Aku Berhenti Ingin Mengubah Dunia

Aku berhenti ingin mengubah dunia. Karena itu impian yang membuatku malu.

Pertama, jika keinginan mengubah dunia disebabkan karena dunia kukeluhkan sebagai tempat yang tidak sesuai dengan keinginan diri saja, maka keinginan itu sesungguhnya hanya cermin keegoisan.

Kedua, keinginan itu tidak sejalan dengan logika perubahan, bahwa tak ada perubahan besar kecuali dimulai dari yang paling sederhana, yaitu keadaan diri sendiri. Maka, keinginan macam mengubah dunia sungguh hanyalah cermin kesombongan.

Ketiga, mau diupayakan macam apapun, dunia tidak akan berubah. Dunia tak mau diubah oleh siapapun kecuali Tuhan. Tuhan sudah menetapkan dunia ini panggung sandiwara, tempat bersenang-senang, berisi perhiasan, melenakan, dan sebagainya. Jadi, itulah tugasnya untuk berisikan ujian demi ujian, masalah, musibah, dan cobaan bagi manusia. Berusaha mengubah dunia hanya menegaskan kebodohan, bukan?

Keempat, Tuhan tidak memerintahkan manusia untuk mengubah dunia. Manusia hanya diperintahkan untuk menjadi pemakmur bumi dengan apapun yang ia miliki dan mampu, dan menyembah-Nya dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Selesai. Tidak perlu merepotkan diri lebih jauh dengan keinginan-keinginan di luar itu. Manusia hanya dimintai pertanggungan jawab atas dirinya, tidak atas dunia. Jadi, mengapa mengurusi dunia?

Kelima, usia ini tidak panjang. Aku pribadi jadi tidak ambisius lagi. Aku ingin mencapai kebahagiaan-kebahagiaan yang “mungkin”. Jika harga mengubah dunia adalah kebahagiaan-kebahagiaan yang kecil tetapi banyak itu, maka aku menolaknya.

***

Aku lupa. Apakah masa remajaku kuhabiskan merindukan dunia yang lebih baik? Rasanya tidak. Aku menghabiskan masa remajaku dengan gemas akan kehidupanku sendiri yang sulit. Aku tak begitu cerdas, makanya ketidakcerdasan itu membuatku mati-matian fokus pada kehidupan akademikku. Tidak ada sumber daya lagi untuk memikirkan apakah dunia akan hancur, siapa yang akan berjaya, siapa yang akan dikalahkan, bagaimana strateginya… Doaku kepada Allah bukan “Ya Allah, jayakan umat Islam, kalahkan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya”, melainkan “Ya Allah, semoga nilai-nilaiku baik, biar aku tidak dimarahi ibu lagi…”

Apakah masa mahasiswaku kuhabiskan merindukan dunia yang lebih baik? Aku tahu pasti, tidak. Aku menghabiskan masa itu dengan gemas akan ketidaksinkronan antara yang ideal dan yang riil, antara yang teoretis dan yang praktik dalam fenomena… Karena kuliah, jelas intelektualitasku melejit. Kali ini bukan karena tak ada sumber daya untuk memikirkan dunia, tetapi aku membatasi diri bahwa tak semua hal perlu dan pantas untuk dipikirkan. Apalagi setelah tahu banyak masalah-masalah semacam itu rupanya dibuat-buat saja, mana mau aku menyerahkan leherku untuk dipenggal oleh keadaan dan orang-orang?

Mimpi akan dunia yang lebih baik berangkat dari asumsi bahwa dunia hari ini begitu buruk. Aku buka mataku dan mendapati bahwa dunia hari ini tidak buruk-buruk sekali. Belajar dari sejarah, setiap masa punya sisi baik dan buruknya. Maka, bagaimana bisa aku menyimpulkan bahwa keburukan di masa ini lebih berat daripada keburukan di masa lalu? Bagaimana bisa kita menimbang dan membandingkan “rasa” penderitaan dari masa ke masa? Apapun kejadiannya, penderitaan adalah penderitaan, rasanya menderita adalah itu. Apapun kejadiannya, kebahagiaan adalah kebahagiaan, rasanya bahagia adalah itu. Di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dirasakan sama.

Jadi, bagiku mimpi ingin mengubah dunia itu aneh dan tak berdasar.

***

Sekarang ini, keinginanku adalah memperbaiki keadaan, setelah aku tahu rasanya, beratnya perjuangan, memperbaiki diri sendiri.

7 thoughts on “Aku Berhenti Ingin Mengubah Dunia

  1. “Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihimm (ayat)” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga ia mengubah dirinya sendiri (bisa jadi tafsirnya, pola pikir), dari diri sendiri untuk mengindpirasi sebanyak2nya orang maka apa yang akan terjadi?

  2. Innallaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim (ayat)….”Seungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga ia mengubah dirinya sendiri (bisa jadi, pola pikir)”, ada suatu usaha manusia, dan manusia bukan wayang (tak seperti aliran Jabariyah)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s