Kepemimpinan Bag. 5: Pemimpin, Penguasa & Kepemimpinan dalam Keluarga

1# Pemimpin dan Penguasa

Adik saya sedang belajar tentang teori Adler tentang “psikologi individual” ketika saya membaca bab 6 buku Leadership in Organizations (Yukl, 2010), “Power and Influence”. Percakapan dan diskusi saya dengannya terkait teori Adler yang menekankan hasrat mencapai superioritas ini mungkin sampai terbawa tidur karena ketika bangun keesokan paginya, tiba-tiba saja muncul pertanyaan dalam kepala saya: apakah nafsu berkuasa itu? Membaca begitu banyak hal tentang kekuasaan dan pengaruh, tetapi mengapa tidak ada satu pun penjelasan tentang nafsu/ keinginan berkuasa atau motivasi berkuasa?

Apakah kekuasaan itu bukan diinginkan, melainkan diberikan saja? Kalau begitu, mengapa ada orang yang “betah” berkuasa 20 atau 30 tahun lamanya? Apa yang dimaksudkan orang dengan “berkuasa itu menyenangkan”? Apa yang menyenangkan dari berkuasa? Apakah kapasitas mempengaruhi orangnya? Apakah orang-orang yang tunduh patuh dan keinginan-keinginan yang terpenuhi? Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang digulingkan dari kursi kekuasaan mereka? Apa masalah mereka? Selain itu, mengapa ada cerita tentang orang yang justru menangis ketika dianugrahkan kekuasaan (cerita Khalifah Umar II)? Apa yang menakutkan dari berkuasa? Apakah besar tanggung jawabnya? Apakah kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi nanti?

Ada orang-orang berebut berkuasa, tetapi ada pula orang-orang yang mati-matian menghindari kekuasaan. Apakah ini sekadar persoalan perbedaan nilai dan keyakinan, serta pengetahuan dan pemahaman akan apa itu kekuasaan dan untuk apa kekuasaan itu? Ada banyak orang yang menghendaki kekuasaan, tetapi menyadari bahwa bersama kekuasaan seharusnya ada kepemimpinan. Setiap pemimpin adalah penguasa, tetapi tidak semua penguasa adalah pemimpin. Jadi, apa yang membedakan kekuasaan pemimpin dan kekuasaan penguasa?

Apakah ini persoalan orientasi? Pemimpin tak ada tanpa pengikut, maka orientasi kepemimpinan adalah sosial (pengikut). Pemimpin kehilangan kepemimpinan ketika ia kehilangan kemampuan mempengaruhi, dan hilangnya kemampuan mempengaruhi itu disebabkan oleh hilangnya kemampuannya mengarahkan hidup orang-orang yang menyerahkan diri padanya.

Penguasa tak ada tanpa mereka yang dikuasai, terutama orang-orang yang lebih lemah dari dirinya. Penguasa tergantung sepenuhnya pada kemampuan dirinya untuk menjaga dirinya tetap kuat, apakah itu agar orang-orang yang lemah tetap bergantung pada dirinya, atau agar ia tetap dapat menguasai. Penguasa kehilangan kekuasaan ketika kekuatannya hilang. Penjagaan kekuatan ini yang membuat orientasinya terletak pada diri individual atau diri kelompoknya.

Di era demokrasi di mana kecenderungan zaman menjadi semakin liberal, tidak ada lagi istilah penguasa atau orang yang mau dikuasai. Orang membangun kekuatan pribadi dan kepemimpinan atas kehidupannya sendiri. Penguasa menjadi satu peran dalam struktur sosial yang sepertinya semakin lenyap karena orang semakin sadar bahwa dikuasai orang lain bukan cara hidup yang menyenangkan. Tetapi, hal itu tidak terjadi pada pemimpin. Orang-orang butuh memimpin dirinya sendiri, karena itu dalam prosesnya ia butuh dipimpin dulu oleh orang lain.

Bagi pemimpin, kekuasaan adalah alat untuk melancarkan kepemimpinan. Bagi penguasa, kekuasaan adalah tujuan utamanya. Sering mendengar frasa “pemimpin yang adil dan dicintai rakyat”. Tetapi, sering juga mendengar “penguasa yang lalim dan dibenci rakyat”. Jadi, kapan pemimpin berubah menjadi sekadar penguasa? Kapan penguasa berubah menjadi pemimpin?

Saya mendapatkan satu kalimat menarik: “… leaders in effective organizations create relationships in which they have strong influence over subordinates but are also receptive to influence from them. Instead of using their power to dictate how things will be done, effective executives empower members of the organization to discover and implement new and better ways of doing things.” (Yukl, 2010, h. 170)

Pemimpin berubah menjadi sekadar penguasa ketika ia berhenti memberdayakan orang-orang. Penguasa berubah menjadi pemimpin ketika ia mulai memberdayakan orang-orang. Pemimpin yang sebenarnya tidak akan terancam oleh kemunculan bintang-bintang baru karena memang dia punya visi sosial. Sementara penguasa – ini menjelaskan mengapa ada kediktatoran dan kekuasaan puluhan tahun sebelum digulingkan – mereka takut tersaingin oleh orang-orang kuat baru. Makanya, mereka membangun kekuasaan dengan membangun hagemoni, agar selalu ada orang-orang lemah dan diri mereka sendiri yang kuat. Sama-sama berkuasa, tetapi pemimpin dan penguasa adalah dua hal yang beroposisi.

gandhi

2#

Jadi, kapan laki-laki berhenti menjadi pemimpin bagi perempuan, kapan suami berhenti menjadi pemimpin bagi istrinya, kapan orangtua berhenti menjadi pemimpin bagi anak-anaknya, dan hanya sekadar menjadi penguasa? Ketika mereka berhenti memberdayakan orang-orang yang mengikuti mereka. Agama (Islam) menetapkan laki-laki menjadi pemimpin bagi perempuan, bukan penguasa perempuan; suami menjadi pemimpin istrinya, bukan penguasa istrinya; orangtua menjadi pemimpin anak-anak, bukan penguasa atas diri anak-anak.

Ketika batasan antara pemimpin dan penguasa jelas, akhirnya saya mengerti sesuatu. Sekarang saya tahu sebaiknya harus menjadi orang yang seperti apa.

Referensi

Yukl, G. (2010). Leadership in Organizations. Upper Saddle River: Pearson.

 

Memo Reaksi 5 (8 April 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s