Kiat Mengatasi Terorisme dari Sudut Pandang Psikologi

… teroris bukanlah orang yang gila atau tidak normal; (melainkan) mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa membunuh musuh mereka adalah dibenarkan. Mereka dipandu oleh ideologi kebencian. … Ideologi mereka sangat kuat sehingga menyingkirkan larangan moral tradisional untuk membunuh. Teroris menyerang image musuh mereka yang mereka proyeksikan pada orang sipil tak bersalah.

… walaupun teroris tidak gila, mereka mengalami distorsi kognitif, sebagaimana orang-orang lain yang menggunakan kekerasan. Distorsi-distorsi yang ada dapat terletak dalam diri individu maupun keseluruhan kelompok. Distorsi-distorsi tersebut meliputi:

1. Over-generalization – anggapan bahwa kesalahan musuh menyebar ke seluruh populasi

2. Berpikir dikotomis – orang lain dipandang sebagai sama sekali buruk atau sama sekali baik

3. Tunnel vision – pikiran dan perilaku mereka menjadi secara eksklusif terfokus pada penghancuran musuh, tidak peduli nyawa orang yang mereka bunuh.

 

Kiat mengatasi terorisme dari sudut pandang psikologi:
1. Ketahuilah bahwa teroris-teroris itu adalah normal. Mereka bukan penderita psikopatologi dan sadar akan apa yang dilakukan oleh diri mereka.
2. Penyebab dari terorisme perlu difokuskan – mengapa orang-orang normal ini menjadi teroris? Tidak ada orang yang pagi-pagi bangun tidur langsung memutuskan untuk melakukan pengeboman di siang harinya. Ada proses.
3. Bicarakan bersama dan selesaikan keluhan-keluhan yang dimilikikelompok-kelompok yang merasa tidak puas (atas keadaan).
4. Pastikan aparat keamanan dibatasi dalam penggunaan kekerasan ketika menghadapi kelompok tersebut. Aksi militer dan semacamnya bukanlah pencegah terorisme yang baik.
5. Buat kebijakan-kebijakan yang efektif berdasarkan suatu pemahaman yang baik. Membiarkan keyakinan seperti semua teroris itu gila atau jahat menyebar di masyarakat akan menutup jalan menuju perdamaian. Aksi terorisme perlu dipahami secara objektif, tidak dikeruhkan oleh berbagai bias dan prasangka.
6. Dirikan lembaga yang bisa memberikan penerangan kepada masyarakat tentang bagaimana memahami, mencegah, dan mengatasi terorisme. Ini penting dalam rangka mengurangi ketidaktahuan, kesalahpahaman, dan prasangka.

Sumber:

Costin, A. (2006). Terrorist threats. Dalam H. H. Blumberg, A. P. Hare, & A. Costin. Peace Psychology: A Comprehensive Introduction. Cambridge: Cambridge University Press, h. 213-233.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s