Kepemimpinan Bag. 12: Pedoman Memilih Pemimpin (Kumpulan Hadist tentang Kepemimpinan)

Ini hanya status Facebook-ku pagi ini.🙂 Pemilu kali ini adalah momenku belajar tentang kepemimpinan. Sangat bersyukur, alhamdulillah, diberikan Allah kesempatan untuk belajar tentang kepemimpinan.

***

Ya Allah, You know, I am still trying…

I. Petunjuk Agama

Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.” (QS. At-Taubah : 23)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ma’idah: 57)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al Maa’idah: 49-50)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan mereka tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al-Maaidah : 55)

Hadist Nabi Muhammad:

Rasulullah SAW berpesan: ”Seorang Mukmin tidak akan masuk ke dalam satu lubang yang sama untuk kedua kalinya.” (HR Muslim)

“Sepeninggalku nanti kamu akan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang pandai memberikan nasehat-nasehat dengan penuh hikmat di atas mimbar. Tetapi bila telah turun, mereka suka melakukan penipuan dan hati mereka lebih busuk daripada bangkai.” (HR. Thabrani 19, hal. 160)

“Kerusakan agama seseorang yang disebabkan oleh sifat tamak dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih parah daripada kerusakan yang timbul dari dua serigala yang lapar yang dilepaskan dalam rombongan kambing.” (HR. Tirmidzi)

“Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabrani)

Apabila amanat sudah hilang (disia-siakan), maka tunggulah saat kehancurannya (qiyamat). Shahabat nabi bertanya, “Bagaimanakah hilangnya (menyia-nyiakan) amanat ?”. Rasulullah SAW menjawab, “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah qiyamat (kehancurannya)”. (HR. Bukhari juz 1, hal. 21)

“Barangsiapa yang mengangkat seseorang untuk suatu jabatan karena kekeluargaan (golongan), padahal ada pada mereka itu orang yang lebih disenangi Allah (karena kemampuan) daripadanya, maka sesungguhnya ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin.” (HR. Hakim)

”Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta dan tidak pula kepada orang yang berharap-harap untuk diangkat.” (HR Bukhari dan Muslim)

”Wahai Abdur Rahman, janganlah engkau meminta untuk diangkat menjadi pemimpin. Sebab, jika engkau menjadi pemimpin karena permintaanmu, tanggung jawabmu akan besar sekali. Dan jika engkau diangkat tanpa permintaanmu, engkau akan ditolong orang dalam tugasmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Dzar ra. pernah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, wahai Rasulullah, apakah engkau tidak hendak mengangkatku memegang suatu jabatan?” Rasulullah SAW menepuk bahuku dan berkata: “Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah sedangkan jabatan ini amanah yang pada hari kiamat kelak harus dipertanggungjawabkan dengan risiko penuh penghinaan dan penyesalan, kecuali orang yang memenuhi syarat dan dapat memenuhi tugas yang dibebankan kepa-danya dengan baik.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah, Rasulullah Saw bersabda: “Ketika seorang raja akan dijadikan baik oleh Allah, maka diperbantukan seorang menteri yang jujur baginya, jika terjadi penyimpangan segera ia memperingatkannya, dan jika berada pada jalur yang benar ia membantunya. Dan jika seorang raja akan dijadikan sebaliknya, maka diperbantukan pula seorang menteri busuk baginya, jika terjadi penyelewengan, ia tidak mau/tidak berani mengingatkannya, dan jika berada dalam kebenaran, menteri tersebut enggan mendukungnya.” (HR. Abu Daud).

“… Allah akan menolong ummat/bangsa ini lantaran orang-orang lemah (miskin), dengan doa mereka, shalat mereka dan keikhlashan mereka.” (HR. Nasai)

II. Wawasan Psikologi Politik

Dari sudut psikologi politik pun, pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang mencalonkan diri tetapi pemimpin yang dicalonkan rakyat.

Calon pemimpin yang mencalonkan diri sebagian besar adalah karena faktor ambisi (dalam arti negatif). Di belakang ambisi pribadi, tentu ada motivasi-motivasi pribadi. Karena fokusnya adalah pribadi, maka format berpikirnya adalah mengutamakan kepentingan pribadi. Hal ini akan mempengaruhi perilaku dan kebijakan-kebijakannya.

Calon pemimpin yang dicalonkan rakyat adalah karena faktor amanah (dalam arti positif). Sebab, rakyat menilai orang yang dicalonkan dianggap sebagai tokoh masyarakat yang merakyat. Kebanyakan berdasarkan pengamatan sengaja atau tak sengaja selama bertahun-tahun. Rakyat sudah mengenal kualitas pribadinya, perilakunya dan kualitas kepemimpinannya. Dengan demikian, jika dia terpilih, punya rasa tanggungjawab yang besar terhadap rakyatnya.

Kesimpulan:

1) Pilihlah yang muslim, yang beriman kepada Allah, yang taat beribadah, yang baik akhlaknya.

2) Pilihlah yang baik kemampuan dan keahliannya -> the right man on the right place.

3) Pilihlah yang lebih diterima oleh rakyat/umat karena integritasnya teruji, tidak memiliki cacat yang melukai hati rakyat, harus betul-betul bersih, jujur, amanah, dan berjiwa reformis sejati.

4) Pilihlah yang tidak arogan, otoriter dan bersedia menerima koreksi, yang menganggap dirinya sebagai pelayan masyarakat.

5) Pilihlah yang berkualitas, yang baik fisik maupun psikisnya, yang pengetahuan dan wawasannya luas, mental dan fisik yang sehat. Itu akan membantu memecahkan persoalan yang akan dihadapi.

6) Pilihlah yang tidak ambisius pada kekuasaan.

Refleksi:

Jika bukan pada Allah dan Rasul-Nya, siapa lagi yang hendak kita dengarkan dan ikuti? Yang jelas, kata Allah dan Rasul lebih baik dan lebih benar daripada kata-kata di media sosial atau iklan politik, kata-kata teman atau kata-kata para elit partai, bahkan kata hati sendiri yang sudah punya kecondongan. -> >_< tamparan bagi diri sendiri.

Kewajiban kita memilih dalam pertimbangan manfaat-mudharat calon pemimpin adalah tidak hanya membandingkan di antara keduanya, tetapi membandingkan keduanya dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan agama (dalam Al Quran dan hadist). Ada banyak sekali kriteria, yang tentu tidak semuanya sempurna terpenuhi oleh setiap calon, tetapi yang lebih banyak memenuhi tentu yang sebaiknya kita pilih dan pada akhirnya kita tawakalkan keputusan itu kepada Allah, lalu terima konsekuensinya.

Tidak ada kata terlambat untuk berpikir, menggunakan akal sampai di detik-detik terakhir. Ini adalah jihad (upaya sungguh-sungguh), ini kerja keras kita sebagai rakyat yang ingin pemimpin yang lebih baik. Insya Allah berpahala, dan tidak kebetulan ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, semua upaya, pemikiran, pengendalian diri, dan pengendalian nafsu akan dibalas Allah dengan balasan terbaik. Aamiin…

Siapapun dia yang kita pilih, dari mana asalnya, apapun masa lalunya, seberapapun besarnya pula keyakinan kita pada dirinya, pertolongan Allah tidak pandang bulu terhadap orang yang Dikehendaki-Nya untuk memimpin sebuah bangsa yang sangat besar, beratus juta manusianya. Semoga saja ketika terpilih dia terhidar dari hal-hal yang membuat Allah Mencabut pertolongan-Nya. Semoga ketika terpilih, kita bisa senantiasa membantunya agar dia terhidar dari hal-hal yang membuat Allah Mencabut pertolongan-Nya.

Penutup:

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi) pada hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)

OK. Siap nyoblos!🙂

 

PS: sebenarnya masih banyak ayat Al Quran yang berisikan pedoman memilih pemimpin, tetapi aku baru menemukan itu. Tenang saja, artikel ini akan berkembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s