Mendukung-Mengkhianati Islam(isme): Ber-Islam dengan Akal

Untuk Peta. Ini merupakan respon untuk artikelnya (yang berjudul sama seperti artikel pertamaku): Mendukung-Mengkhianati Islam(isme).

***

Sebenarnya, ada satu hal yang sedang saya pelajari sekarang, yaitu membedakan antara ideologi dan sistem pemerintahan. Permasalahan pertama kita adalah kita sepertinya sering salah paham dan mencampuradukkan konsep. Dalam pemahaman kita ideologi = sistem pemerintahan, padahal sebenarnya berbeda meskipun berhubungan. Terkait dengan pembahasan kita, Islamisme termasuk ideologi, sama seperti sosialisme dan kapitalisme. Demokrasi adalah sistem pemerintahan.

Saya pernah membaca buku “Isme-isme Dewasa” Ini-nya Ebenstein (tentang ideologi dan sistem pemerintahan abad 20) dan tertarik dengan caranya mengklasifikasikan bentuk pemerintahan dan ideologinya.

Sistem pemerintahan dalam buku itu disebut ada dua, yaitu: totaliter dan demokrasi. Sistem pemerintahan totaliter adalah sistem pemerintahan di mana kekuasaan terpusat pada satu orang, satu partai, satu kelompok. Satu orang/ partai berkuasa total. Lawannya adalah sistem pemerintahan demokratis di mana kekuasaan didesentralisasikan ke banyak orang/ rakyat. Bayangkanlah sebuah kontinum; di kiri ada totaliter dan di kanan ada demokrasi.

Sistem pemerintahan totaliter-demokrasi terbagi lagi, masing-masing menjadi dua; komunisme totaliter dan fasisme totaliter, dan kapitalisme demokratis dan sosialisme demokratis. Di sini, komunisme, fasisme, kapitalisme, dan sosialisme adalah variasi ideologi. Dengan bentuk/ sistem pemerintahan yang sama, rencana, implementasi, dan hasilnya dapat berbeda tergantung ideologinya. Sistem pemerintahan itu ibarat suatu kerangka; apa yang mengisinya dapat bermacam-macam.

Permasalahan kedua adalah kita juga sepertinya sering salah memperlawankan atau memperbandingkan, yaitu Islam dan demokrasi. Sejak awal itu tidak layak banding (incomparable) karena tidak satu level. Islam adalah agama, sementara demokrasi adalah sistem pemerintahan. Islamisme dan demokrasi pun tak bisa. Islamisme adalah suatu jenis ideologi (gagasan yang merefleksikan kebutuhan dan aspirasi orang-orang dan dasar sistem ekonomi, politik, pendidikan, dsb.), sementara demokrasi adalah suatu jenis sistem. Jika hendak dibandingkan atau dilawankan, maka yang jadi topik hangat “seharusnya” adalah sistem khalifah dengan sistem demokrasi, atau sistem khalifah dengan sistem totaliter. Ini analog dengan buku yang pernah ditulis Abul A’la Al Maududi yang berjudul “Khalifah dan Kerajaan”. Dia membandingkan sistem kerajaan di era dinasti umayyah dan abbasiyah dengan sistem khalifah sebelum era tersebut. Dengan begini, pembahasan akan setara karena sama-sama membandingkan sistem. Jika ingin mengkritisi demokrasi, kritisilah dengan argumen tentang sistem khalifah. Jika ingin mengkritisi kapitalisme atau sosialisme, kritisilah dengan argumen Islamisme. Jika kapitalisme demokratis saja bisa ada, maka Islamisme demokratis juga seharusnya bisa ada.

Permasalahan ketiga adalah terkait pertanyaan “seberapa Islami-kah sistem demokrasi?” Banyak sekali pendapat tentang ini. Ada yang mengatakan sistem pemerintahan Islam itu demokratis sejak awal (ada musyawarah, mendengarkan pendapat banyak orang, dsb.), tetapi ada yang mengatakan tidak karena itu berasal dari Barat yang kafir. Orang pertama akhirnya menerima demokrasi, orang kedua menolak demokrasi. Orang pertama ikut berpartisipasi dalam demokrasi, orang kedua menjauhi demokrasi. Mana yang benar?

Menjawab pertanyaan ini sepenting menjawab pertanyaan kita sebelumnya tentang definisi Islam dan Islamisme bagi pribadi kita. Mengapa? Karena ini menentukan apa atau bagaimana gerakan kita. Sebagian orang berdasarkan Islamisme bergerak untuk menghapuskan sistem demokrasi dan menggantinya dengan sistem khalifah. Namun, alternatifnya sebenarnya tidak hanya itu. Ada orang yang bergerak untuk menyesuaikan sistem demokrasi dengan sistem Islam (sehingga mungkin nanti muncul istilah “Islamisme demokratis”), atau memberikan nafas Islam dalam sistem demokrasi. Atau mungkin yang paling longgar adalah membiarkan demokrasi karena argumen bahwa demokrasi itu sudah Islami.

Dalil-dalil agama rasanya mengakomodasi semua argumentasi tersebut. Selalu ada ayat Al Quran atau hadist yang bisa digunakan untuk menjadi standar atau kriteria untuk total menerima atau menolak, atau 50:50 dalam menerima dan menolak. Keputusan menerima-menolak itu tergantung kriteria yang digunakan dan kriteria itu tidak tetap, melainkan dapat digeser-geser ukuran ketat-longgarnya, sesuai tuntutan keadaan dan kebutuhan. Jadi jika ditanya “mana yang benar”, maka rasanya paling bijak menjawab bahwa “semua ada benarnya, tergantung konteks atau situasi dan kondisinya”. Ini macam kita sedang luka. Memang luka itu harus diobati dan obatnya, misalnya adalah Betadine. Itu benar. Sesuai, jika lukanya ringan dan di permukaan. Ada kondisi yang membuat itu tidak sesuai. Kita tidak bisa memberikan Betadine pada luka bakar parah atau luka sobek, karena pengobatannya berbeda.

Kita bisa gunakan itu untuk memahami bagaimana menerapkan Islam. Apakah sifat Islam sama seperti Betadine yang cuma bisa dipakai di waktu atau tempat tertentu saja? Jika begitu, Islam bukan agama yang universal dong! Bagaimanakah Islam yang menjangkau semua waktu dan tempat atau universal itu? Rasanya, kita perlu belajar berpikir bahwa sebagai obat semua luka/ masalah manusia, Islam itu tidak hanya terdiri atas Betadine, tetapi juga di dalamnya ada antiseptik, plester, perban, antiinfeksi, antiinflamasi, bius lokal, bius total, bedah kecil, dan bedah besarnya.

Ada saatnya kita dipaksa menerima suatu sistem tidak Islami karena tekanan eksternal yang besar, tidak salah jika kita terpaksa “mengisolasi” penerapan Islam pada diri kita sendiri dan keluarga demi keselamatan kita. Ada saatnya kita mulai lebih bebas, tidak salah jika kita mulai pula keluar mendakwahkan Islam demi keselamatan diri kita dan orang lain. Ada saatnya kita bisa lebih berpengaruh, maka usaha kita tidak salah jika tidak lagi lokal, melainkan nasional maupun internasional. Ada saatnya Islam mengajarkan bahwa menggunakan Betadine saja cukup (pengobatan mandiri), ada saatnya harus ke dokter. Ada saatnya Islam berkata itu nanti akan sembuh sendiri, tetapi ada saatnya suatu luka begitu parah sampai harus dioperasi, bahkan amputasi.

Pada intinya, yang utama adalah kenali kondisi. Bukan hanya tentang kita ini tinggal di zaman dan tempat macam apa, tetapi juga situasi dan kondisi yang macam apa. Mungkin sering terabaikan, tetapi bersikap hati-hati dan cermat mengenali kondisi ini juga amal yang diajarkan Islam. Ber-Islam itu bukan cuma hidup menerapkan aturan Islam, tetapi menerapkan aturan secara bijaksana. Ber-Islam itu bukan cuma pakai badan, tetapi juga pakai akal.

Kembali ke pertanyaan ketiga, seberapa Islami-kah demokrasi sehingga boleh diterima? Saya kira kualitas Islami atau tidak Islami bukan terletak pada demokrasi itu semata sebagai suatu konsep sistem pemerintahan yang diterapkan secara nyata dalam kehidupan, yang sebagai OBJEK kajian status ke-Islam-annya mengalami tarik-ulur diakui atau tidak. Yang bisa dinilai Islami atau tidak Islami itu adalah juga kita, pelaku, sebagai SUBJEK yang berbuat/ bertindak/ melakukan/ menerapkan sistem demokrasi atau tidak. Orang tidak lantas dinilai tidak Islami ketika menerapkan sesuatu yang dianggap tidak Islami, dan bisa juga dinilai tidak Islami meskipun menerapkan sesuatu yang dianggap Islami.

Demokrasi sebagai objek bisa jadi “hanyalah” ujian bagi ketakwaan kita. Tidak lebih. Ia sama seperti hal-hal lain di dunia yang kontroversial maupun yang tidak kontroversial. Misal, di satu ketika, dapat dinilai Islami orang yang cerdik beradaptasi, melebur, toleran dengan demokrasi karena mengerti bahwa keras memerangi orang-orang yang mayoritas mendukung demokrasi hanya akan membuat dirinya dipenjara lantaran tuduhan mengacaukan keamanan. Dapat dinilai tidak Islami ketika seseorang yang beradaptasi dengan demokrasi ikut-ikut bebas bersuara, tak peduli benar atau salah, memanfaatkan kebebasan untuk kepentingan agama sekalipun, macam kampanye negatif yang dilakukan kader partai Islam tertentu selama masa pemilu.

Misal lainnya, hijab adalah objek Islami. Orang dapat dinilai tidak Islami meskipun berhijab jika tujuan berhijabnya untuk pamer kecantikan. Tidak berhijab dinilai tidak Islami. Namun, orang dapat dinilai Islami meskipun tidak berhijab jika tujuan tidak berhijabnya adalah melindungi dirinya dari gangguan di negara yang melarang hijab. Misal terakhir, anti minuman keras itu Islami, tetapi orang yang memperjuangkan anti-miras itu bisa tidak Islami. Dia sendiri benar tidak minum, tetapi jika caranya untuk membuat orang lain tidak minum adalah dengan membakar rumahnya biar dia tidak punya uang lagi untuk beli minuman keras, itu sulit sekali dikatakan dia Islami. Atau kita ingin mengajarkan orang sistem khalifah itu lebih baik daripada demokrasi. Objeknya benar, Islami, tetapi kita sebagai pendakwah bisa tidak Islami jika dalam mengajarkan, kita menggunakan kata-kata kasar untuk menjelek-jelekkan demokrasi.

Pertanyaan kita seharusnya setelah ini adalah seberapa Islami-kah kita ketika menerima atau menolak demokrasi? Tidak hanya demokrasi. Ada banyak sekali objek lain yang bisa kita terapkan pertanyaan serupa. Seberapa Islami-kah kita ketika menerima atau menolak Prabowo/Jokowi? Seberapa Islami-kah kita ketika menerima atau menolak kapitalisme? Macam-macam. Dan, terakhir, saya pun membuat kesimpulan sementara bahwa orang yang menggunakan akalnya dalam ber-Islam adalah orang yang berakhir sebagai muslim-muslimah yang berakhlak mulia. Ia menjadi subjek kehidupannya, tetap dalam Islam betapapun makna objek-objek, masa dan tempat hidupnya berubah-ubah. Ke-Islam-annya tidak terlekat pada objek, melainkan pada subjek; dirinya.

 

Sungguh ini adalah nasihat dan peringatan bagi diri sendiri.

3 thoughts on “Mendukung-Mengkhianati Islam(isme): Ber-Islam dengan Akal

  1. ya, sama seperti artikel sebelumnya, sebaiknya penulis lebih mengandalkan diskusi face to face utk me-clear-kan pembahasan islamisme atau ideologi ini. di jogja sana saya yakin anda bs menjumpai muslimah yg bs diajak diskusi ttg pembahasan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s