Poetry of The Week: The Fictional Existance

Kau bisa bangun di suatu pagi, membuka matamu dan melihat ke langit-langit tinggi.
ini hari di mana tak satu pun hal lama yang mengikuti.
ini hari di mana aku tak ada.
Aku tak ada lagi.

Kau bisa bangun di suatu pagi, membuka jendela dan merasakan udara sejuk.
Kau melihat fajar, dedaunan dan lagit.
Tak ada beda kini dan kemarin, sekarang dan masa lalu di dunia yang sama,
di tahun ini dan di tahun lalu.

Aku tak ada di hari ini di tahun lalu.
Aku tak punya jejak dalam hidupmu di hari ini di tahun lalu.
Aku tak kau kenal di hari ini di tahun lalu.
Maukah kau memutar kembali waktu dan mendapatkan kebaruan dengan cara ini?

Keluar rumah, menyalakan kendaraan, dan melalui jalan yang sama.
Pergi ke tempat kerja, ke sekolah, ke perpustakaan dengan cara yang sama.
Berbincang dengan keluarga, teman, kenalan, orang-orang dengan biasa.
Tak ada yang hilang atau dihapus, karena kita saling melupakan dengan baik.

Jika kau teringat aku, aku hanya fiksi.
Jika kau teringat wajahku, aku hanya fiksi.
Jika kau teringat suaraku, aku hanya fiksi.
Jika kau teringat lakuku, aku hanya fiksi.

Fiksi.

Sebuah fiksi yang diceritakan di kedai kopi atau warung pinggir jalan.
Sebuah fiksi yang dituliskan di kertas-kertas cerita atau puisi.
Tentang seseorang yang sebetulnya tak ada,
hanya diadakan.

Ia seseorang yang bertahun-tahun mencari, tenggelam dalam gelombang
manusia bermilyar-milyar yang saling mencari
janji Tuhan di samping penghidupan dan kematian.
Belahan jiwa yang lain, apakah itu?

Bukan batu, bukan jalanan. Bukan burung-burung yang ramai di pagi hari.
Bukan embun di dedauan setelah hujan. Bukan pelangi, bukan awan.
Bukan buku-buku, bukan perbincangan. Bukan ruang-ruang, bukan gedung-gedung.
Bukan kue-kue, bukan permen. Melainkan sepasang mata yang tak sengaja terlihat.

Ini bahkan bukan cerita. Hanya ada awal, tetapi selamanya adalah awal.
Sepasang mata itu menghilang dalam kedipan dan pejaman panjang.
Ini bukan berita, bukan sebuah kejadian, hanya kilasan yang menerima berbagai dugaan.
Ini bukan pengetahuan, karena ketika tanganmu terulur, semua buyar.

Hanya doa dan pengharapan milik orang yang terseok dalam keputusasaan.
Dia mulai menari dan bernyayi bersama batu dan jalanan,
burung-burung di pagi hari, buku-buku dan perbincangan,
di ruang-ruang dan gedung-gedung.

Gila.

Kita mungkin hanya dua orang yang bertanya-tanya apakah kesejatian itu ada?
Mengapa selalu ada sesuatu di balik sesuatu, mengapa kejujuran adalah sesuatu di balik itu?
Mengapa lebih percaya pada apa yang tersembunyi ketimbang yang tampak?
Yang tak terlihat memang belum tentu tidak ada, tetapi apakah makna yang sudah terlihat ini?

Tidak ada.
Dan hati ini sakit oleh mata yang memandang terlalu dalam sehingga mampu melihat yang tidak ada,
oleh mata yang terlalu awas sehingga mampu menangkap yang tidak ada,
oleh mata yang terlalu tajam sehingga mematikan dan membakar yang ada.

Kenyang dengan ketiadaan, puas dengan cukup menelan kehampaan.
Aku tidak ingin ada lagi, aku berharap tidak ada lagi.
Agar aku menjadi ada dalam duniamu yang rumit, yang merasa lebih baik ketika segala telah hilang.
Seperti mendung yang sirna dan langit biru berubah menjadi kosong, lalu mentari menerangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s