Islam, Politik, dan Tata Negara Bag. 1: Dari Nabi sampai Khulafaurrasyidin

Tulisan ini adalah hasil membaca buku tulisan mantan Menteri Agama Republik Indonesia tahun 1983-1988 dan 1988-1993, Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran (UI Press, 1993, h. 1-33).

Aku membaca ini karena aku ingin punya wawasan tentang hubungan Islam dan tata negara yang saat ini, jika mengikuti apa yang berkembang di masyarakat, rancu sekali. Ada persoalan ISIS/NIIS di Timur Tengah yang pengaruhnya sampai ke Indonesia. Juga ada persoalan terbaru pra-, selama, dan pasca-pemilu berkaitan dengan ketidakpuasan sebagian kelompok Islam terhadap sistem pemerintahan, sistem politik, dan ketatanegaraan Indonesia yang katanya tidak sesuai syariat Islam.

Kukira, tidak sedikit di antara pembaca yang menghadapi permasalahan seperti yang kualami ini. Jika dengan belajar kita akan lebih tahu dan paham, maka ayo kita belajar!🙂 Semoga ini semua bermanfaat, insya Allah.

***

1# Tiga Aliran Pemikiran tentang Hubungan Islam dan Ketatanegaraan

Sebelum memulai kajian tentang hubungan Islam dan politik, perlu ada kejelasan tentang apa yang dimaksudkan dengan sistem politik itu. Sistem politik adalah suatu konsepsi yang berisikan antara lain ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan negara; siapa pelaksana kekuasaan tersebut; apa dasar dan bagaimana cara untuk menentukan kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan; kepada siapa pelaksana kekuasaan itu bertanggung jawab; dan bagaimana bentuk tanggung jawab tersebut.

Di kalangan umat Islam sampai sekarang, terdapat tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan ketatanegaraan:

Aliran pertama berpendirian bahwa Islam bukanlah semata-mata agama dalam pengertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan, sebaliknya Islam adalah satu agama yang sempurna dan yang lengkap dalam pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan bernegara. Para penganut aliran ini pada umumnya berpendirian bahwa: 1) Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Di dalamnya terdapat pula sistem ketatanegaraan dan politik. Oleh karena itu, dalam bernegara umat Islam hendaknya kembali kepada sistem ketatanegaraan Islam, dan tidak perlu atau bahkan jangan meniru sistem ketatanegaraan Barat. 2) Sistem ketatanearaan atau politik Islami yang harus diteladani adalah sistem yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad dan oleh empat khulafaurrasyidin. Tokoh-tokoh utama dari aliran ini antara lain Syekh Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Syekh Muhammad Rasyid Ridha, dan Maulana Abul A’la al Maududi.

Aliran kedua berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini, Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul biasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai satu negara. Tokoh-tokoh terkemuka dari aliran ini antara lain Ali Abd al Raziq dan Dr. Thaha Husein.

Aliran ketiga menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi, aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antara manusia dan Pencipta-nya. Aliran ini berpendirian bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Di antara tokoh-tokohnya, yang paling menonjol adalah Dr. Mohammad Husein Haikal (penulis Hayat Muhammad).

***

2# Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara dalam Al Qur’an

Di dalam Al Qur’an terdapat sejumlah ayat yang mengandung pedoman bagi manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan adalah seperti kedudukan manusia di bumi, musyawarah/konsultasi, ketaatan kepada pemimpin, keadilan, persamaan, dan hubungan antara umat dari berbagai agama.

1) Kedudukan Manusia di Bumi

QS Ali Imran [3]: 26 “Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

QS Al Hadid [57]: 5 “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.”

QS Al An’am [6]: 165 “Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bui dan Dia meninggikan sebagian dari kalian atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk menguji kalian tentang apa yang Dia berikan kepada kalian. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

2) Musyawarah/ Konsultasi

QS Ali Imran [3]: 159 “Maka karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

QS Asy Syura [42]: 36, 38 “Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada Sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal… Dan (bagi) orang-orang yang mematuhi seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

3) Ketaatan kepada Pemimpin

QS An-Nisa [4]: 59 “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul kalau kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik kesudahannya.”

4) Keadilan

QS An Nahl [16]: 90 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

QS An Nisa [4]: 58 “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kalian menetapkan dengan adil.”

QS Al Maidah [5]: 8 “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

5) Persamaan

QS Al Hujuran [49]: 13 “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

6) Hubungan antara Umat dari Berbagai Agama

QS Al Baqarah [2]: 256 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.”

QS Yunus [10]: 99 “Dan jikalau Tuhan menghendaki, tentulah (akan) beriman semua yang ada di muka bumi ini seluruhnya. Maka apakah engkau (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

QS Ali Imran [3]: 64 “Ketakanlah (Muhammad): Wahai Ahli Kitab, marilah (kita) adakan suatu kesepakatan antara kami dan kalian bahwa tidak kita sembah selain Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian dari kita memperlakukan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling (menolak ajakan), maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).”

QS Al Mumtahanah [60]: 8-9 “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama, dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian memperlakukan sebagai kawan kalian orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Dan barang siapa memperlakukan mereka sebagai kawan, maka mereka itu adalah orang-orang zalim.”

***

3# Semasa Hidup Nabi

1) Baiat Aqabah, Batu Pertama Bangunan Negara Islam

Setelah mengalami tahun-tahun yang sulit berada dalam tekanan suku Quraisy yang memusuhi Nabi Muhammad dan kaum muslimin, pada tahun ke-11 kenabian, terjadi peristiwa yang sederhana tetap merupakan awal lahirnya era baru bagi Islam dan dunia, yaitu perjumpaan nabi di Aqabah, Mina, dengan enam orang dari suku Khazraj, Yathrib, yang hendak ke Mekkah untuk haji. Hasil perjumpaan itu adalah keenam orang tersebut masuk Islam. Kepada nabi mereka bercerita tentang kehidupan di Yathrib yang selalu dicekam permusuhan antargolongan dan antarsuku (khususnya suku Khazraj dan suku Aus), dan mereka mengharapkan semoga Allah mempersatukan dan merukunkan golongan-golongan yang selalu bermusuhan melalui nabi. Mereka pun berjanji akan mengajak penduduk Yathrib untuk masuk Islam.

Pada musim haji tahun berikutnya, 12 orang laki-laki dari Yathrib menemui nabi di tempat yang sama. Selain mengakui kerasulan, mereka juga berjanji tidak akan mempersekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong, dan tidak akan mengkhianati nabi. Perjanjian atau baiat ini dikenal dalam sejarah sebagai Baiat Aqabah Pertama.

Pada musim haji tahun berikutnya lagi, sebanyak 73 orang penduduk Yathrib yang sudah memeluk Islam berkunjung ke Mekkah. Mereka mengundang nabi untuk hijrah ke Yathrib dan menyatakan lagi pengakuan mereka bahwa Nabi Muhammad adalah nabi dan pemimpin mereka. Nabi menemui mereka di tempat yang sama, yaitu Aqabah. Di sana mereka mengucapkan baiat bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dan bahwa mereka akan membela nabi sebagaimana mereka membela istri dan anak mereka. Baiat ini dikenal sebagai Baiat Aqabah Kedua.

Oleh kebanyakan pemikir politik Islam, kedua baiat tersebut dianggap sebagai batu pertama dari bangunan negara Islam. Berdasarkan baiat itulah Nabi dan pengikut-pengikutnya berhijrah ke Yathrib.

2) Piagam Madinah, Undang-undang Dasar Negara Islam Pertama

Umat Islam memulai hidup bernegara setelah nabi hijrah ke Yathrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Di Madinah-lah untuk pertama kalinya lahir satu komunitas Islam yang bebas dan merdeka di bawah pimpinan nabi, dan terdiri dari para pengikut nabi dari Mekkah (Muhajirin) dan penduduk Madinah yang telah memeluk Islam (Ansar). Tapi, umat Islam kala itu bukanlah satu-satunya komunitas di Madinah. Di antara penduduk Madinah terdapat komunitas-komunitas lain, seperti orang-orang Yahudi dan sisa-sisa suku Arab yang masih menyembah berhala. Dengan kata lain, umat Islam di Madinah merupakan bagian dari suatu masyarakat yang majemuk.

Sekitar dua tahun nabi di Madinah, nabi mengeluarkan satu piagam yang mengatur kehidupan dan hubungan antara komunitas-komunitas yang merupakan komponen-komponen masyarakat yang majemuk itu. Piagam itu dikenal dengan nama Piagam Madinah. Banyak pakar politik Islam beranggapan bahwa Piagam Madinah adalah konstitusi atau undang-undang negara Islam pertama. Karena itulah isi Piagam Madinah banyak ditelaah karena memberikan pelajaran yang penting tentang hubungan Islam dan ketatanegaraan.

Landasan hidup bermasyarakat dan bernegara berdasarkan Piagam Madinah adalah bahwa: 1) semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari banyak suku, tetap merupakan satu komunitas dan 2) hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan komunitas lain didasarkan atas prinsip bertetangga yang baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela mereka yang teraniaya, seling menasihati, dan menghormati kebebasan beragama. Hal ini penting dijadikan catatan bahwa di dalam Piagam Madinah yang dibuat nabi sekalipun tidak ada disebutkan tentang agama negara.

Isi Piagam Madinah dapat dilihat di sini.

***

4# Masa Empat Khulafaurrasyidin

Dengan wafatnya Nabi Muhammad, maka berakhirlah situasi yang sangat unik dan tidak akan pernah terulang lagi dalam sejarah Islam, yaitu kehadiran seorang pemimpin tunggal yang memiliki otoritas spiritual dan duniawi, yang berdasarkan kenabian dan bersumberkan wahyu.

Nabi tidak meninggalkan wasiat atau pesan tentang siapa di antara para sahabat yang harus menggantikan beliau memimpin umat. Dalam Al Qur’an maupun hadist nabi pun tidak terdapat petunjuk tentang bagaimana cara menentukan pemimpin umat atau kepala negara sepeninggal beliau, kecuali petunjuk yang sifatnya sangat umum agar umat Islam mencari penyelesaian masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama melalui musyawarah, tanpa ada pola baku tentang bagaimana musyawarah itu harus dilaksanakan.

Itulah salah satu sebab utama utama mengapa pada empat khulafaurrasyidin ditentukan melalui musyawarah, tetapi dengan pola yang beraneka ragam.

1) Abu Bakar
Abu Bakar menjadi khalifah melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah nabi wafat dan sebelum jenazah beliau dimakamkan. Pertemuan tersebut mengundang kemarahan Fatimah putri nabi karena mereka begitu terburu-buru mengambil keputusan pengganti nabi sebelum pemakaman dan tanpa mengikutsertakan keluarga dekat nabi, seperti dua menantunya, yaitu Ali dan Utsman. Namun demikian, pertemuan tersebut sebenarnya terjadi tanpa direncanakan karena terdorong oleh keadaan.

Pemilihan Abu Bakar dilakukan oleh kelompok kecil orang yang terdiri dari lima orang selain Abu Bakar, yaitu Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarah, Basyir bin Saad, Asid bin Khudair, dan Salim, seorang budak Abu Khuzaifah yang telah dimerdekakan. Dua di antara mereka adalah dari Muhajirin dan dua lainnya adalah Ansar, masing-masing Khazraj dan Aus. Banyak sahabat senior yang tidak hadir dalam pertemuan itu dan itu disebabkan oleh keadaan saat itu yang sangat genting, sehingga perlu tindakan cepat dan tegas. Setelah Abu Bakar terpilih, satu demi satu sahabat melakukan baiat dengan sukarena, kecuali Zubair bin Awwam yang perlu ditekan Umar terlebih dahulu dan Ali bin Abu Thalib yang baru berbaiat setelah Fatimah wafat enam bulan kemudian.

Satu hal yang bisa kita jadikan pelajaran adalah Abu Bakar terpilih tidak berdasarkan keinginannya dan berdasarkan pertimbangan manfaat-mudharat. Ketika pertemuan berlangsung, terjadi perdebatan sengit antara Muhajirin dan Ansar. Abu Bakar datang menengahi mereka dan mengingatkan bahwa nabi pernah bersabda bahwa kepemimpinan umat Islam sebaikya berada di tangan suku Quraisy, dan bahwa di bawah kepemimpinan suku itulah akan terjamin keutuhan, keselamatan, dan kesejahteraan bangsa Arab. Beliau juga mengingatkan permusuhan yang pernah terjadi di antara kaum Ansar sebelum masuk Islam. Jika salah satu dari Khazraj atau Aus yang terpilih, maka ada kemungkinan ada pihak lain yang tidak menerimanya, sehingga permusuhan zaman jahiliyah dapat terjadi kembali. Abu Bakar lalu menawarkan dua tokoh Quraisy yang ada di situ, yaitu Umar dan Abu Ubaidah. Orang-orang Ansar terkesan sekali dengan kebijaksanaan Abu Bakar dan Umar, tidak menyia-nyiakan momentum itu, lalu berbaiat dan menyatakan kesetiaan kepada Abu Bakar, serta menyatakan bahwa Abu Bakarlah sahabat yang paling disayangi nabi dan menjadi pengganti nabi untuk mengimami shalat ketika nabi sakit.

2) Umar bin Khattab
Berbeda dengan Abu Bakar yang dipilih lewat forum musyawarah terbuka, Umar menjadi khalifah melalui penunjukan atau wasiat pendahulunya. Pada tahun ketiganya menjadi khalifah, Abu Bakar tiba-tiba jatuh sakit dan selama 15 hari ia tidak pergi ke masjid. Selama masa itulah ia meminta Umar untuk mewakilinya menjadi imam shalat.

Abu Bakar dalam sakitnya mengkhawatirkan pertentangan dan perselisihan yang mungkin akan kembali terjadi (dan dapat lebih hebat) jika ia wafat sementara belum ada penggantinya. Bagi Abu Bakar, orang yang paling tepat menggantikannya adalah Umar. Ia pun lalu mengadakan konsultasi tertutup dengan beberapa sahabat senior yang menengoknya, di antaranya ada Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan dari kelompok Muhajirin, dan Asid bin Khudair dari kelompok Ansar. Pada dasarnya semua mendukung maksud Abu Bakar, tetapi di antara mereka ada yang memberikan catatan. Abdurrahman misalnya mengingatkan akan sifat keras Umar. Peringatan ini dijawab oleh Abu Bakar bahwa Umar dilihat bersikap keras selama ini karena dibandingkan dengan dirinya yang biasanya bersikap lunak dan bahwa kelak Umar akan berubah menjadi lunak ketika ia sudah memimpin.

Abu Bakar memanggil Utsman, lalu mendiktekan pesannya. Baru setengah jalan, tiba-tiba ia jatuh pingsan, tetapi Utsman terus saja menuliskannya. Ketika Abu Bakar sadar kembali, ia meminta Utsman untuk membacakan apa yang dituliskannya yang intinya adalah penunjukkan Umar. Abu bakar lalu bertakbir tanda puas dan berterima kasih pada Utsman. Pesan tertulis itu lalu disampaikan kepada umat. Dalam suatu baiat umum dan terbuka di Masjid Nabawi, Umar dikukuhkan sebagai khalifah kedua.

3) Utsman bin Affan
Utsman dipilih lewat cara yang berbeda dari kedua pendahulunya. Ia dipilih oleh sekelompok orang yang nama-namanya sudah ditentukan Umar bin Khattab sebelum ia wafat akibat luka-luka yang dideritanya lantaran tikaman seorang Persia. Waktu itu datang tokoh masyarakat memohon kepada Umar agar ia segera menunjuk pengganti karena khawatir Umar tak akan hidup lama lagi dan kalau ia wafat tanpa pengganti, maka pertentangan dan perpecahan akan terjadi. Umar menolak permohonan itu dengan alasan bahwa orang-orang yang menurutnya pantas sudah lebih dahulu meninggal. Umar bahkan marah besar ketika tokoh-tokoh tersebut mengusulkan agar ia menunjuk putranya sendiri Abdullah bin Umar. Menurutnya, sudah cukup seorang dari keluarga besar Umar mendapatkan kehormatan menjadi khalifah. Mereka yang kecewa akhirnya pergi, tetapi kembali lagi keesokan harinya.

Akhirnya Umar menyerah, tetapi tidak secara langsung menunjuk pengganti. Ia hanya menyebutkan enam sahabat senior, dan merekalah yang nanti harus memilih seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah sepeninggalannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah, serta Abdullah bin Umar putranya, tapi tanpa hak suara. Dasar pertimbangannya adalah bahwa mereka berenam adalah orang-orang yang dinyatakan nabi sebagai calon-calon penghuni surga, dan bukan karena mereka masing-masing mewakili kelompok atau suku tertentu.

Setelah Umar wafat, lima dari enam orang tersebut segera bertemu untuk merundingkan jabatan khalifah. Pada waktu itu Thalhah tidak ada di Madinah. Sejak awal, pertemuan itu berjalan alot. Abdurrahman bin Auf mencoba memperlancarnya dengan imbauan agar sebaiknya di antara mereka ada yang sukarena mengundurkan diri dan memberi kesempatan pada mereka yang betul-betul paling memenuhi syarat untuk dipilih. Tapi, imbauan itu tidak berhasil. Setelah ia sendiri yang mengundurkan diri pun, tak seorang pun dari keempat orang lainnya yang mengikutinya.

Dalam keadaan macet/ deadlock, Abdurrahman bin Auf bermusyawarah dengan tokoh-tokoh lain selain keempat orang tersebut. Ternyata, telah terjadi polarisasi di kalangan umat Islam. Mereka terbelah menjadi dua kubu, yaitu pendukung Ali dan pendukung Utsman. Dalam pertemuan kembali dengan keempat rekannya, ia bertanya kepada Ali, siapa menurutnya yang patut menjadi khalifah. Ali menjawab: Utsman. Pertanyaan yang sama diajukan kepada Zubair dan Saad, dan jawaban mereka sama: Utsman. Sementara Utsman menjawab: Ali. Di antara mereka pun makin jelas ada dua calon khalifah.

Abdurrahman lalu memanggil Ali dan menanyakan, seandainya dia dipilih menjadi khalifah, sanggupkah ia melaksanakan tugasnya berdasarkan Al Qur’an, Sunnah Rasul, dan kebijaksanaan dua khalifah sebelum dia. Ali menjawab bahwa dirinya berharap dapat berbuat sejauh pengetahuan dan kemampuannya. Abdurrahman lalu beralih pada Utsman dengan pertanyaan yang sama. Utsman, berbeda dengan Ali, ia menjawab dengan tegas: “Ya, saya sanggup!”

Demikianlah cerita bagaimana Utsman menjadi khalifah ketiga. Meskipun demikian, patut dikemukakan bahwa Ali sangat kecewa dengan cara yang dipakai Abdurrahman tersebut dan menuduhnya bahwa sejak semula, ia sudah merencakannya dengan Utsman, sebab kalau Utsman yang menjadi khalifah, berarti pula kelompok Abdurrahman bin Auf yang berkuasa. Utsman dan Abdurrahman memang memiliki hubungan keluarga karena pernikahan.

4) Ali bin Abu Thalib
Ali dipilih melalui pemilihan yang penyelenggaraannya jauh dari sempurna. Setelah para pemberontak membunuh Utsman bin Affan, mereka mendesak Ali agar bersedia diangkat menjadi khalifah. Pada waktu itu, Madinah dapat dikatakan kosong. Banyak sahabat senior yang sedang berkunjung ke wilayah-wilayah yang baru ditaklukan, dan hanya sedikit yang masih tinggal di Madinah, di antaranya Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Tidak semuanya yang masih ada itu sepenuhnya mendukung Ali, seperti Saad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Umar. Ali menolak desakan para pemberontak dan mencari para sahabatnya Thalhah, Zubair, dan Saad, karena merekalah yang berhak menentukan tentang siapa yang harus menjadi khalifah. Maka, muncullah mereka dan mereka segera berbaiat kepada Ali, dan segera diikuti oleh orang banyak, baik dari kelompok Muhajirin maupun Ansar.

Tidak sama seperti ketiga pendahulunya yang, meskipun semula terdapat sejumlah orang yang menentang, ketika mereka terpilih, orang-orang tersebut menerimanya dan ikut berbaiat menyatakan kesetiaan. Penetapan Ali tidak demikian karena ia ditolak oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan, gubernur Syiria yang merupakan keluarga Utsman, dengan alasan: 1) Ali harus mempertanggungjawabkan tentang terbunuhnya Utsman dan 2) berhubung wilayah Islam telah meluas dan timbul komunitas-komunitas Islam di daerah-daerah batu itu, maka hak untuk menentukan pengisian jabatan khalifah tidak lagi merupakan hak mereka yang berada di Madinah saja. Sikap Mu’awiyah didukung oleh sejumlah sahabat di Madinah dan mereka kemudian bergabung dengannya di Syiria. Mereka selanjutnya mewarnai sejarah ketatanegaraan Islam selanjutnya.

Dari uraian sejarah di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:

Pertama, semasa keempat khalifah tidak terdapat satu pola yang baku mengenai cara pengangkatan khalifah atau kepala negara. Abu Bakar diangkat melalui pemilihan dalam satu musyawarah terbuka, terutama oleh lima tokoh yang mewakili semua unsur utama dari masyarakat Islam pada waktu itu. Umar bin Khattab diangkat melalui penunjukan oleh pendahulunya, dan tidak melalui pemilihan dalam pertemuan terbuka. Setelah Abu Bakar pribadi memutuskan bahwa Umar-lah yang paling tepat menggantikannya, dia mengadakan konsultasi tertutup dengan beberapa sahabat senior. Utsman bin Affan diangkat melalui pemilihan dalam satu pertemuan terbuka oleh semacam “dewan formatur” yang anggotanya ditunjuk oleh pendahulunya, dan penunjukan tersebut tidak berdasarkan perwakilan unsur, tetapi atas dasar perimbangan kualitas pribadi masing-masing, yakni karena mereka menurut Nabi adalah calon-calon penghuni surga. Ali bin Abi Thalib diangkat melalui pemilihan dan pertemuan terbuka, tetapi dalam suasana kacau, dan ketika itu hanya ada beberapa tokoh senior masyarakat. Karena itulah keabsahan pengangkatan Ali ditolak oleh sebagian masyarakat, salah satunya Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Gubernur Syiria.

Kedua, kekhawatiran Abu Bakar bahwa kalau masalah penggantinya harus dibicarakan dalam musyawarah terbuka maka akan mengundang perpecahan, dan keprihatinan para tokoh masyarakat beberapa tahun kemudian kalau saja Umar wafat sebelum ada penggantinya, merupakan tanda bahwa masyarakat Islam pada waktu itu belum cukup matang diajak menyelesaikan masalah-masalah seperti penentuan kepala negara melalui musyawarah yang bebas dan terbuka.

Ketiga, kalau nabi dahulu merupakan pemimpin tunggal dengan otoritas yang berlandaskan kenabian dan bersumberkan wahyu, serta bertanggung jawab atas segala tindakan beliau kepada Allah semata, maka tidak demikian posisi para khalifah penggantinya. Hubungan mereka dengan rakyat atau umat berubah menjadi hubungan antara dua peserta dari suatu kesepakatan atau “kontrak sosial” yang memberikan kepada masing-masing hak dan kewajiban atas dasar timbal-balik, seperti yang tercermin dalam baiat yang disusul dengan “pidato pengukuhan”. Mereka terikat oleh kesepakatan dua tingkat. Di tingkat pertama, kedua belah pihak bersepakat hendak tetap dan terus melaksanakan ajaran Islam sebagaimana yang diwariskan nabi. Di tingkat kedua, kedua belah pihak bersepakat melestarikan dan mempertahankan kehidupan bernegara yang dirintis oleh nabi. Rakyat mempercayakan pengelolaan urusan mereka pda para khalifah dengan disertai janji kesetiaan, sebaliknya para khalifah menjamin tegaknya Islam dan keamanan jiwa, keluarga, dan harta benda rakyat, serta bertanggung jawab atas kesejahteraan umum.

Keempat, dalam sejarah keempat khalifah, tidak pula terdapat petunjuk atau contoh tentang cara bagaimana mengakhiri masa jabatan seorang kepala negara. Mereka berempat mengakhiri masa tugasnya karena wafat. Abu Bakar meninggal karena sakit, sedangkan Umar, Utsman, dan Ali meninggal karena dibunuh. Mengingat hanya Abu Bakar yang meninggal secara alami, ini mengindikasikan kehidupan masyarakat dan kenegaraan pada masa itu yang realitanya tidak seindah yang dibayangkan, bahwa masyarakat pada masa khalifah tersebut kompak, teratur dan serasi, serta diliputi suasana yang rukun dan penuh kekeluargaan baik di tubuh pemerintahan maupun di antara komponen-komponen masyarakat, seperti yang dilukiskan Abul A’la Al Maududi. Realita ini lalu mengkritisi keyakinan Maududi bahwa Islam adalah agama yang serba lengkap, termasuk dengan sistem tata negaranya, dan bahwa sistem tata negara Islami harus meneladani sistem yang berlaku di masa keempat khalifah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s