Quotations Collection Part 35: On August 2014

Islam itu bukan sekedar iman, tetapi juga ilmu. Dengan agama adalah iman, maka kontra agama adalah KERAGUAN. Dengan agama adalah ilmu, maka kontra bagi agama adalah KEBODOHAN. Jika ingin ber-Islam secara lurus dan benar, perangilah keraguan sekaligus kebodohan dalam diri. Mengatasi keraguan dengan beriman, mengatasi kebodohan dengan belajar agama. Salah besar jika dalam beragama, kita cuma disuruh diam dan ikut ulama/ orang lain yang dicap lebih pintar dengan dalih bersikap kritis adalah bentuk keraguan religius sehingga ber-Islam tak boleh kritis. Setiap insan berkewajiban untuk belajar dan berhak menjadi ulama minimal untuk dirinya sendiri, agar ia bisa bertanggung jawab di hadapan Allah di hari akhir nanti. Berpikir dan bersikap kritis adalah amal aqliyah, tanda kita manusia berakal yang lebih mulia daripada malaikat dan sempurna ketimbang hewan. Islam tegak karena cahaya iman dan ilmu. Cuma hidup dengan salah satunya, kita akan hidup timpang. Beriman dan belajarlah sampai mati. Sadarilah kebodohan. Jangan beriman dalam keadaan bodoh. Beragamalah dengan akal yang jernih. Ber-Islam-lah dengan ilmu. — My Own Mind, 1 Agustus 2014

 

“I am not an intellectual. An intellectual is someone who looks at a sausage and thinks of Picasso, whereas I just say ‘pass the mustard’.” — Sebastian Horsley

 

“Through humor, you can soften some of the worst blows that life delivers. And once you find laughter, no matter how painful your situation might be, you can survive it.” — Bill Cosby

 

“Duduklah bersama orang-orang tua, bertanyalah kepada ‘ulama (ahli pengetahuan), dan bergaullah dengan hukama’ (ahli hikmah).” HR Thabrani

 

“Tiga yang menyelamatkan: Takut kepada Allah di waktu sendirian dan di muka umum, bersikap adil di waktu perasaan sedang dan marah, dan hidup sederhana di waktu miskin dan kaya. Tiga yang membahayakan: Hawa nafsu yang dituruti, kikir yang dipatuhi, dan mengagumi diri sendiri.” HR Abu Syekh dari Anas

 

“Hai orang banyak! Sesungguhnya kamu menyebabkan orang lari. Oleh sebab itu, siapa yang shalat menjadi imam bagi orang banyak, hendaklah diringkaskannya, karena di antara mereka ada orang yang sakit, orang lemah, orang tua, dan orang yang mempunyai keperluan.” HR Bukhari

 

“Berhemat dalam pembelanjaan adalah separuh penghidupan, sayang kepada orang banyak adalah separuh akal, dan pandai bertanya adalah separuh pengetahuan.” HR Thabrani dari Ibn Umar

 

“Sesungguhnya seseorang mengerjakan suatu dosa, tetapi setelah disadarinya, perbuatannya itu menyedihkan hatinya. Setelah Allah memperhatikan orang itu sesungguhnya bersedih hati karena dosanya, Allah mengampuni kesalahan yang diperbuatnya sebelum mengambil bayaran untuk menutupi dosanya, bukan dengan shalat dan bukan dengan puasa.” (HR Ibn ‘Asakir dari Abu Hurairah)

 

“Mereka mencari mangsa anak-anak muda yang memiliki semangat keislaman tinggi, tetapi pengetahuan agama rendah. Kita harus membentengi mereka, jangan terpengaruh provokasi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)/ Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) dan janji-janji muluknya. Banyak yang terkecoh, apalagi mereka memakai simbol Rasulullah dan syahadat. Telitilah, jangan terkecoh penampilan pertama.” — KH Mustafa Ali Yakub, Imam Masjid Istiqlal

“Organisasi ini sudah ditolak puluhan lembaga ulama internasional. Lihatlah, para tokohnya menggunakan nama alias dan menyembunyikan asal-usulnya. Umat hendaknya berpegang pada ulama yang sudah dikenal dan jelas karya di masyarakatnya.” — Ustadz Fahmi Salim, Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia

“Larangan terhadap NIIS harus segera ditindaklanjuti dengan dialog besar-besaran untuk penyadaran bangsa Indonesia. … Bangsa kita berpenduduk mayoritas anak muda yang sudah terancam dengan narkoba dan seks bebas. Sekarang ada ancaman ideologi yang bisa menghancurkan generasi muda kita. ISIS bukanlah Islam dan tidak ada kaitannya dengan Islam.” — Febby, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

“Pancasila jelas unggul dan merupakan jawaban bangsa terhadap rongrongan ekstremisme ala NIIS.” — Khatib Syuriah PBNU KH Masdar Mas’udi

Sumber: KOMPAS, Jumat, 8 Agustus 2014

 

“Hai Abu Dzar, tidak ada akal sebagaimana kepandaian mengatur, dan tidak ada wara’ seperti menahan diri dari yang haram, dan tidak ada kemuliaan seperti budi pekerti yang baik.” “Hai Abu Dzar, sesungguhnya muttaqin (orang yang takwa) itu ialah orang yang takut dari sesuatu yang bukan haram, karena khawatis terjerumus dalam syubhat (yang meragukan).” — Wasiat Nabi SAW kepada Abu Dzar Al Ghifari Wara’: sikap hati-hati dari perkara yang syubhat (masih ragu-ragu hukumnya halal atau haram) dan meninggalkan yang haram.

 

“BETTER TO BUILD A CHILD THAN FIX AN ADULT” — National Crime Prevention Center (NCPC), Canada

 

“Freedom consists not in doing what we like, but in having the right to do what we ought.” — Pope John Paul II

 

“Some people drink from the fountain of knowledge, others just gargle.” — Robert Anthony Sebagian orang minum dari mata air pengetahuan, sebagian lainnya hanya berkumur.

 

“Don’t let the integrity of your story be influenced by the masses. Write what you set out to write.” — Ifrosteei

 

“Ada tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri. Pertama, kaburkan sejarahnya. Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhur dengan mengatakan jika leluhur itu bodoh dan primitif.” — Architects of Deception, Secret History of Freemansory by Juri Lina

 

“To me, ideas are worth nothing unless executed. They are just a multiplier. Execution is worth millions.” — Steve Jobs

 

Ilmu dan pengetahuan lebih baik daripada kekayaan dan kekuasaan Abul Aswad berkata : “Tidak ada sesuatu yang lebih utama dari pada ilmu. Para raja itu memerintah manusia (orang kebanyakan), sedangkan para ahli ilmu itu memerintah para raja”. Ibnu Abbas ra berkata : “Sulaiman bin Dawud as disuruh memilih antara ilmu, harta dan kerajaan maka beliau memilih ilmu, lalu beliau diberi harta dan kerajaan”. Ibnul Mubarak ditanya : “Siapakah manusia itu” Ia menjawab : “Para ulama”. Ditanyakan lagi : “Siapakah para raja itu ?”. Ia menjawab : “Orang-orang yang zuhud”. Ditanyakan lagi : “Siapakah orang rendahan itu ?” Ia menjawab : “Orang-orang yang memakan dunia dengan agama.” — Bab Keutamaan Ilmu, Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali

 

Ahli ilmu lebih baik daripada ahli ibadah Rasul bersabda: Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah dari shahabatku [At Tirmidzi dari hadits Abu Umamah] Kelebihan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti kelebihan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang [Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Hibban, dan itu sepotong dari hadits Abu Darda’ yang terdahulu] Tidaklah Allah Ta’ala disembah dengan sesuatu yang utama dari pada pemahaman terhadap agama. Sungguh seorang faqih itu lebih berat atas syaithan dari pada seribu orang ahli ibadah. Setiap sesuatu itu mempunyai tiang, dan tiang agama ini adalah fiqh [Ath Thabrani dalam Al Ausath, Abu Bakar Al Ajiri dalam Fadhlul ‘ilmi, dan Abu Na’im dalam Riyadhatul Muta’allimin dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah] Antara orang yang ‘alim dan orang yang beribadah adalah seratus derajat, antara setiap dua derajat itu ditempuh kuda pacuan yang dilatih selama tujuh puluh tahun [Al Ashfihani dalam At Targhib wat Tarhib, dari lbnu Umar dari ayahnya] *** Ali ra berkata : “Orang yang ‘alim itu lebih utama dari pada orang yang berpuasa, berdiri ibadah malam dan berjuang. Apabila seorang ‘alim meninggal maka berlobanglah dalam Islam dengan suatu lobang yang tidak tertutup kecuali oleh penggantinya”. — Bab Keutamaan Ilmu, Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali

 

“It doesn’t really matter who you used to be, what matters is who you’ve become.” — Robert Tew

 

“Life is precious, do not waste it doing anything that your heart does not respect or agree with.” — Leon Brown

 

With money: You can buy a house, but not a home. You can buy a clock, but not time. You can buy a bed, but not sleep. You can buy a book, but not knowledge. You can get a position, but not respect. You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you. — Warren Buffet

 

“Hal yang harus saya bunuh adalah perasaan saya kalau saya suka pada salah satu pihak.” — Hamdan Zoelva, Ketua MK

— Apakah saat menangani sengketa pilpres ada tekanan?

Yang menelepon saya banyak sekali. Saya anggap itu adalah risiko. Ada yang tidak suka, ada yang suka. Itu hal yang biasa. Yang penting, sebagai hakim saya percaya ada kehidupan setelah kematian. Pada saat itu, kita akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang kita putuskan sebagai penguasa, sebagai pejabat. Itulah yang paling saya takuti. Walaupun saya tahu ada pertanggungjawaban kepada negara, kepada rakyat, tetapi yang jauh lebih saya takuti adalah pertanggungjawaban kepada Tuhan. Karenanya, saya harus jernih, bening, dan memosisikan diri sebagai orang yang ada di tengah. Hal yang harus saya bunuh adalah perasaan saya kalau saya suka pada salah satu pihak.

— Apakah ada beban psikologis?

Bagi kami, seluruh hakim, hal yang paling penting adalah pertanggungjawaban dalam kebenaran karena putusan ini akan dibaca anak cucu kita dalam sejarah. Nanti dibuka file-file-nya, sembilan hakim ini apakah melakukan kesalahan atau tidak. Itulah yang kami jaga betul. Dengan keyakinan itu, kami jalan lurus saja, dan pasti tentunya, ada yang senang dan ada yang tidak senang. MK itu tidak menjatuhkan keputusan politik. MK menjatuhkan putusan hukum.

— Harapan setelah putusan?

Saya ingin negara ini benar-benar menjadi negara yang berbudaya tinggi. Negara yang beradab. Salah satunya dengan penghormatan kepada lembaga peradilan. Kami menyadari betul bahwa negara kita pembangunan hukumnya masih berkembang, masih tumbuh, kepercayaan kepada institusi belum sepenuhnya. Tapi, mudah-mudahan sedikit demi sedikit bisa membangun kewibawaan institusi-institusi pengadilan dengan baik. Sehingga, pada akhirnya kita betul-betul menjadi negara yang berbudaya, beradab, segala persoalan diselesaikan oleh ruang pengadilan.

— Ada yang masih mengganjal setelah putusan?

Alhamdulillah saya merasa lepas. Satu tugas besar telah selesai.

Wawancara Khusus, KOMPAS, Jumat, 22 Agustus 2014, h. 3

 

“What angers us in another person is more often than not an unhealed aspect of ourselves. If we had already resolved that particular issue, we would not be irritated by its reflection back to us.” — Simon Fuller

 

“Kamu dapati manusia itu sebagai barang galian. Orang pilihan di masa jahiliyah, pilihan juga dalam masa Islam, apabila mereka mengerti. Kamu peroleh manusia yang baik dalam urusan (agama) ini ialah orang yang sangat membencinya sebelum masuk ke dalamnya. Kamu dapati manusia yang jahat (paling buruk) pada sisi Allah di hari kiamat, ialah orang yang mempunyai dua muka. Datang kepada orang-orang ini dengan satu muka dan kepada orang-orang itu dengan muka yang lain.” HR Bukhari dan Muslim

 

It’s just a thought, only a thought
But if my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

— Dido, “Life for Rent”

 

“Just simply hearing from the right person brightens a horrible day.” — A comment for Dido, “Thank You”

 

Life is a moment in space
When the dream is gone
It’s a lonelier place

— Barbra Streisand, in “Woman in Love”

 

“Before you quit, try. Before you talk, listen. Before you react, think. Before you criticize, wait. Before you move on, forgive.” — Author Unknown

 

“Have patience with everything that remains unsolved in your heart. Try to love the questions themselves, like locked rooms and like books written in a foreign language. Do not now look for the answers. They cannot now be given to you because you could not live them. It is a question of experiencing everything. At present you need to live the question. Perhaps you will gradually, without even noticing it, find yourself experiencing the answer, some distant day.” — Rainer Maria Rilke  Bersabarlah dengan segala hal yang masih tak terpecahkan dalam hatimu. Cobalah untuk mencintai pertanyaan-pertanyaan itu.

 

“Language doesn’t matter, but the music is medicine to ears.” — A comment for “Now We are Free”

 

“The wise person is the one who can point out the problems, the inconsistencies of both methodology, what remaining firm to the truth. In our religion (Islam), just because you’re a muslim doesn’t mean everything that you do become right. In our religion, just because you say “lailahaillallah”, that doesn’t justify everything that you’re doing. And if someone points out some mistakes of muslims, this does not mean they are risiding with those who are opposing Allah and His Messenger. This does not mean that they are residing with unjust regimes, with tyrannical governments, with foreign policies that hace suffocated muslims land.” — Yasir Qadhi, an American Muslim scholar and writer, Dean of Academic Affairs at the Al-Maghrib Institute

 

“There is a fine line between fanaticism and rightousness.” — Yasir Qadhi

 

“I’m not Muslim, nor do I have any religious faith, but what I like about this interview is the message of hope for the sinning woman who wrote in and the many other sinners who will take something positive from this message that you can be forgiven. We see too much extreme behaviour such as people being hanged or stoned to death in the name of religion, people are scared of Muslims and Islam. I want to see more messages like this in the mainstream media so people get a better understanding.” — A comment for the interview, theDeenShow, “Tawbah for Fornication (Zina) Sin”

 

“Persaudaraan dan persahabatan yang baik adalah persaudaraan dan persahabatan yang tidak membuatmu mengkhianati hati nurani. Perhatikan mereka yang kau panggil teman. Sekali mereka mengkhianati nurani, mereka akan mengkhianatinya berkali-kali. Dan sekali kau tak punya keberanian untuk bicara dan bertindak memperbaiki, kau sudah dikalahkan.” — My Own Mind, 31 Agustus 2014

 

“Judging somebody and looking down at them reveals more about your character than theirs.” — Syaikh Abdul Nasir Jangda

 

“There is a way to deal with others. … We are living in a time with very very low tolerance. The first thing needed when you want to understand someone else is you have to humanize them. You have to see them as a decent person. You have to see the as, not just a fellow human-being, but also a fellow citizen. People have the same concerns. People want what the best for their neighborhood, their city, even their country. If you don’t see them that way, there is no point in conversation.” — Nouman Ali Khan

Ada cara untuk berhubungan dengan orang lain. … Kita ini hidup di masa dengan kelapangan dada dan kesabaran yang rendah. Hal pertama yang diperlukan jika kau ingin memahami orang lain adalah kau harus memperlakukannya sebagai manusia. Kau harus memandang mereka sebagai seseorang yang punya kehormatan diri. Kau harus memandangnya sebagai, tidak hanya sesama manusia, tetapi juga sesama warga. Kita semua memiliki kepedulian yang sama. Kita ingin yang terbaik bagi tempat tinggal kita, kota kita, dan bahkan negara kita. Jika kita tidak memandang mereka dengan cara yang demikian, tidak ada gunanya pembicaraan, diskusi, ataupun dialog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s