Kepemimpinan Bag. 7: Kepemimpinan bagi Dunia Pendidikan & Pemimpin Masa Krisis (Pemikiran yang Lain Terkait Pilpres)

1# Are You Trying to Show Us The Transformational Leadership?

Semakin hari rasanya saya semakin mampu mengatakan, “Ya. Yang sedang berlangsung dalam kelas Kepemimpinan Strategik adalah kepemimpinan transformasional.” Mohon maaf jika kali ini saya akan banyak menyampaikan “rangkuman” hasil membaca saya tentang kepemimpinan karismatik dan transformasional. Saya menggunakan ini untuk memahami apa yang terjadi dalam kehidupan saya, terkhusus perkuliahan yang sedang saya ikuti, terkhusus kelasnya Pak Fathul Himam.

 

Aspek Ada/Tidak
Pengikut (saya) merasakan “trust, admiration, loyalty, and respect” (Yukl, 2010, h. 275) Ada. Itulah yang saya rasakan, di mana yang paling besar adalah kekaguman dan rasa hormat saya. Yang paling berkesan adalah ketika Pak Fathul berkata tentang “sedekah ilmu”. Senang bisa bertemu orang yang menganut nilai yang sama dengan saya.
Pengikut (saya) termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang diharapkan Ada, meskipun tidak untuk semua tugas. Untuk tugas yang saya sukai macam memo reaksi, saya sangat termotivasi karena mengerti manfaatnya. Untuk tugas lainnya (macam makalah dan penelitian), pikir-pikir dulu. Yang diharapkan sudah tinggi, saya sulit berbuat lebih dari yang sudah diekspektasikan.
Perilaku transformasional: idealized influence -> behavior that arouses strong follower emotions and identification with the leader Tidak Mungkin karena konteksnya akademik, pengaruh yang sifatnya seperti itu terlalu berlebihan, tidak relevan dengan kepentingan akademik. Pendidikan itu bukan untuk menanamkan pengaruh, melainkan membuat orang belajar.
Perilaku transformasional: individualized consideration -> providing support, encouragement, and coaching to followers. Tidak Interaksi dosen-mahasiswa terbatasi oleh waktu, aturan, dan kepentingan akademik sehingga tidak memungkinkan dinamika yang seintens itu, ataupun jika ada, tidak mungkin menyentuh banyak mahasiswa.
Perilaku transformasional: inspirational motivation -> communicating an appealing vision, and using symbols to focus subordinate effort Ya Saya mendengarkan visi yang menarik itu. *Semoga bapak menyimpan memo reaksi pertama saya ^_^ Itu yang paling memotivasi saya!
Perilaku transformasional: intellectual stimulation-> increases follower awareness of problems and influences followers to view problems from a new perspective Ya Ini kan yang disampaikan setiap perkuliahan, terintegrasi dalam materi kuliah.
Proses mempengaruhi Ya Ketimbang identifikasi personal, saya bisa merasakan ini internalisasi. “…because inspirational motivation includes efforts to link the task to follower values and ideals with behavior such as articulating an inspirational vision.” (h. 278).

 

Jika kepemimpinan transformasional mencerminkan bentuk kepemimpinan yang paling efektif (Yukl, 2010), ada baiknya dipikirkan cara bagaimana membawa gaya kepemimpinan ini ke dalam dunia akademik secara umum dan kelas pada khususnya. Meskipun ini mata kuliah PIO, saya tidak bisa menanggalkan jiwa “pendidikan” saya. Saya selalu berpikir-pikir bagaimanakah pendidik/ pengajar yang baik itu? Bagaimanakah pendidik yang mempengaruhi siswanya sehingga mampu berprestasi? Bagaimanakah seharusnya reaksi siswa terhadap sosok pendidik di hadapannya? Bagaimanakah kepemimpinan dalam kelas? Bukankah kelas juga suatu bentuk organisasi meskipun tidak seformal yang ada dalam perusahaan? Bagaimanakah kepemimpinan kelas yang efektif itu?

Kalau dikata dunia pendidikan dalam krisis, tidak berlebihan saya berkata sebabnya adalah krisis kepemimpinan dalam kelas. Proses pendidikan berlangsung dalam transaksi. Agar lulus, dapat sertifikat, dapat nilai baik, siswa harus menyerahkan dirinya dalam kepatuhan proses belajar-mengajar yang gila, mengikuti jalan yang sudah digariskan dan tujuan yang secara semena-mena ditetapkan secara sepihak oleh pemerintah, sekolah, dan orangtua, menelan trilyunan bit informasi hanya agar selamat sampai tahun ke-12 atau tahun ke-17, atau tahun ke-19 dengan predikat lulus, siap bekerja, dan menghasilkan uang. Orang rela tidak jujur demi lulus. Orang rela mengorbankan idealisme demi lulus. Ini pendidikan yang gila di mana “ketidaklulusan” dimaknai sebagai hukuman, bukan petunjuk perbaikan diri. Orang sedemikian takut tak punya masa depan, tapi ironis, caranya dengan mengorbankan diri dan moral, masa depan itu sendiri (!).

Dunia pendidikan butuh guru-guru yang transformasional. Pertanyaan terbesar saya, apakah sosok yang demikian dapat diciptakan atau tercipta dengan sendirinya dalam kehidupan? Apakah kualitas tersebut tergantung pada “panggilan jiwa”, sensitivitas pada isu-isu moral, dan agensi pribadi, serta keinginan menularkan keyakinan diri tentang yang baik dan benar kepada orang lain? Apakah jawabannya? Bagaimana menjawabnya?

 

2# Kepemimpinan dan Pemimpin Masa Krisis

Karakter orang dipengaruhi oleh karakter zaman. Zaman yang dipenuhi krisis setidaknya melahirkan dua macam orang: orang-orang yang menjadi korban krisis dan orang-orang yang menolak dimangsa oleh krisis.

Satu hal yang menarik perhatian saya dalam konsep kepemimpinan karismatik adalah bahwa kondisi yang memfasilitasi kemunculannya. Situasi krisis. Kecemasan. Kekecewaan. Orang-orang dalam situasi krisis bisa dikatakan membutuhkan kepemimpinan karismatik. Situasi krisis bisa dikatakan memunculkan pengalaman hidup tertentu yang itu memicu atau mengasah kualitas tertentu dalam diri seseorang. Karisma memang mempengaruhi orang secara emosional, tetapi karisma tidak dibangun atas dasar emosi semata, tetapi juga rasionalitas dan kekuatan pribadi.

Saya suka kalimat ini (dalam Yukl, 2010, h. 262), “Charisma is more likely to be attributed to leaders who advocate a vision that is highly discrepant from the status quo, but still within the latitude of acceptance by followers. That is, followers will not accept a vision that is too radical, and they are likely to view a leader who espouses such a vision as incompetent or crazy.

Ketika membaca tentang ini, pikiran saya melayang pada sosok presiden-presiden Indonesia dan orang-orang di sekelilingnya. Masa kolonialisme dan pascakolonialisme, Indonesia punya Soekarno, negarawan yang karismatik. Saat itu, negara Indonesia baru saja lahir dan gonjang-ganjing situasi dalam negeri berhasil distabilkan dengan kepemimpinan Soekarno yang kuat berkarakter. Singkat cerita, tahun-tahun berlalu, orientasi kekuasaan Soekarno entah kenapa mulai terpusat pada personal. Demokrasi terpimpin. Keinginan menjadi presiden seumur hidup. Politik mercusuar menandakan grandiosa kepemimpinan. Dark side of charismatic leadership.

Soeharto menggantikan Soekarno. Ia seorang pejabat militer dan prestasi terbaiknya adalah menumpas pemberontakan PKI. Mungkin tidak seperti Soekarno, tetapi pada masa itu, Indonesia hendak melakukan pembangunan untuk menjadi negara yang maju. Soeharto pun pemimpin yang punya visi, dan yang saya ingat adalah bagaimana ia memajukan pertanian dan memperbaiki ekonomi Indonesia. Persoalan kembali muncul ketika kepemimpinan mulai terpusat pada personal. Berkuasa 32 tahun lamanya, apakah tak terpikirkan melahirkan penerus? Orde Baru terkenal represif. Orang-orang tak boleh mengkritik pemerintah. Otoriter. Dark side of charismatic leadership.

bdurrahman Wahid menggantikan B. J. Habibie (pengganti Soeharto yang lengser) di awal era Reformasi. Itu adalah situasi krisis yang lain. Ia adalah ulama besar, berpengaruh luas, berpengikut banyak. Pengetahuannya luas. Jaringannya luas. Orang yang luas biasa. Mengagumkan. Banyak cerita-cerita tentang kehebatannya. Hanya saja, belum selesai masa jabatannya, dia diturunkan paksa. Kebijakan terakhirnya adalah membubarkan MPR. Entah apa yang terjadi, saya masih kecil waktu itu, cuma sekarang agaknya bisa menyimpulkan, mungkin dia mulai tidak mendengarkan saran orang-orang sehingga mengambil keputusan yang gila. Karena perilakunya terlalu nyeleneh, banyak yang tidak suka padanya. Dark side of charismatic leadership.

Setelah masa itu, Indonesia menuju visi reformasi. Semua begitu stabil. Presiden terpilih lewat siklus lima tahunan. Orang-orang mulai bekerja seperti biasa. Namun itu rupanya menyimpan persoalan ketika sistem kehidupan terkorupsi. Tidak ada kepemimpinan yang cukup karismatik, yang kuat, dan berpengaruh sehingga mampu menjaga kapal tetap di jalurnya. Megawati presiden pengganti Abdurrahman Wahid adalah anak presiden sebelumnya. Bapaknya melegitimasinya, bukan kekuatan pribadinya. SBY adalah jenderal militer, berbesan jenderal militer pula. Jabatan melegitimasinya, bukan kekuatan pribadinya. Hasilnya, krisis baru. Kekecewaan di mana-mana. Kecemasan di mana-mana. Masa depan Indonesia kembali dalam pertaruhan dengan musuh baru, yaitu sebagian bangsa sendiri yang jahat.

Pertanyaannya, apakah situasi kali ini sudah cukup kritis untuk melahirkan sosok pemimpin yang karismatis-transformasional? Ketika rekam jejak, pengalaman hidup, dan masa lalu calon pemimpin perlu diperhatikan, apakah ada baiknya kita mempertimbangkan mana yang hidupnya pernah “menderita” atau dalam krisis, yang pernah menjadi rakyat sehingga mengerti penderitaan rakyat?

Dalam keadaan seperti ini, entah kenapa saya pribadi tidak bisa percaya pada calon pemimpin dari kalangan pengusaha kaya-raya atau mantan petinggi militer. Orang kaya punya orientasi materialistis yang tidak bisa diabaikan. Mungkin kelak ia akan menjual seisi negeri ini untuk menggemukkan diri dan orang-orang dekatnya. Mantan pentinggi militer itu “terlalu mengerti” politik. Dia orang yang mengerti jalur legitimate, reward dan coercive power. Berkampanye dengan menjual mimpi pada rakyat, mengindikasikan kalau itu bukan inkompetensi, maka kegilaan. Belum memulai sudah bertransaksi. Ciri pemimpin transaksional.

Akibat belajar teori-teori kepemimpinan, saya inginkan pemimpin yang memberikan visi, memimpin dengan intelektualitas dan karisma yang memadai, bukan berlebihan. ^_^ Akibat belajar teori-teori kepemimpinan…

 

Referensi

Yukl, G. (2010). Leadership in Organizations. Upper Saddle River: Pearson.

 

Memo Reaksi 7 (11 Mei 2014)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s