Kepemimpinan Bag. 9: Kepemimpinan Negara Komunis dan Fasis

Fascism_844155_5078162

 

Dikarenakan minggu ini tak ada materi, saya tidak belajar apapun tentang kepemimpinan. Saya tidak merasa bersalah karena belajar saya memang benar sesuai keperluan. Saya berharap agar selalu ada keperluan yang membuat saya membaca atau mencari informasi. Kalau tidak tentang mata kuliah Kepemimpinan Strategik ini, maka tentang mata kuliah yang lain, atau tentang hal lain di luar kuliah.

Omong-omong tentang hal lain di luar kuliah, saya menghabiskan hari-hari libur dengan membaca “Isme-isme Dewasa Ini” (1961). Buku ini bukan buku psikologi. Penulisnya adalah guru besar ilmu politik di Princeton University, Wiliam Ebenstein. Buku ini mudahnya adalah tentang politik, tetapi sebenarnya ini tentang empat aliran pemikiran besar yang membentuk wajah dunia di awal sampai pertengahan abad 20, yaitu komunisme, fasisme, kapitalisme, dan sosialisme. Sampai saat ini saya baru menyelesaikan dua bab pertamanya, yaitu Komunisme Totaliter dan Fasisme Totaliter.

Selama membaca saya berusaha menghubungkan pengetahuan yang ada dalam buku itu dengan pengetahuan psikologi, terutama teori-teori kepemimpinan. Saya tidak mendapatkan kecocokan atau hubungan yang jelas, tetapi ada hal menarik yang tidak saya duga sebelumnya yang menghubungkan tidak hanya psikologi dan politik, tetapi juga keadaan sosial dan ekonomi masyarakat. Fenomena kepemimpinan yang muncul, yang memunculkan sistem komunisme dan fasisme di negara-negara Eropa pada masa itu, bermain-main di atas empat hal yang saya sebutkan tadi: psikologi, politik, kondisi sosial, dan ekonomi.

Semua bermula dari pemikiran Karl Marx yang mendekati sejarah dengan perspektif yang berbeda. Semua orang memahami sejarah dari sudut agama bahwa segala peristiwa adalah perbuatan Tuhan. Lalu secara politik, sejarah hanya membicarakan riwayat raja-raja, penguasa-penguasa, kaum pembuat undang-undang, dan serdadu-serdadu, sehingga peristiwa yang terangkat dan teringat adalah peperangan-peperangan dan perjanjian-perjanjian. Cara ketiga adalah penafsiran dari sudut kepahlawanan sehingga muncul nama-nama pahlawan perang, pendiri-pendiri negara, para pelopor dan perombak keadaan. Saya simpulkan secara kasar saja, kepemimpinan mendapatkan tempat yang instimewa dalam narasi-narasi historis. Terakhir adalah Marx, dia memahami sejarah dengan perspektif ekonomi. Dia memberikan pemahaman baru bahwa dunia tidak dibentuk hanya oleh manusia-manusia tertentu yang kuat, berpengaruh, dan memimpin, tetapi proses dalam masyarakat yang dilakukan oleh “si kuat” dan “si lemah”, si pemilik modal atau kekuatan produksi dan para buruh (Ebenstein, 1961).

Selain pengaruh, salah satu unsur penting kepemimpinan adalah adanya tujuan. Saya mulai berpikir tentang apakah “tujuan” ini. Jujur saja, persoalan “tujuan” ini tidak pernah dibahas dalam kelas karena yang selalu menjadi penekanan adalah unsur pengaruh dalam kepemimpinan. Dalam tujuan ada mimpi, cita-cita, harapan, dan keinginan. Tapi, bagaimana suatu “tujuan” dapat muncul atau hadir dalam benak seorang manusia, bagaimana tujuan manusia yang satu lebih kuat dari tujuan manusia yang lain, bagaimana tujuan yang satu lebih dipercaya olah orang-orang daripada tujuan yang lain…

Itu masih sangat misterius bagi saya. Saya kira menjadi pemimpin itu sesungguhnya adalah pertarungan tujuan. Ia yang memiliki tujuan yang paling, entahlah, mungkin tepat dikatakan sebagai “mengena” jiwa orang-orang, adalah yang menjadi pemimpin. Hubungan pemimpin dan pengikut ditandai dengan adanya tujuan yang dimiliki bersama (common purpose). Yang seperti itu tidak akan bisa tanpa adanya realita yang dipahami bersama (shared reality), kesadaran bersama tentang apa yang telah terjadi, tengah terjadi, dan akan terjadi dalam kehidupan. Ia yang paling memahami realita sebagaimana realita itu dipahami oleh orang-orang dan bisa memberikan “sesuatu” yang mengubah keadaan menjadi lebih baik, adalah yang menjadi pemimpin.

Mengapa kepemimpinan komunis dan fasis dapat muncul pada masa itu?

Memakai pengetahuan yang saya miliki sekarang, menurut saya itu mencerminkan warna zaman dan kondisi masyarakat pada masa itu. Tidak berhenti pada ideologi apa, tetapi warna zaman dan kondisi masyarakat juga menentukan gaya kepemimpinan apa yang digunakan. Menurut pemikiran Marx, di era itu, persaingan besar terjadi antara kaum yang berkuasa, si pemilik kekuatan ekonomi dengan para buruh yang dikuasai. Saya membayangkan adanya hubungan produksi yang tidak adil sehingga para buruh muak dengan penguasa. Mereka ingin memperjuangkan kelas sosial mereka, ingin mengubah keadaan.

Yang Marx “tawarkan” untuk mencapai kemakmuran rakyat atau kaum buruh adalah jalan peperangan kelas, kekerasan, dan revolusi. Itulah yang diyakini orang-orang di Rusia dan China, memunculkan pemimpin kaum komunis seperti Stalin yang menggulingkan kerajaan Rusia dan Mao Zedong yang menjatuhkan kekaisaran China. Meskipun pada akhirnya kepemimpinan negara berubah diktator, menindas, dan beralih tujuan untuk menyaingi negara-negara kapitalis, pernah pada masa awalnya kepemimpinan komunis didukung oleh jutaan rakyat karena tujuannya pada pemerataan kemakmuran bagi orang kecil. Komunisme jatuh karena kegagalannya mewujudkan cita-cita kemakmuran yang dijanjikan itu. Bersamaan itu, jatuh pula kepemimpinan dan para pemimpinnya. Mereka jatuh karena orang tak membutuhkan yang seperti itu lagi.

Hal menarik selanjutnya adalah tentang fasisme, yaitu pengaturan pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh suatu kediktatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, rasialis, militeris, dan imperialis. Di sini ada banyak nama terkenal, seperti Hitler yang memimpin fasisme di Jerman, Mussolini di Italia, Salazar di Spanyol, Kolonel Peron di Argentina, dan di Jepang yang dipelopori oleh Perdana Menteri Tanaka dan dilanjutkan oleh Perdana Menteri Tojo. Jika komunisme muncul di bangsa-bangsa yang melarat dan terbelakang, fasisme muncul di bangsa-bangsa yang lebih berada dan secara teknologi lebih maju, sudah mengenal demokrasi dan industri sehingga mampu memobilisasi kekuatan untuk berperang dan melakukan ekspansi (Ebenstein, 1961).

Kemunculan fasisme memiliki latar belakang sosial dan psikologis yang sangat berkaitan erat. Salah satu pendukung besar fasisme adalah rakyat yang menjadi korban depresi ekonomi pada tahun 1930-an. “Apa yang tidak dapat dimengerti secukupnya oleh bangsa-bangsa demokratis ialah bahwa yang paling jelek dalam pengangguran bukanlah penderitaan ekonomi (yang dapat dikurangi dengan bantuan yang cukup), akan tetapi perasaan di pihak yang menganggur bahwa dirinya tidak berguna, tidak disukai, dan berada di luar lingkungan yang terhormat dari masyarakat. Di kalangan mereka yang berjiwa kosong inilah fasisme mendapat kemajuan-kemajuan yang menghawatirkan di waktu-waktu depresi … gerakan fasis dapat membuat orang itu merasa dirinya ‘tergolong’, dan dengan jalan menceritakan kepadanya bahwa ia adalah dari suku bangsa yang atas, gerakan tersebut memulihkan sebagian dari perasaan terhormat dirinya.” (h. 67) Karena itu janji-janji fasisme selain kemakmuran adalah kemenangan dan kejayaan.

Kepemimpinan komunis dan fasis sangat terkenal akan karismanya, namun setelah saya pelajari karisma yang dibangun bukanlah karisma yang sehat, menurut takaran teori kepemimpinan terbaru. Dalam fasisme, pemerintahan dilakukan oleh golongan terpilih (elite) yang dipandang paling mengerti apa yang paling baik bagi masyarakat. Golongan ini menunjuk dirinya sendiri sebagai yang pantas memimpin dan pemerintahannya bebas dari persetujuan rakyat. Pemimpin dianggap tidak mungkin bersalah, dan dianggap mempunyai kesanggupan-kesanggupan gaib dan dapat ilham. Pemerintahan yang totaliter menggunakan kediktatoran untuk mengatur masyarakat dan mengawasi segala lini kehidupan masyarakat (Ebenstein, 1961).

Cerita paling menarik selanjutnya adalah bagaimana rakyat negara fasis kemudian menggulingkan fasisme dalam negara mereka sendiri. Tapi, saya belum mencari sampai sejauh itu. Saya hanya berpikir pasti ada sebab rasionalnya mengapa kemudian di hari ini sistem demokrasi dan kepemimpinan yang demokratis menjamur di mana-mana.

Pertanyaan saya: seperti apakah keadaan sosial dan ekonomi masyarakat saat ini, bagaimanakan kondisi psikologis individu dan dinamika politiknya? Apakah yang paling dibutuhkan masyarakat hari ini? Apakah yang paling ingin diubah yang dengan itu keadaan individu dan kolektif akan berubah menjadi lebih baik?

Memikirkan suasana saat ini yang panas menjelang pemilu presiden, saya kira, meskipun hanya janji politik sangat dicela, fakta bahwa janji-janji tersebut termakan layaknya umpan bagi ikan yang terkail menunjukkan bahwa ada kesesuaian antara konten janji dengan konten harapan masyarakat. Rakyat sedang tak perlu bukti, melainkan calon pemimpin yang paling mengerti situasi dan kondisi mereka, tercermin dari janji mereka yang paling “masuk akal”. Persoalannya nanti, jahat sekali pemimpin yang berakhir hanya memanfaatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat untuk dapat mulus melenggang duduk di kursi presiden. Tentu saja, ketika itu mereka bukan lagi pemimpin, melainkan penjahat kemanusiaan.

 

Referensi

Ebenstein, W. (1961). Isme-isme Dewasa Ini. Jakarta: Gita Karya.

Yukl, G. (2010). Leadership in Organizations. Upper Saddle River: Pearson.

 

Memo Reaksi 9 (3 Juni 2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s