Quotations Collection Part 26: Menyentuh Hati dengan Hati

Inilah jalan dakwah “menyentuh hati dengan hati”, yang mungkin secara tak disadari telah banyak dilupakan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang katanya memberikan hidupnya untuk dakwah.

***

“… Ketika aku datang ke Amerika Serikat, aku belajar di sekolah umum, aku belajar di sekolah menengah. Mayoritas orang di sekitarku adalah bukan muslim. Sesungguhnya aku tidak kenal seorang muslim pun dalam dua tahun pertama di sekolah. Aku tak kenal seorang muslim pun. Lingkungannya benar-benar berbeda. Bahasanya benar-benar berbeda, dan kecenderungan alami anak remaja adalah berusaha untuk berteman. … (Namun,) hal yang membuatku berbeda dari orang-orang adalah Islam.

“… karena kau punya lima hari aktif di sekolah umum, di hari Jumat kau tidak libur untuk pergi salat Jumat. Aku tidak salat Jumat selama dua tahun ketika aku di sekolah menengah. … semua temanku bukan Islam, dan tentu saja, karena mereka bukan muslim, gaya hidup dan segalanya tentang mereka tidak berkaitan dengan agama. Aku mulai mengikuti apa yang mereka lakukan, tetapi orangtuaku tidak menyangka aku berubah. Jadi, aku pun menjadi orang yang lain di rumah dan lain di sekolah.

“Dan tiba satu titik di mana kau tahu bahwa kau merasa bersalah ketika hidup dengan cara yang bertentangan dengan ajaran agamamu. Dan kau tak suka, tak ada orang yang suka merasa bersalah, sehingga akhirnya kau harus memutuskan apakah menerima agama atau membuang hal yang membuatmu merasa bersalah sehingga perasaan itu tak ada lagi. Bunuh saja suara hatimu, dan lakukan apa yang kau inginkan. Itulah jalan yang aku pilih pada saat itu. Itu mengingatkanku pada satu hadist, ‘Seseorang itu tergantung teman dekatnya, maka hendaknya kau memerhatikan siapakah teman dekatmu.’ Aku benar-benar jauh dari Islam.

“Namun di awal masa kuliah, tak terduga, atas kehendak Allah dan Dia Maha Berkehendak, aku bertemu dua pemuda yang memasang selebaran untuk Asosiasi Mahasiswa Muslim. Aku tanya dia, apa itu, dan kupikir jika ini adalah Asosiasi Mahasiswa Muslim, maka mereka pasti punya perkumpulan yang besar karena mereka pasti mengumpulkan muslim-muslim dari semua negara di perkumpulan mereka. Jadi aku bertanya, ‘Apa kalian mengadakan perkumpulan?’ dan dia menjawab, ‘Ya. Kami mengadakan itu.’

“(Tertawa) Tapi ketika aku pergi, perkumpulan itu hanya diikuti dua orang itu dan mereka sedang mendiskusikan sesuatu tentang Al Qur’an atau apalah. Kupikir, ini bukan tempatku. Tapi, orang-orang ini sangat baik padaku dan mereka mulai menghabiskan waktu denganku. Mereka memberiku tumpangan untuk pulang sekolah… tapi aku masih tidak salat dan lainnya.

“Pada satu hari, salah seorang dari mereka mau pergi salat dan aku karena merasa tak enak ikut salat, hanya karena dia ada di sana. Dan aku mulai merasakan itu dan sebelum aku menyadarinya, aku sudah salat lima waktu lagi, dan mempelajari ulang bagaimana salat itu. Sebelumnya aku bahkan tak ingat berapa rakaat salat maghrib dan apa yang dibaca. Aku melalui itu semua terus dan terus, tetapi alhamdulillah, aku bisa. Aku bersyukur pada Allah diberikan teman yang melakukan itu.

“Satu dari banyak hikmah penting yang bermanfaat bagiku adalah bahwa tak ada seorang pun yang sia-sia. There is nobody who’s hopeless. Karena kau tahu, jika kau melihatku di sekolah dan kau seorang yang religius, dan kau baru saja selesai salat dan melihatku lewat, kau akan memandangiku dan berkata ‘astaghfurullah…’, lihat orang ini. Aku dulu orang yang seperti itu, tetapi kemudian seseorang memutuskan untuk tidak menghakimiku, dan ia hanya menganggapku sebagai manusia yang punya kebaikan dalam dirinya.

“Kita harus melakukan hal yang seperti itu pada orang lain. Kita harus bersabar dengan mereka dalam mengajari mereka Islam, dan ini tidak akan selesai dalam semalam. Saudaraku itu, sahabat terbaik dalam hidupku, dia sebetulnya tak pernah mendakwahiku kepada Islam. Dia tak pernah menyuruhku untuk salat, tak pernah memberitahuku tentang Qur’an. (Tapi,) ‘dia menghafalkan Qur’an, dan aku bahkan tidak tahu’. Tidak terpikir olehku. Dialah orangnya, yang perlahan lewat persahabatan yang diberikannya… itu adalah proses panjang yang baik bahwa dia melakukan ini bersamaku sehingga aku sampai pada agama. Subhanallah.”

— Nouman Ali Khan, a Pakistani-born American Muslim speaker, founder, CEO and lead instructor at The Bayyinah Institute for Arabic and Qur’anic Studies

Source: http://www.youtube.com/watch?v=99Dtn2NK3E4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s