Mengurai Persoalan Hijab Bag. 2: Hijab dari Seluruh Dunia

Pendahuluan

Tulisan kali ini, kembali, adalah hasil menuliskan kembali diskusi yang terjadi di Facebook setelah mengeliminasi hal-hal yang tidak penting di dalamnya. Awalnya adalah status yang kupasang di wall-ku. Isinya begini:

Kita muslimah yang sudah berjilbab biasa memandang sebelah mata muslimah yang belum berjilbab.

Tapi tahukah? Yang terjadi di kenyataan meskipun tersembunyi di dalam hati: kita yang sudah berjilbab pun ada yang saling merendahkan. Yang jilbabnya besar memandang rendah yang jilbabnya kecil. Yang jilbabnya lebih besar lagi memandang rendah yang jilbabnya lebih kecil dari miliknya. Yang bercadar merendahkan yang tidak bercadar. Yang bergamis/ rok merendahkan yang bercelana. Yang warna pakaiannya hitam/ gelap merendahkan yang berwarna-warni dan modis.

Semua “hanya” karena sudah merasa jilbab/ hijab diri adalah yang terbaik.

Tahukah apa yang terbersit dalam hati para muslimah ketika mereka memandang saudaranya yang penampilannya berbeda dengan dirinya? Pembicaraan apa yang terjadi di balik punggung saudaranya itu? Apa yang digunjingkan dalam diskusi-diskusi tertutup mereka? Apa yang mereka pikirkan ketika mereka mengenakan pakaian syar’i mereka, memandang ke dalam cermin, lalu keluar rumah dan bertemu orang-orang?

Siapa yang bisa menjamin dalam hati muslimah, sesaleh apapun penampilannya, tidak ada kebusukan?

Ini peringatan bagi diri dan pembaca untuk memperbaiki pakaian takwa yang menjadi pelindung diri kita dari api neraka.

Itu adalah isi pikiranku sebagai respon atas komentar seorang Facebooker atas status seorang temanku tentang hukum hijab yang begitu longgar menurut Pak Quraish Shihab (isu ini sudah menjadi masalah sejak lama). Dia tidak suka Pak Quraish karena persoalan itu, namun menurutku dia itu salah paham. Aku adalah pendengar Pak Quraish lewat acara Tafsir Al Mishbah sejak lama dan pernah di satu episode dibahas hukum hijab bagi muslimah. Aku mencatat responku sebagai demikian:

Masalah jilbab, Pak Quraish pernah membahasnya di tafsir Al Misbah di MetroTV beberapa tahun yang lalu dan saya masih sangat ingat karena topik tersebut sangat penting. Beliau tidak mengatakan bahwa jilbab tidak wajib. Yang beliau katakan adalah PARA ULAMA BERBEDA PENDAPAT TENTANG KRITERIA JILBAB. Ini seperti ada ulama yang berkata cadar itu wajib, atau tidak bercadar tapi berjilbab harus besar/ lebar, atau tidak harus lebar, sedang, yang penting tidak “punuk unta” dsb. Sebagian muslim/ muslimah cuma banyak tidak terima bahwa ada ulama yang membolehkan ditampakannya bagian tubuh yang wajar tampak, yang penting mengenakan pakaian yang terhormat, bukan pakaian wanita nakal. Itu masalahnya. Waktu itu Pak Quraish sendiri bilang yang intinya semua pendapat itu sah-sah saja karena para ulama punya “otoritas” menafsirkan ayat Al Quran. Ketika ditanya mana yang lebih baik, berjilbab atau tidak, Pak Quraish menjawab yang berjilbab itu lebih baik.

Statusku di wall sendiri adalah kelanjutan dari respon tersebut. Selain persoalan di atas itu, alasan lainnya adalah aku tidak menyukai orang-orang yang mudah sekali tidak menghormati ulama hanya karena pendapat ulama tersebut tidak sesuai dengan kenyakinannya. Keyakinan di antara kita boleh berbeda, tetapi janganlah kita membenci dan tidak memuliakan ulama. Kata Rasulullah, “Ulama adalah pewaris para nabi,” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda).

Catatan: hijab dan jilbab dipakai bergantian dan maksudnya sama, yaitu merujuk pada pakaian muslimah yang syar’i. Permasalahan yang diuraikan di sini terjadi dalam konteks Indonesia di mana pertarungan ideologi/ kelompok keislaman sangat kuat. Di negara lain mungkin terjadi hal yang sama, tetapi aku tidak tahu pastinya.

***

1# Undangan bagi Muslimah untuk Introspeksi

Persoalan hijab kali ini berbeda dari yang sudah-sudah dalam artikel berjudul Menguraikan Persoalan Hijab. Aku beranjak pada persoalan yang lebih dalam dan dapat kupastikan, hanya perempuan/ muslimah yang tahu atau mengerti ini. Ini tentang isi hati seorang muslimah ketika mereka melaksanakan perintah menutup aurat dengan berhijab. Para lelaki dapat saja ikut berpendapat atau berkomentar soal hijab, tetapi mereka tidak akan pernah lebih tahu ketimbang perempuan yang mengalami sendiri memakai (atau tidak memakai) hijab.

Di mata pria, makna pria dapat “hanya” berupa ini, seperti kata seorang temanku (laki-laki) yang ikut berkomentar: Jilbab, mari bicara dampaknya untuk meletakkan fungsi jilbab untuk menjaga harga diri & martabat wanita agar tidak mengumbar auratnya untuk umum. Mari bicara dampaknya untuk melindungi para laki-laki non-muhrim, untuk menjaga agar mereka tidak dirangsang dengan perbuatan dosa. Untuk mencegah kriminalitas, untuk menjaga ketenangan hati suaminya ketika dia ditinggalkan berangkat kerja… Kemudian bandingkan dengan masalah kebusukan hati.”

Kebanyakan pria mungkin hanya tahu sebatas itu, yaitu fungsi jilbab yang merupakan perintah agama dalam kaitannya dengan kepentingan diri mereka sebagai laki-laki pada khususnya dan kepentingan ketertiban sosial pada umumnya. Laki-laki menghendaki perempuan untuk menjaga harga diri dan martabat kewanitaannya yang mana salah satunya dengan cara tidak menampakkan auratnya di muka umum. Fungsinya adalah agar para laki-laki non-muhrim terlindungi dari hal-hal yang merangsang mereka untuk berbuat dosa dari melihat aurat perempuan, agar kriminalitas (seperti pelecehan seksual dan perkosaan) terhindarkan dari terjadi, dan agar keluarga terjaga ketenangannya lantaran para suami tak perlu risau istrinya diganggu orang.

Manfaat hijab bagi perempuan nyata, benar, semacam itu. Tetapi itu hanya menyentuh aspek lahiriah dari berhijab dan pastinya satu-satunya aspek dari berhijab yang terlihat oleh mata laki-laki. Jika boleh aku berkata keras, jika makna hijab bagi laki-laki kebanyakan adalah semacam itu, maka laki-laki benar-benar abai terhadap aspek lain dari berhijab yang tidak kalah pentingnya, yaitu aspek batiniahnya. Kita tidak bisa melemparkan persoalan batiniah ini untuk diselesaikan kaum lelaki lewat ceramah-ceramah dakwah mereka tentang hijab sementara mereka tidak tahu rasanya berhijab. Perempuan yang paling mengerti inilah yang wajib belajar untuk mensucikan hati dan meluruskan dirinya sendiri dalam berhijab.

Ada banyak persoalan batiniah terkait berhijab. Satu yang mungkin cukup menonjol adalah terkait bagaimana perempuan yang satu merasa hijabnya lebih baik dan lebih syar’i ketimbang hijab perempuan lain dan akibatnya ia merendahkan keislaman saudaranya karena tidak mengenakan hijab seperti dirinya. Sejauh ini, permasalahan yang tertangkap olehku adalah ini: Yang berjilbab merendahkan yang belum berjilbab. Yang jilbabnya besar memandang rendah yang jilbabnya kecil. Yang jilbabnya lebih besar lagi memandang rendah yang jilbabnya lebih kecil dari miliknya. Yang bercadar merendahkan yang tidak bercadar. Yang bergamis/ rok merendahkan yang bercelana. Yang warna pakaiannya hitam/ gelap merendahkan yang berwarna-warni dan modis. Semua “hanya” karena sudah merasa jilbab/ hijab diri adalah yang terbaik.

Apakah yang terbersit dalam hati muslimah ketika mereka memandang saudaranya yang penampilannya berbeda dengan dirinya? Ekspresi macam apa yang ada di wajah mereka? Pembicaraan apa yang terjadi di antara mereka tentang saudara-saudara mereka? Apa yang digunjingkan dalam diskusi-diskusi tertutup mereka? Apa yang mereka pikirkan ketika mereka merasa telah mengenakan pakaian syar’i mereka, memandang ke dalam cermin, lalu keluar rumah dan bertemu orang-orang? Siapa yang bisa menjamin isi hati muslimah, sesaleh apapun penampilannya, tidak ada kebusukan semacam:

“Oh, saya muslimah sejati. Saya telah mengikuti perintah Rasul. Saya menegakkan agama Allah. Saya lebih baik daripada mereka yang hijabnya tidak sebaik saya. Saya wanita mulia, seperti mutiara yang terjaga. Saya sangat bermartabat, sementara mereka lebih rendah daripada saya. Mereka ahli neraka. Hijab mereka mencerminkan minimnya keimanan dan ketakwaan, juga ilmu mereka. Mereka sungguh patut dikasihani, hijabnya tidak se-syar’i hijab saya. Pakaian mereka bahkan meniru-niru Barat. Mereka karena itu tergolong kafir. Mereka akan berakhir di neraka, sementara saya akan menjadi bidadari surga. Tidak. Bahkan di dunia ini saya sudah berusaha menjadi bidadari. Saya muslimah yang saleh. Hijab saya adalah cermin kesalehan saya, harga diri saya. Allah menyukai saya. Allah tidak menyukai mereka. Saya tidak mau dekat-dekat mereka kecuali jika mereka berhijab seperti saya…”?

Tanda tanya besar mengikuti pertanyaan terkait isi hati muslimah yang hanya dia dan Allah saja yang tahu. Seorang teman yang lain, lagi-lagi laki-laki, berusaha melakukan pembelaan atas diri “muslimah baik-baik”, bahwa masih banyak para jilbaber yang hatinya bersih dan lurus, dan isi hatinya tidak sebusuk itu. “Para akhwat yang memahami arti jilbab berikut hukum-hukum Islam itu banyak. Dan mereka, subhanallah sekali, betapa lembut dan hebatnya dalam sikapnya.” Benar, ada banyak muslimah yang baik, tetapi apakah adanya kesan itu (mereka muslimah yang saleh, memahami arti jilbab dan juga hukum-hukumnya) lantas menidakkan bahwa mereka masih manusia yang punya nafsu di dalam hatinya?

Hanya muslimah yang tahu isi hati mereka, karena itu kukatakan kepada dua laki-laki itu, juga pembaca sekalian (terutama yang laki-laki) yang punya pemikiran defensif yang sama:

Saya tidak menyasar muslimah atau kelompok muslimah tertentu terkait konten pernyataan/ pemikiran tersebut. Jika perkara ini akhirnya menyentil atau tidak menyentil seorang perempuan atau beberapa perempuan atau sekelompok perempuan, itu hati mereka yang merasakan dan, atas apa yang dirasakan, itu bukan tanggung jawab atau urusan saya. Pernyataan tersebut BUKAN untuk menggeneralisasikan masalah (bahwa isi hati semacam itu adalah dalam diri semua muslimah) sehingga memancing orang melakukan pembelaan diri, melainkan INTROSPEKSI.

Tujuan utama tulisan ini bukan untuk “menyelesaikan masalah” di antara perempuan dan laki-laki, melainkan di antara perempuan dan perempuan. Semua orang relatif sudah tahu dampak tidak dikenakannya jilbab oleh perempuan terhadap laki-laki dan dirinya sendiri. Itu persoalan lahiriah yang dapat selesai dengan perempuan menutupi auratnya dan laki-laki menjaga matanya. Namun, yang sering terabaikan (dan ini jadi fokus saya) adalah persoalan batiniah dari berjilbab. Sangat sangat menyederhanakan persoalan jika kita akhirnya punya asumsi bahwa semua muslimah sudah baik, hatinya sudah seputih salju, ketika ia sudah berjilbab.

Renungkan QS Al Hujurat: 11 yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, terkhusus perempuan yang suka mengolok-olok perempuan lain karena merasa dirinya lebih baik (secara terbuka maupun tersembunyi). Menulis ini, saya hanya hendak mengangkat masalah kekotoran hati ini. Bagi saya, jilbab bukan sekedar bentuk penerapan syariat Islam, melainkan perwujudan akhlak mulia yang berakar pada iman dan keinginan untuk takwa.

***

2# Olokan-olokan Dilakukan oleh dan terhadap Muslimah yang Mana Saja

Fakta menunjukkan bahwa muslimah terbagi menjadi dua, yaitu yang sudah berhijab dan yang belum berhijab. Olok-olokan pertama yang aku tahu datang dari seorang temanku ketika kami masih SMA. Dia belum berhijab dan terhadap teman-temannya yang sudah berhijab dan kebetulan kain hijabnya lebar/ besar, dia mengatai mereka “berjilbab seperti pakai seprai saja”. Itulah macam olok-olokan dari yang belum ke yang sudah berhijab.

Olok-olokan dari yang sudah ke yang belum berhijab aku cermati tidak sekentara itu, melainkan tercermin dari sikap mereka yang mengambil jarak terhadap muslimah teman-teman mereka yang belum berjilbab atau yang jilbabnya kecil. Apa yang mereka usahakan bukan memotivasi agar teman-teman mereka mengenakan jilbab, melainkan agar mengenakan jilbab seperti jilbab mereka. Seperti di Rohis (berdasarkan pengalamanku di SMA dan perguruan tinggi), cukup sering terjadi transformasi penampilan besar-besaran di antara para muslimah anggotanya. Namun demikian, yang terjadi setelah itu adalah segregasi di dalam Rohis itu sendiri. Mereka yang jilbabnya kecil akan selamanya menjadi staf sampai mereka lulus, kecuali jika organisasi kehabisan kader. Mereka yang jilbabnya besar akan menempati jabatan-jabatan utama. Itu menimbulkan kesan bahwa ukuran jilbab tertentu lebih disukai (preferable) ketimbang yang lain. Karena itu dikaitkan dengan penempatan orang-orang dalam organisasi yang mana yang satu lebih tinggi daripada yang lain, timbul kesan lain bahwa yang berjilbab besar itu kualitas diri, baik iman maupun takwanya, lebih baik daripada yang jilbabnya kecil.

Jika ingin lebih gamblang, dari sinilah muncul konsepsi tentang siapa yang keislamannya biasa-biasa saja dan yang keislamannya kuat dari melihat penampilan lahiriahnya. Adanya dikotomisasi ini menimbulkan semacam polarisasi. Semakin besar, longgar, dan menyeluruh menutupi seluruh tubuh, semakin baik seorang muslimah; dan semakin kecil, sempit, dan terbuka, semakin buruk seorang muslimah. Menurut syariat, secara lahiriah dapat benar adanya. Muslimah yang hijabnya cukup besar, longgar, dan menyeluruh menutupi tubuhnya adalah lebih baik ketimbang yang tidak. Tetapi, mengandalkan penampilan tidak cukup untuk digunakan sebagai dasar penilaian keimanan dan ketakwaan. Jika dalam hati seorang muslimah terbetik pikiran “keislaman saya lebih baik dari pada dia” karena hal ini, secara samar dalam hati, dia sedang mengolok-olok sesamanya.

Seorang teman baru saja bercerita tentang bagaimana ibu-ibu pengajian di lingkungan tempat tinggalnya menggunjingkan muslimah yang memutuskan bercadar. Sebabnya kuduga, keberadaan muslimah yang bercadar itu adalah hal aneh atau tidak biasa, terutama di Indonesia. Persoalan ini merembet ke muslimah-muslimah lain yang cara berhijabnya tidak seperti cara kebanyakan muslimah Indonesia dalam berhijab. Ada yang sangat ketat pakai kaos kaki (meskipun kaki basah atau hari hujan), sementara kebanyakan baik-baik saja tanpa kaos kaki, langsung mengenakan alas kaki. Ada yang sangat ketat sampai pakai kaos tangan, sementara hampir semua tidak masalah menampakkan tangan. Ada yang sangat ketat sampai tidak membiarkan satu helai rambut pun tampak, sementara banyak yang merasa ini bukan masalah besar, tampak satu dua helai tanpa sengaja. Ada yang sangat ketat berpakaian hitam di seluruh tubuh, sementara ada banyak yang suka tampil gaya dan memadu-padankan warna. Mereka yang minoritas, di mata mayoritas tampak asing sehingga mengundang pertanyaan. Semakin yang minoritas tidak menjelaskan diri mereka dan mengeksklusifkan diri, yang mayoritas akan semakin mengolok-olok mereka aneh.

Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya, untuk apa aku membahas tentang olok-olokan ini. Satu alasannya adalah aku ingin mengakui bahwa permasalahan ini adalah fakta kehidupan kita. Ketika kita sudah mengakui bahwa permasalahan ini ada, kita bisa masuk pada upaya memecahkannya. Dengan mengenali kebusukan dalam hati, kita tahu apa yang harus dibersihkan dan bagaimana cara membersihkannya. Ketika hati kita membesar lantaran perasaan lebih baik dari orang lain, kita perlu mengecilkannya. Jika hati kita menciut lantaran perasaan lebih buruk dari orang lain, kita perlu membesarkannya.

***

3# Hijab dari Seluruh Dunia

Kita merasa lebih mulia dari orang lain karena kita tidak mengerti tempat kita, bahwa di mata Allah kita semua adalah setara. Derajat seseorang tidak tergantung pada penampilan, melainkan keimanan dan ketakwaannya. Mereka yang pernah kita olok-olok karena kekurangan pada penampilan mereka bisa jadi lebih baik di mata Allah Yang Maha Mengetahui keadaan diri mereka. Jangan kita tertipu oleh penampilan. Tahanlah diri kita dari mudah sekali menilai orang lain, juga tahanlah diri kita dari banyak berkomentar miring. Biasakan berpikiran baik terhadap saudara-saudara kita dan janganlah kita mencela mereka karena keadaan dirinya.

Rasul bersabda, “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, tidak membohonginya, dan tidak menghinanya. Takwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliah tiga kali). Cukuplah seseorang dinilai buruk jika ia menghina (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Imam Muslim, hadist arba’in no. 35)

Masing-masing diri kita, muslimah, hanyalah satu di antara milyaran muslimah di dunia. Hijab yang kita kenakan sehari-hari hanyalah satu di antara ratusan atau bahkan ribuan cara mengenakan hijab yang ada di dunia. Perbedaan yang ada adalah cermin Rahmat Allah. Ada hadist nabi yang indah sekali, yang bisa membuat kita lebih menghargai/ toleran terhadap perbedaan.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu meninggalkannya, dan telah menentukan batasan-batasan, maka janganlah kamu melampauinya, dan telah mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Ia telah diamkan dari beberapa perkara sebagai rahmat bagimu bukan karena lupa, maka janganlah kamu membahasnya.” (HR Ad-Daraquthni dll, hadist arba’in no. 30)

Allah telah mewajibkan muslimah untuk mengulurkan jilbab ke dada, menutup seluruh tubuh, dan tidak menampakkan perhiasan. Nabi telah mendeskripsikan batasannya, yaitu: jangan ketat, jangan transparan, jangan ada punuk untanya, jangan ditambah bersolek yang berlebihan, jangan pakai parfum sampai menyengat. Yang diharamkan sudah jelas: membuka aurat kecuali di depan muhrim. Di luar itu adalah perkara-perkara yang Didiamkan oleh Allah, yang lantas membuat kita berbeda-beda dalam detail berpakaian. Itu adalah Rahmat Allah, karena Allah kasihan pada kita yang hidup sebagai manusia yang lemah, dalam situasi, keadaan, kebutuhan, dan tuntutan hidup yang bermacam-macam. Islam itu mudah dan memudahkan, kalau sampai ada ajarannya yang sulit atau sangat sulit dan menyulitkan, maka berarti ada sesuatu di situ.

Perintah mengulurkan jilbab dan menutup seluruh tubuh dalam Al Quran tidak sama seperti hukum-hukum lain dalam Islam yang sudah jelas angka-angkanya. Tidak ada standar apa warnanya, berapa meter ukurannya, apa bahan, motif, dan coraknya, bagaimana modelnya, dsb. Karena tidak ada standar yang detail semacam itu, mungkin salah satu dampaknya adalah kita ribut: “Seperti apa sih pakaian muslimah yang seharusnya? Rasanya akan selesai masalahnya kalau Allah sejak awal menetapkan standarnya, jadi kita tidak usah berpikir sulit-sulit…” Permasalahannya, Allah ingin kita berpikir, termasuk tentang seperti apa pakaian yang terbaik, termudah, dan ternyaman untuk kita. Dan, gambar-gambar di atas “hanya” menunjukkan bagaimana muslimah dari berbagai belahan dunia sudah merumuskan seperti apa pakaian yang terbaik, termudah, dan ternyaman untuk diri dan kehidupan mereka.

Ketimbang mempeributkan detail, kembalilah berkaca kepada yang prinsipil. Lalu, sudahkah kita siap untuk saling menghargai perbedaan di antara kita, muslim muslimah, yang ingin bertakwa?

BRITAIN VEIL DISPUTE

muslimah 2

muslimah 3

Beautiful muslim woman wearing red scarf ready to write

muslimah 5

muslimah 6

muslimah 7 Polisi di Irak

Muslimah 8

muslimah 9 di Amerikamuslimah 10 di India

muslimah 11

muslimah 12 Rugby team

muslimah 13 di Afrika

muslimah 14 di Afrika

muslimah 15 di Afrika, Swahili

muslimah 16 di Afrika, Nigeria

muslimah 17 Anggar

muslimah 18 Nigeria-senator

muslimah 19 Afrika, Somalia

muslimah 20 Saudi Arabia

muslimah 20, Afrika, Jamaika

Muslimah 21 Iraq - Abaya

muslimah 23 Iran

muslimah 24 Iran

muslimah 25 Turkey

Turkey muslim fashion

muslimah 27 Turkey

muslimah 28 India 1

muslimah 29 India 2

muslimah 30 India 3

India Kashmir Eid Al Fitr

muslimah 32 Pakistan

muslimah 33 Pakistan

muslimah 34 Bangladesh

muslimah 35 Bangladesh

muslimah 36 Kazakhstan

Muslimah 37 Tajikistan

Photographe

muslimah 38 Uzbekistan

muslimah 40 Kyrgystan

muslimah 41 Kyrgystan

muslimah 42 Kyrgystan

muslimah 43 China 1muslimah 44 China 2

muslimah 45 China Uighur

muslimah 46 Malaysia

muslimah 47 Malaysia

muslimah 48 Indo

muslimah 49 Indo

muslimah 50 Indo

muslimah 51 Indo

muslimah 52 Indo

muslimah 53 Indo

???????????????????????????????

muslimah 55 Europe

ENGLAND Modern Muslim women in Manchester

muslimah 57 Europe

muslimah 58 Europe

muslimah 59 Europe England

Muslim women

muslimah 61 France

muslimah 62 France

muslimah 63 Germany

muslimah 64 Germany

muslimah 65 Germany

muslimah 66 Italy

muslimah 67 Italy

muslimah 69 Swedia

muslimah 70 Swedia

muslimah 71 Finlandia

muslimah 72 Finlandia

muslimah 73 Spanyol

muslimah 74 Spanyol

muslimah 75 Rusia

muslimah 76 Rusia

muslimah 77 Rusia

muslimah 78 USA

muslimah 79 USA

muslimah 80 USA

muslimah 81 Brazil

muslimah 82 Australia

muslimah 83 Australia

muslimah 84 Finish

***

“No Laws Can Shake Off Our Hijab” – Hijab Around The World. Whatever the style you wear, be confident of yours and don’t devalue others.

Tujuanku menunjukkan puluhan muslimah dari berbagai negara dengan hijab/ jilbab mereka adalah untuk memberitahukan kepada teman-teman fakta tentang keanekaragaman ekspresi muslimah dalam mengamalkan perintah Allah untuk menutup aurat. Jangan ini lantas dikaitkan dengan isu-isu semacam relativisme kebenaran atau pemikiran liberal, karena tujuan pencarian fakta tentang keanekaragaman ini bukan untuk mencari mana yang terbenar, mana yang menjadi standar, atau membenarkan yang satu di atas yang lain. Tujuanku adalah mengajak teman-teman untuk menghargai itu semua.  Sudah, sebatas itu.

Jika ada di antara kalian yang ingin mengoreksi, menyarankan, atau mengkritik sesuatu terkait konten tulisan ini, silakan🙂 Kita belajar bersama-sama. Aku belajar, kau pun belajar.

Sumber gambar-gambar di atas: Google Image.

6 thoughts on “Mengurai Persoalan Hijab Bag. 2: Hijab dari Seluruh Dunia

  1. Ini perkara hati, kan, Tina? Jangan sampai muncul perasaan merendahkan orang lain, merasa penampilan diri lebih baik. Tapi, kalau misalnya kita mengingatkan penampilan yang sesuai syar’i, bukankah itu tidak masalah? Tentunya mengajak secara baik-baik dan tidak memaksa.
    Jazk buat tulisannya, Tina..

  2. Baiklah, saya anggap ini adalah “wilayah pembahasan kaum perempuan”. Dan menarik, saya jadi dituntut untuk lebih mengerti wilayah itu, lebih mengerti hingga ke aspek batinnya.

    Tampaknya, diskusimu sengit juga ya soal jilbab ini, sampai-sampai berlanjut hingga postingan ini :p

  3. Pingback: Mengurai Persoalan Hijab Bag. 3: Fenomena Jilboobs dalam Definisi, Perspektif, dan Reaksi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s