Kepemimpinan Bag. 2: Too Much Managing “is as bad as” Too Much Leading

Quotation-Herbert-Bayard-Swope-failure-leadership-success-Meetville-Quotes-205518

 

Tulisan kali ini akan berisi tentang dua hal: 1) apa yang saya petik dari membaca dua bab pertama buku Leadership in Organizations (Yukl, 2010) dan 2) penemuan kedua saya tentang menjadi pemimpin yang strategik dari kuliah Kepemimpinan Strategik pertemua kedua.

1#

Menjadi pemimpin atau manajer adalah dua peran yang dibedakan dalam organisasi. Pemimpin belum tentu adalah manajer, manajer juga belum tentu adalah pemimpin. Meskipun demikian, tetap ada unsur manajerial dalam kepemimpinan dan kepemimpinan dalam manajerial. Perbedaannya bagi saya hanya pada tataran posisi hierarkis, tanggung jawab, tugas, ruang lingkup pengaruh, dan istilah bagi orang-orang yang berada di belakang mereka: pengikut atau bawahan/ anak buah.

Menarik jika dapat memahami dua peran tersebut dari kata-kata yang membentuknya. Leader dari kata to lead yang artinya mengarahkan, menunjukkan jalan, menuntun, atau lead yang artinya posisi di depan. Manager dari kata to manage yang artinya mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, mengendalikan. Belajar dari pengalaman sendiri pernah menjadi aktivis organisasi dan menyusun AD/ART-nya, pemimpin berada di wilayah visi, sedangkan manajer di wilayah misi. Pemimpin adalah pemilik gagasan melangit dan abstrak, sedangkan manajer adalah orang yang membumikan dan mengkonkretkannya.

Kesalahpahaman orang-orang adalah kecenderungan mendikotomikan kedua peran tersebut. Jika memahami bahwa organisasi memiliki sistem kerja, tentu mudah pula dipahami bahwa pemimpin dan manajer adalah dua peran yang sama-sama dibutuhkan. Untuk menjaga kelangsungan gerak organisasi, dua orang itu harus ada. Meskipun demikian, orang-orang tetap luput menyadari hal yang terpenting ketika dua orang itu ada dan sama-sama bekerja, yaitu: KESEIMBANGAN.

Ucapan Kotter (dalam Yukl, 2010, h. 7) yang saya catat: “… managing seeks to produce predictability and order, whereas leading seeks to produce organizational change. Both roles are necessary, but problems can occur if an appropriate balance is not maintained. Too much emphasis on the managing role can discourage risk taking and create a bureaucracy without clear purpose. Too much emphasis on the leadership role can disrupt order and create change that is impractical.”

Dari situ, cara memelihara keseimbangan secara tepat adalah hal yang ingin sekali saya ketahui selanjutnya.

2#

Dari pertemuan sebelumnya saya belajar bahwa pemimpin yang baik adalah orang yang menginspirasi dan menumbuhkan aspirasi bagi orang-orang yang dipimpinnya. Sekarang saya menambahkan satu kualitas lagi, yaitu: BELAJAR TERUS-MENERUS. Ini terkait dengan perubahan yang senantiasa terjadi pada lingkungan eksternal, yang menuntut diri sendiri dan orang-orang di sekitar untuk berubah.

Agar organisasi bertahan dan tidak tertinggal, ide-ide baru, respon yang kreatif, dan inovasi diperlukan. Ide, respon kreatif, dan inovasi tidak muncul begitu saja, tetapi lewat memahami situasi, mengenal kekuatan dan kelemahan diri dan sumber daya yang tersedia, dan mencari informasi yang dibutuhkan. Pertanyaan saya, bagaimanakan memahami situasi itu? Apa yang dilihat dan didengar dari situasi? Bagaimana cara mengenal kekuatan dan kelemahan diri? Bagaimana menilai kemampuan sumber daya dalam mendukung organisasi? Bagaimana cara memilih dan memilah informasi? Dan, yang terbesar yang paling ingin saya tahu justru: seperti apakah pemimpin yang gagal belajar itu? Bagaimanakah kegagalan belajar itu?

Ada banyak pertanyaan yang muncul setelah merenungkan perkuliahan tentang definisi kepemimpinan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul secara langsung, mengindikasikan pula bahwa jawaban-jawabannya mungkin tidak akan langsung saya dapatkan. Apakah jawabannya ada di kuliah pertemuan selanjutnya tentang perilaku pemimpin yang efektif? Saya berharap demikian.

Hanya yang saya pegang saat ini sebagai penjelasan bagi diri sendiri adalah orang gagal belajar biasa karena tidak mengerti mengapa ia perlu berubah. Perkait pelajaran pertama, saya pikir inspirasi dan aspirasi pun hal yang berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan proses belajar. Inspirasi dan aspirasi yang usang akan mati pada waktunya. Jika begitu, belajar pada dasarnya adalah suatu pembaharuan, mencari inspirasi dan aspirasi yang baru.

 

Referensi:

Echols, J. W. & Shadily, H. (1976). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Oxford Learner’s Pocket Dictionay. (2004). Oxford: Oxford University Press.

Yukl, G. (2010). Leadership in Organizations. Upper Saddle River: Pearson.

 

Memo Reaksi 2 (18 Maret 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s