Kepemimpinan Bag. 10: Kepemimpinan yang Adaptif

adaptive leadership

 

Sekali lagi, tidak ada yang saya pelajari selama beberapa hari terakhir. Entah mengapa, perkuliahan sedang berada di titik yang paling membosankan. Yang lebih parah, karena tekanan tugas di mata kuliah-mata kuliah yang lain, sulit rasanya bisa menjaga perhatian tetap utuh untuk mata kuliah ini.

Saya berusaha mencari ide untuk menulis. Cara yang paling meredakan stres adalah dengan menonton film. Tapi, ternyata saya memilih film-film yang buruk. Tidak menonjol aspek kepemimpinan dalam film-film itu, kecuali mungkin pada satu. Saya menonton After Earth (2013) yang dibintangi oleh Will Smith dan anak laki-lakinya. Ini scince-fiction. Mau tahu ceritanya?

Film ini tentang perjuangan ayah dan anak untuk bertahan hidup di bumi. Diceritakan sebagai latar belakang, mereka adalah kelompok manusia yang melakukan eksodus ke luar angkasa dan tinggal di planet lain karena bumi menjadi tempat yang berbahaya untuk ditinggali. Singkatnya, mereka hendak melakukan perjalanan ke suatu tempat di planet lain untuk “berlibur”, tetapi mereka kecelakaan di jalan. Pesawat mereka terdampar di, celakanya, bumi. Bumi adalah planet yang dikarantina. Planet yang paling tidak bersahabat untuk manusia.

Dari kecelakaan itu hanya ayah dan anak itu yang bertahan. Untuk memanggil bantuan, mereka harus mengaktifkan suar, tetapi sayangnya suar itu tersimpan di bagian ekor pesawat yang jatuh terpisah 100 km jauhnya dari mereka. Si ayah patah kaki, jadi cuma si anak yang bisa diandalkan untuk menyelamatkan hidup mereka. Dengan dipandu oleh ayahnya, si anak melakukan perjalanan untuk mencapai bagian pesawat itu. Film ini sebagian besar bercerita tentang perjalanan si anak itu.

Katakanlah si ayah menjadi pemimpin, maka si anak menjadi pengikut. Si ayah sesungguhnya adalah seorang jenderal semacam pasukan pemusnah monster (ranger) yang mengganggu di planet mereka tinggal. Dia orang yang sangat hebat karena memiliki kemampuan khusus untuk menghadapi monster. Si anak mengidentikan diri dengan sang ayah, berusaha keras untuk menjadi ranger. Tapi sayang, karena terlalu bersemangat, ia justru gagal dalam ujiannya. Mereka pergi “berlibur” ini dalam rangka mengakrabkan diri dan menghibur hati si anak.

Tidak lengkap jika tidak bercerita pula tentang si monster, Ursa. Ini monster yang sangat ditakuti dan cuma bisa dibunuh oleh ranger yang bisa menjadi ghost. Inilah kemampuan khusus untuk menjadi bisa tak terdeteksi oleh Ursa. Ursa bisa mendekati manusia dan tak ada yang bisa bersembunyi darinya karena Ursa “melihat” manusia dari feromon yang keluar dari tubuh manusia yang ketakutan. Ghost adalah kemampuan ranger untuk menjadi tidak tampak karena keberhasilan mengendalikan rasa takut. Jika sudah menjadi ghost, Ursa bisa dibunuh.

Karena kecelakaan itu, satu Ursa yang sedianya akan digunakan untuk latihan para ranger lepas di bumi. Perjuangan si anak menghadapi keganasan alam di bumi untuk mencapai bagian pesawat tadi di tutup dengan pertarungannya melawan Ursa yang lepas itu. Di permukaan mungkin tampak sebagai pertarungan si baik melawan si jahat, ranger muda melawan Ursa. Namun, di balik itu pun terjadi pertarungan-pertarungan lain. Pertarungan si anak dengan si ayah, dan pertarungan si anak dengan dirinya sendiri. Adalah tindakan besar bagi si anak untuk melanggar perintah ayahnya yang memberikan perintah untuk berbalik ketika misi tampak akan gagal. Ia melawan kepengecutan dan rasa putus asa ayahnya. Juga si anak telah melakukan hal yang besar ketika ia melawan rasa takutnya sendiri ketika menghadapi Ursa. Puncaknya, ia berhasil mencapai ghost.

Bagaimana pertarungan melawan rasa takut? Memang kompleks dinamikanya, juga dramatis. Tapi, ada satu yang penting, yang menunjukkan betapa sang ayah sangat inspirasional. Saya mencatat kalimat-kalimatnya untuk sang anak ketika ia ditanyai, bagaimana caranya menjadi tidak takut: “Ketakutan itu tidaklah nyata. Tempat yang bisa didiami ketakutan adalah pikiran kita akan masa depan. Itu ciptaan khayalan kita, menyebabkan kita takut akan hal-hal yang tidak ada dan mungkin tak pernah ada. … Bahaya itu sangat nyata. Tapi takut adalah pilihan.

Bagaimana bisa seorang jenderal yang awalnya begitu otokratik menjadi inspirasional, atau transformasional? Saya hanya berpikir, dalam cerita saja masuk akal gaya kepemimpinan dapat berubah semacam itu, mengapa tidak dalam kehidupan sehari-hari kepemimpinan sefleksibel itu? Di kelas, kita tidak belajar tentang fleksibilitas itu, bukan? Dalam pikiran saya tertanam, jika sesuatu sudah merupakan suatu gaya, maka gaya itu akan tetap seperti itu. Gaya itu tak berhubungan dengan gaya-gaya yang lain. Gaya itu berdiri sendiri, bermain sendirian, dalam mendukung seorang pemimpin mencapai tujuannya.

Entahlah, apakah ini perspektif baru, atau baru hanya bagi saya. Saya berpikir analisis kepemimpinan di level individual sebenarnya lebih kompleks dari yang selama ini saya tahu. Mengapa analisis di level individual hanya mengungkap perilaku-perilaku efektif pemimpin dan sifat-sifat pemimpin yang efektif? Mengetahui bahwa pada kenyataannya gaya kepemimpinan berubah-ubah menurut situasi dan kondisi menunjukkan kemampuan adaptasi seorang pemimpin, tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap dirinya sendiri. Kemampuan seperti ini, katakanlah diistilahkan sebagai agensi atau kepemimpinan atas diri sendiri, maka perilaku kepemimpinan dapat dipahami dari sudut pandang yang lebih psikologis.

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul dari kebodohan saya yang kurang membaca sehingga sedikit sekali tahu: Bagaimana kepemimpinan dipandang dari sudut pandang teori regulasi diri, misalnya, dengan asumsi awal bahwa gaya-gaya kepemimpinan sesungguhnya mencerminkan mekanisme adaptasi diri seorang pemimpin? Mengapa pada satu ketika satu gaya dipilih untuk digunakan ketimbang gaya yang lain? Seperti apa anteseden dan konsekuensi dari perubahan-perubahan gaya-gaya kepemimpinan dalam diri seorang pemimpin? Seandainya saya mahasiswa PIO, saya mungkin akan meneliti ini untuk tesis saya.

Semakin ke sini, saya semakin tidak tertarik dengan gaya-gaya kepemimpinan yang bermacam-macam itu. Saya mengerti tidak ada yang lebih unggul, lebih efektif, lebih mempengaruhi. Saya mengerti itu semua saling melengkapi, bekerja bersama-sama dalam diri individu, membantu individu untuk menjalankan peran dan tugasnya sebagai pemimpin. Dinamika yang tampak dari gaya kepemimpinan mengindikasikan dinamika dalam diri individu pemimpin. Perubahan-perubahan gaya kepemimpinan dari waktu ke waktu menunjukkan kemampuan adaptasi. Jika penting bagi organisasi untuk mampu beradaptasi, maka semua itu dapat diawali dengan diri seorang pemimpin yang mampu beradaptasi. Mengadapsi hanya satu atau dua gaya kepemimpinan saya bisa jadi menunjukkan kemiskinan dalam menjalankan peran. Orang yang mengandalkan satu gaya saja dalam waktu yang lama tentu adalah mereka yang tergilas perubahan.

 

Memo Reaksi 10 (10 Juni 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s