Quotations Collection Part 25: Nasihat Ibn Hazm al-Andalusi

Selesai membaca Kitab al-Akhlaq wa al-Siyar fi Mudawat al-Nufus (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) karya Ibn Hazm al-Andalusi (994-1064 H), saya mencatat sejumlah kalimat penting yang menjadi nasihat besar bagi diri saya. Membaca buku ini, saya kembali diingatkan pada persoalan akhlak yang melanda seluruh umat Islam, termasuk diri saya sendiri. Sebagai seorang ulama muslim di masa lalu, Ibn Hazm dapat pula dipandang sebagai seorang psikolog muslim dengan standar keilmuan masa kini. Ini menjadikan dirinya dan karya-karyanya penting.
Semoga ini benar-benar menjadi nasihat yang bermanfaat. Amin, Ya Rabb.
***
“Jika kita tidak mengetahui keadaan kita yang sedang sakit dan sifat penyakit kita, maka kita tak dapat berbuat apa-apa terhadapnya. Jika kita tidak diberi tahu mengenai cara penyembuhannya, maka kita tidak bisa sembuh. Sesungguhnya, jika kita tidak berhasrat mengubah keadaan diri kita sendiri, maka tak ada yang dapat dilakukan. Inilah tepatnya yang difirmankan Allah, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum kecuali kaum itu mengubah (keadaan) diri mereka sendiri.’ (Al Ra’d 13: 11).”

“Segala sesuatu muncul silih berganti. Jika Anda mencermati segala hal yang bersifat duniawi, tentu Anda akan menjadi pemurung dan akhirnya akan mengerti betapa segala sesuatu itu fana. Dan sesungguhnya kebenaran itu hanya terdapat pada upaya mempersiapkan diri menyongsong kehidupan akhirat. Sebab, setiap ambisi yang membelenggu diri Anda akan bermuara pada kenestapaan; entah tujuan itu terenggut dari Anda atau Anda yang menyerah sebelum mencapainya. Salah satunya tak terhindarkan kecuali mencari keridhaan Allah Yang Mahakuasa. Mencari rida-Nya akan membahagiakan, baik bersifat langsung maupun abadi. Kebahagiaan langsung adalah karena Anda berhenti mencemaskan segala sesuatu yang biasanya membuat manusia cemas; … Kebahagiaan abadi adalah kebahagiaan surgawi.”

 

“Jangan Anda dengarkan apa yang dikatakan orang lain. Dengarlah firman Sang Pencipta. Itulah cara berpikir sehat dan sikap tenang yang sempurna. Hanya orang tak berakal yang yakin bahwa dirinya aman dari celaan dan cercaan. Barang siapa giat belajar dan terus-menerus mendidik jiwanya hingga menemukan kebenaran -meski harus bersakit-sakit dahulu- ia akan lebih senang dicerca daripada dipuji. Sesunguhnya, jika dia mendengar orang lain memujinya niscaya dia akan bangga dan kebajikannya pun rusak karenanya.”

“Perbedaan kebaikan dan kejahatan, ibadah dan perbuatan maksiat, adalah sejauh jiwa merasa tertarik atau enggan. Berbahagialah orang yang mencintai kebaikan dan amal saleh dengan meninggalkan kejahatan dan kemaksiatan. Dan rugilah orang yang mencintai kejahatan dan kemaksiatan dengan meninggalkan kebaikan dan amal saleh.”
“Ilmu yang paling mulia mendekatkan diri Anda kepada Sang Pencipta dan membantu Anda menjadi orang yang diridhai-Nya. Jika menyangkut harta, pangkat, dan kesehatan, Anda harus melihat orang yang lebih rendah daripada Anda. Jika menyangkut agama, ilmu, dan kebaikan, lihatlah orang yang lebih baik daripada diri Anda.”
“Tak ada malapetaka terburuk bagi ilmu dan ulama selain campur tangan pihak asing, yaitu orang-orang bodoh yang merasa pandai; mereka merusak segalanya namun merasa bahwa mereka memberikan pertolongan.”

“Manfaat ilmu sangatlah besar: orang yang mengenal indahnya kebaikan pasti akan mengamalkannya. Orang yang mengenal buruknya kejahatan pasti akan menjauhinya. … ada ilmu di setiap kebaikan, dan ada kebodohan di setiap kejahatan. Orang yang tidak pernah belajar (tentang kebaikan) tidak akan mengamalkannya, kecuali jika dia mempunyai sifat yang sangat suci, yaitu sifat para nabi karena Allah telah mengajarkan kepada mereka kebaikan seutuhnya, tanpa harus belajar dari sesama manusia.

Benar, aku pernah menyaksikan adanya sebagian orang yang -karena perilaku dan moralitas mereka yang sempurna- tak kalah dengan orang bijak, ulama, atau orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Tetapi, ini sangat jarang. Dan aku pernah menyaksikan orang berilmu yang benar-benar mengetahui pesan para nabi dan nasihat kaum bijak, namun sayangnya jauh lebih jahat dan licin daripada orang-orang yang berperangai buruk, lahir maupun batin. INILAH MANUSIA PALING BURUK. Ini sangat sering terjadi. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa kedua sikap moral di atas merupakan bagian dari takdir Allah Swt.”

“Beruntunglah orang yang lebih mengenali kesalahannya sendiri daripada kesalahan orang lain.”
“Rencana orang yang cerdas bisa saja keliru. Rencana orang yang bodoh tidak pernah benar.”
“Tak ada yang lebih berbahaya bagi seorang gubernur daripada dikelilingi oleh para tunakarya. Penguasa cerdas mengetahui bagaimana menyibukkan mereka tanpa harus menzalimi mereka.”
“Orang terbaik yang dapat menolong Anda adalah orang yang juga memperhatikan keberhasilan mereka sendiri. Jangan minta tolong kepada orang yang tidak becus menangani urusan mereka sendiri.”
“Jangan menanggapi omongan yang dibawa orang ketiga, kecuali jika Anda yakin bahwa orang yang dibicarakan memang benar-benar mengucapkannya, sebab si pembawa kabar bohong itu akan membawa pergi kebenaran.”
“Percayakan amanat Anda kepada orang yang saleh, meski agamanya berbeda dengan agama Anda. Jangan percaya kepada orang yang memandang rendah hal-hal yang sakral, meski dia mengaku menganut agama yang Anda anut. Janganlah pernah menyerahkan amanat penting kepada orang yang melalaikan perintah Allah.”

“Keberanian berperang demi kehampaan dunia adalah sikap ceroboh yang dungu. Tetapi yang lebih dungu adalah sikap berani melanggar hak dan kewajiban, apakah demi kepentingan diri Anda sendiri maupun orang lain. Yang paling dungu adalah orang yang, menurut pengalaman saya, tidak tahu untuk apa mereka berkorban. Mengenai orang-orang semacam itu, Rasulullah Saw pernah memperingatkan: ‘Akan datang kepada umat manusia suatu zaman ketika orang yang membunuh tidak mengetahui mengapa mereka membunuh dan si korban tidak mengetahui mengapa dia dibunuh.'”

 

“Dalam berbagai urusan, kesalahan yang dibuat oleh satu orang lebih baik daripada kebijakan adil yang diikuti oleh seluruh kaum muslim yang tak berpemimpin. Ini karena kesalahan satu orang dapat diluruskan, tapi pandangan benar kaum muslim akan mendorong mereka untuk mengabaikan sesuatu yang mungkin saja keliru, dan mereka pun menjadi rugi karenanya.”

 

“Aku sendiri punya banyak kesalahan, namun aku selalu berusaha memperbaikinya dengan melatih diri, dengan mempelajari sabda para nabi dan juga perkataan para guru bijak terdahulu yang unggul dalam moralitas dan kedisiplinan, sehingga Allah menolongku mengatasi banyak kesalahanku, alhamdulillah. Mengakui kesalahan semacam itu berarti mengamalkan kebajikan, mendisiplinkan diri – tanda orang mencapai kebenaran yang sempurna karena tujuannya adalah agar orang lain dapat belajar darinya, insya Allah.”

 

“Karunia terbaik yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah keadilan dan cinta kepada keadilan, serta kebenaran dan cinta kepada kebenaran.”

 

“Jika orang mengetahui kelemahannya sendiri, niscaya dia akan menjadi sempurna. Karena tak ada makhluk yang suci dari kesalahan, maka berbahagialah orang yang kesalahannya hanya sedikit dan tidak berat.”

 

“Sesuatu yang sangat sering terjadi adalah sesuatu yang tidak terlalu didambakan. Keteguhan mencakup sikap Anda mempersiapkan diri bagi sebanyak mungkin kejadian yang dapat diperkirakan. Mahasuci Allah yang menunjukkan ketakberdayaan manusia dan kebutuhannya kepada Penciptanya yang Mahakuasa.”

 

“Jika Anda memberikan nasihat, lakukan hal itu dengan lemah lembut, jangan berteriak; gunakan kata sindiran, jangan bicara secara terang-terangan kecuali Anda tengah menasihati orang yang lemah daya tangkapnya. Lalu penjelasan menjadi penting. Jangan berikan nasihat hanya dengan syarat bahwa ia harus dipatuhi. Dengan demikian, Anda adalah seorang tiran, bukan penasihat; Anda menuntut kepatuhan. Anda tidak menunaikan hak rasa keagamaan dan semangat persaudaraan. Akal maupun persahabatan tak memberi Anda hak untuk memaksa. Itulah hak penguasa terhadap rakyatnya dan guru terhadap muridnya.”

 

“Manusia dapat dibagi menjadi tujuh golongan menurut sifat-sifat mereka.

Sebagian memuji Anda di depan Anda dan mengumpat Anda di belakang Anda. Inilah sifat orang munafik atau tukang fitnah; sifat seperti itu nyaris dimiliki oleh semua manusia.

Sebagian lainnya mencela Anda di depan maupun di belakang Anda. Inilah sifat tukang fitnah yang kuat dan angkuh.

Sebagian lagi memuji Anda di depan maupun di belakang Anda. Inilah tanda tukang memuji dan orang yang ingin naik pangkat (penjilat).

Sebagian lainnya mencela Anda di depan Anda dan memuji Anda di belakang Anda. Inilah sifat orang bodoh dan dungu.

Orang yang baik tak akan memuji atau mencela Anda di depan Anda. Demikian pula dia tidak akan memuji atau mencela Anda di belakang Anda, atau mereka tak mencela Anda. … orang-orang yang ingin hidup tenteram, mereka berhati-hati untuk tidak memuji atau mencela Anda, baik di depan maupun di belakang Anda.”

 

“Orang bijak tak akan menyibukkan dirinya dengan persahabatan yang bermula saat dia naik ke tampuk kekuasaan, sebab pada saat itu setiap orang telah menjadi sahabatnya.”

 

“Cinta yang sempurna adalah jika takdir tak memisahkan dua orang yang saling mencintai ketika mereka saling jatuh cinta. Tetapi di mana hal itu dapat terjadi selain di surga? Hanya di sana cinta jelas mendapatkan perlindungan karena surga adalah negeri dengan kemantapan yang kekal. Sebaliknya, di dunia, perasaan semacam itu tak terlindungi dari nasib nahas, dan kita menjalani kehidupan tanpa pernah merasakan kesenangan yang abadi.”

 

“Sikap plin-plan -yang merupakan aib- terbentuk oleh perpindahan dari satu pandangan hidup yang dipaksakan dan tanpa rasa, kepada pandangan hidup lainnya yang sama terpaksanya, dari sebuah keadaan absurd kepada keadaan lain yang sama absurdnya tanpa alasan yang jelas.”

 

“Berdasarkan cara berbicara manusia, kita dapat membagi mereka ke dalam tiga kelompok:

Pertama, tidak takut terhadap apa yang mereka lakukan, apa saja yang mereka ucapkan, tanpa menjaga kebenaran atau memperbaiki kesalahan. Inilah sifat manusia pada umumnya.

Kedua, berbicara hanya untuk membela pendapat mereka sendiri atau mencerca apa yang menurut mereka salah tanpa berupaya menegakkan kebenaran, bahkan semata-mata hanya membela diri. Ini sering terjadi, namun tak sebahaya kelompok pertama.

Ketiga, menggunakan ucapan yang diridhai Allah, dan inilah yang lebih berharga daripada ‘belerang merah’.”

 

“Jika Anda harus memilih antara menyakiti manusia dan menyakiti Allah, jika tak ada jalan lain kecuali lari dari kebenaran atau lari dari manusia, Anda harus memilih menyakiti manusia dan menjauhi mereka. Jangan sakiti Tuhan Anda, jangan lari dari keadilan.”

 

“Orang angkuh harus memikirkan kesalahan-kesalahannya. Jika dia bangga terhadap kebaikannya, dia harus menemukan kelemahan pada sifatnya sendiri. … Orang bijak adalah orang yang melihat kesalahannya sendiri dan berupaya mengatasinya. Orang bodoh tidak mengetahuinya karena dia picik dan akalnya lemah, mungkin karena dia memandang kesalahannya sebagai sifat yang baik, dan di dunia tak ada yang lebih buruk dari hal ini.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s