Kepemimpinan Bag. 3: Pemikiran Pertama tentang Pemilihan Presiden & Pemimpin vs Manager

Leader-vs-Manager

 

WHAT IS BEHIND THE CONCEPT OF LEADERSHIP? Kesimpulan saya, terutama dari pembelajaran minggu lalu (pertemuan 3):

  1. Terdapat bermacam-macam definisi tentang kepemimpinan dan itu mencerminkan opini (atau aspirasi, atau bahkan kepentingan) konseptornya. “Apakah kepemimpinan itu”, “seperti apakah pemimpin itu”, atau “yang mana pemimpin itu” adalah ide-ide yang bisa dijual untuk mempengaruhi dan menggiring masyarakat menuju pilihan tertentu.
  2. Persoalan yang kemudian menggoyang pendapat-pendapat para akademisi adalah bagaimana ceritanya sampai mereka dapat berpendapat demikian? Apa referensi mereka berkata demikian sehingga definisi tersebut dapat diandalkan dan dijadikan acuan memahami kepemimpinan?

Memikirkan jawaban atas pertanyaan itu memunculkan pertanyaan serupa, tetapi dalam konteks yang berbeda terkait kampanye-kampanye politik menjelang Pemilu 2014: apa referensi para juru kampanye partai politik sehingga menyerukan bahwa kualitas ini dan itu dari calon presiden yang diusung menjadikannya cocok dan layak dipilih sebagai presiden? Apa yang mendasari bahwa itulah kualitas yang diperlukan untuk mampu memimpin? Apa jaminan bahwa kualitas yang dipasarkan itu berkorespondensi dengan diri calon yang sebenarnya?

Memilih secara cerdas berarti tidak termakan bualan. Tapi, seberapa besarkah akses untuk mencapai realita yang tersembunyi atau yang disembunyikan? Memilih secara cerdas berarti menggunakan kecerdasan untuk mengambil keputusan. Tapi, calon-calon presiden itu menampilkan diri bukan untuk dievaluasi kritis, melainkan diterima tanpa diragukan. Kepentingan mereka untuk menjadi orang nomor satu benar-benar bertentangan dengan kepentingan rakyat untuk menemukan orang yang layak diikuti.

 ***

Saya merasa rugi jika hanya memahami kepemimpinan dari perspektif organisasional saja. Perspektif organisasional saya kira terlalu menyederhanakan konsep kepemimpinan karena cenderung mengurung kepemimpinan dalam sosok seorang manager. Saya ingat apa yang dikatakan Yukl (2010), “A person can be a leader without being a manager and a person can be a manager without leading.” (h. 6). Kalimat itu sangat menarik bagi saya, membuat saya berpikir-pikir apa perbedaan antara pemimpin dan manager.

Kriteria seseorang layak disebut pemimpin sesungguhnya tidak akan pernah begitu jelas. Pemimpin berbeda dengan peran manager yang mandat, wewenang, anak buah, dan posisinya jelas karena jelas pula “surat tugas”-nya. Orang lebih mudah berkata, “Dia manager saya,” ketimbang berkata, “Dia pemimpin saya.” Pemimpin bekerja tidak berdasarkan surat tugas; bahkan tidak butuh surat tugas. Sepanjang ia masih berpengaruh dan visinya tidak basi, atau dengan kata lain dapat dijadikan tempat bergantung, kepemimpinannya tidak berbatas waktu. Berbeda dengan manager, peran pemimpin bukanlah suatu bentuk pekerjaan, profesi atau karier. Tidak ada orang yang ditanya apa pekerjaannya lantas menjawab, “Saya adalah seorang pemimpin,” tetapi akan ada banyak sekali menjawab, “Saya adalah seorang manager.”

Pemimpin adalah unsur esensial dalam sistem sosial kemasyarakatan. Peran pemimpin ada lebih dulu daripada manager, bahkan mungkin setua umur manusia di bumi ketika manusia sadar dirinya adalah makhluk sosial dan kuncinya bertahan hidup adalah dengan berkelompok. Khayalan saya bercerita, pada masa itu, dunia masih luar biasa misterius. Belum ada jalan-jalan atau tempat-tempat yang bisa dijadikan tujuan. Manusia berkelana dalam arti yang sebenarnya. Mengapa pemimpin dalam bahasa Inggris adalah “leader”, yang arti harafiahnya adalah penunjuk, penuntun menuju suatu arah, kiranya berkaitan dengan situasi tersebut. Ketika orang hidup dengan cara berpindah-pindah, penunjuk arah adalah peran yang sangat penting.

Seiring dengan semakin kompleksnya peradaban, peran pemimpin pun berkembang. Manusia hidup meramu, lalu berburu, lalu bertani, dan ribuan tahun selanjutnya berindustri dan menghasilkan barang-barang. Jika dahulu pemimpin memimpin sekelompok kecil manusia, sekarang kelompok manusia yang dipimpin semakin luar biasa besar, banyak jumlah dan ragamnya. Saya merasa kagum. Satu orang untuk berjuta-juta orang; kepemimpinan itu sungguh takdir Tuhan. Satu orang menjadi bagian dari hidup dan menentukan masa depan berjuta-juta orang; di belakang pemimpin pasti ada Tuhan.

“Fiksi” pribadi saya hanya untuk diri saya sendiri saja. Saya yang kali ini hanya bisa berimajinasi tentang kepemimpinan dapat dikatakan belum belajar apa-apa. Beruntung, saya lalu mencari, adakah teori psikologi yang mendukung fiksi saya ini, dan menemukan satu artikel yang menarik berjudul “Evolutionary Origins of Leadership and Followership” (Van Vugt, 2006). Karena minggu ini alokasi waktu untuk belajar Kepemimpinan Strategik sudah saya gunakan habis, saya akan menjadikan review artikel tersebut sebagai PR minggu depan.

 

Referensi

Van Vugt, M. (2006). Evolutionary Origins of Leadership and Followership. Personality and Social Psychology Review. Vol. 10, No. 4, 354-371.

Yukl, G. (2010). Leadership in Organizations. Upper Saddle River: Pearson.

 

Memo Reaksi 3 (22 Maret 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s