Diari Tesis Bag. 4: Antimaterialisme

Jumat kemarin (3/10), pulang dari kampus sekitar pukul 10.30 pagi, rasanya bahagia sekali. Tak habis-habisnya bersyukur kepada Allah, proses pengerjaan tesisku maju satu langkah lagi. Mulai minggu aku dapat melakukan investigasi awal untuk memastikan masalah penelitian tesisku. Tidak begitu kecewa bulan September lalu, juga Oktober ini, kalau belum bisa ujian komprehensif. Sekarang ini sedang bersemangat dan fokus untuk memperbaiki Bab 1 Pendahuluan.

Apa yang kulakukan untuk tesisku selama dua minggu sampai satu bulan terakhir?

1# 1 September 2014

Sehari sebelum tanggal 1 September, hari pertama semester baru, aku seperti kebakaran jenggot. Di Facebook aku mengobrol dengan seorang temanku, membicarakan tesis yang intinya adalah sudah sejauh mana kemajuan tesis kami. Dan dia bercerita panjang lebar tentang kemajuannya sementara aku masih nol -_-

Rencana awalku, dua minggu setelah Idul Fitri atau pertengahan Agustus tepatnya tanggal 17, aku sudah kembali ke Yogya untuk mulai mengerjakan tesis. Aku ingin dua minggu sebelum semester baru itu aku manfaatkan untuk menamatkan dua buku penting tentang metode grounded theory, yaitu The Discovery of Grounded Theory (Glaser & Strauss, 1967/2006) dan Constructing Grounded Theory (Carmaz, 2006). Aku belajar dari pengalamanku mengerjakan skripsi yang butuh satu semester untuk benar-benar mengerti pendekatan fenomenologi. Aku akan jadi keledai kalau kali ini aku mengalami yang serupa.

Tapi, apa yang terjadi adalah rencana awal itu tak terlaksana sama sekali. Aku lengket dengan rumah dan tak mau lepas. Aku ingin benar-benar satu bulan di rumah dan itu bukan suatu kerugian. Cuma, waktu akhirnya aku mengobrol dengan temanku itu, tiba-tiba saja membuncah perasaan “Wah, aku ketinggalan! Dia sudah jauh!” Aku pun mengambil langkah cepat.

Tanggal 31 Agustus aku kembali ke Yogyakarta. Malam tanggal 30 aku habiskan untuk menetapkan target-target dan strategi sistematis menyelesaikan tesis dalam jangka waktu sekian, sekian, dan sekian. Besok paginya aku kembali ke Yogyakarta dengan hati dipenuhi tekad bahwa target partama, yaitu mengajukan tesis dan mendapatkan pembimbing, harus terlampaui September ini. Esok harinya, Senin tanggal 1 September, berkas-berkasku sudah siap dan aku bawa semua ke kampus.🙂 Aku berhasil mendaftar.

Aku bersyukur. Faktor yang memudahkanku adalah hasil kerjaku di TP2T tidak bermasalah, jadi langsung bisa dipakai untuk mendaftar tesis. Itulah kekuatan keseriusan.

2# Dua minggu kemudian…

Rupanya proses administrasi tesis tidak sebentar. Seminggu kemudian aku cek, belum selesai. Seminggu kemudian aku cek lagi… Mungkin karena minggu sebelumnya aku aktif bertanya, maka berkasku dipercepat pengurusannya, sehingga… selesai! Aku diberikan salinan surat penunjukan dosen pembimbing dan formulir pemantauan tesis. Aku tanya pada petugasnya, apakah setelah ini aku bisa mulai bimbingan tesis, dan dijawab iya. Rasanya senang sekali, sangat bersyukur…

Hari itu juga aku menghubungi dosen pembimbingku. Aku sampaikan bahwa beliau sudah resmi menjadi pembimbingku dan aku ingin tahu bagaimana prosedur pembimbingan tesis bersama beliau. Tanggal 24 September adalah hari bimbingan pertamaku dan kami membahas berbagai hal soal tesis dan apa-apa saja yang perlu aku lakukan ke depannya. Hanya saja, waktu itu beliau bertanya, kenapa belum menerima berkasku dari bagian akademik. Hmm… Aku cek hari itu juga dan mendapatkan jawaban bahwa memang berkas untuk ke dosen belum disampaikan kepada yang bersangkutan. Agar kerja petugasnya efisien, maka akan dilakukan bersamaan dengan yang lainnya. Intinya aku harus menunggu.

Tenang saja, itu bukan masalah besar.🙂 Sementara waktu menunggu aku bisa mengerjakan yang lain. Hanya saja aku jadi tahu bahwa butuh waktu sekitar satu bulan untuk melewati tahap pertama.

3# 3 Oktober 2014

Pada hari yang sama dengan hari bimbingan pertama, aku membuat surat untuk izin penelitian awal di kampus. Surat itu jadi dan kuambil pada 29 September, lalu aku buat beberapa salinannya. Hari itu juga jadi. Seharusnya, kalau aku lebih rajin lagi, hari besoknya sudah bisa kuajukan izinnya. Tetapi, hidup itu kompleks… Aku mendahulukan tugasku sebagai asisten dan ditambah sakit satu-dua hari, baru tanggal 3 Oktober yang lalu aku menyelesaikannya. Itulah yang membuatku sangat senang dan bersyukur. Satu tahap lagi sudah diselesaikan. Sekarang memasuki tahap lain yang agak lebih berat… Ya Allah, semoga lancar😀

***

antimaterialism

Teman: “Aftina tesisnya tentang apa?”

Aku: “Tentang sikap hidup mahasiswa yang tidak materialistis. Atau istilahnya antimaterialisme.”

Teman: “Apa itu antimaterialisme?”

Berbulan-bulan aku merasa inferior dengan topik penelitian yang asing ini. Antimaterialisme sebagai sekedar istilah maupun konsep psikologi pun bukan sesuatu yang populer dan dimengerti dengan baik secara luas. Lama sekali aku bertanya-tanya apakah konsep ini eksis? Apakah konsep ini layak diteliti dan dikembangkan? Jika aku ditanya, apakah aku bisa menjelaskan? Jika aku dipertanyakan, apakah aku bisa mempertahankan?

Lama sekali waktu yang kubutuhkan agar aku bisa menjadi orang yang mampu menjelaskan. Berkali-kali aku blibet menjelaskan segala sesuatunya menunjukkan bagaimana aku sendiri sebetulnya masih belum mengerti dan benar-benar paham. Ketidakmampuanku menjelaskan benar-benar memberiku masukan yang banyak sekali. Jika aku benar-benar sudah mengerti, tentu aku mampu memudahkan yang sulit, menyederhanakan yang besar, dan menuliskan secara singkat, pada dan jelas apa yang semula begitu abstrak, masing mengambang, dan mengawang-awang.

1# Apakah antimaterialisme itu?

Secara harafiah, antimaterialisme berarti berlawanan dengan materialisme. Sebagai suatu konsep psikologi, antimaterialisme adalah suatu pandangan hidup yang menerima aspek material dan immaterial kehidupan sebagai sama penting dan bermanfaatnya. Pandangan hidup tersebut termanifestasikan dalam sikap hidup yang mendukung atau memprioritaskan nilai-nilai hidup yang sehat, yaitu yang mendukung pemenuhan kebutuhan psikologis intrinsik, di atas nilai yang materialistis dalam usaha mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang mendengarkan penjelasanku itu tak percaya, apakah (anti)materialisme itu adalah suatu konsep psikologi. Itu terdengar begitu filsafat. Benar. Itu pemikiran filsafat di satu sisi, tetapi juga merupakan suatu sikap hidup yang melandasi perilaku manusia di sisi lain. Di sinilah psikologi akhirnya masuk dan sampai saat ini sudah terdapat empat teori psikologi tentang materialisme.

2# (Anti)materialisme sebagai pandangan filsafat

Untuk mencapai pemahaman tentang ini, aku membaca buku Contemporary Materialism (Moser & Trout, 1995). Aku tulis dalam tinjauan teoretis tesisku:

Materialisme merupakan suatu pandangan ontologi yang monistis, yang menyatakan bahwa realita yang ada hanyalah materi (zat yang darinya suatu hal atau benda dapat dibuat), bahwa semua yang ada bersifat material dan fisik atau ada di alam (natural). Sesuatu bersifat material jika dan hanya jika ia menempati ruang (spasial). Materialisme berlawanan dengan ontologi yang dualistis bahwa segala hal yang ada berpasangan-pasangan.

Materialisme tidaklah sekadar perdebatan filosofis, tetapi juga digunakan untuk memahami dan menjelaskan fenomena alam maupun sosial. Materialisme historis memandang bahwa fenomena psikologis dan sosial semuanya bersifat material, bahwa sejarah dunia dibentuk oleh kekuatan-kekuatan dan relasi-relasi sosial. Dalam ilmu alam, materialisme memandang bahwa materi adalah aturan dasar bagi penjelasan ilmiah yang baik.

Materialisme yang tidak mengakui hal immaterial sesungguhnya membatasi pengetahuan karena tidak menerima keberadaan hal-hal yang immaterial. Materialisme ini disebut materialisme eliminatif (contoh: makhluk gaib, Tuhan, jiwa, dan akhirat itu tidak ada). Selain itu, ada materialisme yang menyederhanakan hal-hal immaterial menjadi material saja. Ini disebut materialisme reduktif (contoh: cinta itu peristiwa hormonal semata). Sementara itu, materialisme yang menerima adanya hal-hal immaterial di samping yang material disebut materialisme nonreduktif (contoh: cinta itu bukan hanya peristiwa biologis, tetapi psikis yang melibatkan persepsi, motivasi dan intensi).

Orang-orang yang menganut materialisme nonreduktif ini bisa disebut sebagai antimaterialis karena mereka menolak pandangan reduksionis dan eliminatif. Dari situ, antimaterialisme dapat dipahami sebagai paham materialisme yang mengakui atau menerima keberadaan hal-hal yang immaterial.

3# (Anti)materialisme sebagai sikap hidup

Agak sulit menetapkan definisi antimaterialisme sehingga aku mengambil inspirasi dari definisi-definisi yang sudah ada tentang materialisme. Materialisme merupakan nilai yang mendasari pembentukan sikap hidup materialistis. Nilai adalah asumsi-asumsi personal yang konsisten yang mendasari pembentukan sikap, sementara sikap adalah kecenderungan psikologis yang diekspresikan dengan tindakan mengevaluasi suka atau tidak suka (Rogers, 2003). Nilai materialistis adalah kepentingan yang disematkan pada pemilikan dan perolehan barang-barang material demi mencapai tujuan-tujuan hidup utama, seperti kesuksesan dan kebahagiaan (Richins, 2004, h. 210).

Nilai (juga sikap dan perilaku) materialistis dianggap sebagai nilai yang merugikan ketika ia menjadi satu-satunya nilai yang diutamakan atau ditekankan dalam kehidupan. Nilai materialistis mereduksi atau mengeliminasi pentingnya nilai-nilai hidup yang lain. Karena itu, diperlukan sejumlah visi atau nilai alternatif yang lebih sehat untuk menurunkan kecenderungan materialistis orang-orang. Menurut Kasser (2002), nilai alternatif tersebut seharusnya merefleksikan dan mendukung pemenuhan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang intrinsik, seperti penerimaan dan pertumbuhan diri, keterikatan dan keakraban sosial, dan rasa komunitas (menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama).

Berdasarkan konsep nilai alternatif tersebut, sikap antimaterialisme dapat dipahami sebagai sikap hidup yang didasarkan pada nilai-nilai yang merefleksikan dan mendukung pemenuhan kebutuhan psikologis intrinsik, diantaranya penerimaan dan pertumbuhan diri, keterikatan dan keakraban sosial, dan rasa komunitas, yang mana itu merupakan nilai yang mengarahkan seseorang pada kehidupan yang baik dan bahagia. Sikap antimaterialisme bukan menolak nilai yang materialistis secara total, melainkan menempatkannya (beserta aspirasi-aspirasi yang mengikutinya) tidak di posisi prioritas.

4# Apa yang ingin diteliti dengan fokus antimaterialisme?

Bagiku, antimaterialisme itu masih misteri.

Pertama, ia bukan sekedar antitesis dari materialisme. Jika ia adalah antitesis materialisme, maka seharusnya aku meneliti tentang spiritualisme atau asketisme/ kezahidan, atau dunia paranormal saja! Antimaterialisme adalah materialisme dengan catatan: Ya, kau manusia. Sebagian besar kebutuhan hidupmu bersifat material sehingga hidup yang materialistis tentu tak terhindarkan. Tetapi… Yang material itu bukan yang utama. Yang utama adalah …. Nah, titik-titik itulah yang ingin kueksplorasi apa sajakah ia.

Kedua, ia juga bukan sekedar negasi dari materialisme. Orang yang antimaterialis itu bukan berarti dia tidak materialistis. Ada dinamika yang membuat nilai dan aspirasi materialistisnya tidak di posisi utama, tetapi tetap berperan dalam kehidupannya. Bagaimana ceritanya dia bisa tidak menjadikan uang dan barang sebagai pusat kehidupannya, tujuan hidupnya, dan standar kesuksesannya? Bagaimana ceritanya dia bisa memaknai uang dan barang sedemikian rupa sehingga tidak menjadi yang utama? Bagaimana ceritanya dia bisa lebih memilih mengutamakan hal-hal lain di luar uang dan barang? Jawaban atas tiga pertanyaan itulah yang ingin kuketahui.

Ketiga, kecenderungan pada materialisme dan antimaterialisme pikirku disebabkan oleh anteseden-anteseden yang berbeda, juga menghasilkan konsekuensi yang berbeda-beda pula. Jika orientasi materialistis disebabkan oleh harga diri yang rendah sehingga butuh barang untuk meningkatkannya, rasa takut mati dan rasa tidak aman sehingga butuh barang untuk perlindungan, pengasuhan dalam keluarga yang tidak baik dan sangat menekankan materi, rendahnya religiositas dan kebersyukuran, dan sebagainya, maka apakah orientasi antimaterialistis disebabkan oleh kebalikannya? Jika orientasi materialistis menyebabkan sejumlah masalah lingkungan, psikologi, sosial, ekonomi, dan pendidikan, maka apakah orientasi antimaterialistis menyebabkan yang sebaliknya? Itulah yang membuatku ingin tahu seperti apa profil orang-orang yang antimaterialis. Seperti apa kehidupan mereka? Bagaimana mereka menjalani kehidupan?

5# Apa hubungan ini dengan psikologi pendidikan?

Hubungannya tidak langsung, memang. Dari kota “filsafat”, harus melewati kota “psikologi sosial”, baru sampai ke “psikologi pendidikan”. Tidak bisa dipungkiri persoalan nilai, sikap dan perilaku individu ada di bawah kewenangan pembahasan psikologi sosial. Bagaimana aktualisasi dan dampaknya dalam kehidupan, salah satunya tentu di dunia pendidikan.

Kita sama-sama tahu bagaimana dunia pendidikan disetir oleh orientasi yang materialistis, bukan? Guru-guru yang bekerja bukan untuk mendidik, tetapi sekedar cari uang. Sekolah-sekolah yang dijalankan dengan politik uang, pungutan di mana-mana untuk memenuhi kantong-kantong oknum, sogok-menyogok untuk nilai dan kelulusan. Siswa-siswa yang pergi sekolah bukan untuk menuntut ilmu dan mengembangkan diri, tetapi sekedar dapat ijazah untuk dipakai bekerja cari uang.

Kita sama-sama tahu bagaimana anak-anak remaja berlomba-lomba dalam berhias dan punya barang-barang bagus. Apa kabar sekolahnya? Makanya ada penelitian bagus, To Have or To Learn? The Effects of Materialism on British and Chinese Children’s Learning (Kuu, Dittmar, & Banerjee, in press), dan hasilnya cukup membuat berpikir. Orientasi materialistis pada siswa sekolah dasar menyebabkan rendahnya motivasi belajar intrinsik mereka, dan itu menyebabkan rendahnya prestasi belajar. Ada pula penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa orientasi materialistis membuat anak tidak suka menabung dan lebih suka berbelanja.

Karena itu, dengan tahu antimaterialisme, harapanku adalah bisa membantu anak-anak untuk belajar lebih baik dan memiliki masa depan yang baik.

6# Apakah penelitian antimaterialisme ini mendesak dan aplikatif?

Seorang temanku bertanya begitu. Ingin kujawab di sini: bolehlah pikirkan jawabannya sendiri setelah membaca semua yang di atas itu.🙂

***

SEMANGAT MENGERJAKAN TESIS!!!😀😀😀

 

antimaterialism 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s