Pendidikan Perdamaian

Sebagai mahasiswa psikologi dengan minat utama psikologi pendidikan, aku selalu merasa ada yang kurang dengan pendidikan pascasarjana yang tengah kutempuh: ilmu yang kupelajari tidak terhubungan dengan dunia pendidikan. Mungkin akan ada yang berkata, “Mengapa tidak berinisiatif sendiri mengunjungi sekolah-sekolah atau apa?” Jawabku, “Tidak bisa.” Akan sangat baik jika ini bisa terintegrasikan dalam perkuliahan resmi. Rasanya akan menarik sekali jika bisa membedah kurikulum nasional, memahami aspek psikologisnya, atau studi kasus permasalahan-permasalahan pendidikan yang aktual, memahami sisi sosial dari dunia pendidikan, seperti kehidupan siswa, kehidupan guru, memahami manajemen kelas dan sekolah, dan menjelajahi isu-isu persoalan bangsa dan negara yang aktual semacam penerapan-penerapan metode pengajaran tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih besar, di atas tujuan peningkatan prestasi akademik individual semata.

Minat keduaku di bidang psikologi sosial memberiku berbagai wawasan tentang bagaimana psikologi pendidikan dapat dikembangkan. Orang-orang yang belajar adalah makhluk sosial, sehingga tentu saja teori-teori psikologi sosial akan banyak berperan dalam memahami sebagian wajah dunia pendidikan. Kegiatan belajar-mengajar, sekalipun lebih populer itu dibahas dari perspektif neurosains, teori-teori belajar, psikologi kognitif, teori motivasi, dan teori-teori behaviorisme, pada dasarnya itu adalah perilaku sosial. Jika itu diteliti lagi, akan berkembang pemahaman misalnya bagaimana kepribadian guru dan murid saling berpengaruh, apa peran stereotipe, bias, dan prasangka di ruang kelas, bagaimana peran komunikasi interpersonal antara guru dan murid, dan sebagainya. Dan satu lagi, satu hal yang baru saja aku tahu bahwa ia ada: Pendidikan Perdamaian.

Sekolah memang institusi pendidikan, tetapi ia juga adalah institusi sosial. Karena itu, tujuan keberadaannya tentu tidak hanya berkenaan dengan tujuan-tujuan pendidikan “mencerdaskan kehidupan bangsa”, tetapi juga tujuan-tujuan sosial “menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur”. Orang disekolahkan bukan hanya agar ia menjadi orang yang pandai, tetapi juga agar mampu hidup dengan baik bersama orang lain. Karena itulah, di sekolah tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan yang memuaskan kognisi, tetapi juga agama, moral, dan tata krama pergaulan sosial. Sekolah benar-benar memiliki fungsi sosial yang besar.

Salah satu peran sekolah yang penting adalah terkait upaya mitigasi dan penyelesaian konflik sosial, dalam rangka membangun consensual peace atau perdamaian konsensual dan memelihara perdamaian itu sepanjang masa. Dalam situasi konflik atau dalam rangka mencegah terjadinya konflik, sekolah dapat menjadi tempat untuk mengajarkan siswa kompetensi-kompetensi dan nilai-nilai yang diperlukan untuk membangun dan memelihara perdamaian. Salah satu metodenya, yang dekat sekali dengan konsep dalam psikologi pendidikan, adalah dengan metode belajar kooperatif. Namun, pendidikan perdamaian tidak hanya dicapai melalui itu saja. Terdapat sejumlah komponen esensial pendidikan perdamaian lainnya.

1# Perdamaian Konsensual

Sebelum membahas komponen-komponen esensial pendidikan perdamaian, ada baiknya kita mengerti dua cara membangun perdamaian, yaitu: 1) imposed peace atau perdamaian yang dipaksakan dan 2) consensual peace atau perdamaian berdasarkan kesepakatan atau konsensus. Perbedaanny adalah sebagai berikut:

Pertama, imposed peace. Perdamaian ini didasarkan pada dominasi, kekuatan, pewajiban (imposition), dan pemaksaan (enforcement). Kelompok-kelompok yang kuat mengunakan kekuatan militer dan ekonominya untuk memaksa kelompok-kelompok yang lemah untuk menghentikan permusuhan dan menjalankan perjanjian damai. Cara memaksakan perdamaian ada dua, yaitu dengan mengandalkan kekuatan pihak ketiga seperti NATO, PBB, dan aliansi internasional lainnya atau mengandalkan kekuatan pihak yang menang perang. Meskipun perdamaian ini menekan konflik, ia tidak menyelesaikan akar pemasalahannya sehingga dengan cara ini perdamaian jangka panjang sulit terpelihara.

Kedua, consensual peace. Perdamaian ini didasarkan pada pencapaian kesepakatan yang a) menghentikan kekerasan dan permusuhan dan b) membangun suatu hubungan yang baru berdasarkan interaksi yang harmonis yang bertujuan mencapai tujuan-tujuan yang mutual, mendistribusikan kemanfaatan secara adil, tergantung pada sumber daya satu sama lain secara mutual, dan membangun satu identitas yang mutual. Perdamaian konsensual memiliki dua level, yaitu penciptaan perdamaian/ peacemaking dan pembangunan perdamaian/ peacebuilding. Pada level pertama, kedua belah pihak melakukan negosiasi gencatan senjata dan menginisiasi kesepakatan untuk menyelesaikan konflik di masa depan. Pada level kedua, institusi ekonomi, politik, dan pendidikan digunakan untuk menciptakan perdamaian jangka panjang.

Di sinilah peran penting pendidikan atau sekolah. Pendidikan perdamaian adalah salah satu jalan untuk menginstitusionalisasikan perdamaian konsensual.

2# Membangun Perdamaian Konsensual lewat Pendidikan

Langkah 1: Membangun Pendidikan/ Sekolah Umum

Anak-anak harus sekolah agar pendidikan perdamaian sampai pada mereka. Untuk itu, dibutuhkan sistem pendidikan nasional yang mencakup pendidikan bagi semua anak, bukan segelintir orang saja. Sekolah swasta tidak selamanya bagus jika itu tidak sejalan dengan sistem pendidikan nasional dan justru mengusung kepentingan kelompok tertentu, misalnya kelompok agama. Terkadang, sekolah swasta yang demikian mengeksploitasi idealisme dan komitmen anak-anak dan remaja, mengajarkan keyakinan-keyakinan yang bias, berprasangka pada kelompok lain, dan sebagainya. Akibatnya, bukannya persahabatan, sekolah justru mengajarkan permusuhan.

Pendidikan dibutuhkan untuk pembangunan kembali kehidupan sosial yang normal pasca konflik. Sekolah adalah tempat yang potensial untuk mengintegrasikan anak-anak dan pemuda untuk sama-sama berpartisipasi dalam kehidupan, bukannya justru mensegregasi mereka. Perdamaian menjadi rapuh dalam masyarakat yang tersegregasi. Sekolah adalah tempat untuk mengajarkan anak-anak bagaimana menyatu dan saling berkenalan dalam keragaman budaya dan latar belakang, bekerja sama demi tujuan bersama, dan berinteraksi.

Langkah 2: Membangun Mutualitas

Selain membangun mutualias dengan cara membuat orang-orang memiliki tujuan bersama, identitas bersama, dan memperoleh kemanfaatan secara adil, pedagogi dapat digunakan untuk membangun komunitas yang kooperatif. Cara termudah adalah dengan menggunakan belajar kooperatif. Dalam belajar kooperatif, anak tidak cuma belajar, tetapi juga menjalin interaksi sosial yang jujur dan bebas (candid). Di situ mereka menjalin relasi sosial dan mendapatkan dukungan emosional.

Langkah 3: Mengajarkan Siswa Cara Membuat Keputusan yang Sulit

Pendidikan perdamaian meliputi: 1) belajar menghadapi masalah-masalah sulit yang harus didiskusikan, 2) membangun prosedur yang disepakati semua untuk digunakan dalam diskusi, 3) melatih siswa bagaimana menggunakan prosedur berdiskusi tersebut, dan 4) menjadikan prosedur berdiskusi itu bagian dari kehidupan dan kebiasaan.

Langkah 4: Mengajarkan Siswa Cara Menyelesaikan Konflik secara Konstruktif

Konflik tidak sebaiknya diselesaikan dengan kekerasan. Konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan dan secara konstruktif. Di sekolah, anak dapat belajar bagaimana menggunakan bahasa yang baik untuk berbicara, belajar caranya bernegosiasi, melakukan mediasi, dan bekerja sama dalam menghadapi masalah kehidupan mereka.

Langkah 5: Menanamkan Nilai-nilai Kemasyarakatan

Perdamaian konsensual terpelihara lewat penerapan nilai-nilai kemasyarakatan. Perdamaian bertahan karena kebajikan orang-orang dan kebajikan tergambarkan dari cara individu-individu dan kelompok menyeimbangkan kebutuhan mereka sendiri dan kebutuhan masyarakat sebagai satu keseluruhan. Motivasi untuk berbuat kebajikan dimunculkan dari rasa memiliki, kepedulian, dan ikatan moral pada komunitas. Nilai-nilai kemasyarakatan yang baik (seperti tanggung jawab, menghormati, empati, kasih sayang, persaudaraan, persamaan, penghargaan atas keragaman, suka berbagi) perlu ditanamkan, medianya lewat pembelajaran di sekolah.

 

Referensi

Johnson, D. W. & Johnson, R. T. (2005). Essential Components of Peace Education. Theory into Practice. Vol 44, No. 4, Peace Education, h. 280-292.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s