Mendukung-Mengkhianati Islam(isme)

Islamisme

 

Islamisme 2

 

Bagiku, sebenarnya aneh jika seorang muslim yang sudah belajar (terutama tentang Islam) tidak mampu membedakan antara Islam dan islamisme. Kamus populer saja telah “berhasil” membedakannya, sehingga tidak masuk akal jika ada pertanyaan “apakah dapat dibedakan antara Islam sebagai agama dengan Islam sebagai ideologi politik (islamisme)?”, jawaban yang muncul semacam “sulit membedakannya karena tuntutan ber-Islam secara kaffah atau menyeluruh tidak membolehkan ada dikotomi (sebenarnya istilah tepatnya adalah pemisahan) antara Islam politik dan Islam agama”.

Kekhawatiran sebagian orang atas upaya membedakan mana Islam agama dan mana Islam politik dapat dipahami, tetapi argumennya cenderung lemah karena parsial dan memandang dari sisi yang negatif saja. Salah satu dari argumen tersebut seperti pemikiran bahwa pembedaan tersebut adalah upaya untuk memecah-belah umat Islam dan agar umat Islam tidak tampil dalam politik atau tidak membawa-bawa Islam ke dalam politik atau negara. Itu adalah pemikiran khas orang-orang yang isi kepalanya direcoki sentimen tentang “Barat” atau para musuh Islam, atau lebih akuratnya lagi, dipenuhi “Islamisme”. Padahal, ada argumen lain selain itu.

Isu ini aku sadari sensitif, karenanya sebelum memulai menulis lebih lanjut, aku ingin menegaskan bahwa tujuanku bukan untuk mencari gara-gara atau membuat rusuh. Ini murni pemikiran sementara, hasil belajarku yang ingin aku laporkan agar ada orang yang lebih mengerti yang bisa mengevaluasinya atau mengoreksinya sehingga aku tahu yang lebih baik. Kelanjutan dari tulisan ini yang kuharapkan adalah diskusi, bukan perang pemikiran; bukan berakhir tanpa jawaban, melainkan menghasilkan sebuah kesimpulan (meskipun baru sementara dan belum memuaskan).

Jadi, boleh aku mulai?

***

Adalah bijak memulai segala sesuatunya dengan menegaskan definisi apa yang menjadi persoalan.

Pertama, Islam: 1) Agama monoteistik yang cirikan dengan adanya penerimaan atas doktrin ketundukan atau kepasrahan pada Tuhan dan Muhammad sebagai pemimpin dan nabi/ rasul terakhir yang diutus Tuhan kepada manusia, 2) Agamanya umat muslim, memiliki Al Quran sebagai kitab sucinya dan mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan dan bahwa Muhammad adalah rasul-Nya, 3) peradaban umat muslim yang diperintah oleh agama Islam.

Islam sebagai agama menghasilkan peradaban Islam yang mana di dalamnya mengandung aspek sosial-politik yang tercermin dari bentuk atau sistem pemerintahan dan kemasyarakatannya. Perlu ditegaskan bahwa aspek sosial-politik “hanya” komponen dari peradaban Islam, sementara peradaban Islam di muka bumi “hanya”, bisa dikatakan, konsekuensi dari Islam yang dihidupkan dalam keseharian orang-orang yang beragama Islam.

Kedua, Islamisme: 1) Gerakan menghidupkan kembali Islam, sering dicirikan dengan adanya konservatisme moral, literalisme (“kembali ke kitab suci”), dan upaya untuk menerapkan nilai-nilai keislaman dalam semua aspek kehidupan.

Jika penganut agama Islam disebut muslim, maka pendukung islamisme disebut islamis (islamist). Mereka dapat menganut pandangan yang ortodoks (meyakini keyakinan-keyakinan keagamaan yang sudah diterima, yang sudah mapan, atau tradisional) atau fundamentalis (kembali pada prinsip-prinsip fundamental, mematuhi prinsip-prinsip tersebut secara kaku, dan tidak menoleransi pandangan lain serta melawan atau menolak sekularisme).

***

 

Dari definisi itu, muncul pertanyaan yang jawabannya akan penting:

Mengapa para islamis cenderung pada pandangan yang ortodoks dan fundamental, dan tidak pro pada pembaruan atau modernisasi pemikiran Islam, adalah pertanyaan pertama yang masih kuusahakan jawabannya. Namun, jika boleh aku menduganya, mungkin ini dikarenakan pemikiran bahwa modernisasi pemikiran Islam berarti meliberalkan ajaran Islam dan memisahkan Islam dari lapangan kehidupan sesuai keyakinan sekular yang melanda dunia di era modern ini. Memodernisasi pemikiran Islam berarti mem-Barat-kan Islam. Islamisme dalam pemahaman ini adalah counter-culture atau budaya tandingan bagi budaya Barat yang sekuler. Semakin kuat westernisasi yang dirasakan merugikan bagi masyarakat Islam, maka semakin kuat reaksi islamisasi untuk menyelamatkan masyarakat Islam.

Gerakan Islamisme adalah gerakan yang spesifik waktu dan ruang sehingga tidak terjadi secara universal di semua masyarakat Islam. Gerakan Islamisme adalah reaksi atas masalah kehidupan yang tertentu saja, bukan reaksi atas semua masalah. Ini menjadikannya semakin tidak universal. Apa maksudnya?

Spesifik waktu, gerakan Islam adalah gerakan yang baru muncul di era modern pasca kejatuhan peradaban Islam, yang ditandai runtuhnya kekhalifahan Ottoman di abad ke-20, dan kebangkitan peradaban Barat yang semakin menonjol pasca Masa Pencerahan. Spesifik tempat, gerakan Islam paling kuat terjadi di negara-negara di mana pengaruh Barat sangat kuat, mempengaruhi, dan mendominasi aspek-aspek kehidupan masyarakat muslim dan terjadi benturan antara masyarakat yang ingin hidup dengan cara Barat yang maju dan masyarakat yang ingin hidup dengan cara Islam untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Dari situ, dapat cukup tergambarkan masalah kehidupan apa saja yang mencetuskan gerakan membangkitkan kembali Islam. Sebagian itu adalah gerakan moral dan sosial, namun kental unsur politiknya karena tujuan akhir dari kebangkitan Islam itu bukan sekedar mengajak orang untuk beragama secara menyeluruh, tetapi lebih jauh menegakkan kembali dominasi umat Islam di dunia, mematahkan pengaruh Barat, dan mengalahkan Barat.

Perselisihan terkait dukungan terhadap Islamisme yang memunculkan kebutuhan untuk membedakan mana Islam sebagai agama dan mana Islam sebagai ideologi politik yang melahirkan gerakan massa berakar dari tujuan gerakan islamisme yang berbeda-beda dan tidak ada kesepakatan baik isi tujuan maupun cara mencapai tujuan itu. Sebagian kelompok Islam menghendaki gerakan mengembalikan Islam dalam kehidupan cukup pada mengajak orang untuk menerapkan Islam secara benar dalam kehidupan sehari-hari, tetapi ada sebagian yang lain yang ingin lebih daripada itu, yaitu menjadikan umat Islam dominan, berpengaruh, dan menang di atas umat-umat yang lain.

Kelompok pertama yang tidak punya orientasi pada pencapaian keunggulan terpecah menjadi dua kelompok, yaitu: 1) mereka yang cukup menerapkan Islam dalam aspek kehidupan yang dekat dan mampu mereka kontrol dengan kekuatan pribadi mereka sendiri dalam lingkaran hidup sehari-hari (lingkup mikro/ privat/ keluarga/ lingkungan tempat tinggal) dan 2) mereka yang ingin lebih jauh dengan menerapkan Islam dalam aspek kehidupan yang lebih makro, yang meskipun tidak bersentuhan dengan hidup mereka secara langsung, mereka mendapatkan manfaat dari penerapan sistem yang Islami di institusi-institusi sosial dalam masyarakat atau komunitas mereka.

Kelompok kedua yang punya orientasi pada keunggulan terpecah menjadi dua kelompok, yaitu: 1) mereka yang cukup menerapkan Islam dalam aspek-aspek kehidupan, menebarkan pengaruh yang baik, dan mendulang pengakuan dan penerimaan lantaran keunggulan manfaat sistem Islami kepada masyarakat lain yang belum Islam dan 2) mereka yang ingin lebih dengan tidak hanya menerapkan Islam, tetapi memenangkan Islam, menjadikan Islam sebagai yang dominan di seluruh lapangan kehidupan, di negara dan dunia.

Sebagai gerakan sosial seluruh muslim, islamisme (bukan dalam arti spesifiknya menurut kamus) pada hakikatnya adalah upaya menerapkan Islam sehingga karenanya itu adalah cermin kehidupan beragama yang lurus. Islamisme adalah Islam yang bergerak, bukan Islam yang statis atau Islam yang tidak diamalkan. Pertanyaan kedua, mengapa terjadi penyempitan arti islamisme menjadi sekedar gerakan kembali pada yang mapan, tradisional, fundamental, dan ortodoks, serta anti-Barat dan antisekularisme, dan disasarkan “hanya” pada atau tentang kelompok kedua nomor dua? Jawabannya berkaitan dengan apa yang ditakutkan Barat yang ingin melindungi keberlangsungan peradabannya.

Aku menduga, definisi itu adalah definisi dari sudut pandang para ahli di Barat yang dipakai di mana-mana, termasuk di dunia Islam yang tidak sadar ter-Barat-kan. Yang ditakutkan Barat (sekaligus yang menjadi perhatian terbesarnya) dari Islam adalah keyakinan dan syariat Islam yang berlawanan dengan sekularisme yang berlangsung di Barat, sehingga islamisme dimaknai sebagai gerakan anti-Barat yang bertujuan menghancurkan Barat. Orang Barat takut atau tidak suka dengan Islam agama yang berubah menjadi Islam gerakan yang tujuannya seperti itu. Mereka bisa menerima Islam jika Islam adalah agama saja, karena pemahaman bahwa semua agama pada dasarnya baik dan mengajak pada kebaikan, kasih sayang, dan kedamaian. Mereka sulit menerima Islam yang merembes dari ruang privat ke ruang publik karena Islam yang demikian akan menjadi gerakan untuk menghancurkan diri mereka. Jika kecenderungan ke arah negatif itu tampak menguat, maka yang terjadi adalah penekanan-penekanan pada gerakan Islam, sekalipun itu hanya gerakan sosial, bukan militan. Sebaliknya, jika gerakan Islam memberikan kontribusi positif pada masyarakat Barat, gerakan Islam pun turut dilindungi dan didukung, sama seperti gerakan lain yang berkontribusi positif.

***

Berdasarkan pemahaman dari jawaban sementara atas dua pertanyaan penting yang kuajukan di atas, muncul titik terang bagaimana membedakan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai ideologi gerakan atau disebut dalam istilah teknisnya, islamisme.

Tidak semua muslim adalah pendukung islamisme; jika islamisme itu memiliki arti yang sempit sebagai gerakan untuk menegakkan Islam, tetapi dalam rangka mengalahkan kelompok-kelompok anti-Islam. Bergabung dalam gerakan islamis tidak lalu berarti mengamalkan ajaran Islam; jika islamisme itu cenderung berarti sempit, yaitu gerakan yang dalam upanyanya mencapai tujuannya menegakkan Islam justru menghalalkan cara-cara yang diharamkan atau dilarang agama untuk dilakukan.

Jika dicermati (kembali ke pemaparan tentang kelompok satu dan kelompok dua), upaya penerapan Islam membentuk tahapan-tahapan dari yang sederhana menuju yang kompleks dan tahapan-tahapan tersebut mencerminkan kemenyeluruhan Islam yang tidak hanya menjangkau kehidupan pribadi, tetapi juga komunitas, masyarakat, negara, dan dunia. Tujuan gerakan Islam karena itu seberagam itu pula dan tujuan yang tampak lebih kompleks tidak berarti lebih baik daripada yang lebih sederhana. Manusia berbuat menurut keadaannya, bukan? Gerakan Islam dapat mengadvokasi banyak tujuan, tidak hanya tujuan yang besar-besar, tetapi juga yang kecil-kecil; dapat melibatkan banyak orang, tidak terbatas pada para militan, para elit, dan para ulama, tetapi juga muslim yang bertubuh lemah, rakyat biasa, dan yang baru belajar.

Kita sedang berpikiran sempit jika memandang perjuangan Islam yang sah dan yang paling disukai Allah hanyalah perjuangan untuk mengalahkan “musuh-musuh Islam”. Tujuan yang demikian akan senantiasa membawa muslim pada situasi perang, baik perang fisik, perang kata-kata, perang pemikiran, dan sebagainya. Dalam situasi perang betulan, beberapa hal yang haram dapat menjadi halal, seperti membunuh atau menangkap orang yang mengganggu ketenteraman muslim, mengambil harta peninggalan perang (rampasan perang), melakukan penyanderaan, melancarkan segala macam taktik untuk mengelabui, seperti menyebarkan kabar bohong untuk menipu musuh, kabar-kabar yang merugikan musuh agar musuh kalah. Tapi, dalam situasi damai, mindset “perang” membuat orang memandang segala sesuatunya dengan perspektif situasi perang.

Kalaupun kenyataannya tidak ada perang, mereka jadi mengada-adakan atau mengungkit-ungkit hal yang sebenarnya lebih baik diabaikan agar situasi perang itu terbangun. Fikih jihad pada masa perang pun diterapkan pada masa damai. Hal-hal yang seharusnya tetap haram menjadi dihalalkan demi memenangkan perang, seperti menyebarkan kabar bohong/ fitnah, menyebarkan keburukan pihak yang dibenci untuk menjatuhkannya, melakukan pengeboman, penyanderaan, pencurian untuk mendapatkan harta, dan sebagainya. Celakanya, mereka yang demikian merasa telah menegakkan kebenaran.

Jika tujuan gerakan Islam bermacam-macam, maka kegagalan melakukan gerakan Islam juga bermacam-macam, tidak hanya sekedar terbatas atau terpotongnya akses pengaruh Islam dalam kehidupan politik-kenegaraan-dunia (lihat kelompok 2.2 yang bercita-cita besar). Misal masalah sekularisme yang ditakutkan para politisi atau ilmuwan muslim terjadi di bidang politik-pemerintahan dan ilmu pengetahuan, sekularisme pun dapat terjadi di ranah privat (pribadi muslim sebagai individual) dan ini bisa jadi lebih berbahaya. Jauh lebih berbahaya jika yang terjadi adalah terhambat atau terpotongnya akses pengaruh Islam dalam kehidupan individu karena individulah yang membentuk keluarga, masyarakat, dan negara.

Masalah kita adalah kegandrungan kita membahas hal-hal besar, tetapi tidak memperhatikan diri kita sendiri, bagaimana sekularisme juga menjangkiti diri kita. Jika di tataran negara sekularisme termanifestasikan oleh adanya pemisahan institusi dan keputusan pemerintahan dari institusi keagamaan dan ajaran agama, di tataran individu, ini termanifestasikan dalam hidup yang tidak berpedoman pada agama, termanisfestasikan pada diri orang-orang yang pilih-pilih ajaran agama mana ingin diamalkan, yang membelakangi ajaran agama yang tidak disukainya, mengubah-ubah makna ayat agar membenarkan kepentingan pribadi yang tidak benar, yang hanya mau mendengar ajaran yang disuka dan tidak mau mendengar pada ajaran yang mengevaluasi dan mengoreksi dirinya, dan sebagainya.

 ***

Semua muslim menghendaki kebangkitan Islam, kembalinya diri ke posisi yang mulia, terpandang di dunia, dan berpengaruh. Memang itu adalah hal yang dijanjikan Allah untuk terjadi di masa depan yang entah kapan, tetapi sejak sekarang sudah ada muslim-muslimah yang frustrasi dan putus asa, mengapa mimpi itu tak kunjung mendatangkan tanda-tanda akan terwujud. Jika boleh aku berkata, kita ini benar-benar mengabaikan sunatullah bahwa: “Sesungguhnya Allah tidak Mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d 13: 11)

Dalam kenyataannya, pengabaian sunatullah itu tercermin dari tujuan gerakan Islam yang salah arah atau orientasi: berharap mengubah dunia, tetapi tidak memulainya dari mengubah diri sendiri menjadi lebih takwa; berharap mengubah negara, tetapi tidak memulainya dari mengubah diri sendiri dan orang-orang terdekat (keluarga dan teman) untuk menjadi lebih takwa. Kita cenderung mengarahkan tujuan gerakan Islam ke luar diri kita sehingga tidak heran bahwa yang terjadi adalah ketimpangan.

Kecenderungan berharap pada yang besar-besar dan meremehkan peran yang kecil-kecil pada dasarnya membuktikan bahwa memang sifat dasar manusia adalah tergesa-gesa (QS Al Anbiya’ 21: 37). Ingin segera mendapatkan yang dicita-citakannya, tetapi luput memahami bahwa semua itu berproses, bertahap, dan butuh usaha dan waktu. Persoalan ketika kita luput adalah kita jadi berani main hantam, main nekad, main pukul, akhirnya kita rubuh lebih cepat sebelum mampu melakukan langkah yang berarti. Kita memandang keberanian semacam itu sebagai heroisme, kebanggaan, keteladanan, tetapi kekalahan yang dialami adalah kekalahan yang dicapai dengan cara yang konyol. Mengapa tidak gerakan Islam memprioritaskan dan memfokuskan diri pada pembangunan skala mikro sebelum yang makro? Logika dunia memang berkata manusia itu harus bercita-cita besar, menjadi orang besar, mencapai kedudukan yang tinggi, tetapi ada baiknya kita ingat bahwa kita punya Tuhan yang tidak melewatkan hal-hal yang kecil, yang tidak meremehkan amal-amal yang kecil, mimpi-mimpi yang sederhana.

***

Terakhir, ada baiknya kita berhenti memaknai Islam dan islamisme berdasarkan pandangan Barat dan merumuskan konsep kita sendiri tentang apakah Islam dan islamisme kita. Umat Islam lebih mengenal diri dan agamanya sendiri sehingga seharusnya mengerti gerakan Islam apa yang disukai Allah agar agamanya tegak dan manusia menjadi khalifah yang memakmurkan bumi. Islamisme memang upaya membangkitkan kembali Islam dan caranya dengan mengajak muslim untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip iman dan takwa dalam Islam. Namun, itu tidak lalu diekspresikan dengan bersikap tradisional yang anti modernisme, bersikap eksklusif atau merasa diri yang paling dicintai Allah dan anti orang-orang non-Islam, mempertahankan kemapanan dan anti perubahan yang berisi perbaikan, terus memandang ke masa lalu yang dikagumi dan lupa masa depan yang masih misteri menjanjikan keadaan yang mungkin jauh lebih baik.

Orang Barat boleh mengartikan islamisme sebagai gerakan yang anti-Barat, anti sekularisme, dan anti demokrasi, tetapi aku sebagai muslim akan mengartikan islamisme sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar; gerakan antimaksiat, anti kemusyrikan, anti kefasikan, anti kemunafikan, anti taklid buta, anti kekafiran, anti kezaliman, dan sebagainya yang dilarang oleh agama. Barat boleh memaknai islamisme bertujuan mengalahkan diri dan peradaban mereka, tetapi sebagai muslim aku akan memaknai islamisme sebagai gerakan mengalahkan hawa nafsu yang menguasai, mengalahkan bisikan-bisikan setan yang mengajak untuk berbuat dosa, mengalahkan diri yang cenderung pada egoisme, sifat-sifat tercela, malas menggunakan akal, malas memperbaiki diri, dan malas beramal. Islamisme bukan menegakkan syariat dan mengajarkan akhlak pada orang lain, melainkan pada diri sendiri.

Jadi, apa definisimu?

11 thoughts on “Mendukung-Mengkhianati Islam(isme)

  1. “jadi, apa definisimu?” wew, setelah baca artikel diatas jdi bingung mau jawab yg mana, saya rasa artikel diatas tdk hanya ttg islamisme tapi menyentuh aspek lainnya seperti islam sbg ideologi politik, sekelurisme barat, perbaikan individu, ahlak, perbaikan mikro makro.. dan itu perlu pembahasan ‘definisi’ tersendiri.

    saya bisa saja salah menginterpretasikan artikel diatas, shg memberikan jawaban yg keliru.. saya pikir utk menimalisir kesalahan interpretasi dan mendapatkan ‘kesimpulan yg utuh’, penulis sebaiknya mengandalkan diskusi face to face.

  2. Satu hal saya tangkap, mungkin ini “saripati”nya, saya juga tidak tahu, “memulai dari diri sendiri baru mengubah masyarakat”?
    pandangan saya tentang gerakan islamisme atau islam ideologi,sepatutnya gerakan2 islam melihat akar permasalahan, induk dari segala permasalahan, dan tujuan gerakan islam harusnya mencabut akar permsalahan itu. mengenai kemiskinan yang merajalela dan sebagainya,itu kan hanya akibat, nah gerakan islamharusnya sadar apayang menjadi akar permasalahan umat muslim, itu saja sih menurut saya, jika salah mohon dibetulkan,selain itu artikelnya luar biasa, kapan2 buat tulisan tentang bagaimana membuat artikel yang berbobot seperti ini dong… sekian..🙂

      • tapi kan fakta masyarakat sebagai masyarakat, dan seserang sebagai individu itu berbeda? dalam ilmu sosiologi pun kan berbeda cara antara merubah masyarakat dan merubah individu? gimana tu mbak? kan misalnya gini, kita hendak merubah sesorang untuk menjauhi riba, hendak kita merubah masing dari mereka, mulai dari kita yg terdekat dengan kita dan seterusnya, tapi ketika kita sudah mau menjauhi riba sedangkan masyarakat diseketarnya masih menganggap bunga itu sah-sah saja, gimana jadinya tuh mbak?kan gak berubah masyarakatnya jadinya? hanya membuat indiidu itu terasing??

      • Saya belajar psikologi, karenanya saya cenderung memahami persoalan kemasyarakatan pertama kali di level mikro individu manusianya. Kelemahannya adalah cara pandang ini (mungkin) terkesan atau memang menyederhanakan masalah. Masalah sosial tidak sekedar merupakan penjumlahan masalah-masalah individu. Selain itu, saya pun lemah di ranah praktis dan kurang dekat dengan situasi riil lapangan di mana masalah terjadi. Pemikiran saya jadi cenderung idealistis. Karena itu, saya senang sekali jika ada orang yang pengetahuan dan keahliannya menutupi kelemahan-kelemahan ini.

      • Yang banyak saya pelajari di psikologi adalah tentang bagaimana individu berubah dan diubah, bukan bagaimana masyarakat berubah dan diubah. Saya tidak banyak mengerti soal rekayasa sosial, meskipun sudah mulai belajar ke arah itu. Harapan saya adalah bisa memahami satu perspektif yang saling melengkapi dan menyeluruh tentang bagaimana perspektif kemasyarakatan yang besar dapat bertemu dengan perspektif individual yang kecil. Keyakinan saya sekarang adalah masalah di masyarakat dapat diselesaikan dengan menyelesaikan masalah dalam diri individu. Sebaliknya pula, masalah dalam diri individu dapat diselesaikan dengan menyelesaikan masalah di masyarakat.

        Memang masyarakat dan individu adalah dua hal yang berbeda, tetapi yang saya pegang adalah di mana pun masyarakat pasti terdiri atas individu-individu dan individu selalu punya dorongan untuk mendekati satu sama lain dan bermasyarakat. Perbedaan di antara dua hal itu, bagi saya, hanyalah di tataran konsep bahwa masyarakat itu didefinisikan begini dan individu itu begini. Pada kenyataannya, tidak bisa dibedakan atau dipisahkan. Dalam kerumunan banyak orang, yang kita lihat memang orang yang banyak, tetapi dalam waktu yang sama kita juga melihat yang banyak itu terdiri atas orang-orang.

        Ingat sebelumnya masalah sosial tidak sama dengan penjumlahan masalah-masalah individu, karena bisa jadi merupakan perkaliannya. Prinsip yang sama juga bisa digunakan untuk memahami bahwa perbaikan individu-individu akan berdampak lebih besar di level masyarakat. Perbaikan di masyarakat merupakan hasil, ibaratnya, perkalian perbaikan-perbaikan individu. Yang seperti ini tidak bisa diukur secara kuantitatif, tetapi secara kualitasnya dapat dirasakan jika memang terjadi. Itulah keunikan manusia ketika ia sendiri sebagai individual dan ketika ia bersama dengan sesamanya sebagai masyarakat.

      • Jika ilmu sosial ini mau kita hubungkan dengan Islam, mungkin inilah yang dimaksudkan dalam QS 8: 65-66. Jika ada 20 orang sabar di antara kita, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Jika ada 100 orang sabar, mereka dapat mengalahkan 1.000 orang. Allah pun mengerti bahwa pada diri kita ada kelemahan, tetapi itu tidak mengurangi pengaruh orang-orang yang berusaha dan sabar. Jika ada 100 orang sabar di antara kita, niscara mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Jika ada 1.000 orang sabar, mereka insya Allah bisa mengalahkan 2.000 orang.

        Intinya, dalam bekerja sama dengan orang untuk memperjuangkan yang benar, kewajiban kita adalah tetap berusaha dan mengutamakan SABAR. Kembali lagi seperti yang saya katakan dalam artikel, sebaiknya TIDAK TERGESA-GESA. Allah saja mengerti kelemahan kita dan “memaklumi” bahwa yang kita bisa adalah sesuai kemampuan dan keadaan kita, mengapa kita tidak bisa mengakui bahwa kita lemah? Yang paling bisa kita kuasai atau pengaruhi untuk menjadi baik adalah diri kita sendiri dan orang-orang terdekat dengan kita. Jika pengaruh yang baik itu kuat, pengaruh yang negatif bisa ditangkal. Bahkan, jika kita baik dan orang lain bisa mengerti manfaat kebaikan yang kita hidupkan dalam diri, pengaruh negatif itu bisa “dimakan habis”.

        Cara kita untuk memperjuangkan yang baik dan yang benar kebanyakan tidak salah. Kita sudah tahu caranya, cuma sering kita tidak sabar dalam implementasinya. Kita maunya cepat dan sukses mewujudkan yang besar-besar. Kalau kita tidak bisa sabar, janganlah menginginkan yang besar-besar, tetapi kecil-kecil saja, inginkan diri kita sendiri yang berubah jadi baik dan tetap baik. Terhadap diri kita sendiri, kita memang tidak boleh terlalu sabar atau menunda-nunda memperbaiki diri. Semakin besar dan luas masalahnya, kita harus semakin lebih sabar. Tapi, jika masalahnya kecil dan sempit, di sekitar kita atau pada diri kita sendiri, kita justru semakin tidak boleh sabar untuk mengubah keadaannya.

        Itu saja.🙂

  3. Kalaupun kenyataannya tidak ada perang, mereka jadi mengada-adakan atau mengungkit-ungkit hal yang sebenarnya lebih baik diabaikan agar situasi perang itu terbangun.

    Oh ya? Sebegitukah? Memangnya ada kelompok kaum muslim yang berpandangan demikian? *kaget*

    • Ada.
      Memang bukan hal “besar”, tapi saya cermati sebagai bahan pelajaran.

      Kasus pertama, dari adik saya ketika ia mengikuti acara kaderisasi organisasi kerohanian Islam di kampusnya. Mungkin tujuannya menyadarkan tentang situasi global di mana di seberang Islam ada Yahudi dan Amerika Serikat, tapi yang dikatakan orang di dalamnya menurutku berlebihan: “Yahudi memata-matai orang Islam 24 jam sehari.”

      Kasus kedua, dari dunia politik. Ini sangat terkenal, tapi mungkin sudah lewat. Ketika seorang elit partai Islam tersandung kasus korupsi, dikatakan itu adalah konspirasi Yahudi yang ingin menghancurkan umat Islam. Sekalipun itu kemudian diralat, apa yang dikatakan pemimpin adalah apa yang diajarkan kepada sekalian pengikutnya.

      Kasus ketiga, upaya islamisasi ilmu psikologi. Kampanye yang disebarkan di kalangan mahasiswa psikologi: psikologi ilmu kafir, banyak ilmuwannya orang Yahudi, ateis. Psikologi ilmu yang berbahaya karena menjauhkan manusia dari fitrahnya, dari Tuhan.

      Rasanya, masih ada banyak lagi pemikiran-pemikiran seperti itu yang ditanamkan agar generasi muda muslim memandang dunia dengan pandangan bermusuhan. Musuh itu mungkin memang nyata, ada. Tetapi, membenci adalah pilihan. Sebagian orang memilih untuk membenci, maka semacam itulah ekspresi mereka. Sedikit atau banyak, orang-orang yang demikian akan memelihara suatu kondisi agar rasa benci itu tetap ada karena dengan rasa dan semangat itulah mereka mendefinisikan diri mereka. Dari situ mereka bisa melabel diri militan, muslim sejati, mujahid, pejuang, tentara Allah, pengikut rasul, golongan rasul, pendobrak. Mereka bergerak didorong oleh rasa benci. Bagi mereka, lapangan kehidupan adalah medan peperangan. Selalu ada musuh di sana. Sebagian memang sudah dideklarasikan Allah sebagai musuh, tetapi sebagian mereka ada-adakan demi ego mereka.

      Tulisan saya tidak ingin menyoroti mereka sehingga definisi islamisme yang sesuai dengan kehendak Barat-lah yang terus bertahan dalam ruang pemikiran kita. Saya tidak hendak mengubah apa-apa, cuma berjaga-jaga demi generasi setelah saya yang masih butuh belajar sebelum mereka menentukan pilihan akan menjadi muslim dan islamist yang seperti apa. Saya ingin menunjukkan bahwa dunia yang sama dialami oleh semua orang dapat dimaknai secara berbeda dan pemaknaan yang berbeda itu akan memberikan akhir yang berbeda. Minimal, mereka tidak memandang bumi ini sebagai medan perang suci (semata), melainkan tempat bercocok tanam untuk akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s