Poetry of The Week: Renungan tentang Zaman

Benar, inilah zaman itu. Salah siapa?

Tidak salah siapa-siapa, mungkin, kecuali… Tuhan yang Menakdirkan?
Seperti kudengar, “Hidupmu semakin adalah tanggung jawabmu.”
Tak bisa lagi menyalahkan berita, karena berita saling mematahkan dan dipatahkan
Tak bisa lagi menyalahkan tradisi, karena tradisi saling mematahkan dan dipatahkan
Tak bisa lagi menyalahkan otoritas, karena otoritas saling mematahkan dan dipatahkan
Tak bisa lagi menyalahkan guru, karena guru saling mematahkan dan dipatahkan
Oleh pencarian manusia yang tak mengenal akhir

Kita membangun tradisi pribadi, menegakkan otoritas atas diri pribadi, dan menjadi guru atas diri yang selamanya menjadi murid dan pengikut
Hanya, semoga senantiasa mengerti:
Ada waktu untuk bicara, ada waktu untuk diam membisu
Ada waktu untuk bergerak, ada waktu untuk diam membeku
Ada waktu untuk melihat, ada waktu untuk memejamkan mata
Ada waktu untuk hidup, ada waktu untuk mati demi hidup yang sebenarnya

Tuhan Melihat kita. Tuhan akan Bertanya pada kita, dan aku takut jika Ia membalas jawaban kita: “Salahkan dirimu sendiri. Kau tidak mematahkan lututmu untuk sujud kepada-Ku.”

Semarang, 5 Agustus 2014
Semoga Engkau sabar dengan pertanyaan-pertanyaanku tentang hakikat zaman masaku hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s