Penalaran Moral dalam Kasus Menteri Susi Merokok: Riset Lanjutan tentang Respon Masyarakat terhadap Menteri Merokok

Mungkin, gara-gara kasus Menteri Susi yang merokok, sebagian masyarakat Indonesia jadi sadar bahwa salah satu kebutuhan terbesar bangsa ini adalah ditegakkannya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Perilaku merokok sebenarnya sangat jauh lebih sederhana daripada perilaku korupsi,[1] tetapi masuk di ruang diskusi publik yang menyaksikan itu dilakukan oleh seorang menteri atau pejabat negara, level kegawatan perilaku merokok meroket sebagai perilaku yang mengancam moral bangsa. Benarkah karena “merokok”-nya? Tentu tidak. Itu karena “menteri”-nya.

Dua hari yang lalu saya menulis tentang hasil penelitian kecil-kecilan saya tentang respon masyarakat terhadap berita Menteri Susi yang merokok[2]. Hasilnya cukup menarik bagi saya. Respon masyarakat dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu: 1) menyerang, 2) mengangkat isu moral, 3) membela, dan 4) menahan pendapat. Dalam pandangan saya, dari keempat respon tersebut, respon mengangkat isu moral adalah yang paling rumit.

Isu moral ini diangkat oleh orang-orang yang berpikir jangka panjang. Orang-orang ini tidak seperti rekannya sesama komentator yang merespon menyerang karena mereka tidak hanya sekedar bereaksi atas kejadian, tetapi juga berpikir dan membuat penilaian apa akibat dari kejadian tersebut. Meskipun di dalam respon mereka ada juga unsur menyalahkan juga mencela, tetapi yang menonjol adalah adanya kekhawatiran akan dampak dari semua ini. Saya tidak sampai pada pengetahuan siapa mereka, tetapi dapat diduga mereka adalah dari kalangan pendidik, orangtua, dan orang-orang yang cukup mengerti agama. Hanya orang dengan sense of moral yang tinggi dan cukup intelek yang bisa berkata begini, terutama jika dalam merespon pun mereka menghindarkan kata-kata yang tidak bermoral.

Poin mereka adalah bahwa 1) merokok, terutama pada wanita, itu jelek/ buruk menurut agama, budaya ketimuran, dan kesehatan, dan 2) memperlihatkan merokok di muka umum, terutama dilakukan oleh menteri, akan berdampak negatif memberikan teladan yang buruk kepada masyarakat, karena itu 3) harus dilakukan sesuatu terhadap perilaku merokok, menteri yang merokok, pihak-pihak yang permisif terhadap perilaku merokok, dan ideologi-ideologi yang membolehkan atau membiarkan orang merokok.

Jika disimpulkan, tuntutan kaum moralis ini adalah agar: 1) merokok diharamkan atau dilarang secara total di bumi Indonesia, 2) ideologi atau pemikiran atau paham yang mendukung kebebasan pribadi untuk merokok diberantas, 3) menteri yang tertangkap kamera merokok dicopot dari jabatannya atau diganti orang lain yang “bersih”, dan 4) presiden menegakkan misi revolusi mentalnya.

Tuntutan pertama ini cukup kuat karena larangan merokok sudah memiliki landasan agama dan kesehatannya. Namun, tentu saja sulit lantaran konflik kepentingan dengan kalangan pengusaha dan semua orang yang mendapatkan penghidupan dari industri rokok. Tuntutan kedua kemungkinan hanya akan berlangsung di ruang diskusi. Ini mencerminkan perang pemikiran antara ideologi-ideologi yag sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu. Tuntutan ketiga dapat dinilai berlebihan karena tugas pokok menteri adalah bekerja dan menteri hanya akan dicopot jika tidak becus bekerja, bukan karena masalah pribadinya yang seorang perokok. Tuntutan keempat mungkin perlu dipikirkan lebih lanjut karena diperlukan didefinisikan terlebih dahulu apakah revolusi “mental” itu dalam pandangan presiden yang punya ide, bukan masyarakat yang cuma bisa melakukan penafsiran bebas.

Panjang lebar tentang itu semua, tuntutan terbesarnya adalah agar dilakukan koreksi; agar yang menyimpang itu segera diluruskan kembali. Dengan kata lain adalah agar moral dan etika ditegakkan.

***

Hari ini saya mendapatkan tulisan bagus dari seseorang yang masuk dalam kategori moralis (menurut hasil riset mini saya). Tulisan tersebut disebarkan di Facebook[3], namun sumber aslinya adalah tulisan seseorang bernama Akmal Sjafril yang berjudul “Fenomena Susi: Kebebasan Tdk Ngerti Norma #Sekulerinlander”. Di laman Facebook tersebut, sampai pukul 12.00 pada Jumat, 31 Oktober 2014, sebanyak 168 orang berkomentar atas tulisan tersebut. Saya menjadikan itu sebagai data dan melakukan kategorisasi. Saya mengeluarkan dari analisis orang-orang yang komentarnya hanya berisikan ucapan pujian, terima kasih sudah berbagi, dan izin membagi tulisan, dan yang isinya tidak relevan dengan fokus penelitian.

Sebagai catatan, keunikan dari para komentator kali ini adalah mereka tidak ada yang masuk kategori menyerang (merespon dengan umpatan, celaan, fitnah, ungkapan menyalahkan otoritas, dan sebagainya). Lewat kata-kata mereka, tergambarkan bagaimana penalaran moral mereka berlangsung, bagaimana tarik-menarik apakah ini benar atau salah, baik atau buruk, apakah ini harus diberi sanksi atau hukuman atau dibiarkan, dan apa yang harus dilakukan. Tampak masyarakat menyepakati standar moral dan etika yang berbeda-beda. Selain itu, tulisan dan komentar-komentar ini tampaknya dibuat setelah sudah banyak berita tentang prestasi-prestasi menteri yang berkasus tersebut sehingga pengetahuan komentator telah relatif seimbang, tidak hanya tahu tentang perilaku merokoknya.

Hasil dari analisis saya adalah tema-tema sebagai berikut:

Pertama, mengeluhkan ketidakadilan standar dan penegakkan aturan dan moral di masyarakat. Di satu kasus, respon masyarakat atas kasus perilaku melanggar dianggap sangat keras, sementara di kasus lain dibiarkan. Di satu tempat, perilaku melanggar tidak ditindak (misal istana negara), di tempat yang lain ditindak tegas (misal sekolah).

“… ada 5 Kepala Daerah Kader PDIP tersangkut kasus SAPI bernilai Trilyunan tapi 1 kader PKS trsangkut kasus SAPI dibully terus menerus oleh metro mini.. Ada 10 kader PDIP tersangkut kasus mafia MIGAS tapi kenapa tak prnah direspon metro mini.. Ada banyak kader PDIP trkait kejahatan PERBANKAN yg merusak & menghancurkan bangsa tp hanya sdikit org yg mengerti..”

“Mafia sapi diluar alim didalam mendozilim. Itu mungkin lebih baik daripada yg bertato dan tlah membuka lapangan pekerjaan”. (Mafia sapi menyangkut kasus mantan ketua umum PKS, partai Islam, yang tersangkut kasus korupsi.)

“…klo merokok di istana boleh yaa??? Saya guru, klo murid saya merokok di sekolah hra gimana???”

Kedua, menunjukkan pergeseran stereotipe pemimpin, yang mana salah satu sebabnya adalah kemuakan orang-orang terhadap figur pemimpin yang tidak otentik.

“… apa kalian tidak muak dengan orang santun yang menusuk dari belakang? kehadiran bu susi sendiri seperti jokowi yang memperlihatkan sosok yang jauh berbeda dari pandangan pemimpin seharusnya, pemimpin yang seharusnya jaim, santun, dsb diganti dengan pemimpin metal, begajulan, tatoan, rokokan, cengengesan. seolah ingin menunjukkan orang yang kita lihat tidak pantas sekarang berada di atas kita bungg”

Ketiga, menolak relativisme moral bahwa standar baik dan buruk tergantung hal-hal atau keadaan tertentu. Sikap “hitam vs putih” yang tegas didasarkan pada penggunaan standar tertinggi yaitu ajaran agama (Islam) untuk menilai. Dalam agama, mana yang benar dan mana yang salah sudah jelas sehingga tidak ada toleransi dan pembelaan terhadap pelanggaran moral dan etika. Orang-orang yang bertoleransi dan membela dinilai memiliki pikiran yang sesat.

“Keburukan yang satu dianggap lebih baik dari keburukan yang lainnya. Yang namanya jelek dan buruk akan selamanya gak bisa dianggap baik walaupun ada yg lebih buruk lagi dari yang sudah buruk itu. Kenapa gak berfikir tentang kebaikan yang satu lebih baik dari kebaikan lainnya. Padahal dalam islam jelas antara yg haq dan yg batil. …”

“Tato.. rokok.. korupsi KABEH ELEEK…”

“”tidak apa bertato asal bekerja” “gak apa pemimpin kafir asal amanah” “tidak apa Riba asal manfaat” ini pemikiraan sesat meyesatkan!”

“Salah y salah, benar y benar.. Ojo diwolak walik.. Ngerti ora seh? Pembuli pak joko dg edit foto porno dan akhirx dy dtangkap, aq sepakat. Krn itu tdk pantas, trz kl ada yg salah dbela, aq jd heran.. Otakx itu ra dpke apa? #komenmangkel org Indonesia ini kenapa tho?”

“Buat apa sholat kalau kelakuannya tidak baik, lebih bagus juga sifulan meski gak pernah sholat tapi hatinya baik | ahirnya yg salah yg sholat.”

“Keahlian: HARUS. Akhlak : HARUS. Tidak ada orang yang sempurna, manusia yg berfikir pasti mau berubah ke arah yg lebih baik.”

“kalau kesalahan dan semua diam, tdk ada yg meluruskan, mau jadi apa negara ini?!!”

“Bagus, sudah jelas antara yg haq dan bathil…..tidak ada abu2 untuk urusan akhlaq….”

“Keahlian dan kehebatan seseorang tetap ga akan bisa membenarkan kesalahannya,jadi coba buat mikir sedikit lah. Apa yang salah menurut agama ya salah dan yg benar tetap benar,ga akan pernah berubah selamanya.”

Keempat, menurunkan nilai penting dari persoalan yang diperdebatkan, menahan penilaian, dan mendorong introspeksi diri. Respon ini didorong oleh adanya kesadaran akan realita bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna sehingga berbuat salah itu wajar dan bahwa setiap manusia berhak untuk menjadi dirinya sendiri.

“ternyata “tato dan rokok” penting untuk dibahas. pernah baca quotes dari socrates? Strong minds discuss ideas, average minds discuss events, weak minds discuss people”

“Jangan dibesar2kan.. Ini mnyangkut pribadi org tersebut menurut saya. “Every human is unique” dan juga imperfect pastinya, buk susi yg notabenenya terlihat (maaf) bejat, tapi beliau bisa membangun. Buk Atut yg notabenenya sangat sopan dlm sgala hal tapi (maaf) pecuri. Jadi ambil fakta tersebut sebagai contoh bahwa tidak ada yg sempurna di dunia ini, jadi ambil yang positif, jangan terkesan seperti menjatuhkan satu pihak. Kalau anda berpikir rokok tersebut merusak anak anda, maka itu tugas anda untk mnjaganya, jangan terkesan mengkambing hitamkan kesalahan ank yg merokok pada individu lain. Itu tantangan buat org tua , karena lingkungan utama yg mmpengaruhi anak ya keluargany sendiri.”

“setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing2. tidak akan pernah ada habisnya membicarakan sisi negatif orang lain. lebih baik introspeksi diri masing2 karena kita belum tentu lebih baik daripada mereka yg kita bicarakan. saling mendoakan saja, semoga Allah selalu memberikan hidayah dan taubat bagi kita semua. aamiin”

“terlalu berlebihan ,kembali ke masing2 pribadi mau nilai gimana”

“ckckckck, koreksi diri sendiri dulu aja lah”

” Terus gini aja diributin adeh2 ingat diri sendiri aja belum bner ngpaian ngurusin orang lain dosa lho gini ini ngomngin kejelekan orang apalagi di sarana publik kayak gini ngomngin itu yang baik2nya aja”

“Tinggal bilang aja..’ bu mentri next time tolong doong jgn merokok di istana..’..beres kan?..gaya beliau cuek preman..g nyadar keless saking mulutnya dah asem…kok semakin kesini saya merasa…gampang bgt ya ‘kriwikan dadi grojogan(yg jawa pasti mudeng)..bukan kah sedari kecil juga diajari cara ngomong yg sopan,mengingatkan yg sopan…bukan ujug2 menjudge,menuduh,..manusia tempat salah(ah klisee)..tapi yg mengingatkan manusia yg salah(dengan cara beradab)lebih manusiawi lagi..”

Kelima, mengajukan parameter lain untuk menilai perilaku melanggar moral sehingga perilaku tersebut dapat diterima. Ini diikuti dengan penghormatan dan ajakan agar tidak menilai orang dari penampilan luarnya saja, tetapi juga memperhitungkan kualitas pribadi secara keseluruhan dan juga kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya. Pada intinya, respon ini  berlandasan ajaran agama.

” jgn menilai dari luar doang …. rokok dan tato itu urusan pribadi. . . beliau pasti tidak berkeinginan untuk memberikan contoh itu. lihat prestasi yg dia berikan… kalo mau membandingkan… coba bandingkan ratu atut dengan bu susi … pasti sdh tau perbandingannya… rosul menghormati semua umat, bahkan orang kafir… rosul akan memerangi umat yg mau merusak islam…meskipun dia islam… kita Islam Indonesia ..bukan indonesia islam..”

” ibu susi itu punya karyawan, karyawannya punya anak punya istri… dia membantu kehidupan orang banyak… Masyaalloh pleace dong…”

“Jangan dilihat Siapa dan Bagaimana orang nya….tapi Lihatt lah Kinerja nya.. Faktanya jika dilihat dari penampilan……siapa Mengira Kasus Ratu Atutt lebih Merugikan Rakyatt..”

“pada umumnya masyarakat indonesia lebih senang yang bersolek daripada tampil apa adanya.. penampilan nomor 1, keahlian belakangan aja..”

“jgn bawa2 agama…klo mau bedah hadist saja..kalo gak salah hadist nabi dari abu bakar sahabat nabi.lebih baik memilih pemimpin non muslim tp baik cara memimpinnya daripada yh muslim..jadi jangan nilai org dr penampilan…toh dia juga gak ngrokok di dpn lo….hadeh !!”

“sudah2, liat dulu kinerjanya, baru komen. nanti misalkan skarang dibangga2kan, trnyata kenyataannya lain, malu sendiri nanti.”

“Semula ORANG AWAM ga tau kalo bu mentri merokok, urusan beliau saja itu, wartawan saja yang melebih-lebihkan. Yg bikin lebay media. Termasuk penulis ini. Kalau merokok tapi bisa kerja, kenapa enggak.”

Keenam, mencurigai.

“Yakin yang bertato dan merokok tidak akan korupsi?”

Ketujuh, menyatukan pendapat semua pihak yang berseberangan (terutama pada respon ketiga dan kelima) sebagai solusi bersama, yaitu biarkan merokok sebagai hak pribadi, tetapi hendaknya perokok memperhatikan aturan dan etika sosial (apa yang bisa diterima orang lain). Perhatikan, yang dikehendaki bukan etika menurut ajaran agama tertentu.

“Yang dibahasi disini kan tentang pemimpin yang jadi panutan, gpp dia merokok asal jangan di depan kamera karena bisa jadi contoh buat anak2. Banyak komentar yang melenceng dari inti masalah, kayaknya ga dibaca penuh atau keburu emosi buat ngebela.”

“Merokok ya itu privasi beliau tp hendakx jgn d dpn publik..”

“Soal merokok, jangankan susi, kepala Sekolah/guru saja di daerah saya ada yg suka merokok, tapi kalo kebelet mau ngerokok hrs liat 2 tempat dan situasi lha. Masa merokok dekat anak kecil, bayu misalnya. atau guru perempuan merokok disekolah, atai menteri di halaman istana. Silahkan merokok tapi taat aturan & etika sosial.”

Kedelapan, memoderatori konflik dengan mencegah saling hakim dan membenci dan mengembalikan persatuan dengan mengingatkan tujuan yang lebih besar.

“Mari mengkritisi tapi jangan membenci. Dan yg lebih penting apa yg bisa kita berikan utk negeri”

“maaf, sepertinya islam atau agama manapun tidak mengajarkan untuk menghina dan menghakimi seseorang yach, apa tidak lebih penting kita memikirkan kemajuan bangsa ini dari pada hal2 yang tidak penting, bukankah Allah akan memberi balasan kpd seseorang baik atau pun buruk meskipun itu kecil. salam perdamaian untuk negeri tercinta”

“Setiap yang ada di Dunia ini ada PLUS n MINUSnya…., dan dalam pemanfaatannya disesuaikan dengan PLUSnya masing2…….., yang penting kita berdo’a dan berusaha aja untuk kebaikan Bangsa dan Negara ini biar tercapai yang namanya Baldatun Thoyyibatun waRobbun Ghofuur”

Kesembilan, skeptis.

“ah sudahlah. *yawn* let’s just get back to work. Dalam Hal ini semua akan merasa paling benar. wait and see, in the meantime let’s pay our bills.”

Kesepuluh, mengkhawatirkan dampak berupa pergeseran nilai di masyarakat.

“aku yakin beliau akan menyesuaikan, dan semoga saja begitu…memang gw akui lebih setuju pada pendapat ini, sebab pejabat publik itu adalah sosok atau figur yang secara tidak langsung jadi panutan publiknya, contoh kasus ini jelas, dampaknya (mungkin condong mencela beliau) wah sekali, seperti ketika publik tahu bahwa bu Susi hanya tamatan SMP, sebagian publik langsung bereaksi “wah ternyata utk jadi menteri ga perlu sekolah tinggi2 ya, smp aj cukup”, itu mindset yang keliru dan perlu pembinaan,sebenarnya ini tidak perlu diperbicangkan sebab jika bertujuan utk sukses memang memiliki jalan masing2 sesuai pilihan kita (formal atau non formal), beda hal dg rokok yg memang stigmanya negatif,,ketika publik tahu bahwa seorang publik figur bahkan pejabat sekelas menteri merokok di depan khalayak umum (mata publik=kamera media massa), kontan para publik yg memiliki kebiasaan yg sama itu memiliki alasan utk membela diri, dan kecenderunganya sesuai dg yg disampaikan TS di atas…namun, lagi2 pilihan selalu ada di tangan kita, dan komitmen selalu ada di dalam diri kita, dan akal pun kita miliki, semua itu utk memilah mana yg baik dan mana yg buruk,,yg baik dari publik figur tersebut ya patut lah kita teladani, dan yg buruk dari belau itu tentu lah tak perlu dicontoh…karena bagaimanapun juga beliau hanya manusia yg sama dg yg lain, memiliki pilihan,komitmen,dan akal juga…

***

Jika disimpulkan, maka respon masyarakat yang masuk kategori moralis-kritis berisikan setidaknya hal-hal berikut:

1# Pendapat tentang Masalah yang Jadi Fokus

Pertama, penilaian dikotomis “hitam vs putih” atas perilaku yang tampak (Tema 3).

Respon ini sangat tegas, digambarkan dengan adanya intoleransi terhadap perilaku melanggar moral dan orang-orang yang membela dan membiarkannya. Bagi komentatornya, apa yang salah adalah salah, tidak ada penilaian lain, dan apa yang menjadi landasan mereka adalah sumber aturan, moral, dan etika tertinggi, yaitu agama. Tidak ada yang abu-abu dalam persoalan pelanggaran ajaran agama, dalam hal ini adalah moral dan etika yang diistilahkan dengan “akhlak”. Keahlian dan kehebatan seseorang tetap tidak akan bisa membenarkan kesalahan yang diperbuat seseorang. Karena itu, menurut mereka, Menteri Susi adalah salah dan berhak mereka nilai salah. Tak peduli siapa dia, apa yang telah dilakukannya, dan apa kemampuannya, karena dia merokok maka dia salah, dan karena dia salah maka dia adalah pribadi yang buruk, tak pantas menjadi pemimpin, dan harus dibereskan.

Kedua, dukungan atas parameter lain, yaitu kemampuan (Tema 5).

Inti respon ini bukan menoleransi individu dengan perilaku melanggar moral dan etika, tetapi mengajak orang-orang untuk tidak kebablasan menilai pribadi hanya berdasarkan satu perilakunya saja dan juga mempertimbangkan aspek-aspek lain dari dirinya yang tidak tampak, seperti kemampuannya untuk bekerja, kualitas pribadinya secara keseluruhan dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya kepada masyarakat. Komentator dengan respon ini seperti berkata: “Ya, perilakunya salah, tetapi perilaku yang salah itu bukan indikator yang memadai untuk pula menilai kepribadiannya sebagai buruk.” Komentator ini membuka pandangan agar tidak terbatas pada penampilan yang tampak, tetapi juga yang tidak tampak, yang biasanya luput dari pandangan, pengamatan dan pertimbangan orang. Pendapat ini juga memiliki dasar pada ajaran agama.

Ketiga, toleransi terhadap pelaku (Tema 4).

Sikap dengan respon ini menunjukkan adanya toleransi terhadap pelaku di mana perilaku sudah termasuk di dalamnya. Pemilik respon ini adalah orang-orang yang membela dan menilai bahwa perilaku melanggar moral dan etika pada dasarnya bukan masalah besar sehingga tidak perlu dibesar-besarkan. Itu adalah masalah individu. Apa yang menjadikan perilaku tersebut bukan masalah adalah keyakinan bahwa perilaku tersebut adalah urusan pribadi pelakunya yang berhak hidup dengan cara yang dipilihnya. Toleransi pun diberikan atas dasar kesadaran bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna dan pasti memiliki kesalahan. Karena semua orang tidak sempurna, maka tidak ada di antara manusia yang boleh merasa lebih berhak menilai salah-benar dan baik-buruk orang lain. Ketimbang menilai orang lain, lebih tepat adalah menilai diri sendiri terlebih dahulu sudah baik dan benar atau belum, dan saling mendoakan agar semua orang bisa sama-sama menjadi lebih baik. Pendapat ini juga berdasar pada ajaran agama.

Keempat, kecurigaan (Tema 6).

Sikap ini berisi prasangka negatif, pesimis, dan keraguan: “Yakin yang bertato dan merokok tidak akan korupsi?” Respon ini unik karena berbeda dalam hal keberadaan harapan. Komentator dengan respon kedua masih memiliki optimisme bahwa si pelaku masih mampu dan menjanjikan untuk berkarya. Komentator dengan respon ketiga masih memiliki optimisme pula bahwa si pelaku masih memiliki sisi baik sebagaimana manusia yang meskipun punya sisi buruk, pasti punya sisi baik. Respon ini mungkin adalah perkembangan lebih jauh dari respon pertama. Dengan kata lain, ketika perilaku sudah salah, kepribadian sudah buruk, apakah prestasi kerja masih layak untuk diharapkan?

 

2# Pendapat di Luar Masalah yang Jadi Fokus

Pertama, keluhan akan ketidakadilan standar dan penegakkan aturan dan moral di masyarakat (Tema 1).

Respon ini muncul sebagai hasil membandingkan reaksi masyarakat atas fenomena Susi ini dengan kasus pelanggaran moral-etika-hukum lain yang dianggap lebih ringan dan lebih berat.

Perilaku korupsi entah mengapa cenderung dipilih masyarakat sebagai bahan perbandingan dan acuan membuat penilaian atas masalah menteri merokok, dan uniknya muncul dua nama partai, yaitu PDI-P dan PKS. Dua partai ini dikenal luas sebagai dua partai yang secara unik terlibat korupsi. PDI-P memiliki citra yang buruk sebagai partai yang tercatat menampung koruptor paling banyak, sedangkan PKS sebelum kasus impor daging sapi tercatat sebagai partai dengan citra yang sangat baik. Namun demikian, PDI-P yang kotor tidak dirundungi oleh masyarakat sebagaimana PKS mengalami perundungan. Dihubungkan dengan kasus fenomena Susi, komentator tersebut seperti hendak berkata bahwa masalah ini tidak besar karena di belakangnya ada PDI-P sebagai partai nasionalis pendukung Presiden Jokowi dan kabinetnya. Dari keberadaan komentator ini, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa yang ingin kasus ini menjadi besar adalah pendukung PKS. Respon semacam ini mungkin adalah ekses dari sakit hati atas ketidakadilan reaksi masyarakat atas kasus-kasus pelanggaran moral dan etika.

Meskipun demikian, perbandingan yang terjadi tidak hanya antara dua partai tersebut di atas. Masih melibatkan PKS, komentator lainnya menyindir pendukung PKS yang mudah tertipu penampilan luar dari orang yang alim, bahwa mantan ketua umumnya yang tampak alim, tetapi korupsi, lebih baik ketimbang Menteri Susi yang bertato, perokok, dan tidak berjilbab, tetapi berkontribusi pada masyarakat. Pendukung PKS tidak bereaksi sangat garang terhadap mantan ketua umumnya yang korupsi, tetapi garang sekali terhadap Menteri Susi yang “hanya” merokok dan bertato. Adanya pengaruh kesamaan atau ketidaksamaan ideologi ditengarai mempengaruhi garang atau tidaknya reaksi atas perilaku tidak bermoral.

 

Kedua, kekhawatiran dampak berupa pergeseran stereotipe pemimpin dan pergeseran nilai di masyarakat (Tema 2 dan 10).

Dahulu orang yang dianggap pantas sebagai pemimpin adalah orang-orang yang memiliki profil ideal, seperti berpenampilan menarik, berpendidikan tinggi, memiliki imej yang mengesankan, menjaga sopan-santun, dan sebagainya. Sekarang, orang yang “tidak ideal” pun bisa menjadi pemimpin, seperti bertato, tidak berpendidikan tinggi, suka tertawa (cengengesan) dan tidak menjaga sopan-santun. Dikhawatirkan oleh seorang komentator bahwa itu adalah akibat dan juga akan mengakibatkan pergeseran nilai dan pola pikir di masyarakat, digambarkan lewat ekspresi: “wah ternyata untuk jadi menteri tidak perlu sekolah tinggi-tinggi ya, SMP saja cukup.” Dikhawatirkan masyarakat mendapatkan pembenaran untuk menurunkan standar pencapaian hidup mereka karena fenomena menteri yang tidak berpendidikan tinggi.

 

3# Pendapat terhadap Diskusi yang Tengah Terjadi

Komentator-komentator dalam kategori ini unik. Tidak seperti rekannya yang mendiskusikan dan memperdebatkan suatu kasus, mereka justru memikirkan rekan-rekan mereka yang sedang berdiskusi berdebat itu. Pendapat mereka bukan tentang kasus, melainkan tentang diskusi yang terjadi.

Pertama, jalan keluar bagi pendapat-pendapat yang berseberangan (Tema 7).

Respon ini berisi usaha mengakomodasi pendapat dan tuntutan dari pihak-pihak yang berseberangan. Ya, individu punya hak untuk berbuat, tetapi sebagai warga masyarakat, individu perlu mengindahkan kewajiban untuk tidak mengganggu orang lain dengan berperilaku sesuai aturan moral dan etika sosial yang berlaku. Menurut komentator dengan respon ini, solusi terbaik dari masalah menteri merokok adalah “tidak apa-apa dia merokok asal jangan di depan kamera sehingga bisa dilihat orang banyak”. Atau dengan kata lain, sembunyi-sembunyilah kalau mau berbuat yang melanggar moral dan etika. Berusaha “tidak diketahui” adalah pencegah masalah pelanggaran moral dan etika yang dapat membesar jika diketahui umum.

Kedua, moderasi konflik di antara pihak-pihak yang berseberangan (Tema 8).

Respon ini berisi peringatan bagi semua orang yang terlibat dalam diskusi dan perdebatan bahwa ada etika yang harus mereka jaga pula, yaitu: silakan mengkritisi, tetapi jangan berlebihan sampai jadi membenci. Juga, mengingatkan bahwa kedudukan semua orang adalah warga negara yang punya kewajiban memajukan bangsa dan negara dan berkontribusi bagi upaya memperbaiki masyarakat. Dengan begitu, tidak ada gunanya berlebihan membicarakan fenomena Susi sampai-sampai bertengkar karenanya dan melupakan kepentingan bangsa yang lebih besar dan lebih penting.

Ketiga, realistis-skeptis (Tema 9).

Respon ini berisi pernyataan menyerah menghadapi dan lelah mengurusi perdebatan yang tidak akan ada akhirnya karena semua orang merasa benar dengan pendapatnya. Komentator dengan respon ini mengajak orang untuk kembali pada realita hidup dan bekerja, dan lupakan masalah Susi. Keyakinannya, masalah ini akan reda dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.

***

Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa orang-orang berbeda pendapat, dan secara umum terhadap suatu problema moral, orang terbagi dalam tiga kubu, yaitu: 1) yang menyalahkan berdasarkan parameter keperilakuan semata, 2) yang memberi peluang pertimbangan dengan parameter lain sebelum membuat penilaian, dan 3) yang enggan menilai dan cenderung menoleransi berdasarkan pertimbangan kemanusiaan. Ketiga pendapat tersebut sama-sama memiliki landasan yang kuat, yaitu ajaran agama. Benar, agama mengajarkan apa yang baik-benar dan apa yang buruk-salah, mana akhlak mulia, mana akhlak tercela. Benar, agama mengajarkan agar penilaian dibuat berdasarkan pengamatan dan penyelidikan yang seksama, mendalam, dan menyeluruh. Benar, agama mengajarkan agar sesama manusia saling menghormati, tidak mudah mencela dan menghina orang lain.

Tetapi, mengapa orang-orang ini tidak menangkap perspektif yang besar tersebut dan terperangkap dalam “kebenaran” pendapat sendiri? Ada banyak faktor yang mempengaruhi itu. Selanjutnya, akan sangat bermanfaat jika ada penelitian yang khusus membidik ada yang terjadi dalam diri orang-orang yang berbeda pendapat tersebut. Seberapa besarkah pengaruh latar belakang dan pendidikan mereka terhadap penalaran moral mereka? Seberapa besar juga pengaruh afiliasi sosial mereka, mungkin pada kelompok keagamaan atau partai tertentu?

 

Catatan kaki:

[1] Menurut teori indentifikasi tindakan, merokok termasuk perilaku level rendah. Merokok itu cuma: 1) ambil rokok, 2) menyalakan pemantik api, 3) membakar ujung rokok, 4) menghisap rokok itu, 5) menghembuskan asapnya lewat hidung atau mulut). Sedangkan korupsi itu… Menipu sana-sini, memalsu sana-sini, kongkalikong dengan orang di sana-sini, perlu pembicaraan di sana-sini. Korupsi itu perilaku mencuri level tinggi, mencuri yang sudah kompleks. Tentang teori identifikasi tindakan, dapat dibaca di sini: https://aftinanurulhusna.wordpress.com/2014/05/12/the-absurdity-of-perfect-understanding/

[2] Bisa dibaca di sini: https://aftinanurulhusna.wordpress.com/2014/10/28/riset-mini-respon-masyarakat-terhadap-berita-menteri-perempuan-merokok/

[3] Bisa dibaca di sini: https://www.facebook.com/meirae1/posts/4966549739535:0 dan http://chirpstory.com/li/236599?page=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s