Kepemimpinan Bag. 1: Kepemimpinan Dosen atas Mahasiswanya

Catatan:

Seri kali ini berisikan memo reaksi yang kubuat selama satu semester mengikuti mata kuliah Kepemimpinan Strategik dengan dosen pengampu Pak Fathul Himam. Aku mahasiswa dengan minat utama Psikologi Pendidikan tidak merasa tersasar masuk ke kelas Psikologi Industri dan Organisasi. Alasannya banyak.

Pertama, aku tengah berusaha memahami dunia dan aktivitas pendidikan dari sudut pandang yang makro. Kelas adalah organisasi. Sekolah adalah organisasi. Dinas Pendidikan adalah organisasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah organisasi. Mungkin, ini adalah langkah awalku memahami ilmu manajemen kelas dan manajemen pendidikan. Kedua, secara pribadi aku sangat tertarik pada topik kepemimpinan. Ini bukan sekedar masalah tahun ini adalah tahun politik. Aku ingin memahami seperti apakah kepemimpinan atas diri orang-orang itu dalam berbagai konteks atau situasi.

Yang aku tulis dalam memo reaksi sangat beragam. Senang sekali mengerjakan tugas ini. Pertama kalinya mengikuti kuliah yang tugasnya membuat aku berpikir, berefleksi, dan berkarya. Alhamdulillah… dan terima kasih Pak Fathul. Kalau besok saya menjadi dosen, bapaklah salah satu referensi saya bagaimana saya memimpin orang-orang yang memasuki kelas saya🙂

***

Good Teacher

 

Jika memo reaksi boleh diberi judul, memo ini ingin saya beri judul “Pak Fathul Himam”. Tentang kepemimpinan, hal pertama yang saya pelajari adalah dari melihat sosok Pak Fathul sebagai dosen mata kuliah Kepemimpinan Strategik. Kepemimpinan terepresentasikan lewat sosok berbagai macam orang, seperti nabi, pendeta, presiden, raja, jenderal, ketua partai, dan sebagainya, tetapi dalam lingkungan pendidikan dan dalam lingkupnya yang paling kecil, yaitu kelas, dosen adalah pemimpin bagi para mahasiswanya. Hari pertama kuliah saya pun belajar tentang dosen sebagai pemimpin.

Banyak orang membatasi peran dosen pada tugasnya sebagai akademisi. Dosen hanya sebagai pendidik, pengajar, dan bahkan sekadar fasilitator belajar bagi mahasiswanya jika pembelajaran itu bersifat student-centered. Dosen hanya tanda ada perkuliahan dan jika dosen tidak datang, maka itu tanda perkuliahan ditiadakan. Dosen hanya sebagai figur otoritas dan pemberi nilai. Mahasiswa suka dosen yang tidak sulit memberi nilai dan tidak banyak memberi tugas. Mahasiswa suka dosen yang “enak” dalam arti seperti itu. Dosen yang enak difavoritkan dan kelasnya diminati banyak mahasiswa. Dosen yang tidak enak dijadikan pembicaraan dan kelasnya hanya dimasuki jika terpaksa.

Saya berpikir, kelakuan mahasiswa sebagai pengikut dipengaruhi oleh dosen yang dilihat dan didengarkannya di setiap perkuliahan. Ada mahasiswa yang setelah masuk keluar dengan kelegaan karena terbebas dari perkuliahan yang menekan, ada yang keluar dengan biasa saja karena perkuliahan berlangsung datar-datar saja, tetapi ada pula yang keluar dengan air muka cerah karena ia mendapatkan sesuatu dari perkuliahan. Materi kuliah adalah perolehan standar dari dalam kelas dan sering bukan penyebab air muka cerah, melainkan serius.

Bercermin dari pengalaman saya sendiri, yang mencerahkan saya adalah inspirasi yang mencerahkan dan sering sumbernya adalah dosen yang menyampaikan tidak hanya pengalaman hidup atau pemahaman-pemahaman pribadinya, tetapi juga nilai dan visi hidupnya. Secara langsung maupun tidak langsung, dosen yang seperti itu menunjukkan sesuatu; mengarahkan mahasiswanya menuju suatu tujuan yang bermakna. Mahasiswa yang menyambut arahan itu pun menjadi pengikutnya. Tak peduli seberapa banyak tugas dan tinggi standar evaluasi, mahasiswa sadar memilih bertahan karena mendapati ada sosok yang harus/ perlu ia lihat dan dengarkan dalam kelas. Mungkin tidak biasa menganggap dosen sebagai pemimpin, tetapi pada esensinya dosen demikian adalah pemimpin.

Dengan sudut pandang yang demikian terhadap dosen, ditambah pengetahuan bahwa pemimpin adalah kunci hidup matinya suatu organisasi, institusi dan perusahaan (Bass, 1990), maka kepemimpinan dosen menentukan sukses gagalnya suatu kelas, atau secara lebih spesifik, pembelajaran dalam kelas. Awal yang baik menentukan akhir yang baik. Karena itu, pertemuan pertama adalah momen terpenting perkuliahan. Beruntung sekali sejak awal saya memperhatikan Pak Fathul, terutama dalam hal apa yang dilakukan di pertemuan pertama perkuliahan. Sedikit dosen yang di pertemuan pertama langsung memberikan kuliah. Di antara banyak yang menggunakan pertemuan pertama untuk membicarakan kontrak kuliah dan silabus mata kuliah, hanya Pak Fathul dosen yang menyampaikan harapan kepada mahasiswanya tentang apa yang bakal mahasiswa dapat dari perkuliahan. Saya pun berpikir, seperti itulah peran pemimpin: menumbuhkan aspirasi.

Dari mengamati saja, saya menyimpulkan tentang peran pemimpin, yaitu menginspirasi dan mengaspirasi orang-orang yang dipimpinnya. Saya belum membaca cukup banyak literatur, tetapi saya berencana untuk itu, untuk menemukan jawaban atas pertanyaan, apa saja yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin yang berhasil. Jika kemudian saya dapat menarik temuan itu ke dalam dunia pendidikan, terutama dalam lingkup kelas, karena saya mulai punya pandangan bahwa guru yang baik sesungguhnya adalah pemimpin bagi murid-muridnya.

 

Referensi

Bass, B. M. (1990). Bass & Stogdill’s Handbook of Leadership. New York: The Free Press.

 

Memo Reaksi 1 (11 Maret 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s