Quotations Collection Part 37: On October 2014

“Wisdom is nothing more than healed pain.” — Robert Gary Lee

 

“Worry often gives a small thing a big shadow.” — Swedish Proverb

 

“Kebahagiaan bukanlah ganjaran dari kebaikan, tetapi adalah kebaikan itu sendiri; begitu pula kita tidak senang pada kebahagiaan, sebab kita mengendalikan nafsu-nafsu; Namun sebaliknya, karena kita begitu senang kepadanya (kebahagiaan), oleh karena itu kita dapat mengendalikan nafsu-nafsu tersebut.” — Spinoza, Ethica

 

Hedonisme menyebutkan bahwa kesenangan (pleasure) adalah prinsip yang membimbing tindakan manusia… Aristipus sebagai wakil pertama dari teori hedonistik, mempercayai pencapaian kesenangan dan penghindaran kesakitan menjadi tujuan kehidupan dan kriteria kebaikan. Kesenangan baginya adalah kesenangan sesaat. Pandangan dasar hedonisme yang radikal -dan naif- ini telah mempunyai jasa suatu perhatian yang tak suka kompromi pada signifikansi individual dan pada suatu konsep konkret tentang kesenangan, menjadi kebahagiaan identik dengan pengalaman segera. Namun ia telah dibebani kesulitan nyata yang sudah disebutkan, hedonis itu telah tidak mampu memecahkan secara memuaskan: yaitu mengenai keseluruhan karakter subjektif dari prinsip mereka. Upaya pertama guna meninjau kembali posisi hedonistik dalam memperkenalkan kriteria objektif ke dalam konsep tentang kesenangan telah dibuat oleh Epicurus, yang meskipun memaksakan kesenangan menjadi tujuan kehidupan, menyatakan bahwa “sementara setiap kesenangan pada dirinya sendiri adalah baik, tidak semua kesenangan harus dipilih”, jika beberapa kesenangan kemudian menyebabkan gangguan lebih besar ketimbang kesenangan itu sendiri; baginya, hanya kesenangan yang tepatlah harus mendukung (kondusif) bagi hidup dengan bijaksana, baik dan tepat. Kesenangan yang “benar” meliputi ketenangan pikiran dan tidak adanya ketakutan, ia dicapai hanya oleh manusia yang mempunyai kebijaksanaan dan tinjauan ke masa depan yang pada gilirannya ia siap menolak kepuasan segera demi kepuasan yang kekal dan sentosa. Epicurus mencoba menunjukkan bahwa konsep kesenangan sebagai tujuan kehidupan konsisten dengan kebaikan kesederhanaan, keberanian, keadilan, dan persahabatan. — Manusia bagi Dirinya, Erich Fromm (1947/1988, h. 133-134)

 

“Manusia yang baik mempunyai kesenangan yang benar; manusia yang buruk mempunyai kesenangan yang salah.” — Plato

 

“Kegembiraan merupakan suatu hasil hidup yang tepat dan luhur serta bukan suatu indikasi keberdosaan. … Kegembiraan adalah suatu perjalanan manusia dari suatu kesempurnaan yang lebih kecil ke suatu kesempurnaan yang lebih besar. … Kesenangan bukan tujuan kehidupan, melainkan secara tak terelakkan, ia menyertai aktivitas produktif manusia. Keberkahan (atau kebahagiaan) bukan pula hadiah dari kebaikan, melainkan kebaikan itu sendiri.” — Spinoza, dalam Fromm (1947/1988)

 

“Semua hasrat masokistik dapat digambarkan sebagai suatu kerja keras demi apa yang membahayakan. … Mengidamkan apa yang berbahaya itulah esensi dari kesakitan mental.” — Erich Fromm, dalam “Manusia bagi Dirinya”

 

“Apa yang sejatinya bisa diraih dengan moral seharusnya tidak dicapai melalui hukum.” — Daoed Joesoef, “Musang Berbulu Ayam”, KOMPAS 10 Oktober 2014

 

“Mistakes are the best teachers. One does not learn from success. It is desirable to learn vicariously from other people’s failures, but it gets much more firmly seared in when they are your own.” — Mohnish Pabrai

 

“Peace survives on the virtue of the people and virtue is reflected in the way individuals and groups balance their own needs with the needs of the society as a whole.” — Johnson & Johnson, “Essential Components of Peace Education”, 2005

 

“The object of teaching a child is to enable him to get along without his teacher.” — Elbert Hubbard

 

“When we talk about the needs of human beings, we talk about the essence of their lives. … Human life will never be understood unless its highest aspirations are taken into account.” — Abraham Maslow, “Motivation and Personality”, 1954/1970, h. xii

 

.. what I have observed is that need gratifications lead to only temporary happiness which in turn tends to be succeeded by another and (hopefully) higher discontent. It looks like as if human hope for eternal happiness can never be fulfilled. … Peak experience do not last, and cannot last. Intense happiness is episodic, not continuous. — Abraham Maslow, “Motivation and Personality”, h. xv

That’s why people are continuously doing “grumbling” in their lives… It’s normal, but with a BUT: Self-actualizing persons are relatively exempted from this profound source of human unhappiness. In a word, they are capable of “gratitude”. The blessedness of their blessings remain conscious. Miracles remain miracles even though occuring again and again. The awareness of undeserved good luck, of gratuitous grace, guarantees for them that life remains precious and never grows stale. h. xxi

 

Jangan-jangan kita tidak suka gagasan pluralisme dan multikulturalisme hanya karena kita takut kehilangan dominansi… — MOM, 18 Oktober 2014

 

“The nastiest fights are often fought within religious groupings. Therefore, intra-religious dialogue is as important as inter-religious dialogue, since if we are to learn to respect people who are outside of our respective religions, you’d think we’d want to learn to respect those who are different from us within our religions. Those who think they have a mission to purify their religion — these are the ones with the biggest problems and cause the biggest problems.” — Professor Emeritus Gary D Bouma of Monash University

 

“We must say it boldly that the end of dialogue is conversion; not conversion to my, your or his religion, culture, mores or political regime, but to the truth.” — Ismail Raji al-Faruqi (1921-1986), the early proponent of interfaith dialogue

 

“No human life without a world ethic for the nations. No peace among the nations without peace among the religions. No peace among the religions without dialogue among the religions.” — Hans Küng

 

“Dalam praktik, tidak semua konflik berasal dari sumber-sumber yang terbatas. Dilema sosial yang menyangkut nilai-nilai, misalnya, dapat berlangsung terus-menerus karena sumber konfliknya terletak pada nilai-nilai itu sendiri.” Dalam bukunya Pak Sarlito, Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan

 

“The brain gives the heart its sight. The heart gives the brain its vision.” — Rob Kall

 

“There is nothing in a caterpillar that tells you it’s going to be a butterfly.” — Buckminster Fuller

 

Sabda Rasulullah SAW, tegaknya negara ditunjang empat pilar: ilmu para ulama, keadilan para pemimpin, kemurahan hati orang-orang kaya, dan doa orang-orang lemah/ miskin. Tegaknya negara tidak butuh keluhan, sinisme, kritik tak membangun, sindiran, hinaan, celaan, ejekan, guyonan, ghibah, fitnah, ucapan mencla-mencle, ucapan tanpa landasan ilmu, dan gosip di Facebook dari orang-orang yang katanya terdidik, SEPERTI: dosen, mahasiswa/ lulusan S3, mahasiswa/ lulusan S2, mahasiswa/ lulusan S1, orang-orang yang bertahun-tahun ikut liqo’/ halaqoh/ kajian ilmu agama. Lebih baik orang yang tak sekolah atau cuma lulusan SD/SMP/SMA yang karena kebodohannya tak berani bicara KETIMBANG orang terdidik yang bicara sampah. 24/10/2014

 

“Our greatest glory is not in never falling but in rising every time we fall.” — Confucius

 

“It isn’t stress that makes us fall – it’s how we respond to stressful events.” –Wayde Goodall

 

“I believe that everything happens for a reason. People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.” — Marilyn Monroe

 

“Much of the pain in life comes from having a life plan that you’ve fallen in love with, but that doesn’t work out. Having to find a new life plan hurts. The trick is not to become too attached to any particular life plan and to remember that there is always a better, even happier life plan out there somewhere.” — Karen Salmansohn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s