Kepemimpinan Bag. 6: Kepemimpinan Kebenaran

Kepemimpinan Hati dalam “The Last Samurai”: Review Film

Film ini adalah favorit saya. Dengan tugas kali ini, berarti saya sudah menontonnya yang ketiga kali. Saya penggemar kisah-kisah kepahlawanan. Heroisme yang cerdas, artinya sang tokoh tidak mati konyol, mengagumkan dan medan perang selalu punya pelajaran moralnya sendiri. Jika boleh menyarankan, beberapa film sejenis yang juga menjadi favorit saya adalah “Gladiator”, yang dibintangi oleh Russell Crowe, atau “Little Big Man”-nya Jackie Chan, atau “Glory”-nya Matthew Broderick.

Meskipun sudah beberapa kali menonton “The Last Samurai”, baru kali ini saya ngeh, mengerti, bahwa film ini (juga) tentang kepemimpinan, yang mana di dalamnya ada power dan influence. Ada Kaisar Meiji yang dianggap titisan dewa; berkuasa absolut, tetapi bisa juga menjadi boneka perdana menteri yang jahat. Ada perdana menteri Omura yang berkuasa dengan uang atau harta kekayaan, dan begitu politis sampai mampu mengendalikan kaisar. Ada Katsumoto, pemimpin kaum samurai yang dihormati, tetapi tersingkir dari masyarakat Jepang modern. Ada Kapten Nathan Algren, orang Amerika yang dipekerjakan untuk melatih tentara Jepang, berpengalaman berperang melawan suku Indian, dan sangat dihormati di negaranya karena kesuksesannya di medan perang. Semua orang ini memiliki power dan memancarkan pengaruh.

1# Kaisar Meiji

Sosoknya digambarkan masih begitu muda, dan karenanya mungkin kurang berpengalaman sehingga bergantung pada menteri-menteri yang menjadi penasehatnya. Apa yang saya tangkap tentang legitimate power-nya rumit. Kaisar dikatakan adalah titisan dewa sehingga dalam benak saya kekuasaan seorang kaisar seharusnya luar biasa besarnya. Setiap perkataan seharusnya akan dipatuhi, tetapi sang kaisar sendiri mengakui bahwa dirinya tidak bisa menjadi dirinya sendiri. “I am living god, as long as I do what they think is right.” Dia tahu menteri-menterinya tidak semuanya orang baik, tetapi dia tak bisa memberhentikan mereka. Sebabnya, dia masih membutuhkan mereka karena mereka memiliki pengetahuan tentang dunia modern/ dunia Barat. Pengetahuan itu adalah kunci mewujudkan visinya merestorasi Jepang.

2# Perdana Menteri Omura

Ia sosok yang sudah menjadi “Barat”, dekat dengan Barat, dan paling mengerti Barat. Ia mengemban tugas dari kaisar untuk memperbarui sistem pertahanan militer dan persenjataan Jepang, karenanya ia menjadi orang yang sangat penting bagi kaisar. Meskipun demikian, ia bukan orang baik. Ia menggunakan jabatannya untuk membangun dominasi, memuluskan kepentingan pribadinya, mengumpulkan kekayaan, dan bertindak semena-mena. Sebagai perdana menteri dia punya legitimate power, reward power, coercive power, dan information power. Wow.

3# Katsumoto

Ia adalah pemimpin kelompok samurai terakhir di Jepang, di era Meiji. Dahulu ia adalah penasehat dan guru kaisar, tetapi lalu memberontak dan mengasingkan diri ke desa leluhurnya sebagai bentuk ketidaksetujuannya pada upaya restorasi (menghapuskan samurai). Ia ingin mempertahankan tradisi samurai yang sudah berabad-abad lamanya hidup dan melayani bangsa Jepang. Sebagai pemimpin samurai, ia sosok yang sangat dihormati, diikuti, dan dijadikan model. Ia tentu saja sangat ahli pedang yang tangguh. Ia punya kharisma dan ketegasan, serta dicintai oleh pengikut-pengikutnya. Ia punya referent power dan expert power, hanya saja kemampuan atau keahliannya itu bukan yang dibutuhkan oleh bangsa Jepang yang hendak menjadi bangsa yang modern. Samurai jika tidak dibutuhkan lagi itu sama saja dengan mati.

4# Kapten Nathan Algren

Ketika di Amerika, ia adalah pemimpin kesatuan prajurit Amerika dalam perang melawan suku Indian. Ia sukses dalam peperangan, karenanya sangat dihormati dan dieluk-elukkan oleh masyarakat Amerika kulit putih. Meskipun demikian, ia tidak bahagia dengan itu karena konflik batin yang melanda dirinya. Ia pergi ke Jepang untuk melatih prajurit Jepang menggunakan alat tempur modern. Pada satu pertempuran melawan samurai, ia dikalahkan dan menjadi tawanan Katsumoto. Nathan Algren adalan korban banyak pihak yang berkuasa: pemerintah Amerika, pemerintah Jepang, Omura, dan Katsumoto. Ia sosok yang mengasingkan dirinya dari menjadi pengikut siapa-siapa dan menanamkan banyak kebencian, termasuk pada dirinya sendiri yang dianggapnya telah berbuat jahat. Sebagai tokoh utama film, Nathan Algren ironis tak punya kuasa apa-apa dan justru dikuasi oleh banyak pihak, meskipun pada akhirnya ia tetap memilih mengikuti siapa. Namun, di akhir ia bisa menjadi tokoh yang tanpa power apapun mampu mempengaruhi/ menggerakkan hati kaisar agar menggunakan kekuatannya untuk menundukkan Omura dan memelihara cita-cita Katsumoto.

Jadi, power apa yang dia miliki ini?

Ada satu dimensi dari power dan influence yang tidak bisa sepenuhnya bisa saya mengerti. Hubungan di antara kedua hal tersebut tidak selalu positif. Bagaimana menjelaskan kekuatan orang-orang yang lemah tetapi memiliki daya pengaruh yang besar? Bagaimana menjelaskan pengaruh yang tak selamanya dipancarkan oleh orang-orang yang kuat dan berkuasa dalam arti yang dimengerti umum, entah dalam sosok kaisar, perdana menteri, jenderal, ketua, atau pemimpin? Ada sesuatu di luar kekuasaan karena kedudukan (position power) dan kekuasaan karena kekuatan personal (personal power), yang bisa dimiliki oleh orang-orang yang tak punya kedudukan maupun kekuatan personal. Sesuatu ini mendorong pula kemunculan komitmen dan resistensi/ pemberontakan, tetapi uniknya dalam kadar yang lebih kuat dan mendalam, sampai membuat orang berani mati karena dan untuknya.

Saya tidak menemukan ini dalam Chapter VI, Power and Influence (Yukl, 2010): kekuatan kebenaran (apa yang benar). Kebenaran bukan properti kedudukan maupun personal. Jadi milik siapa? Merenungkan tentang ini secara pasti membawa saya pada persoalan moral dan memunculkan pertanyaan, apa hubungan antara moral dan kepemimpinan? Apakah ada tidaknya moral menjadikan suatu kepemimpinan terasa berbeda, atau benar-benar berbeda? Mungkin ini yang dinamakan kepemimpinan dengan landasan moral, dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip moral, dan demi tujuan yang bermoral. Memikirkan ini, saya teringat pada satu konsep yang dijadikan contoh untuk mengajarkan peta riset di lokakarya TP2T. Kepemimpinan otentik (authentic leadership). Benarkah ini tentang atau dekat dengan atau berhubungan dengan authentic leadership? Dan satu istilah lagi yang ikut muncul ketika saya berusaha mencari tahu tentang authentic leadership: ethical leadership. Saya jadi penasaran dengan dua tipe kepemimpinan ini. Di buku Leadership in Organization, ini masih tujuh bab lagi (!)

Persoalan selanjutnya, kekuatan moral atau kebenaran ini sepertinya dapat menjadi milik siapa saja, orang besar atau kecil, kaya atau miskin, kuat atau lemah, tinggi atau rendah. Dengan begini, dalam situasi sosial, apakah sebenarnya kepemimpinan itu tak pandang bulu? Semua orang, dalam lingkungannya sendiri, dapat menjadi pemimpin karena kebenaran itu pada dasarnya memang memimpin?

Saya sepakat dengan perkataan Pak Fathul bahwa dalam situasi sosial, power menjadi sesuatu yang rumit; prosesnya tidak sejelas yang terjadi dalam organisasi. Bagaimana power itu muncul dan menghilang, didapatkan dan lepas, bertahan dan lenyap tak dapat diikat dengan satu prinsip. Siapa saja dapat menjadi pemimpin; setiap pemimpin bisa menjadi bukan siapa-siapa. Kepemimpinan mengalir seperti air sungai yang bebas mau ke mana saja; ia hinggap dari satu orang ke orang yang lain, ada yang sangat sebentar, ada yang lama. Ia dapat datang tanpa diundang pada orang yang satu, tetapi pada orang yang lain, ia didapatkan dengan usaha setengah mati.

Saya melihat biografi beberapa orang dalam usaha saya memahami kepemimpinan dengan kekuatan yang misterius ini. Pertama, ada Mohammed Bouazizi. Dia adalah seorang pedagang kaki lima yang membakar diri pada 17 Desember 2010 sebagai bentuk protes atas penyitaan barang dagangannya dan laporan pelecehan dan penghinaan yang ditimpakan kepadanya oleh pejabat kota dan pembantu-pembantunya. Dia yang kemudian meninggal dunia pada 4 Januari 2011 dalam usia 26 tahun menjadi katalis Revolusi Tunisia dan gerakan Musim Semi Arab yang lebih besar. Kemarahan publik dan kekerasan yang meningkat setelah kematian Bouazizi, menyebabkan Presiden Zine El Abidine Ben Ali mundur pada tanggal 14 Januari 2011, setelah 23 tahun berkuasa di Tunisia. Bouazizi “memimpin” (dia sebenarnya tentu tak berniat memimpin) suatu gerakan yang luar biasa dengan menjadi martir.

Kedua, ada Corazon Aquino, presiden Filipina yang ke-11 (1986-1992). Ia adalah presiden wanita pertama di negara itu dan juga yang pertama di Asia. Dia menjadi presiden tanpa pengalaman politik atau pernah menduduki jabatan pemerintahan sebelumnya. Dia hanyalah ibu rumah tangga yang kemudian menjadi tokoh utama Revolusi People Power tahun 1986 setelah suaminya Senator Benigno Aquino, Jr dibunuh. Suaminya, sang senator, adalah pemimpin pihak oposisi bagi presiden yang berkuasa, Ferdinand Marcos, yang pemerintahannya terkenal korup, otoriter, berkuasa secara absolut, represif, dan melanggar hak asasi manusia.

Orang-orang yang muncul menggantikan orang-orang yang sebelumnya ada. Tapi, orang-orang yang sebelumnya ada muncul dari menggantikan orang-orang lain yang sebelumnya ada. Lord Acton berkata, “Power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely.” Tapi, selalu ada dalam kehidupan yang mencegah power dari menjadi absolut atau digunakan secara absolut, dapat itu ruh zaman (kondisi) yang berubah atau usia dan kekuatan manusia itu sendiri yang terbatas, yang itu membatasi tindakan yang bisa dilakukan seseorang. Ada mekanisme yang menjadikan korupsi yang terjadi tidak akan berlangsung absolut. Pergantian itulah mekanismenya, mau atau tidak mau. Saya pikir, kekuasaan seseorang hilang sebenarnya bukan karena ada orang lain yang lebih kuat atau lebih kuasa, melainkan karena sifat dasar kekuasaan itu adalah melemah. Sebagai potensi, kekuasaan manusia diberi Tuhan yang segitu-gitu saja; dalam aksi nyatanya, berapa banyak orang yang bisa mengoptimalkan potensi tersebut?

Selain itu, kekuasaan itu saya pikir sesungguhnya dibatasi oleh kekuasaan itu sendiri. Legitimate power dibatasi oleh legitimasi itu sendiri. Reward power dibatasi oleh ganjaran itu sendiri. Coercive power dibatasi oleh kekerasan itu sendiri. Information power dibatasi oleh informasi itu sendiri. Ecological power dibatasi oleh lingkungan itu sendiri. Dyadic power dibatasi oleh hubungan diadik itu sendiri. Expert power dibatasi oleh keahlian itu sendiri. Referant power dibatasi apa yang terlihat, yang dijadikan referensi. Sebagai suatu kapasitas, kekuasaan itu butuh kontainer/ tempat. Karena tempat itu terbatas, dalam makna negatifnya, kekuasaan itu tentu berarti keterbatasan.

Di film “The Last Samurai”, samurai diceritakan menjadi pihak yang disingkirkan. Tapi selama 900 tahun sebelumnya, kaum samurai pernah menjadi pihak yang menyingkirkan orang-orang (berkuasa absolut dalam sistem feodal di Jepang). Manusia dipergilirkan dalam hal kemampuannya memberikan sesuatu sehingga memang ada saatnya yang kuat akan menjadi lemah dan yang tua akan mati. Dalam pergantian itu, tidak banyak hal yang tetap bertahan, tetapi di antara yang mampu bertahan, yang paling tahan dimakan zaman adalah nilai-nilai moral, yang di dalamnya terkandung “apa yang baik dan benar” bagi hidup manusia. Dan, dalam film “The Last Samurai”, apa yang baik itu adalah apa yang di akhir film dikatakan oleh sang kaisar, intinya: hari ini kita boleh menjadi berbeda dan maju ke masa depan, tapi jangan lupa dari mana kita berasal dan pernah menjadi apa. Itulah kebenaran yang akhirnya disadari oleh sang kaisar. Jangan lupa diri!

Orang tergerak oleh kebenaran; tergerak oleh orang yang membawa atau mengingatkan kebenaran. Kebenaran itu dapat diartikan macam-macam; dapat nilai moral, nilai tradisi, atau nilai agama yang diyakini dalam hati sebagai benar dan baik. Orang butuh berbicara dan bertindak sesuai kata hatinya. Selalu ada hati yang mendiktekan kita sesuatu dan kita tidak dibiarkan untuk menolak tanpa membayarkan dengan rasa malu, rasa bersalah, atau rasa berdosa. Orang yang kenal apa yang benar itu, tak perlu iming-iming atau paksaan, tak perlu penjelasan dan argumentasi rasional, untuk dipengaruhi karena ia akan menyerahkan diri, bisa jadi untuk membebaskan diri dari rasa malu, rasa bersalah, atau rasa berdosanya, atau untuk mendapatkan kebahagiaan, kebermaknaan, atau sekadar perasaan tenang karena sudah melakukan hal yang benar. Adakah konsep atau teori psikologi yang bisa menjelaskan ini? Kalau belum ada, saya ingin menamai ini, minimal untuk diri saya sendiri: Kepemimpinan hati; memimpin dengan kekuatan hati.

 

Referensi

Corazon Aquino. http://en.wikipedia.org/wiki/Corazon_Aquino.

Mohammed Bouazizi. http://en.wikipedia.org/wiki/Mohamed_Bouazizi.

Yukl, G. (2010). Leadership in Organizations. Upper Saddle River: Pearson.

 

Memo Reaksi 6 (15 April 2014)

2 thoughts on “Kepemimpinan Bag. 6: Kepemimpinan Kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s