Reaching Dream Bag. 19: Setelah Setengah Tahun Vakum

Aku punya banyak cerita. Kehidupan menjadi mahasiswa S2. Baru malam ini teringat untuk membuat catatan lagi dan setelah aku cek, benar saja, sudah enam bulan lamanya aku tidak memperbarui cerita tentang bagaimana aku berusaha mewujudkan satu mimpi. Sekarang sebaiknya aku memulai.🙂

***

1# Jadi Asisten dan Belajar Menjadi Dosen

Aku ingin kelak menjadi dosen yang baik. Aku tak punya banyak indikator, tetapi satu yang benar-benar ingin aku latihkan dalam diriku adalah aku ingin jadi dosen yang cara mengajarnya enak. Sederhana sekali, bukan? Dan aku dapat banyak model dosen yang cara mengajarnya enak di kampus.

Jika sudah setahun lamanya peranku hanya menjadi mahasiswa, yang menikmati “dosen enak” sebagai si penerima ilmu, di tahun kedua ini aku mencoba menjadi asisten mata kuliah. Jika dahulu perhatianku terbagi karena aku harus belajar di kelas dan mendengarkan baik-baik para bapak dan ibu dosen, sekarang aku bisa fokus melakukan observasi: bagaimana sih dosen-dosen ini mengajar?

Aku diterima menjadi asisten di dua kelas S1, yaitu di mata kuliah Biopsikologi II dan Statistika. Cerita bagaimana aku bisa masuk di kedua kelas tersebut lumayan panjang.

Aku mendaftar di Biopsikologi II lantaran salah seorang dosen pengampunya adalah dosen pembimbing tesisku. Motifku memang cukup sosial. Aku ingin mengakrabkan diri dengan beliau. Sebagai mahasiswa S2, kebersamaanku dengan dosen di kampus hanya sebentar. Banyak yang belum kenal, termasuk dosen pembimbing tesisku. Karena aku tahu salah satu faktor pendukung kelancaran mengerjakan tesis adalah hubungan baik dengan dosen pembimbing, maka aku mencoba saja menjadi asisten mata kuliahnya.

Aku masuk di Statistika atas dasar rekomendasi. Setelah diterima, aku baru disuruh mendaftar agar namaku tercatat secara resmi di bagian akademik fakultas. Pada awalnya, aku tidak masuk di kelas ini, melainkan kelas Teori dan Aplikasi Pengukuran Psikologi (TAPP). Namun, karena jadwal mata kuliah 6 SKS ini bertabrakan dengan jadwal mata kuliah Biopsikologi II dan kuliah Psikologi Perdamaian-ku, aku memutuskan mengundurkan diri. Aku merasa sedih keluar dari mata kuliah ini karena ini (psikometrika) benar-benar bidang favoritku setelah psikologi pendidikan dan psikologi sosial. Aku merasa mampu menjadi asisten karena aku mengerti dan suka sekali dengan aktivitas menyusun skala psikologi. Tapi, apa boleh buat, bukan?

Namaku kemudian berpindah dari TAPP ke Statistika yang masih membutuhkan asisten dan jadwalnya, untunglah, tidak bertabrakan dengan jadwalku yang lain. Jadilah aku masuk ke kelasnya anak S1 semester 1. Melihat mereka, sadar aku bahwa sudah tujuh tahun yang lalu aku berada di posisi mereka. Duduk di bagian belakang kelas, aku kadang termenung saja memperhatikan bagaimana mereka bertingkah (masih 17-18 tahun, kan?), bagaimana antusiasme mereka, bagaimana keaktifan mereka… Masih terbawa hawa SMA?🙂 Sangat bagus kalau atmosfer macam ini bertahan.

Suatu ketika aku duduk tegak di bangkuku dan menyadari hal yang lain. Lho, aku bisa di kelas Statistika? batinku. Dari dulu aku memang punya keinginan besar untuk belajar statistika sekali lagi. Benar-benar ingin! Karena aku tahu aku parah sekali di bidang ilmu yang penting bagi psikologi ini. Dulu, waktu kuliah Analisis Multivariat, aku pontang-panting mempelajari ulang statistika. Sekarang, aku bisa belajar secara lebih sistematis dan terstruktur… Rasanya bersyukur sekali! Jadi, di kelas aku seperti menjadi mahasiswa lagi. Aku mencatat, mendengarkan, dan ikut ingin tahu dengan penuh minat penjelasan dosen. Sisi lebihnya, aku mendapatkan tugas mengoreksi tugas mahasiswa. Rasanya sempurna😀

Dan satu manfaat lagi selain di atas itu. Aku mengamati bagaimana dosen Statistika di kelasku mengajar. Begitu mengalir, cair, santai, akrab, tapi berbobot. Ada saja humor dan cerita yang membuat mahasiswa tertawa dan tertarik perhatiannya kepada beliau. Aku akan ingat namanya. Pak Ridwan Saptoto. Ingin sekali kelak bisa menjadi dosen yang seperti itu. Kelebihan beliau itu aku tahu pasti adalah kekuranganku. Ya, mungkin setelah ini aku akan mulai belajar menjadi pengajar yang jenaka dan tidak terlampau serius. Benar-benar pelajaran penting. Aku harus melatih keterampilan sosialku. Semangat!

Tidak hanya di kelas Statistika, dosen pembimbingku yang mengajar di kelas Biopsikologi II juga membuatku kagum. Bu Magda Bhinnety Etsem. Beliau menunjukkanku satu sisi dari kewajiban menjadi dosen, yaitu mengajar lewat transfer pengalaman hidup. Waktu mendengarkan beliau hari itu, aku seketika tahu betapa pengalaman hidupku masih dangkal sekali. Jika disuruh mengajar, aku yang sekarang akan menjadi pengajar yang cuma menyalin apa kata buku. Akan sangat baik jika isi buku dapat diintegrasikan dengan pengalaman hidup, walaupun sesederhana pengalaman pernah tinggal di suatu tempat. Benar-benar ini pelajaran penting!

Namun demikian, pada intinya, aku sangat bersyukur bisa berkuliah dan merasakan jadi asisten. Akhir semester masih lama, tetapi tenang saja, aku menikmati sekali prosesnya.

2# Apa Kabar Tesisku?

Seharusnya ini kuceritakan di diari tesis. Tetapi, karena singkat, tidak masalah diceritakan di sini.🙂 Ada sisi lain dari pengerjaan tesis yang berkaitan erat dengan impian yang hendak aku capai. Menjadi ilmuwan psikologi.

Aku tidak memandang tesisku sebagai hanya sekedar syarat lulus S2 dan meraih gelar master. Ini adalah latihanku untuk menjadi ilmuwan. Aku ingin belajar bagaimana menemukan ide penelitian yang baik, bagaimana menyusun latar belakang dan permasalahan penelitian, bagaimana menyusun kerangka pikir penelitian, bagaimana melakukan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, bagaimana mencapai hasil yang bermanfaat, dan sebagainya. Apapun hasilnya nanti, tesisku akan mencerminkan keinginan-keinginan itu.

Tesisku sekarang, bagaimana bisa “itu” menjadi tesisku, melewati perjalanan yang tidak singkat. Aku memang mahasiswa bidang psikologi pendidikan, tetapi penelitian tesisku kusadari banyak dipengaruhi paradigma penelitian bidang psikologi sosial di Fakultas Psikologi UGM. Aku sangat berminat dengan gagasan melakukan penelitian indigenous yang di dalamnya ada upaya-upaya menghasilkan teori dari data. Paradigma yang dipakai adalah constructive realism. Namun, kesimpulanku berkata secara metodologi, penelitian semacam itu menggunakan metode penelitian grounded theory. Akhirnya, aku pun berencana melakukan penelitian grounded theory.

Dosen-dosen bidang psikologi sosial banyak membuatku belajar. Terutama Pak Faturrochman yang dulu mengajar di mata kuliah Teori-teori Psikologi Sosial. Beliau membuat mahasiswa membaca Handbook of Theories of Social Psychology. Benar-benar bukan ide buruk! Buku itu tidak hanya berisi teori-teori, tetapi juga cerita bagaimana bisa teori itu muncul. Waktu itu aku mendapat tugas mempresentasikan teori identifikasi tindakan. Aku terinspirasi oleh bagaimana penemu teori tersebut memulai bangunan teorinya: dari mengikuti ke mana rasa ingin tahu mereka membawa mereka. Rasa ingin tahu mereka terumuskan dalam satu pertanyaan sederhana dan remeh pada awalnya tetapi kemudian berkembang dan berkembang sehingga menjadi berbagai macam hipotesis. Teori mereka kemudian ibarat bata-bata yang sudah tersusun menjadi rumah yang rapi.

Aku ingin belajar menghasilkan teori. Tergugah oleh semangat penelitian grounded theory, aku sepakat bahwa ilmuwan sosial sebaiknya tidak hanya memverifikasi teori-teori yang sudah ada, tetapi juga membangun teori-teori baru untuk menemukan penjelasan atas berbagai fenomena yang belum terjelaskan sebelumnya. Itu semangat yang sama yang melandasi perkembangan indigenous psychology. Karena itulah aku punya “keberanian” untuk mengangkat topik penelitian yang asing sekali bagi banyak orang, yaitu tentang “antimaterialisme”.

3# Kelas Perilaku Antar Kelompok

Satu lagi yang menarik dalam kehidupanku saat ini adalah keikutsertaanku dalam mata kuliah Perilaku Antar Kelompok. Mimpi mana yang hendak aku wujudkan dengan mengikuti mata kuliah ini? Aku ingin menjadi ilmuwan sosial yang merangkap sebagai peace maker.🙂

Hendak kubuat berbagai tulisan tentang teori-teori yang kupelajari dalam kelas ini. Teori identitas sosial, teori dominansi sosial, teori justifikasi sistem, teori kontak, dan sebagainya. Semua itu begitu baru, dan entah bagaimana cukup menjelaskan fenomena sosial, entah itu mengandung konflik atau harmoni, yang kusaksikan saat ini. Aku ingin menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa itu semua bisa terjadi dan bagaimana menghadapinya. Sulit rasanya jika langsung terjun mendamaikan mereka yang berselisih dan bertikai, atau bekerja sama secara tidak sehat untuk menjatuhkan yang lain, sehingga akan sangat baik jika aku memulainya dengan memahami karakter dasar perilaku manusia sebagai suatu kelompok.

Karena manfaat itulah, kuliah ini menjadi salah satu favoritku selama kuliah di kampus Fakultas Psikologi UGM ini. Memang hanya teori yang dipaparkan di kelas, tetapi karena teori itu dipahamkan dengan baik dalam kepala mahasiswa (kepalaku), begitu keluar kelas, berbagai fenomena seakan jadi sudah mengantre untuk minta dideskripsikan, dijelaskan, dan diprediksikan. Rasanya jadi bersemangat!

4# Berhati-hatilah dengan Kapasitas Dirimu

Terakhir untuk tulisan kali ini adalah nasihat yang kuterima dari dia. Pagi tadi dia memintaku untuk berhati-hati dengan ucapanku. Bagiku, itu bermakna lebih. Berhati-hatilah dengan ucapan sekalipun yang diucapkan itu benar. Banyak orang sulit mengakui dan menerima kebenaran bukan karena suatu hal tidak benar, melainkan karena kebenaran itu tidak sampai dalam hati mereka lantaran disampaikan dengan cara yang salah, yang menyakitkan hati, membingungkan, membakar amarah, menyinggung, merendahkan, dan sebagainya. Ini memberikan pencerahan baru bagiku karena sebelumnya aku baru berhasil mencatat bahwa orang sulit menerima kebenaran karena kebenaran itu dibawa oleh orang yang bukan dari kelompoknya. Terima kasihku sangat besar padanya.

Masalah ini bukan tidak pernah kuketahui sebelumnya, melainkan terlupa. Berbagai peristiwa terjadi dan aku tersangkut, tercebur, dan terhanyut bersamanya. Aku punya pandangan dan aku ingin mengetesnya, tetapi rupanya aku dilawan arus dan aku melawan arus dan begitulah akhirnya. Yang sekarang kuinginkan adalah aku ingin menjadi ilmuwan yang di dalam hatinya dipenuhi kasih sayang kepada manusia, dipenuhi rasa pengertian, dan kesediaan untuk memahami dengan sabar. Aku ingin menjadi yang seperti itu. Ilmuwan yang sabar dan penyayang.

***

I am feeling wonderful. Alhamdulillahirabbil ‘alamin…🙂😀

2 thoughts on “Reaching Dream Bag. 19: Setelah Setengah Tahun Vakum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s