi jas hujan. Di sana tidak ada hujan, yang ada salju, payung maupun jas hujan tidak terpakai karena tidak berguna.” Mengapa kemudian ada ilmu Barat yang tidak bisa (bukan tidak boleh) dipakai di Timur, dan sebaliknya, bukan karena ilmu tersebut terlarang, melainkan kebutuhan/ kepentingan kondisionalnya berbeda, meskipun tidak tertutup kemungkinan adanya kesamaan kondisi/ kepentingan.

Diskusi netral atau tidaknya ilmu, karena itu, sebaiknya tidak terhadap ilmu sendiri, tetapi kebutuhan dan kepentingan yang ada di balik tindakan menggunakan ilmu. Jika ada yang ingin dilarang atau tidak diperbolehkan, itu bukan ilmunya, melainkan niat atau maksud pemanfaatan ilmu. Yang tidak netral itu bukan ilmunya, melainkan niat dan maksud yang mana itu tentu menjadikan ilmu berpihak pada orang yang punya niat dan maksud. Ilmu harus dibuat netral dari keberpihakan pada yang buruk, tetapi harus tidak netral pada yang baik. Jadi netral/ tidak netral itu bukan harga mati, melainkan dinamis dalam pemanfaatan ilmu. Bukan karena kita masyarakat Timur atau masyarakat beragama lantas kita otomatis meyakini bahwa ilmu itu tidak netral, ilmu itu tidak bebas nilai; atau bukan karena kita tinggal di Barat lantas kita otomatis meyakini ilmu itu netral, bebas nilai. Ada alasan di balik mengapa ilmu itu harus diikat atau dibebaskan dari nilai-nilai tertentu (bukan semua nilai) dan alasan itulah yang harus lebih dipahami sebelum masuk pada diskusi-diskusi lainnya yang memperuncing perdebatan dan perbedaan ilmu Barat-Timur, bahwa Barat itu kurang bermoral, Timur itu lebih bermoral, dan sebagainya.

Ilmu itu tidak berwarna sampai manusia memberinya warna; dan sebelum manusia memberinya warna, warna yang ada pada dirinya adalah warna Ilahiah. Mas Farid mungkin, dari membaca tulisan saya, berpendapat bahwa saya cenderung orang yang bebas dan menerima begitu saja ilmu Barat (psikologi), sehingga mewanti-wanti agar sebaiknya saya tidak buru-buru menjustifikasi bahwa semua ilmu itu netral. Dalam tulisan saya, tidak ada justifikasi bahwa semua ilmu netral, dan jika pun ada kesan itu, sebenarnya itu bukan justifikasi kenetralan, melainkan rasa percaya bahwa ilmu-ilmu (yang dikehendaki Allah ditemukan/dikonstruksi di) Barat itu pada dasarnya sama baiknya dengan ilmu-ilmu Islami. Ia ada bukan untuk mencelakakan saya, mencelakakan masyarakat atau agama saya, maka saya membuka diri terhadapnya dengan harapan semoga Allah memberikan apa yang dijanjikan-Nya, yaitu hikmah dari ilmu pengetahuan. Ia ada untuk bermanfaat bagi saya; kalaupun ia datang kepada saya dalam kondisi terburuknya (dalam celaan muslim yang tidak “melihat”, misalnya), saya akan membersihkannya agar orang-orang bisa ikut melihat ada Tuhan di dalamnya.

Kalaupun ada yang harus netral, maka itu adalah diri saya. Saya yang harus berusaha menjadikan diri saya netral, tidak berpihak pada kelompok manusia/ ilmuwan mana pun. Saya ingatkan pada diri saya nasihat Rasul, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) Saya orang beriman, dan saya tidak akan menolak apa yang ditetapkan berhak saya miliki, di mana saja saya menemukannya, dari mana saja ia berasal. Dengan ini, saya justru ingin mengingatkan orang-orang yang terlampau fanatik pada ide-ide Islamisasi ilmu dan berakhir menyudutkan ilmu-ilmu Barat yang dikatakan materialistis, sekular, anti-Tuhan, dan sebagainya. Mereka itu menghabiskan usia mempropagandakan sentimen anti-Barat dalam bidang ilmu mereka, dan luput pada apa yang lebih penting, yaitu menemukan hikmah. Karena kondisi zamannya, orang Barat yang tidak bisa melihat ada Tuhan dalam ilmu, tetapi saya sebagai muslim, saya diajarkan untuk mampu menemukan yang spiritual dari yang material, kebenaran agama dari yang sekular; menemukan ada Tuhan di “tempat-tempat” yang katanya bebas Tuhan. Bagi saya, inilah Islamisasi ilmu yang sesungguhnya.

***

Saya terkejut. Jawaban saya ternyata berharga satu artikel. Subhanallah, Allah Pemilik Ilmu Pengetahuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s