Kepemimpinan Bag. 11: Pemimpin bagi Diri Sendiri

Sebagai penuntut ilmu, aku tidak pernah membiasakan diriku menjadi seorang yang frutrasi. Ketika ada hal yang tidak aku ketahui, aku tidak pernah ambil pusing lama-lama. Itu hanya karena aku belum waktunya tahu, bukan karena pengetahuannya tidak ada.

Kemarin aku membuat 10 tulisan yang isinya adalah refleksi yang aku lakukan selama mengikuti mata kuliah Kepemimpinan Strategik. Hari ini seorang teman bertanya tentang hal yang sudah lebih dahulu aku tanyakan kepada diriku sendiri, hanya saja redaksinya berbeda. Jika dia bertanya dengan kata tanya “apakah”, aku bertanya dengan kata tanya “bagaimana”. Setelah aku kembangkan, pertanyaanku menjadi demikian:

Bagaimana semua teori-teori itu diaplikasikan? Bagaimana semua wawasan tentang kepemimpinan itu terejawantahkan dalam kehidupan? Bagaimana semua itu akan bermanfaat?

Merenungkan pertanyaanku, aku merasa beruntung karena pertanyaan “bagaimana” tidak akan pernah bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Itu kata tanya yang ajaib. Selalu ada jawaban untuknya dan jawabannya luas. Meskipun demikian, entah bagaimana, aku tak ingin berlebihan dalam perkara ini. Aku sadar bahwa tidak semua teori itu ada untuk diaplikasikan, untuk menjadi resep melakukan sesuatu. Kebanyakan teori hanya berisi deskripsi, atau eksplanasi, atau interpretasi tentang sesuatu. Mungkin tak punya daya aplikasi, tetapi yang jelas, besar atau kecil, itu punya daya prediksi, apa yang akan terjadi di masa depan, minimal untuk diriku sendiri:

Aku akan jadi orang yang seperti apa setelah tahu semua ini?

Bagi teman-teman pembaca yang mengikuti perjalanan blog ini, kalian pasti mengerti sesuatu. Aku punya mimpi untuk menjadi seorang intelektual. Dikaitkan dengan topik pembahasan kali ini, aku sangat penasaran pada diriku sendiri, apa yang bisa dan akan kurumuskan, minimal untuk diriku sendiri, tentang kepemimpinan seorang intelektual. Apakah seorang intelektual bisa memimpin? Jawabannya, bisa. Dan aku tak mengunci konsep kepemimpinan intelektual dalam arti kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang atau kaum teknokrat.

Menjadi orang yang belajar, menjadi orang yang tahu, menjadi orang yang berpengetahuan, seseorang “Dianugerahkan” Allah satu hal yang dengan itu ia bisa menguasai orang lain. Anugerah itu menjadi sumber salah satu kekuatan yang besar pengaruhnya bagi kehidupan orang banyak. Secara teknis, dalam Yukl (2010) itu dinamai expert power atau kekuatan keahlian. Aku tak bisa memaknai ini sebagai suatu kabar gembira karena dari sinilah awal mengapa ada ilmuwan/ ulama yang baik dan ilmuwan/ ulama yang buruk. Aku meniatkan diri menjadi ilmuwan yang baik, tapi aku tetap punya kerentanan untuk menjadi ilmuwan yang buruk.

Expert power didasarkan pada apa yang kita ketahui, pengalaman, dan keterampilan atau bakat khusus. Keahlian dapat ditunjukkan oleh reputasi (siapa kita, apa jabatan kita), sertifikat keahlian, dan tindakan-tindakan kita. Efektivitas dan dampak dari expert power dapat positif maupun negatif. Keahlian akan lebih berguna jika disertai motif untuk memenuhi kebutuhan berprestasi. Keahlian memiliki kekuatan untuk meyakinkan orang lain dan keahlian tidak harus bersifat genuine, asli dimiliki. Di sinilah maka ada permainan “persepsi”. Sepanjang orang menganggap atau merasakan diri kita memiliki keahlian atau kemampuan yang tinggi, maka orang akan menganugerahkan kekuasaan pada kita.

Expert power dekat hubungannya dengan informational power. Kekuatan informasi. Kekuatan ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh agen perubahan yang membawa perubahan dengan sumber informasi yang dimilikinya. Pengaruh informasi dapat mengubah kognisi dan sikap/ penerimaan orang lain. Sama seperti kekuatan keahlian, kekuatan ini akan lebih bermanfaat jika disertai motif untuk memenuhi kebutuhan berprestasi dan daya pengaruhnya dipengaruhi oleh self-esteem pemiliknya. Uniknya kekuatan ini, begitu seseorang membaginya kepada orang lain, kekuatan ini memiliki efek memberdayakan. Ketika orang lain ikut tahu informasi, mereka juga akan punya kekuatan informasi. Mereka mampu membawa perubahan dan mempengaruhi orang yang lain lagi. Karena itulah kekuatan ini bukan kekuatan individual semata, melainkan kekuatan kolektif.

Meskipun demikian ia bisa juga menjadi tidak bermanfaat jika digunakan untuk berkuasa, memenuhi kebutuhan akan kekuasaan. Ini tercermin dari tindakan membatasi informasi, merahasiakan informasi dari orang-orang tertentu, mengorganisasinya, memanipulasinya, memalsukannya, membesar-besarkannya, atau mengecilkannya. Ini tentu membatasi penggunaannya dan bisa digunakan untuk mengendalikan orang lain.

***

Ini benar-benar membuat berpikir. Adakah orang yang tidak tahu satu hal pun di dunia ini? Tidak ada. Akal manusia memungkinkannya untuk memiliki kekuatan dan berkuasa sejak awal.

Ini pun membuatku lebih memahami sebuah hadist tentang dakwah, “sebarkan meskipun hanya satu ayat“. Satu ayat sebagai suatu pengetahuan dapat memiliki kekuatan yang berbeda jika itu digunakan sebagai expert power atau informational power. Apa yang menjadikan satu ayat begitu berdampak? Karena satu hal yang disebarkan memiliki pengaruh yang sifatnya kolektif. Apa yang membuat seorang juru dakwah tak sebaiknya cepat frustrasi? Karena informasi itu, ibaratnya, berbunga, mati satu tumbuh seribu jika ia sudah disebarkan.

Meskipun demikian baiknya, ini dapat begitu buruk jika apa yang diketahui disimpan sendirian dan membuat kita sekedar menjadi seorang expert. Benar, kita dapat sangat berpengetahuan; kita dapat membuat orang sangat percaya pada kita dan mendudukkan kita di jabatan-jabatan tinggi karena keahlian kita. Namun, kepercayaan itu dapat membuat kita menjadi seorang “pembohong”. Mungkin ada saat di mana kita ingin menyelamatkan wajah dan kursi kita, kita jadi pembohong, tidak bisa berkata, “Saya tidak tahu. Saya tidak mengerti. Itu bukan kapasitas saya.”

Kita mulai bermain di tataran pencitraan belaka agar orang senantiasa memiliki persepsi yang baik tentang diri kita, agar kita tetap dipercayai. Itulah mungkin salah satu sebabnya mengapa Nabi Muhammad mengajarkan agar ulama tak dekat-dekat dengan penguasa, menjaga keberpihakan pada penguasa. Ulama atau ilmuwan yang demikian jadi belajar menyenangkan hati penguasa. Mereka lupa bahwa mereka punya tugas menyebarkan ilmu, membimbing umat, dan mengontrol kebijakan para penguasa. Mereka lupa siapa diri mereka dengan apa yang Allah anugerahkan pada mereka.

***

Apakah aku akan menjadi orang yang lupa siapa diriku? Lupa tahun-tahun yang kuhabiskan untuk belajar, untuk kemudian dianugerahkan Allah pengetahuan? Lupa bahwa dengan pengetahuan aku punya tugas untuk menyebarkan ilmu, membimbing orang-orang yang tidak tahu, dan mengontrol kebijakan orang-orang yang berkuasa? Lupa bahwa sebaiknya diriku tak berpihak pada golongan manapun yang menghendaki kekuasaan? Lupa bahwa diriku sebaiknya tak menginginkan kedudukan? Lupa bahwa sebaiknya aku berhati-hati dengan niat, lisan, dan perbuatanku? Lupa bahwa diriku dilihat dan didengarkan orang yang ingin tahu, aku sadari ataupun tidak?

Bagaimana agar ketika orang-orang hanyut, aku tak ikut? Bagaimana agar ketika orang-orang dikuasai keadaan, aku tetap pada prinsip? Bagaimana agar ketika orang-orang membebaskan diri mereka lantaran kekuasaan memiliki informasi, aku tetap terikat pada ajaran Tuhan untuk tidak memutar-balikkan, menyembunyikan, merahasiakan, membesar-besarkan, memalsukan apa yang aku tahu? Bagaimana agar ketika orang-orang takut pada penguasa, aku tetap takut pada Allah sehingga aku berhati-hati?

Aku sudah 24 tahun, baru tahu apa itu belajar. Belum tahu betul apa itu kehidupan, apa itu sungguh-sungguh menjadi pribadi yang bermanfaat atau dimanfaatkan. Tak bisa aku percaya diri dengan apa yang aku tahu, karena keselamatan tidak tergantung pada apa yang aku tahu melainkan pada Tuhan dan seberapa baik aku mendengarkan tuntunan-Nya agar aku menghidupkan apa yang aku tahu dalam kehidupan.

Mungkin hari ini aku tak bisa menggunakan semua ini untuk memilih presiden pada pemilu nanti, tapi didorong oleh apa yang aku tahu, aku menjalani momen ini dengan melatih diriku untuk “tidak” berpihak dan tidak tergoda berpihak pada manusia; untuk belajar tidak mengelak menghadapi kekurangan dari apa yang disuka dan bersabar mengetahui kelebihan dari apa yang disuka; untuk belajar melihat lebih banyak dan menyeluruh ketimbang sepenggal meskipun itu memuaskan dan menyenangkan; untuk menjaga afiliasi bukan pada mana, melainkan pada apa; untuk melihat lebih baik pada hakikat, bukan pada tampilan, melihat lebih jauh pada yang belum terlihat, bukan hanya pada yang di depan mata, sekarang dan di sini; untuk berpihak pada Tuhan saja, pada moral dan kemanusiaan berdasarkan petunjuk-Nya; untuk menjaga akhlak mulia dan tetap mulia; untuk menjaga sikap dan pendapat, lisan, tulisan, dan perilakuku.

Ya Allah, semoga Engkau pahamkan aku agama dan ilmu-ilmu yang hakiki, ilmu-ilmu yang bermanfaat, ilmu-ilmu yang membuatku dekat pada-Mu. Semoga Engkau Berkehendak aku menjadi manusia yang baik, yang hidupnya baik, yang akhirnya baik. Semoga Engkau Berkehendak aku menjadi ahli sedekah, sedekah dengan ilmu, dermawan ilmu.

Ya Allah, aku ingin jadi ilmuwan, ingin jadi manusia yang belajar, yang mengamalkan perintah-Mu untuk menggunakan akal, untuk berpikir, dan merenung, untuk menggunakan mata hati. Ingatkan aku jika aku bersalah, peringatkan aku jika aku mulai menyimpang, tunjukilah aku jika aku tersesat, rendahkan aku jika aku mulai sombong, ikatlah aku jika aku mulai melampaui batas, bebaskanlah aku jika aku mulai terpenjara oleh dunia, matikanlah segala nafsu yang tidak Kau Rahmati.

Ya Allah, Engkau pemimpinku. Mudahkanlah aku, sebelum memimpin orang lain, memimpin diriku sendiri. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s