Muslim-Muslimah Modis: Why or Why Not?

Apakah ini karena aku pernah menulis tentang hijab?Apakah ini karena aku beberapa kali menulis tentang Islam? Seseorang dari toko online memberiku penawaran kerja sama untuk mempromosikan baju lebaran yang dijual di sana. Ketimbang tergiur oleh keuntungan yang ditawarkan, aku menyetujuinya karena ingin tahu, seperti apa sih rasanya melakukan kerja sama yang seperti ini. Benar-benar tidak pernah yang seperti ini sebelumnya.

Ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbanganku. Pertama, persoalan fashion termasuk hal yang berada di ujung paling akhir dalam daftar 100 kebutuhanku. Mengertilah apa maksudku. Aku termasuk orang: yang penting berpakaian baik, dan indikator baikku bukan dalam hal gaya atau mode. Kedua, aku orang yang cukup konservatif dalam hal berpakaian. Mengertilah apa maksudku. Aku tidak mengikuti cara berpakaian muslimah populer yang rumit itu. Standar pribadiku adalah kemenyeluruhan dalam menutupi tubuh berdasarkan syariat, kesederhanaan dalam harga, gaya dan cara mengenakan, dan keserasian dalam warna dan ukuran. Dua hal itu membuatku sadar, menerima tawaran ini membuatku sedikit mengkhianati diri sendiri. Sedikit.

Meskipun demikian, hal ketiga yang berikut inilah yang membuatku berkata ya. Dengan ini aku bisa sekali lagi mengajarkan kepada orang-orang bagaimana cara berpakaian yang disukai Allah, insya Allah, agar orang-orang bisa membuat keputusan, akan seperti apakah penampilan dirinya. Jadi, akan bagaimanakah ia menyelaraskan tuntunan untuk berpakaian takwa dengan keinginan tampil baik dengan pakaian yang indah? Ada baiknya kita ingat selalu prinsip optimalitas itu. Kita memang yang paling tahu keinginan dan kebutuhan diri kita dalam berpakaian, tetapi perhatikan bahwa selalu lebih baik jika kita memperhatikan apa kata agama dalam hal ini:

Pertama, berpakaian takwa bukan sekadar menutup aurat dan menyisakan wajah dan telapak tangan untuk terbuka pada penglihatan umum. Berpakaian takwa adalah berpakaian dengan akhlak mulia: tujuannya untuk beribadah, bukan untuk pamer kekayaan, kecantikan, ketampanan, atau kelebihan-kelebihan lainnya, bukan untuk bermewah-mewah, bukan untuk memboroskan uang, atau sumber daya lainnya untuk “sekedar” berpakaian.

Kedua, kita ingat pakaian api neraka akan dikenakan kepada mereka yang berpaling dari perintah Allah untuk beriman dan bertakwa, sementara pakaian indah dan berhiaskan mutiara akan dikenakan kepada muslim-muslimah yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Cara kita berpakaian di dunia punya konsekuensi di akhirat.

Ketiga, kita kenali, bahwa ada orang yang berpakaian lengkap, tetapi sebenarnya membuka aurat. Terutama pada perempuan, inilah mereka yang berpakaian secara ketat sehingga tampak bentuk tubuh mereka, yang mengenakan pakaian tipis dan transparan sehingga tampak juga bagian tubuh yang seharusnya ditutup, yang memakai kerudung tapi kependekan sehingga tidak menutup betul tubuh bagian dada. Jika itulah keadaan kita, kita perlu meluruskan cara berpakaian kita. Pakaian yang sesuai syariat itu benar menutup aurat, tetapi tidak setengah-setengah dalam menutupinya. Pakaian ini longgar-tidak ketat, dan tidak transparan, dan menutup “perhiasan-perhiasan” tubuh perempuan.

Keempat, kita sadari bahwa kita perlu berhati-hati dalam mengenakan aksesoris. Di tempat umum, perempuan sebaiknya tidak mengenakan parfum atau perhiasan yang bisa membuat laki-laki tertarik. Kita perlu berhati-hati dengan kemungkinan terjadinya pelecehan seksual di tempat umum, bukan? Islam menerangkan bahwa perempuan dan laki-laki harus saling mengendalikan diri. Laki-laki mengendalikan matanya dari melihat hal-hal yang haram dilihat, perempuan mengendalikan diri dengan mengenakan pakaian yang baik.

Kita tidak bisa menahan dorongan tampil indah dalam diri manusia. Kita tidak bisa mencegah manusia untuk tampil menawan, karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat mengapresiasi keindahan. Semoga dengan begitu, ia memuji Allah yang Mahabesar dan Mencintai Keindahan. Yang bisa kita lakukan adalah mendakwahkan, mengajarkan, cara berpakaian yang terpuji, yang membuat si pemakainya terlindungi dan dihormati; juga menyadarkan bahwa setiap amal perbuatan pasti berkonsekuensi bahwa tujuan berpakaian adalah beribadah, bukan memperturutkan hawa nafsu.

***

Terkait Idul Fitri yang digunakan banyak toko-toko pakaian baik di internet maupun di pasar untuk menarik pembeli, aku ingin meluruskan bahwa tidak pernah “baju baru” atau “baju lebaran” menjadi petunjuk yang sebenarnya bagi hati yang telah suci. Benarlah ia “hanyalah” lambang atau simbol kesucian, tetapi bukan kesucian itu sendiri. (Ya, ini permainan semiotika  -_-” ) Benar, secara lahiriah, secara material, baju lebaran atau baju baru memang baru, tetapi hati kita tidak pernah merupakan barang baru dalam hidup kita, berapa pun lebaran, Idul Fitri, dan Ramadhan telah kita lewati sampai mati. Ia adalah barang lama, selama usia kita, dan kita tahu betul lubang-lubang gelap cacatnya. Lubang-lubang itu, kalau ada dan pasti ada, tidak bisa ditambal dengan baju baru yang warnanya putih sekalipun.

Mengkonsumsi simbol bukan jalan yang diajarkan Islam untuk mencapai keridhaan Allah. Yang hendaknya kita bangun dalam hidup adalah otentisitas. Amal yang sebenarnya. Menang di Hari Kemenangan pada dasarnya adalah menang dalam peperangan melawan hawa nafsu. Puasa (tidak makan) adalah satu aspek. Menahan diri untuk tidak boros, tidak bermewah-mewah, dan tidak pamer apapun lewat pakaian adalah aspek yang lain. Jika sudah begitu, kita insya Allah termasuk golongan orang yang menang = berhasil mengendalikan diri.

Dan pesan untuk para desainer pakaian muslimah, ingatlah hal-hal di atas.

***

 Baju lebaran Zalora. Salah satu referensi untuk mencari pakaian muslim.

What-is-Hijab 2

5 thoughts on “Muslim-Muslimah Modis: Why or Why Not?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s