Riset Mini Respon Masyarakat terhadap Berita Menteri Susi Merokok

Berawal dari membaca komentar seseorang di Facebook tentang bagaimana dirinya berharap pemerintahan Jokowi-JK (2014-2019) ini cepat berlalu dan berganti dengan pemerintahan yang lebih baik dan lebih bermoral. Sebabnya adalah dia membaca berita tentang Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, yang dikabarkan tertangkap media merokok pasca pengumuman kabinet pemerintahan Jokowi-JK pada 26 Oktober 2014 lalu. Komentarnya: “Pemimpin adl cerminan rakyatnya. Kalo rakyatnya macam saya, yo panteslah presiden e beliau.. Mentri ne ada yg ga tamat sma, merokok, bertato, dll..” (Pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Kalau rakyatnya macam saya, ya pantaslah presidennya beliau [maksudnya Jokowi]. Menterinya ada yang tidak tamat SMA, merokok, bertato, dan lain-lain.) Itulah kesan salah satu kesan anggota masyarakat atas pemberitaan di media.

Saya kemarin termasuk yang menyaksikan peristiwa pengumuman tersebut di liputan langsung televisi, namun tidak melihat adanya kejadian tersebut. Berita ini eksklusif disebarkan oleh situs-situs berita online tertentu, dan sejauh yang saya catat sampai hari ini 27 Oktober 2014 pukul 16.15, berita tersebut dimuat dan dibahas di Republika Online, PKS Piyungan (situs resmi Partai Keadilan Sejahtera), Tribunnews Makassar, dan beberapa situs lainnya, seperti Fimadani.com. Ini juga dibahas di Twitter, Kaskus, dan Facebook.

Merokok sudah diketahui luas adalah perilaku yang tidak sehat. Kementerian Kesehatan gencar sekali mengkampanyekan antirokok, sehingga keberadaan menteri yang merokok di muka publik adalah suatu yang ironis. Di budaya Indonesia, wanita yang merokok dikenai stereotipe bukan wanita “baik-baik”. Pada kasus ibu menteri ini, beliau yang kedapatan merokok menjadi masalah serius lantaran selain masalah “hukum merokok” oleh Kementerian Kesehatan dan norma dan budaya masyarakat Indonesa tentang perempuan yang baik, beliau adalah menteri/ pejabat publik. Sebagai seorang pemimpin, ia punya tanggung jawab memberikan teladan yang baik kepada masyarakat, terutama generasi muda. Dengan perspektif ini, ketidaksukaan sebagian masyarakat pada perilaku beliau dapat dipahami.

Namun, satu hal yang perlu dicatat: berita yang disebarkan tersebut tidak (atau untuk saat ini belum) memenuhi satu unsur kebenaran, yaitu adanya bukti yang menunjukkan bahwa beliau benar-benar merokok. Tidak ada foto wartawan di Istana Negara hari itu di artikel berita tersebut, maupun rekaman video audio-visual kamera televisi. Ini menimbulkan pertanyaan bahwa bisa jadi kabar tersebut bohong dan disebarkan sebagai fitnah belaka. Adanya kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan tentang seperti apakah respon masyarakat atas berita yang sebetulnya masih dapat diragukan dan perlu pengecekan ini.

Karena itu, saya berinisiatif melakukan penelitian kecil-kecilan dengan tujuan mendaftar jenis-jenis komentar masyarakat terhadap berita negatif ini. Terlepas apakah berita itu memang benar atau tidak, penelitian kecil ini saya pandang memiliki manfaat yang cukup besar untuk mengetahui gaya atau cara bicara masyarakat Indonesia di internet terhadap berita yang negatif. Dalam psikologi, cara bicara mengindikasikan level perkembangan moral dan kemampuan menalar, keterampilan sosial, dan kecerdasan emosional.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Saya mencermati komentar-komentar pembaca berita “Usai Pengumuman Kabinet Jokowi, Menteri Ini Merokok” di Fimadani.com yang disebatkan di laman Facebook-nya. Komentar tersebut dibuat oleh sekitar 78 orang pembaca (pengguna Facebook) sampai pukul 16.00 WIB. Analisis data dilakukan dengan mencermati isi komentar dan mencatat inti atau maksudnya. Saya kemudian melakukan kategorisasi atas makna-makna tersebut, sehingga diperoleh sejumlah tema.

***

Tema-tema ini adalah hasil penelitian saya.

Pertama, umpatan dan hinaan pada yang bersangkutan. Beberapa ekspresi pembaca adalah:

“Wanita b******* di angkat jd mentri…”

“satu kata ‘K*****’ “Parrraaàaaaaaaaaaahhhhhhhhh.# ngga sesuai adat ketimuran cew ngerokok”

“satu kata buat simenteri : K*****”

“Menteri kelautan dan perikanan bkn menteri pasar ikan…”

Kedua, menyalahkan otoritas di atasnya. Beberapa ekspresi pembaca adalah:

“jangan ngisap rokok aja bu…klo perlu ganja diisap tu biar cepeeet…. menteri jokowi payah sama ky bosnya”

“Ini hasil revolusi mental dari bpk jokowi..”

“bayang kan jika jokowo boleh pilihkabinetnya wanita perokok.
pasti bauk mulut nya busuk busuk dan busuk”

” kasian bingit jokowi”

“mau jadi apa ni indonesia,,,menteri nya aja begitu,,,!!presiden nya bisa nya ngelawak trus,,,,!!”

“Kacau menteri seorg wanita merokok dlm lingkungan istana lg, jokowi salah pilih atau atas rekomendasi siapa wanita ini ?”

Ketiga, generalisasi masalah individu ke seluruh kabinet.

“kabinet tidak punya sopan santun,tidak ber’Etika baik,amburaduldeh semua yg d’istana maluin indonesia aja,,,orang yg aturan nnyontohin malah buruk bagi rakyat.”

“Kabinet ‘musibah’ indonesia”

“REVOLUSI MENTAL telah di tabuh genderangnya oleh jokowi dan jajaranya…”

Keempat, Sinisme terhadap visi/misi, program kerja presiden.

“inilah refolusi mental”

” Itu namanya revolusi mental ‘merokok sehabis pembentukan kabinet’.”

“Revolusi mental…hahahaha..baru aja menghadiri pelantikan aja bilang capek…apalagi mikir negara.”

“Ini hasil revolusi mental dari bpk jokowi..”

“Ya namanya juga revolusi mental, siapa suruh dipilih”

Kelima, mengaitkan dengan isu moral.

“emang ga ada wanita berprestasi lainnya yang lebih pantas dijadikan suri tauladan….”

“menteri krisis moral”

“tidak punya sopan santun”

“Rakyat merokok ja ada aturan merokokny ….ini se level mentri harusny lebih faham UU merokok ttg aturan merokok di ruang publik….”

“ora ilok”

“wew, pantaskah?”

“merokoknya itu menjadi preseden buruk terutama bagi anak2”

“Ngga banget…..smoga bisa berubah”

“Dia aja g peduli sama kesehatannya, apalagi kesehatan negara ini, nah loh”

“Merokok atau tidak. Itu hak anda para perokok. Tapi lihatlah siapa anda. Jika anda adalah org biasa silahkan, bahkan di kolong jembatan pun tidak ad yg meliput. Tapi yg 1ini adalah menteri. Apa jadinya jika istri, adik perempuan, atau anak anda tiba2 menjadikan ini sebagai pembenaran utk Merokok . Sebaiknya kecerdasan dibarengi dgn attitude. Apa jika ada menteri yg ketauan wawancara sambil minum2, atau sambil dugem kalian masih terima? Tidak ada komen sara disini.”

Keenam, fitnah dan prasangka.

“weleh weleeeeh…. cabe”an…”

“wesss rapopo mas2,mbak2 wong dia itu investor utama pilpres kemaren”

“kerja, kerja, n kerja….. klo dah kaya jadi donatur, biar gk sekolah dapat deh jatah ….. hehe…. insyaAllah …..”

“Istana disamakan dengan TPI saja saat lelang ikan sambil ber asap.mulutnya…”

“Bos tato air katanya bersuami 3 satu lokal dua import salah satunya diplomat Prancis&satu-satunya berpendidikan smp”

” Nggak bisa nahan diri atau mungkin juga dia anggap enteng semua. karena dia ga ngemis utk jadi menteri.”

“Mungkin dia lelah.. ‘Berpura-pura’ ”

“Banyk yg protes krn org membahas dia Lulusan SMP. Merokok ktk wawancara..Sekalipun itu hak. Hanya krn itu Bisa belum tentu itu Tepat. Kalo mau status pndidikannya tdk dibahas, sbaiknya beliau mulai mengurangi sikap yg bikin pendidikannya dibahas. dan mulai bersikap menteri.”

“mau nunjuin semangat kerja,,,,kerja ,,,,kabinet joko, aman ntar lagi cerutu columbia,,,masuk Indonesia’!”

Ketujuh, toleransi.

“Bebas ga masalah, suka suka dia, asal ga ngrokok di pom bensin aja deh.”

“emang kalo menteri gak boleh ngerokok ya?
pake otaknya dah, ada undang2 gak boleh ngerokok?”

“Sebenr’a menteri” yg lain ga pernah merokok didepan awak media, walaupun ia perokok berat..”

“Kbiasaan buruuk.. *komenter* haha
Drpda yg g ngerOKok tp ngeRAMPok uang rakyat?? Gue sih mending ini, apa adanya.. Lanjutkan buk..”

“drpd jaim…nnti ketahuan malah dihujat.mnding apa adanya yg pnting sukses krjanya…style”

“yang anda inginkan penampilan keren tapi ngapusi atau kerja yang baik utk rakyat….jangan terkecoh dengan penampilan doang…kita tunggu saja hasil kerjanya ..bagus utk rakyat atau tidak…..???? anda masih suka terkecoh oleh penampilan …?”

Kedelapan, membela.

“cuma ngerokok aja heboh, *ngakak
dan ada pula maki2 dia gara2 gak tamat SMA
please baca ini kalo gak tau dia siapa
http://m.kompasiana.com/…/tak-tamat-sma-wanita-ini-jadi
*ngakak
gak tau sok sok udah tau”

“Terus kalao kalian yang jd menteri,apa bisa jd sempurna sekali? Menteri itu awalnya sama seperti kita,banyak kurangnya…kalo kalian hanya fokus pada satu titik hitam di whiteboard,kalian nggak akan perna liat warna putih diwhiteboard itu.. ayolah jangan taunya mengkritik,memberi coba !!!”

Kesembilan, sikap kritis.

“Ada bukti foto?”

“hubunganya REVOLUSI MENTAL ama ROKOK apa emang hah? wakakakakakakakakak”

Saya menyimpulkan bahwa setidaknya, isi komentar orang-orang yang membaca berita di situs Islam terkait isu “menteri perempuan merokok” dapat dibagi menjadi empat jenis:

1) Penyerang. Menyerang  diungkapkan lewat: a) Umpatan dan hinaan pada yang bersangkutan, b) Menyalahkan otoritas di atasnya (presiden), c) Generalisasi masalah individu ke seluruh kelompok (kabinet), d) Sinisme terhadap visi/misi, program kerja pemerintahan, dan e) Fitnah dan prasangka. Ini respon mayoritas orang.

2) Moralis. Mengangkat isu moral dan etika pejabat negara. Ini juga respon mayoritas orang.

3) Pembela. Bersikap netral cenderung membela, ditunjukkan dengan a) toleransi pada perilaku yang salah dengan harapan ada kompensasi berupa prestasi kerja dan b) balik menyalahkan orang-orang yang menyerang. Ini respon minoritas orang.

4) Rasional. Bersikap kritis, menggunakan rasio dan logika, dan menahan pendapat sebelum ada penjelasan, terlihat dari pertanyaan “apa buktinya” (foto/ rekaman) yang menunjukkan perilaku yang dicap salah tersebut dan “apa hubungannya” antara perilaku individu dengan perilaku kelompoknya, apa benar patut generalisasi masalah individu pada orang lain di sekitarnya dan kelompoknya? Ini respon yang sangat jarang.

***

Pemahaman saya atas hasil tersebut adalah begini:

Pertama, masyarakat punya konsep bersama tentang seperti apakah pemimpin atau pejabat yang baik itu. Tidak cukup hanya bersih dari korupsi, tetapi juga bersih dari hal-hal yang menurut normal sosial dan budaya buruk dan mengundang stereotipe negatif, seperti: wanita merokok, wanita bertato, dan sebagainya. Masyarakat menghubungkan isu menteri merokok ini dengan moralitas dan keteladanan, menunjukkan bahwa bagi masyarakat, “bermoral” (minimal menurut perspektif mereka tentang apa yang baik, benar, dan bagus) adalah kualitas penting dan esensial dalam kepemimpinan. Masyarakat ingin pemimpin yang mengagumkan, tidak hanya bersih dari korupsi dan bisa bekerja atau berprestasi, tetapi di atas itu juga bermoral dan bisa diteladani. Inilah dimensi kepemimpinan yang sering terabaikan, tetapi secara tak disadari adalah yang sangat dibutuhkan dan diekspektasikan oleh masyarakat.

Kedua, kekecewaan masyarakat dapat dipahami dan dibenarkan. Tetapi itu hanya dari satu sudut pandang, yaitu sudut pandang masyarakat yang ingin punya pemimpin ideal dan sangat terpaku dan menjunjung tinggi norma dan moral. Ada sebagian masyarakat yang tidak mempermasalahkan itu karena menakar masalah tersebut dengan standar yang berbeda. Mereka tidak mempersoalkan individual si menteri yang jelas punya hak untuk hidup dengan cara yang dia suka. Mereka fokus pada fungsi menteri yang sesungguhnya sebagai pejabat pemerintahan, yaitu mampu bekerja dan mengadakan perubahan positif di bidang yang diurusnya. Tak peduli siapa, apa latar belakangnya, bagaimana penampilannya, dan sebagainya, yang penting amanah atas tanggung jawabnya. Orang-orang yang demikian akan benar-benar marah jika nanti si menteri ternyata tidak becus bekerja, korup, dan gagal mencapai yang dijanjikan.

Ketiga, masyarakat yang secara kolektif membentuk satu kelompok sosial bernama “rakyat” rupanya dapat bersikap sangat “kejam”. Itu terlihat dari isi banyak komentar yang makin lama makin meninggalkan substansi permasalahan yang sebenarnya. “Rakyat” ini punya kecenderungan pada mencari-cari kesalahan untuk memuaskan rasa ingin tahu atas pertanyaan “mengapa ini bisa terjadi”, ketimbang mencari jawabannya yang sesungguhnya.

Masalah ini sebetulnya adalah dan hanyalah masalah individual seorang menteri yang mungkin sedang agak ceroboh di tempat umum. Namun, masalah ini kemudian menjadi besar, ketika media menggunakan fakta ini untuk menggiring opini publik tentang pemerintahan yang baru. Rakyat tidak cukup menghujat si menteri, mereka juga menyalahkan presiden yang memilih orang semacam ini (tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya proses seleksi dan pemilihan dan alasan lengkap terpilihnya), membenci seluruh kabinet (seakan-akan semua menteri sama tidak bermoralnya dengan satu menteri yang bermasalah tersebut), dan menyindir misi utama pemerintahan saat ini, yaitu “revolusi mental” (bahwa masalah ini adalah bukti gagalnya revolusi mental). Perkembangan itu jelas merupakan kesimpulan yang terburu-buru dan lebih mencerminkan ekspresi emosional, ketimbang rasional.

Pada kasus tertentu, ini bahkan berkembang ke arah fitnah dan prasangka tak berdasar. Ada pihak yang kemudian berinisiatif menggali informasi “identitas sebenarnya” si menteri dan melemparkan cerita itu ke masyarakat. Karena itu bersamaan dengan berita ini, muncul pula berita tentang masa lalu si menteri, foto-fotonya, gaya hidupnya, dan sebagainya. Itu menjadi bumbu penyedap bagi masyarakat yang gemar menyantap berita-berita kontroversial. Itu satu potret kehidupan sosial.

***

Menarik sekali membahas fenomena sosial ini. Meskipun penelitian ini hanyalah satu hasil pengamatan sederhana, saya berharap manfaatnya tetap ada. Tentu bagi para mahasiswa yang ingin melakukan penelitian sosial atau politik, topik ini dapat dikembangkan lebih jauh. Bagi saya, pemahaman kali ini memunculkan berbagai hipotesis baru: Apakah akan ada perbedaan reaksi masyarakat jika berita ini dimuat di media massa elektronik nasional yang tidak berafiliasi pada kelompok agama tertentu? Apakah akan ada perbedaan reaksi masyarakat jika konten berita diubah menjadi lebih positif (misal dengan imbang sama banyaknya memberitakan prestasi-prestasi si menteri)? Apakah akan ada perbedaan reaksi masyarakat jika sebelum membaca, masyarakat diberikan petunjuk untuk membaca dengan kritis, mengutamakan prasangka baik, diingatkan dengan dalil agama akan larangan memfitnah dan berkata kotor, dan diberikan tujuan untuk memberikan saran kepada pemerintahan dan presiden baru? Jadi, siapa yang hendak melanjutkan?🙂

Bagi pemerintah, tentu hasil semacam ini bukan hal baru. Nila setitik rusak susu sebelanga. Pemerintah haruslah lebih berhati-hati. Meskipun citra positif bukan segala-galanya dan sebaiknya pemerintah tidak tersandera tujuan-tujuan pencitraan belaka, citra positif penting untuk memelihara kepercayaan dan dukungan masyarakat kepada pemerintah. Ada baiknya jika presiden segera memperingatkan menterinya agar menjaga perilaku di tempat umum. Di tangan orang tertentu, sedikit keteledoran dapat diubah jadi masalah besar dan semakin besar.

Bagi media terutama yang membawa nama Islam (aah… andai ada adminnya yang membaca ini), sebaiknya agar jangan cuma bisa memberikan berita. Ajarilah juga pembaca untuk mengutamakan tabayyun, berprasangka baik, dan belajar melakukan cek dan cek kembali sebelum berpendapat. Stimulus dari media dapat sangat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar di masyarakat pembaca. Kalau pembaca jadi berkata-kata buruk seperti di atas, media (para jurnalis) punya tanggung jawab moral untuk memperbaiki itu. Dan, jelek sekali jika situs berita Islam isinya orang-orang yang melanggar etika Islam dalam berkomunikasi. Bisa tidak berkah dunia akhirat usaha yang dilakukan itu. Mungkin semangat di balik semua ini adalah mengungkapkan kebenaran, tetapi akan lebih baik jika kebenaran itu disampaikan dengan cara yang bijak.

Bagi individu, ingatlah pepatah mulutmu harimaumu. Itu nasihat untuk hati-hati berbicara dan mengemukakan pendapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s