Kepemimpinan Bag. 4: Pemimpin-pemimpin yang Memecahkan Stereotype & Evolusi Kepemimpinan

1# The End of Old Stereotype

 

markel-obama

Definition

Stereotype n fixed idea of what somebody/something is like[1]

Stereotype n a widely but fixed and oversimplified image or idea of a particular type of person or thing[2]

Stereotype n 1) a conventional formulaic, or oversimplified conception, opinion, or image; 2) one that is regarded as embodying or conforming to a set image or type[3]

Stereotype n an often unfair and untrue belief that many people have about all people or things with a particular characteristic; something confirming to a fixed or general pattern; especially a standardized mental picture that is held in common by members of a group and that represents an oversimplified opinion, prejudiced attitude, or uncritical judgement[4]

 

Stereotype: A belief or association that links a whole group of people with certain traits or characteristics.

Prejudice: Negative feelings toward persons based on their membership in certain group.

Discrimination: Behavior directed against persons because of their membership in a particular group.[5]

 

Stereotype -> individual conception, representation, image, belief, preference, opinion, and attitude about person/people or things that is fixed, (over)simplified, unfair, and uncritical (?)

 

Dalam kaitannya dengan gender dan kaum minoritas, saya memperhatikan sosok Angela Merkel (Kanselir Jerman) dan Barack Obama (Presiden Amerika Serikat). Dua sosok itu memecahkan stereotipe (setidaknya di masyarakat Barat) bahwa pemimpin itu (harus, atau biasanya) laki-laki dan berkulit putih yang merupakan kaum mayoritas. Angela Merkel adalah perempuan, sedangkan Barack Obama berkulit berwarna (Afro-American).

Orang mulai berpikir, menerima ide-ide dan konsepsi, dan membangun opini, salah satunya bahwa pemimpin itu boleh perempuan dan dapat berasal dari kelompok minoritas. Sikap mereka tidak lagi rigid pada satu keyakinan dan terbuka pada kemungkinan lain tentang siapa saja yang dapat dijadikan pemimpin. Orang mendefinisikan ulang apakah kepemimpinan itu, karakter dan perilaku kepemimpinan apa yang pas untuk era ini, dan pilihan apa yang sebaiknya dibuat dalam memilih pemimpin.

Jika suatu saat di Eropa atau Amerika Serikat muncul presiden wanita non-European, itu akan menjadi fenomena yang luar biasa. Juga, jika suatu saat di Asia muncul presiden wanita non-Asian, itu luar biasa. Itu mencerminkan perubahan sosial dan individual yang besar, tetapi entahlah apakah akan muncul stereotip baru tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin.

 

2# Evolutionary Origins of Leadership and Followership[6]

Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mempelajari kepemimpinan dari perspektif teori evolusi. Demikian saya menyimpulkannya:

evolutionary-grafitti3

 

Hubungan pemimpin-pengikut adalah hal yang secara natural terbentuk ketika manusia berkumpul dalam kelompok. Dari situlah disumsikan bahwa kepemimpinan adalah fenomena yang universal. Kepemimpinan dapat dipahami salah satunya dengan perspektif evolusi. Mengamati kehidupan hewan, para zoologis membangun teori lokomotif mengatakan bahwa kepemimpinan adalah tindakan mengarahkan memimpin anggota kelompok dalam pergerakan dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada manusia, kepemimpinan berkenaan dengan tujuan mengatasi masalah-masalah adaptasi tertentu dalam rangka bertahan dan menjaga kelangsungan hidup.

Teori yang lebih psikologis berkutat dengan pertanyaan apa/bagaimana asal-mula kepemimpinan manusia? Terdapat dua teori untuk menjelaskan asal-mula tersebut, yaitu: 1) teori dominasi dan 2) teori koordinasi sosial.

Teori Dominasi

Kepemimpinan adalah produk sampingan (byproduct) dari dominasi. Jika ada pihak yang mendominasi, maka berlawanan dengan itu, ada pihak yang didominasi, tunduk atau ditundukkan (submissive). Munculnya peran pemimpin dan pengikut berkaitan dengan posisi relatif individu dalam hirarki dominasi kelompok. Hierarki dominasi muncul dari adanya kompetisi di antara anggota kelompok untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas.

Individu yang berada pada puncak dominasi adalah mereka yang memenangkan kompetisi. Mereka pun menikmati keberhasilan reproduktif yang lebih besar ketimbang yang kalah. Mereka yang berada di tempat tinggi mampu mengontrol seluruh kelompoknya karena ia tidak tergantung pada individu lain untuk mencapai tujuan-tujuannya. Individu yang berada pada tingkat yang lebih rendah harus menyesuaikan diri dengan ia yang dominan (pemimpin). Individu yang dominan berperan menjadi pelindung dan membuka akses pada sumber daya, seperti makanan dan pasangan. Karena mereka yang berada di level bawah tak punya pilihan, mereka pun menjadi pengikut.

Kelemahan teori ini adalah:

  1. Model dominasi ini tidak dapat menjelaskan semua fenomena kepemimpinan. Misalnya, hierarki manusia cenderung lebih datar ketimbang hewan dan sering dibangun dengan prestise, bukan dominasi.
  2. Dominasi sulit dicapai karena banyak sumber daya yang dapat diperoleh dengan cara bekerja sama, di mana ketika itu diperoleh, monopoli satu individu tidak diperkenankan.
  3. Manusia punya kebebasan untuk mengikuti atau melepaskan diri dari kelompoknya. Adanya kapasitas ini membatasi kontrol dan kekuasaan satu individu atas lainnya.
  4. Penelitian ilmiah menunjukkan hasil yang bertolak belakang dengan asumsi teori dominasi. Misalnya: 1) orang cenderung tidak suka atau tidak mau dipimpin oleh orang yang dominan (bossy). 2) Pemimpin yang dominan menggunakan gaya otoritarian. Dalam gaya tersebut terdapat lebih banyak kemarahan dan sedikit kerja sama. 3) Anggota kelompok biasanya tidak mau kehilangan otonomi dengan memilih pemimpin yang dominan

Kesimpulannya: Kepemimpinan tidak dapat didefinisikan menurut dominasi personal semata.

Teori Koordinasi Sosial

Teori ini mengatakan bahwa kepemimpinan berkembang lantaran tujuan menyelesaikan masalah-masalah koordinasi. Kepemimpinan dan kepengikutan adalah strategi sosial yang dipilih demi mendukung aksi-aksi kolektif karena dengan begitulah kelompok mampu memecahkan masalah bersama. Kepemimpinan melibatkan inisiatif, koordinasi, dan direksi.

Setiap orang memiliki kapasitas baik memimpin maupun mengikuti. Strategi mana yang dipilih, sebagai pemimpin atau pengikut, tergantung pada nilai-nilai yang dijadikan parameter atau kondisi. Di masa lalu, fungsi kepemimpinan sebagai koordinasi sosial terlihat pada aktivitas-aktivitas yang membutuhkan kerja sama, seperti mengumpulkan makanan, bermigrasi, dan mempertahankan kelompok dari serangan kelompok lain. Untuk menjadi pemimpin, seseorang perlu pernah menjadi pengikut terlebih dahulu dan belajar dari situ. Kepemimpinan dapat dipandang sebagai kunci adaptasi di level kelompok.

Didukung sejumlah penelitian psikologis, teori koordinasi sosial cukup stabil:

 Kepemimpinan dan Inisiatif

Orang yang biasanya menjadi pemimpin adalah ia yang menginisiasi tindakan. Sejumlah sifat yang memprediksi inisiasi tindakan di antaranya adalah asertivitas, ekstraversi, spontanitas, dan sosiabilitas. Sementara itu sifat malu berhubungan negatif dengan kepemimpinan. Orang yang juga biasanya menjadi pemimpin adalah ia yang paling aktif berpartisipasi dalam kelompok. Kuantitas komunitasi adalah prediktor bagi kepemimpinan, sementara kualitas apa yang dikatakan adalah prediktor bagi efektivitas kepemimpinan itu.

Menginisiasi struktur adalah salah satu tugas kepemimpinan yang esensial, berdasarkan studi Ohio. Dalam melakukan tugas ini, pemimpin memfasilitasi kelompok untuk bergerak menuju tujuan lewat perencanaan, koordinasi, dan pengawasan kemajuan. Ditunjuk menjadi pemimpin dapat mendorong orang untuk mencari inisiatif. Kelemahan teori ini, teori ini belum dapat menjelaskan bagaimana kemunculan kepemimpinan dan kepengikutan dalam kelompok yang anggotanya seluruhnya memiliki sifat-sifat yang kurang menguntungkan.

Kepemimpinan dan Kecerdasan

Hal yang menarik lainnya adalah ditemukannya korelasi antara kecerdasan dan kepemimpinan. Kecerdasan memungkinkan seseorang mengenali situasi sebagai suatu masalah koordinasi dan mengkoordinasikan tindakan yang melibatkan banyak orang. Komponen IQ yang berhubungan kuat adalah kemampuan verbal. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi yang baik adalah kemampuan yang esensial bagi pemimpin.

Kemampuan lain yang dipertimbangkan penting adalah social intelligence, yaitu kemampuan memahami orang lain dan membangun hubungan sosial. Orang yang cerdas secara sosial mampu mendapatkan gambaran tentang apa yang memotivasi anggota kelompok. Kemampuan yang berkaitan dan penting selanjutnya adalah sensitivitas nonverbal dan empati.

Kepemimpinan Pria dan Wanita dalam Perspektif Evolusi

Pria dan wanita memiliki kedudukan yang berbeda dalam struktur sosial. Norma kebanyakan masyarakat dunia adalah bahwa kepemimpinan itu di tangan pria; wanita adalah pengikut. Perspektif evolusi menjelaskan fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, pria dan wanita memiliki sejumlah perbedaan dalam hal sifat dan perilaku. Hal ini adalah titik awal memahami perbedaan jenis kelamin dalam kepemimpinan. Wanita memiliki kemampuan memori verbal dan keterampilan komunikasi yang lebih baik sehingga wanita akan lebih mungkin menjadi pemimpin dalam situasi-situasi yang penanganannya membutuhkan kedua kemampuan ini. Sementara itu, pria lebih asertif, percaya diri, dan mengambil risiko. Karena itu, mereka lebih cepat mengambil inisiatif ketika kelompok baru terbentuk.

Dalam kelompok yang heterogen (terdiri atas pria dan wanita), pria lebih sering tampil sebagai pemimpin. Pria juga lebih mungkin mengambil peran sebagai pemimpin jika ia diamati oleh wanita. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan cenderung diasosiasikan dengan status rewards dan status pria lebih kuat diasosiasikan dengan kesuksesan reproduksi.

Kedua, pria dan wanita pun memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dari penelitian antropologis, diketahui bahwa pembentukan hierarki lebih cepat terjadi kelompok pria ketimbang kelompok wanita. Kepemimpinan di antara pria lebih cepat terbentuk, tetapi karena kecepatan itulah sifatnya menjadi kurang stabil dan hierarkinya lebih banyak. Koalisi di antara wanita cenderung bersifat egalitarian dan menggunakan gaya demokratis, sementara itu kepemimpinan pria lebih otokratik dan mengontrol.

3# Kesimpulan Pribadi

Evolusi mengartikan adalah proses berkembang. Karena itulah, dalam perspektif ini konsep kepemimpinan tidaklah permanen; berubah-ubah dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Ketika jumlah manusia masih sangat sedikit, terancam oleh kondisi lingkungan hidup yang ganas, dan hidup nomaden, kepemimpinan bersifat lokomotif, dipimpin oleh satu individu yang dominan. Ketika manusia mulai hidup menetap dan butuh bekerja sama untuk hidup, kepemimpinan muncul dalam rangka koordinasi kelompok demi mencapai tujuan kolektif.

Apa yang terjadi hari ini masih menggambarkan apa yang terjadi di masa lalu, hanya saja dalam tampilan yang berbeda dan lebih rumit. Individu yang dominan muncul sebagai pemimpin dalam gank-gank anak muda. Individu koordinator muncul dalam sosok manager di perusahaan-perusahaan. Hampir di setiap lini kehidupan, mulai dari yang terkecil yaitu keluarga sampai negara bahkan dunia memiliki konsep kepemimpinanya. Di dalamnya tetap ada dominasi dan koordinasi; kompetisi dan kerja sama.

Fenomena yang sering dianggap unik adalah kepemimpinan perempuan dan kaum minoritas yang mencerminkan perubahan norma di masyarakat. Dari sudut pandang evolusi, itu bukan misteri karena norma sosial bukan hal yang permanen. Perempuan dan kaum minoritas muncul karena situasi saat ini membutuhkan peran mereka. Sejumlah faktor utamanya adalah globalisasi, masyarakat yang semakin majemuk, perkenalan dan pertukaran budaya yang mengikuti kemajemukan, keragaman pekerjaan dan tugas di masyarakat, dan, bisa juga, pergeseran nilai dan norma ke arah dunia yang demokratis dan pengikisan nilai-nilai otoritarian.

Tapi, mungkinkah kepemimpin dunia akan berubah 180 derajat menjadi didominasi wanita, misalnya? Jawab saya tidak. Ada sesuatu yang sudah ditulis di batu penciptaan manusia bahwa pria dan wanita, laki-laki dan perempuan, memang berbeda secara biologis, fisik, maupun psikis, yang mana itu mempengaruhi perilaku personal dan sosial mereka. Laki-laki dan wanita punya tempat mereka masing-masing yang mereka nyaman di situ.

Dari sini sebenarnya pikiran saya telah masuk pada topik ikutan yang sangat problematis terkait kepemimpinan pria dan wanita dari perspektif agama Islam. Apakah pengetahuan psikologi semacam yang di atas itu dapat menjadi penjelasan yang masuk akal bagi firman Tuhan bahwa kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita? Saya ingin berpikir lebih jauh, tetapi mungkin bukan di sini tempatnya, atau bukan sekarang waktunya.

[1] Oxford Dictionary (2003)

[2] http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/stereotype

[3] http://www.thefreedictionary.com/stereotype

[4] http://www.merriam-webster.com/dictionary/stereotype

[5] Kassin, S., Fein, S., & Markus, H. R. 2014. Social Psychology Ninth Edition. Canada: Wadsworth Cengage Learning.

[6] Van Vugt, M. (2006). Evolutionary Origins of Leadership and Followership. Personality and Social Psychology Review. Vol. 10, No. 4, 354-371. DOI: 10.1207/s15327957pspr1004_5

 

Memo Reaksi 4 (26 Maret 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s