Psikologi Susi: Akhir Riset Respon Masyarakat terhadap Berita Menteri Susi Merokok

Seminggu berlalu dan tren berita berganti. Jika pada 27/ 28 Oktober lalu berita tentang Susi Pudjiastuti teratas adalah yang dimuat di Republika Online tentang ia yang kedapatan merokok berbuntut reaksi “keras” dari masyarakat, hari ini (3 November 2014) sampai pukul 11:44 WIB, berita teratas adalah artikel Rhenald Kasali di KOMPAS tentang metakognisi ibu Susi. Ini perkembangan yang sangat menarik, ketika awalnya begitu negatif dan cercaan di mana-mana, sekarang tampak ada lebih banyak berita positif, dan lebih banyak pembela dan pendukung Susi.

***

Kembali pada minat awal riset kecil-kecilan saya, pertanyaan saya kini adalah: apa yang membedakan antara para penyerang dan pembela Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, yang minggu lalu dirundung sejumlah media di tanah air lantaran ia kedapatan merokok pascaacara pengumuman kabinet, lalu dikulik-kulik kepribadiannya sehingga khalayak tahu bahwa ia bertato, cuma berijazah sampai SMP, dan lain sebagainya?

Jawaban saya: kedalaman pengertian.

Sementara para penyerang hanya mengandalkan aspek yang tampak saja dari fenomena Susi (dari perilakunya pada satu ketika, bahwa dia merokok dan melakukannya di istana negara), para pembela Susi masuk jauh ke dalam kehidupannya.

Tulisan-tulisan orang-orang yang mengenal Susi dan pernah berinteraksi dengannya bertebaran di internet. Mereka tahu “betul” Susi Pudjiastuti sebagai pribadi, bukan objek semata. Sebagian dari mereka adalah orang-orang besar di republik ini dan kedudukan mereka itu memberikan publik keyakinan yang lebih besar tentang berita manakah yang lebih baik di terima, apakah yang merundungi Susi sebagai satu bentuk masalah dan penyimpangan sosial atau yang memperkenalkan Susi sebagai seorang yang exceptional dan teladan yang pantas?

Mereka menuliskan narasi tentang Susi dengan gaya mereka, tetapi satu reaksi umum publik pembaca adalah: “Wow.” Kagum. Itulah emosi yang dibangkitkan. Ada lebih banyak kebaikan dari mengenal sisi baik Susi ketimbang sisi buruknya. Mereka tidak membahas Susi dan rokoknya atau tatonya atau ijazahnya, tetapi Susi dan riwayat, perjuangan, dan pencapaiannya. Mereka “menyelamatkan” Susi, juga menyelamatkan masyarakat. Mereka membuat publik belajar lewat diri seseorang bernama Susi. Mereka membuat publik belajar tentang apa yang penting dan apa yang lebih penting bahwa ketika setiap manusia punya sisi baik dan sisi buruk, kedua hal itu ada bukan untuk dihitung-hitung mana yang lebih berat dan mengungguli yang lainnya untuk selanjutnya membuahkan penilaian akan baik atau buruknya seseorang, melainkan direnungkan, diambil inspirasinya. Mereka tidak hanya membicarakan seseorang, tetapi seseorang dengan jiwanya.

***

1# Metakognisi

Satu tulisan menarik dibuat oleh Rhenald Kasali dan dimuat di  Bisnis Keuangan KOMPAS, 3 November 2014, dengan judul “Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti”. Guru besar Ilmu Manajemen dari UI ini menceritakan sosok Susi Pudjiastuti secara sangat psikologis. Baginya, hal yang sangat menonjol ada pada Susi adalah kemampuan metakognisinya. Pujiannya bagi Susi adalah bahwa Susi adalah seorang “self-driver” sejati.

Orang-orang yang cuma mengerti permukaan mengolok-olok Susi lantaran ijazahnya yang hanya sampai SMP, tetapi sesungguhnya putus sekolah Susi adalah titik penting dalam kehidupannya. Susi itu “bukan putus sekolah, melainkan berhenti [sekolah] secara sadar.” Susi itu seseorang yang punya kesadaran dan keberanian yang besar untuk menjadi supir (atau agen) kehidupannya sendiri. Itu terlihat dari kisahnya berjuang hidup mandiri dengan berjualan ikan sejak remaja dan melepaskan diri dari rencana orangtua untuk mengejar rencana hidupnya sendiri.

“Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari “pintu” adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.”

Susi bukan suatu penyimpangan, melainkan keluarbiasaan.

***

2# Kepemimpinan

Susi orang yang tahu harus berbuat apa dan dengan itu ia mengayomi dan mengarahkan orang-orang untuk berbuat. Sebuah artikel di KOMPAS pada 31 Oktober 2014 menceritakan bagaimana Susi menjadi pemimpin mitigasi bencana gempa dan tsunami di Pangandaran pada tahun 2006.

Suara tangisan terdengar di antara ribuan warga yang memadati pekarangan rumah Susi Pudjiastuti, tahun 2006 silam. Wajah yang ketakutan, kosong, dan bingung harus berbuat apa.

Pemberitaan luar biasa atas tsunami Aceh pada 2004 silam membuat warga Pangandaran panik tatkala gempa yang menimbulkan tsunami melanda wilayahnya. Memang kekuatannya tidak sebesar Aceh, tetapi toh bencana itu memorak-porandakan Pangandaran.

Di tengah kepanikan tersebut, seolah hanya satu rumah yang ada di dalam benak warga untuk berlindung, yakni rumah Susi Pudjiastuti. Alhasil, mereka berbondong-bondong ke rumah Susi dan menunggu instruksinya.

Di sisi lain, Susi terlihat serius berbincang dengan sejumlah pegawainya. Dari gerak tangannya, ia seperti sedang memerintahkan sesuatu. Benar saja, tak berapa lama, pegawainya termasuk asisten rumah tangga menyebar. Ada yang ke dalam rumah, ada pula yang membantu warga menenangkan diri, dan pergi menyisir mayat korban tsunami.

Dari dalam rumah, asisten rumah tangga Susi membawakan sejumlah makanan untuk para pengungsi. Susi membuka semua pintu masuk rumah dan perusahaannya untuk pengungsi. Bukan hanya untuk tempat tinggal sementara, melainkan juga untuk makanan, minuman, semangat, dan apa pun yang dibutuhkan.

“Karena kami kedinginan, kami juga mendapatkan selimut dan pakaian. Saat itu harapan kami memang hanya pada Bu Susi. Selain dia orangnya baik, dia punya pengalaman dari gempa Aceh. Makanya kami berbondong-bondong datang ke sini,” ucap Dadang (43), warga Pangandaran.

Selain itu, Susi mengosongkan cooler miliknya untuk mayat. Hingga bantuan datang, mayat-mayat korban tsunami tersebut sebagian disimpan di tempatnya Susi.

Kondisi ini berlangsung beberapa hari hingga kondisi Pangandaran reda dan pengungsi ditempatkan di pengungsian sementara.

Susi pun menyemangati para nelayan untuk mengendalikan traumanya. Salah satunya dengan kembali melaut. Susi berjanji, berapa pun ikan yang dihasilkan akan dibeli olehnya dengan harga yang tinggi.

Kini, pada tahun 2014, nama Susi kembali menjadi perbincangan. Dia dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Kerja.

***

3# Aktualisasi Diri

Tulisan ini dibuat oleh Rustika Herlambang pada tahun 2010, berisikan biografi Susi Pudjiastuti. Sulit dalam waktu singkat menganalisis isinya, tetapi setelah membacanya, satu kata kunci yang muncul dalam benak saya adalah: aktualisasi diri. Semoga ada di masa depan seseorang yang berkesempatan melakukan penelitian biografis tentang ibu Susi.

“Kisah ini berasal dari pantai Pangandaran. Bahkan mungkin juga akan berakhir di Pangandaran. Seorang anak kecil suka berdiri di sana. Matanya memandang lepas ke lautan. Membayangkan dirinya menjadi seorang ahli kelautan suatu saat. Memiliki kapal selam agar bisa menyelidiki sendiri rahasia di kedalaman. Kini perempuan itu sudah dewasa. Ia tumbuh dalam terpaan angin dan udara lautan. Itu yang membuatnya terlihat lebih matang dan perkasa. Meski demikian, tak ada yang berubah dari penampilannya. Masih tetap dengan rambut ikal yang kadang membuatnya terlihat sensual. Masih suka memandang lautan. Tapi ia bukanlah ahli kelautan seperti cita-citanya. Ia lah penguasa hasil laut dengan teknologi termodern di Indonesia yang kini beranjak ingin menguasai udara. Perempuan yang sudah berdaya itu bernama Susi Pudjiastuti. …”

***

Catatan terakhir:

Satu minggu yang sangat menarik belajar menjadi pengamat amatir. Rasanya… ingin sekali menjadi sedikit lebih berguna dengan ilmu dan pengalaman yang saya miliki sebagai mahasiswa psikologi. Tujuan awal saya adalah melihat respon-respon masyarakat atas berita Menteri Susi Merokok dan perkembangannya sebagai pembicaraan publik. Itu cukup tercapai, tetapi kini sudah waktunya dihentikan lantaran berita menteri merokok sudah menghilang dari peredaran, digantikan berbagai artikel yang menyorot perjuangan dan prestasi beliau.

Mungkin terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa semua hasil dari riset kecil ini adalah temuan ilmiah. Saya tidak melakukannya secara rapi tertata sebagaimana penelitian-penelitian resmi pada umumnya. Mengamati dan menulis semua hasilnya, sebetulnya saya sedang berkejaran dengan fenomena di dunia maya yang cepat sekali menghilang. Saya ingin mendokumentasikannya, dan karena sumber daya dan waktu yang memang terbatas, inilah yang terbaik yang bisa saya lakukan.

Ini diawali dengan banyak pertanyaan, juga diakhiri dengan banyak pertanyaan. Proses yang saya jalani seminggu terakhir sangat menginspirasi. Ide yang kemudian kini muncul adalah cita-cita membuat komik atau buku cerita untuk anak-anak tentang tokoh-tokoh Indonesia yang inspirasional. Ide yang lain adalah dorongan untuk mempelajari satu hal baru, yaitu metode penelitian naratif. Sudah waktunya berangkat menuju dunia yang baru. Psikologi tidak hanya bertanya pada manusia, bukan? Psikologi juga bertanya pada teks yang bercerita tentang manusia. Mungkin dari sini saya akan mulai berkutat dalam dunia penelitian literatur, narasi, komunikasi, media, dan yang berkaitan. Semoga cita-cita dan keinginan ini terkabul. Amin ya Rabb.

Akhir kata, semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat.

5 thoughts on “Psikologi Susi: Akhir Riset Respon Masyarakat terhadap Berita Menteri Susi Merokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s