Keadilan

“Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian!” Itu kalimat yang diteriakkan warga Afro-Amerika di seantero AS yang hari ini berdemonstrasi protes menentang keputusan hakim yang membebaskan perwira polisi yang menembak mati remaja kulit hitam bernama Michael Brown. (baca: KOMPAS Internasional, 26 November 2014).

Kasusnya sebenarnya “sederhana”. Singkat cerita, Michael Brown yang sedang bermain di taman dilaporkan oleh seorang warga karena terlihat membawa senjata api. Polisi pun datang dan melihat keadaan. Karena gerak-gerik remaja tersebut mencurigakan, polisi yang merasa terancam melakukan penembakan yang mengakibatkan kematian, padahal senjata yang dibawa remaja tersebut ternyata hanya mainan. Dengan pertimbangan bahwa tindakan tersebut untuk pertahanan diri, pengadilan membebaskan si polisi. Namun, keputusan itu dinilai tidak adil dan memicu demonstrasi dan kerusuhan di banyak kota di AS (http://www.dw.de).

Kejadian itu dipandang tidak hanya merupakan aksi brutal polisi dan ketidakadilan hakim, tetapi juga fenomena rasisme terhadap masyarakat kulit hitam. Rasisme menyebabkan bias pada kelompok tertentu sehingga keputusan yang diambil menguntungkan yang satu, merugikan yang lain. Polisi dianggap menganaktirikan warga kulit hitam sehingga dengan mudahnya melakukan penembakan. Juri di pengadilan pun dianggap tidak adil karena dianggap memihak polisi yang merupakan warga kulit putih.

Di kelas hari ini, saya belajar teori keadilan dan mengingat satu konsep bagus: ketidakadilan adalah akar konflik sosial. Pikiran saya menghubungkan konsep itu dengan apa yang saya dengar dari acara Mata Najwa minggu lalu ketika Ahok menceritakan bagaimana ia dipercaya untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Ia sendiri sadar dalam dirinya akan identitas etnis Tionghoanya. Ia sadar bahwa orang Indonesia yang mayoritas muslim belum bisa menerima keberadaan dirinya lantaran, tidak hanya identitas etnis, tetapi juga agamanya.

Minoritas Tionghoa di Indonesia menjadi topik presentasi saya dan teman-teman saya di kelas Psikologi Perdamaian minggu depan. Saya mencari beberapa artikel penelitian terkait dan membaca satu yang paling menarik tentang bagaimana politik asimilasi dan politik multikulturalisme menjadi upaya mengharmoniskan orang-orang Tionghoa dengan pribumi Indonesia pasca kerusuhan Mei 1999 di era reformasi. Di satu seksi, saya membaca kritik terhadap multikulturalisme, dan mengingat satu hal penting bahwa upaya-upaya membangun perdamaian itu tidak mudah. Dari berbagai macam kritik, salah satunya adalah penentangan politik multikulturalisme oleh kelompok mayoritas dari etnis atau agama tertentu yang menghegemoni, seperti umat Islam.

Ketika umat Islam disebut, itu membuat saya tercenung. Semua orang yang memikirkan persoalan bangsa tahu, umat Islam (sebagai individu-individu maupun kelompok-kelompok dalam tubuh umat Islam) punya bagian dalam dinamika masyarakat Indonesia, baik itu yang baik maupun yang buruk. Menerakan “Islam” di kolom agama di KTP tidak lantas membuat kita menjadi seorang muslim yang baik. Beridentitaskan Islam tidak otomatis membuat seorang muslim menjadi penegak kebenaran dan keadilan. Beragamakan Islam tidak menjamin umat Islam langsung menjadi umat terbaik di dunia. Ada dimensi pengamalan agama secara lahir dan batin yang itu tidak tersentuh dengan sekedar beridentitaskan Islam. Ada perintah beriman dan bertakwa sebaik-baiknya. Namun, di antara banyak indikator takwa, mengapa laku adil adalah yang lebih dekat dengan takwa (QS Al Maidah 5: 8)?

Berlaku tidak adil itu mudah. Sedikit saja kita punya kecenderungan hati pada satu pihak, apakah itu diri sendiri, kelompok sendiri, dan bahkan umat agama sendiri, akan ada korban ketidakadilan kita, yaitu orang lain, kelompok lain (meskipun seagama), dan umat agama lain. Kita tidak bisa melawan kecenderungan hati yang manusiawi itu. Kita hidup dengan diri kita, terlindungi dalam kelompok kita, dan menjadi bersaudara dengan orang-orang seagama. Tentu kita akan lebih menyukai dan menyayangi apa yang menjadi bagian dari kita. Persoalan terkait kecenderungan hati ini adalah Islam tidak mengajarkan umatnya untuk pilih kasih dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Jika harus ada yang dibenci, maka itu bukan terhadap individu manusia lantaran asal kelompoknya yang berbeda dari kita, melainkan perilakunya yang dibenci oleh agama.

Namun, kenyataan tidak seideal itu. “Mencintai karena Allah, membenci karena Allah” hanyalah kalimat indah. Dalam kehidupan yang sebenarnya, begitu banyak orang terjebak dalam rasa cintanya kepada diri sendiri dan kelompok sendiri. Benar tidak ada yang sempurna di dunia ini dan semua orang berbuat salah. Tetapi, bisakah kita membenci diri sendiri dan kelompok sendiri jika berlaku salah? Mampukah kita menghukum diri kita sendiri dengan tegas jika kita bersalah? Bisakah kita mencintai orang dari kelompok lain lantaran tindakannya benar? Mampukah kita mendukung mereka sekalipun mereka bukan bagian dari kita? Itu tidak mudah. Berlaku seadil itu sulit.

Apa yang dilakukan orang-orang yang terjebak dalam rasa cinta dan tidak mampu keluar dari perasaan itu? Mata mereka tidak bisa melihat, dan telinga mereka tidak bisa mendengar. Dalam keyakinannya, semua tentang dirinya bagus, sedangkan semua tentang orang lain buruk. Terhadap diri sendiri, ia pandai mencari-cari kebaikan, memuji-muji, dan membela mati-matian jika orang lain menunjukkan kekurangannya. Terhadap orang lain, ia pandai mencari-cari kejelekan, mengolok-olok, dan tidak memedulikan jika orang lain punya kelebihan. Itu di level individual. Persoalan akan menjadi besar kalau yang seperti itu melibatkan banyak sekali individu yang tergabung dalam satu kelompok. Kau bisa bertakwa secara berjamaah, tetapi kau juga bisa melanggar perintah Allah secara berjamaah. Jika pelakunya hanya satu orang dan tidak melibatkan siapa-siapa, masih cukup mudah untuk mengoreksinya. Namun, jika pelakunya ribuan orang, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan?

Dari memikirkan hal di atas, saya menyadari satu bentuk ketertipuan hidup di dunia disebabkan oleh justru rasa cinta, bukan benci. Rasa cinta membuat dua orang saling mendekat, beberapa orang saling berkumpul, dan lebih banyak lagi membentuk serikat. Rasa cinta menggelapkan pandangan, menurunkan kemampuan untuk melihat secara objektif, dan mendorong pengambilan keputusan dan penilaian di bawah pengaruh bias, menguntungkan diri sendiri. Jika sudah begitu, bisakah yang buruk tetap buruk? Ada syetan yang menampakkan kebagusan dari apa yang dikerjakan itu. Ada syetan yang memanfaatkan emosi terdalam dalam jiwa manusia, yaitu rasa cinta.

Benar-benar ironis rasa cinta itu. Sekalipun pandangannya ke arah luar, jika orientasinya ke dalam dan mencapai ego, ia menjadi akar kebencian kepada entitas di luar diri dan sebab ketidakadilan dan kekacauan. Keinginan melindungi diri, membuat diri membunuh orang lain. Keinginan memelihara hegemoni diri, membuat diri menolak keberadaan orang lain. Itulah sisi jahat manusia, tetapi itu pula sisi baiknya, ketika kepentingan ego menjadi standar ukuran dan nilai segala sesuatunya. Tidak ada manusia yang bebas dari yang seperti itu.

“Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku memotong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Bisakah berpendirian seperti itu ketika dihadapkan kepada ketidakadilan yang dilakukan oleh diri atau kelompok sendiri? Bisakah pisau keadilan dan hukum di tangan kita tidak hanya tajam ke luar, tetapi juga tajam ke dalam?

 

No Justice No Peace

One thought on “Keadilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s