Mengurai Persoalan Hijab Bag. 3: Fenomena Jilboobs dalam Definisi, Perspektif, dan Reaksi

Persoalan terkait hijab bagi wanita muslimah rupanya kompleks. Setelah tulisan pertama membahas tentang hijab optimal dan tulisan kedua membahas persoalan batiniah terkait pengamalan perintah berhijab, kali ini datang fenomena jilboobs dan benar-benar menarik perhatianku. Persoalannya: apa jadinya jika hijab optimal itu adalah jilboobs?

Fenomena jilboobs ini bukan barang baru. Sejak masa remaja dulu, aku sendiri sering mendengar ungkapan “atas kerudung bawah warung” atau istilah “jilbab gaul” atau “jilbab funky“. Ya, ibarat sejarah yang kembali berulang, persoalan sosial pun berulang. Jika dahulu, menanggapi masalah ini sikapku sekedar “yang penting aku tidak begitu”, maka sekarang, setelah lebih banyak belajar dan menelaah masalah-masalah sosial di ruang kuliah maupun forum diskusi, aku mulai punya keinginan untuk memahami ini secara lebih baik sebagai masalah bersama.

Terhadap fenomena yang satu ini, aku tidak ingin berakhir menjadi seorang kritikus, juga tidak ingin berhenti hanya membahas pada apa yang tampak oleh mata. Sudah jelas, memang jilboobs tidak sesuai syariah Islam. Tapi, lalu apa? Lalu bagaimana? Ini pertanyaan yang mengundang banyak sekali kemungkinan jawaban lantaran persoalan tidak hanya memiliki satu wajah.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin melaporkan beberapa jawaban yang sejauh ini berhasil kudapatkan. Dalam merumuskannya, aku membaca sejumlah artikel berita di internet (mungkin terkesan tidak berkelas, tetapi itulah yang kubisa) dan melakukan diskusi dengan teman-teman di Facebook. Pemikiran ini hanya sementara dan sangat mungkin untuk berkembang di kemudian hari. Semoga ada di antara teman-teman pembaca yang senang memberikan komentar apapun itu. Atau, jika ada yang punya pengalaman atau pemikiran lain, silakan dibagi di sini. Aku ucapkan terima kasih banyak🙂

***

1# Mendefinisikan Jilboobs

Dalam pemikiranku sebelumnya, aku berkesimpulan bahwa tidak ada baiknya memaksakan satu saja model berhijab pada muslimah. Muslimah sebagai manusia adalah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan dan apa yang nyaman baginya dalam berpakaian. Cara berpakaian sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat tinggal, budaya, dan kebiasaan. Keragaman itu pasti sehingga penyeragaman akan senantiasa menjadi upaya yang tidak mungkin.

Salah satu bentuk keragaman itu termanifestasikan dalam fenomena jilboobs. Model jilbab ini terletak mendekati ujung kutub negatif pada kontinum keragaman berhijab, tepatnya hanya selangkah sebelum seorang wanita membuka aurat dalam arti yang sebenarnya. Berdasarkan pemaparan sejumlah pakar yang tersebar di berbagai artikel internet, jilboobs pada dasarnya adalah sebutan untuk pakaian seksi, tetapi mengenakan kerudung/ penutup rambut di kepala (Marie, perancang busana, regional.kompas.com).  Jilbab seksi ini adalah model berjilbab yang tidak sesuai dengan kaidah berpakaian menurut syariat Islam. Setidaknya ada satu prinsip berpakaian yang dilanggarnya, yaitu ketat, sehingga menampakkan lekuk tubuh yang seharusnya tersembunyi. Jilbab seharusnya adalah pakaian yang longgar dengan tujuan agar lekuk tubuh tak terlihat.

Berdasarkan kata-kata yang menyusunnya, jilboobs adalah habungan dari kata jilbab dan boobs (bahasa Inggris, artinya dada atau payudara wanita). Istilah ini dianggap muncul sebagai sindiran untuk wanita muslimah yang mengenakan hijab tapi super ketat hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas (www.riaupos.co). Istilah ini menggambarkan wanita yang berjilbab namun memperlihatkan lekuk tubuh, payudara, pinggul, dan bagian bokongnya. Ciri yang paling umum adalah penggunaan kaus ketat berlengan panjang atau kaus yang masih tembus pandang karena bahan bajunya yang tipis, dipadukan dengan celana legging atau jins ketat (jadiberita.com).

Meskipun demikian, dari sudut pandang yang lain, istilah ini dipandang sebagai sindiran pelecehan terhadap muslimah (Syifa Fauziyah, Ketua Hijabers Community Jakarta, www.republika.co.id). Kemunculan istilah ini benar-benar menghakimi secara sepihak para muslimah yang belum benar pengenaan hijabnya, tanpa mempedulikan bahwa muslimah itu masih berproses (perlu belajar) untuk berhijab secara lebih baik lagi.

***

2# Jilboobs dalam Perspektif

Dalam sudut pandang syariat Islam, telah jelas hukum jilboobs, yaitu haram. Mengutip Hidayat (2014; www.jawapos.com), “Hal tersebut jelas tidak sesuai dengan konsep berpakaian Islam yang syar’i, yakni tertutup, tidak membentuk lekuk tubuh (longgar), dan tidak tembus pandang (transparan). … ada delapan ketentuan syariat jilbab yang syar’i. Yaitu, menutupi seluruh badan selain bagian yang dikecualikan, tidak dijadikan perhiasan, tidak tembus pandang, tidak ketat, tidak dibubuhi minyak wangi (parfum), tidak menyerupai pakaian lelaki, tidak menyerupai pakaian wanita kafir, dan tidak berupa pakaian syuhrah (mencolok).” Adanya ketentuan tersebut bertujuan agar wanita terjaga dan terhindar dari gangguan (QS Al Ahzab: 59).

Secara psikologis, mengapa seorang muslimah bisa melanggar kaidah tersebut, salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman akan cara berhijab yang syar’i. Dalam kondisi tidak tahu tersebut, muslimah yang ingin berhijab berakhir mengikuti orang-orang di sekitarnya dan apa yang menurut orang-orang tersebut baik terkait cara berpakaian. Pada kasus muslimah terutama remaja, penggunaan jilbab tak syar’i ini dapat didorong oleh keinginan menjadi pusat perhatian dan diterima oleh teman. Beberapa cara agar diperhatikan adalah dengan berusaha mengikuti mode yang sedang tren (fashion) saat ini atau mengikuti gaya teman-teman mereka. Ketimbang kaidah agama, mereka pun menjadikan tren mode atau gaya teman sebagai acuan cara berhijab.

Pada muslimah yang lebih dewasa, penyebab psikologisnya mungkin akan lain dari remaja. Ketika sudah bersuami atau ketika berada dalam fase mencari pasangan hidup, ada dorongan dalam diri untuk menjadi menarik perhatian lawan jenis dengan menjadi cantik. Ada satu pola pikir salah yang tertanam bahwa wanita yang cantik dan menarik adalah yang seksi. Pola pikir ini pun terwujud dalam pemilihan gaya berpakaian yang menonjolkan kecantikan dan keindahan bentuk tubuh. Ini menjadi masalah yang rumit jika pola pikir ini pun dimiliki atau didukung oleh orangtua atau kaum lelaki, seperti pada orangtua yang takut anaknya tidak laku karena penampilannya tidak menarik, atau pada suami yang ingin istrinya dipuji teman-temannya sebagai wanita yang cantik, modern, elegan, atau apapun.

Faktor psikologis di atas memiliki kaitan yang erat dengan kehidupan sosial. Memahami gaya berjilbab tidak bisa dilepaskan dari memahami informasi macam apa yang sampai pada dirinya dan dengan siapa seorang muslimah bergaul. Satu penjelasan sosiologis diberikan oleh Musni, sosiolog UIN Syarif Hidayatullah (simomot.com). Cara berpakaian muslimah remaja dan dewasa (terutama yang tinggal di kota besar dan memiliki akses pada media) banyak merujuk pada cara berpakaian kaum selebiritis, terutama dari kalangan artis yang banyak muncul di televisi. Di kota-kota besar, orang-orang memiliki kebebasan untuk berekspresi dan berkreasi, terutama dalam hal mode berpakaian, yang dengan itu mereka mencapai keinginan-keinginannya, seperti menjadi cantik dan menarik di samping tetap menutup aurat. Dunia fashion dan industri pun menanggapi permintaan pasar tersebut dengan memproduksi pakaian-pakaian yang dikehendaki.

Ada banyak pihak yang terlibat dalam fenomena jilboobs, yaitu tidak hanya wanita muslimah yang menjadi pelaku, tetapi juga yang menjadi model. Jilboobs merupakan hasil dari kompromi keinginan-keinginan wanita muslimah. Di satu sisi ingin menjalankan syariat, di sisi lain ingin tampak cantik, modis, dan tidak ketinggalan zaman. Namun, ketika jilboobs yang dipilih, tampak bahwa aspek syariat lah yang sedang ditinggalkan. Ada pihak ulama yang gagal meluaskan pemahaman yang benar soal pakaian yang Islami, juga para pelaku industri mode dan desainer yang dalam berkreasi tidak mempertimbangkan syariat, melainkan keuntungan material. Ada peran media baik cetak maupun elektronik yang menyiarkan tanpa filter, menjunjung tinggi kebebasan dan kreativitas, dan tidak memperhatikan kesusilaan.

Terakhir, fenomena ini dapat dipertimbangkan sebagai masalah sosial terkait tidak asusila dan pelecehan wanita, jika mengetahui bagaimana asal mula istilah jilboobs. Istilah jilboobs adalah istilah yang vulgar atau tidak sopan. Dua kata yang menyusunnya, yaitu jilbab + boobs, begitu ironis. Yang satu mengekspresikan ketaatan, yang satu mengekspresikan pembebasan diri dari syariat. Dua hal yang sesungguhnya tidak mungkin untuk dilakukan bersamaan.

Istilah ini tidak muncul begitu saja dari ruang hampa, melainkan dibuat oleh seseorang. Dari mana asalnya, diceritakan dalam satu artikel di solopos.com sebagai berikut: “Salah satu akun di twitter berbahasa Melayu sudah memajang foto wanita berjilboobs dengan caption tanda pagar #jilboobs sejak 11 Desember 2012. Ada pula forum internet yang khusus mengumpulkan gambar-gambar wanita berjilbab dengan pakaian mini. Situs ini bahkan mengunggah video-video mesum wanita berjilbab. Dalam salah satu  postingannya tanggal 25 Oktober tahun 2011, situs ini mengunggah foto dengan penggunaan istilah Jilboobs.” Kehebohan terjadi ketika terakhir muncul akun di satu media sosial dengan nama komunitas jilboobs dan di-like ribuan orang. Di akun tersebut, diunggah banyak foto wanita berjilbab seksi atau membuka sebagian auratnya. Kemungkinan besar foto-foto tersebut diunggah tanpa izin dan tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Kemunculan istilah jilboobs dalam deskripsi di atas dapat disimpulkan sangat dekat dengan perilaku mesum di mana seseorang (mungkin laki-laki) secara sengaja mencari foto-foto muslimah berjilbab seksi dan mengumpulkannya untuk tujuan bersenang-senang, bermain-main, iseng, atau bercanda. Katakanlah ini masalah degradasi moral, maka benarlah ini masalah moral.

***

3# Reaksi: Serangan dan Pembelaan

Mungkin, suasana menjadi keruh, terutama di dunia maya, lantaran orang-orang banyak berkomentar atau berpendapat tentang apa yang seharusnya dilakukan setelah ini terjadi. Pihak yang diserang tentu banyak, mulai dari orang yang “memanfaatkan” foto-foto muslimah berjilbab seksi, muslimah berjilbab seksi itu sendiri, para orangtua, guru, ulama, ustadz atau juru dakwah yang gagal mengajarkan cara berpakaian yang baik, muslimah berjilbab seksi yang menjadi model, desainer pakaian muslimah, industri pakaian, dan bahkan sampai kepada pemerintah dan orang-orang yang cuma sekedar berkomenter yang tidak termasuk pada kelompok-kelompok sebelumnya. Semuanya dituduh sebagai penjahatnya, tetapi ada saja bagian di mana mereka semua mendapatkan pembelaan.

Meskipun demikian, kelompok yang sepertinya paling menuai kebencian khalayak adalah mereka yang “sok alim”, yaitu mereka yang keras, “bisanya cuma menyalahkan, men-judge, mengkritik” wanita-wanita yang berjilbab seksi dengan dalil-dalil agama, tetapi tanpa memahami keadaan sebenarnya dari wanita tersebut. Apologinya adalah bahwa bisa jadi: 1) wanita-wanita ini bisa jadi baru belajar, baru berproses, dan proses tersebut tentu berlangsung perlahan-lahan, butuh penyesuaian, pemahaman yang lebih, pengajaran yang sabar, dan sebagainya, dan 2) ada kondisi di mana wanita mau tak mau pasti berpakaian ketat, misalnya karena tubuhnya yang gemuk sehingga pakaian selonggar apapun akan tetap mengepas tubuh, atau karena aktivitas tertentu, misalnya olahraga. Agama tentu memberikan keringanan pada mereka sehingga tidak bijak menyindir-nyindir mereka atau memaksa mereka untuk berubah dengan segera.

Baiklah, kita tinggalkan kelompok wanita yang “bisa dimaafkan” ini dengan memberikan saran kepada para ulama atau ahli agama atau siapapun yang mengerti apa yang benar dalam berhijab agar mereka dapat lebih bersabar dalam mendidik atau mendakwahi wanita. Ada kisah menarik yang baru saja aku dapatkan di Facebook dari status teman kita Akmal Nasery Basral:

“Maraknya fenomena “jilboobs” (pakai jilbab tapi baju superketat di bagian dada) membuat saya teringat satu kisah ketika Buya HAMKA (Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, 1908-1981) masih hidup. Ada satu kejadian yang meski tidak persis, tapi bisa jadi ilustrasi. Ketika itu ada pengajian reguler di Masjid Agung Al Azhar, di mana seorang jamaah adalah seorang perempuan muda datang memakai selendang, tapi dengan rok pendek. Dia selalu memilih duduk paling depan, sehingga mulai mengundang bisik-bisik sebagian jamaah lain yang merasa terganggu dengan penampilannya.

Jamaah yang terganggu menyampaikan hal itu kepada Irfan Hamka, salah seorang putra Buya, yang menyampaikan lagi kepada ulama besar tersebut ketika mereka di rumah. “Ayah, makin banyak jamaah yang protes ke saya tentang cara pakaian ibu X itu. Kenapa ayah tidak tegur?” Buya menjawab, “Kenapa harus ditegur? Dia sudah ikut mengaji sudah baik. Kalau belum apa-apa ditegur, nanti dia menghilang, bagaimana? Kita harus sabar.” Pendek kata, Buya HAMKA membiarkan cara pakaian jamaah perempuan itu, tanpa menegurnya.

Tak lama kemudian, justru perempuan itu yang datang menghadap ke rumah Buya. Dia menyampaikan rasa terima kasih, sekaligus kekaguman, karena tak pernah ditegur Buya (apalagi di depan umum) soal busananya. “Sebelum ini saya selalu ditegur di pengajian lain,” ujar perempuan itu seperti diceritakan ulang Irfan Hamka kepada saya beberapa waktu lalu. Perempuan itu juga minta maaf jika atas kebelummengertiannya dia malah merepotkan posisi Buya di mata jamaah lain. “Dan terjadilah keajaiban itu,” kenang Irfan dengan nada haru. “Pada pengajian berikutnya, ibu X itu sudah berpakaian muslimah seperti jamaah lainnya. Tanpa disuruh Buya sama sekali. Tanpa ditegur.”

Seandainya Buya HAMKA masih hidup, mungkin kita akan melihat cara dakwah yang lebih sabar terhadap para “jilboob”-ers. Sebab untuk sampai pada tahap menuju “paham”, seseorang harus menempuh tahap demi tahap, yang sering tidak sama kecepatannya bagi tiap individu. Para pendakwah sejati tahu hal ini, karena prinsip mengingatkan adalah “saling menasihati dalam kebenaran” dan “saling menasihati dalam kesabaran”. Bukan dengan mempermalukan mereka yang sudah berniat benar, tapi tersebab satu dan lain hal, belum bisa mengaplikasikannya secara menyeluruh.”

Pernyataan beberapa muslimah yang kubaca di internet terkait fenomena jilboobs adalah bahwa pada kenyataannya mereka tak punya niat atau kesengajaan mengenakan jilbab seksi sehingga reaksi mereka yang terbesar ketika dilabel jilboobs adalah sangat tersinggung. Bagiku, ini cukup dapat dimengerti. Ada pakaian yang dipakai sebagai kebiasaan saja lantaran alasan kenyamanan, semisal kaos atau celana jeans atau jilbab yang kecil, dan tidak ada hubungannya dengan tindakan sengaja menarik perhatian lelaki atau menonjolkan keindahan tubuh.

Rasa tersinggung mereka dikarenakan konotasi jilboobs yang sangat jelek seakan-akan penggunanya adalah bukan perempuan baik-baik. Tuduhan itu tidak benar. Argumentasi mereka adalah bahwa ketakwaan itu dalam hati. Ini tak dapat disalahkan karena benar ketakwaan itu dalam hati. Bagi mereka, belum tentu muslimah yang berjilbab syar’i (dalam arti sudah berjilbab besar dan berpakaian longgar) itu akan masuk surga. Mereka berharap agar mereka tak usah diusik lantaran berkeyakinan berbeda tentang apa yang benar dan salah itu. Allah yang paling tahu diri mereka, sebagaimana mereka tahu keadaan diri mereka sehingga mereka memutuskan berpakaian dengan model tertentu. Jika sudah begini, akan lebih baik memberikan mereka kesempatan dengan senantiasa meninggalkan nasihat tentang apa yang prinsip dalam berhijab, yaitu usahakan selalu longgar dan tidak tipis.

Satu kelompok lagi bersikap lebih bebas. Bagi mereka, apa salahnya ingin cantik ketika ingin cantik itu memang naluri seorang wanita? Apa salahnya mengikuti mode, fashion, dan tren masa kini? Apa salahnya menjadi wanita modern dan modis? Argumentasi rasional mereka adalah bahwa hidup di zaman ini perlu penyesuaian dan orang akan tergilas jika melawan kemajuan atau memelihara kekunoan penampilan. Jika sudah begini, akan lebih baik memberikan mereka kesempatan untuk dapat berdiri sama percaya dirinya dengan wanita dari bangsa dan negara lain dengan menjadi wanita yang elegan, tetapi dengan senantiasa meninggalkan nasihat tentang apa yang prinsip dalam berhijab, terutama agar mereka tidak berlebih-lebihan dalam perkara ini.

***

Sebenarnya ada satu hal lagi yang masih ingin kubahas, tetapi aku masih kurang banyak mengobservasi. Aku punya rencana selama beberapa waktu mengamati apa yang berlangsung di akun-akun komunitas jilboobs yang ada di Facebook. Sepintas ada yang sangat menarik di sini bahwa mungkin di balik itu ada suatu niatan yang bermanfaat untuk kita mengerti.

Terakhir, aku ingin berpesan pada teman-teman yang meniatkan diri menjadi aktivis dakwah dan merasa geram dengan fenomena jilboobs ini. Kupikir, silakan kalian ajari orang-orang cara berjilbab yang benar, tetapi… tak usahlah dipakai kata jilboobs itu. Kita matikan kata yang tak sopan itu, kita tak perlu ikut mempopulerkannya. Gunakan kata yang lebih sopan untuk merujuk pada gaya berjilbab yang tidak syar’i ini, misalnya jilbab gaul atau jilbab mini, sebagai penggantinya. Selain itu, tetaplah menjaga penghormatan dan penghargaan atas diri para wanita. Jangan dibuat malu atau tersinggung, jangan dibuat merasa terlecehkan. Karena, bagaimana orang mau belajar jika hatinya sudah sakit?

Semoga tulisan ini bermanfaat, semoga ini pun menjadi pengingat bagi diri yang ingin memperbaiki dirinya.🙂 Yuk, berjilbab!

4 thoughts on “Mengurai Persoalan Hijab Bag. 3: Fenomena Jilboobs dalam Definisi, Perspektif, dan Reaksi

  1. Betul, ada artis yg kena ‘serang’ dengan kata ini. Artis ini punya pengaruh kuat di bidang fesyen. Tiap tahun jelang idulfitri dia meluncurkan busana muslim baru, dan melabelkan dirinya pada busan itu. Tak diragukan lagi, industri busana muslim amat diuntungkan oleh artis itu. Namun sejak muncul kata jilboobs sebagai senjata untuk menyerang busana muslim yg tak-syar’i, produk busana muslim artis itu gagal total….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s