Mutiara Tasawuf untuk Psikologi Islami

Buku tasawuf pertama saya adalah “Humor Sufi”, kumpulan cerita-cerita pendek sufistik Nasruddin Hoja. Saya membacanya ketika masih sekolah dasar dulu, tanpa mengerti sebelumnya apa itu sufi atau tasawuf. Cerita-cerita itu hanya cerita, tetapi selalu teringat betul. Salah satunya begini: Seseorang mendatangi Nasruddin dan meminta fatwa atas permasalahan ke arah manakah dirinya harus menghadap ketika ia mandi di sungai? Harapannya adalah mendapatkan dalil agama, tetapi Nasruddin malah meng-goblok-kannya, “Tentu saja ke arah tempat di mana kau simpan pakaianmu, bodoh!”

Cerita itu teringat ketika saya mendengarkan acara televisi “Macapat Shalawat”-nya Cak Nun. Sama seperti Nasruddin, menurutnya juga bodoh orang-orang yang sedikit-sedikit mencari fatwa atas persoalan-persoalan kehidupan dunia, apakah hukumnya main bola, hukumnya kenduri, hukumnya salawatan, hukumnya ini dan itu. Perkataannya tegas bahwa di dunia ini memang ada hal-hal yang sudah diatur oleh Allah, yaitu perkara ibadah, tetapi ada banyak hal yang Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk mengatur detail kehidupannya sendiri berdasarkan prinsip-prinsip umum. Agama dianalogikan seperti tali yang mengikat leher seekor kambing pada sebuah tiang. Dengan tali itu, kambing bebas berlari ke sana-ke mari, tetapi tidak lepas dan/atau tetap bisa bernapas.

Saya jujur belum mengerti betul, tetapi definisi sementara saya adalah tasawuf ada kaitannya dengan sikap hidup yang bijaksana.

Perhatian saya pada tasawuf/ sufisme tidak memuncak sampai saya belajar psikologi. Praktik-praktik sufisme adalah topik kajian yang menarik dalam bidang psikologi agama dan psikologi transpersonal. Namun, waktu itu pengetahuan saya hanya berhenti sampai di situ. Sebagai orang Islam sendiri, saya tidak tahu seperti apakah spiritualitas dalam Islam itu dan bagaimana melakukannya. Sufisme hanya menjadi teori. Baru belakangan saya sepertinya mengerti mengapa spiritualitas Islam “tidak sampai” pada saya.

Dari sebuah buku saya membaca tentang suatu dikotomi dalam agama, antara aspek lahiriah dan batinnya, antara ahli fikih dan ahli tasawuf. Saya pikir, alasannya tentu adalah terlalu besarnya penekanan aspek lahiriah yang tampak dari agama dalam hidup saya, di lingkungan kehidupan saya. Psikologi membuat saya mempelajari sisi kejiwaan manusia dan merenungkan perilaku batinnya, di samping perilaku badannya. Isu-isu semacam penyakit hati (bukan gangguan jiwa) dan penyucian jiwa (bukan pengobatan jiwa), akhlak mulia dan akhlak tercela, pengendalian nafsu, hakikat hati/ qalbu, dan dimensi transendental manusia pun mulai mencuri perhatian. Psikologi secara umum tidak punya bidang yang mengakomodasi wawasan semacam itu, tetapi ada cukup tempat untuk itu dalam khazanah Psikologi Islam, dan justru sangat luas dan mendalam itu dibicarakan dalam tasawuf.

Sekitar tiga minggu yang lalu, alhamdulillah ada rezeki, saya membeli empat buku yang bagus terkait hal di atas. Pertama, Obrolan Sufi untuk Transformasi Hati, Jiwa, dan Ruh karya Robert Frager, Ph.D atau Syekh Ragip Frager (Zaman, 2012). Kedua, Tasawuf untuk Kita Semua: Menapaki Bukit-bukit Zamrud Kalbu Melalui Istilah-istilah dalam Praktik Sufisme karya Muhammad Fethullah Gulen (Republika, 2013). Ketiga, Psikologi Akhlak, terjemahan dari Kitab al-Akhlaq wa al-Siyar fi Mudawat al-Nufus, karya Ibn Hazm. Keempat, Semulia Akhlak Nabi karya Amru Khalid (Aqwam, 2013).

Tulisan ini akan berisi sedikit tentang hasil membaca saya atas dua buku pertama.🙂 Kelak, berdasarkan poin-poin penting yang saya catat, saya ingin membuat tulisan yang komprehensif tentang psikologi tasawuf.

***

1# Pelajaran tentang Pengendalian Nafsu

Satu sisi menarik dari buku Obrolan Sufi adalah penulisnya yang merupakan doktor psikologi dan ahli dalam psikologi transpersonal. Itu memberikan ciri dalam tulisannya. Tasawuf yang berusaha ditularkannya kepada pembaca, meski sebagian besar berisi hikmah-hikmah Islami, mengintegrasikan penjelasannya berdasarkan perspektif psikologi kontemporer. Apa yang selama ini dikenal muslim sebagai “pengendalian nafsu” mendapatkan pengertian baru dalam benak saya. Pengendalian nafsu pada dasarnya adalah “pengendalian ego”. Frager menggunakan kata “nafsu” dan “ego” secara bergantian di banyak tempat dalam sohbet atau obrolan sufinya. Dari tasawuf terasa semakin mendekati psikologi -atau psikologi yang justru mendekati tasawuf?

Rintangan menuju Tuhan, Allah Swt, bukanlah syetan yang terkutuk (sebagaimana yang sering dipakai dalam literatur agama), melainkan ego manusia yang menjadi dipermainkannya. Penghambat keimanan yang benar dan ketakwaan yang sungguh-sungguh bukanlah iblis, melainkan ego manusia atau diri manusia. Ego, dari bahasa Jerman, berarti self dalam bahasa Inggris, atau diri dalam bahasa Indonesia. Ego adalah “aku” dan ego ini berbicara, sebagaimana yang kita semua pasti pernah mendengarnya, sebagai suara yang berbicara dalam batin kita, ego ini merasa sebagai emosi yang ada dalam dada kita, dan mendorong perbuatan, mengendalikan langkah menuju perwujudan keinginan-keinginan, hasrat-hasrat, dan cita-citanya.

Apa yang membuat ego menjadi bagian dari masalah?

Ingatkah firman Allah tentang orang-orang yang menuhankan hawa nafsunya? “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah Membiarkannya sesat berdasarkan Ilmu-Nya?” (QS Al Jatsiyah 45: 23) Itulah orang-orang yang menuhankan egonya, dirinya sendiri. Ia lebih mengikuti keinginan-keinginan dirinya ketimbang apa yang Diinginkan Allah pada manusia. Apa yang membuat manusia sulit menjalankan perintah dan menjauhi larangan adalah ego yang mendominasi.

Satu kesadaran penting yang saya dapatkan dari membaca buku ini adalah bahwa ego lebih tepat dimanifestasikan sebagai keberlebih-lebihan di dua sisi, yaitu kanan dan kiri. Di sisi kanan, ego mendorong seseorang untuk ingin jadi baik, di sisi kiri ego membuat manusia tak peduli dirinya buruk. Terutama pada sisi kanan, ini agak mencengangkan, karena selama ini kita tidak pernah mempertanyakan atau mengkritisi ego manusiawi yang menyuarakan keinginan menjadi baik, keinginan menjadi berilmu, menjadi kaya, dan semua yang baik-baik lainnya. Kita mengikuti ego yang semacam itu dalam keseharian kita. Tetapi, ada satu peringatan bahwa apapun yang bersumber dari diri manusia, baik atau buruk, patut menjadi sasaran kehati-hatian.

Realita kehidupan membuktikan hal itu. Tidak sedikit bencana di bumi diakibatkan oleh orang-orang yang ingin berbuat baik MENURUT perspektifnya. Ia lupa bahwa keridhaan yang merupakan hak prerogatif Tuhan, Allah Swt, menjadikan tidak semua hal yang baik manurut manusia adalah juga baik menurut Tuhan, dan juga sebaliknya. Allah punya “pendapat” dan orang-orang yang menuhankan ego, mereka tidak mendengarkan atau membaca firman Allah dengan baik. Mereka pilih-pilih. Mereka mengambil firman Allah yang mendukung ego mereka dan mengabaikan firman Allah yang tidak mendukung ego mereka. Mereka menginterpretasikan firman Allah sesuai dengan ego mereka.

Apa yang ingin diberikan tasawuf adalah pelajaran tentang bagaimana agar manusia mampu mengendalikan egonya (bukan membunuh ego) dan lebih mendengarkan Allah ketimbang dirinya sendiri, lebih berhati-hati terutama terhadap dirinya sendiri agar lebih sempurna dalam mematuhi Allah, menggunakan ego (bukan dimanfaatkan ego) untuk menghamba kepada Allah, dan menjadikan ego sekedar alat untuk mengembangkan diri dan spiritualitas menuju insan kamil (bukan tujuan dari pengembangan diri).

“Perang dalam diri jauh lebih kompleks daripada perang di medan tempur. Tidaklah selalu mudah untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang hitam, mana yang putih. Dalam sebuah peperangan kita segera mengetahui siapa sekutu dan siapa musuh. Namun, … Nafsu tidak pernah mengatakan kepada kita, ‘Akulah musuhmu.'” (h. 44)

Pengendalian ego adalah apa yang di dalam Islam disebut sebagai jihad besar, yaitu jihad melawan nafsu dalam diri sendiri, baik itu nafsu yang buruk maupun yang sepertinya baik, tetapi tidak diridhai Allah sehingga menyesatkan manusia. Ini seperti yang diungkapkan dalam QS Yusuf 12: 53, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang Diberi Rahmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

***

Tasawuf

2# Pelajaran tentang Kekerdilan Diri

Tasawuf adalah aspek halus dalam Islam yang mengajarkan kita bagaimana menyempurnakan kepribadian (Frager, 2012, h. 349). Tasawuf mengajarkan bagaimana “mengempeskan” balon-balon ego yang sombong, narsistik (membanggakan/ menyukai diri sendiri) dan selfish (mementingkan diri sendiri). Satu hal yang cukup membuat saya merenung ada kaitannya dengan QS Az Zuman 39: 49-50:

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami Berikan kepadanya Nikmat dari Kami, ia berkata, ‘Sesungguhnya, aku diberi Nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.”

Ilmu pengetahuan tanpa pedoman agama rentan menyimpangkan manusia menuju humanisme yang kebablasan. Allah memberikan manusia kebebasan untuk mengatur kehidupannya, tetapi manusia lantas membebaskan diri dari Allah dalam usahanya mengatur kehidupannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi memberi manusia kesempatan yang besar menuju pembebasan itu. Tetapi kebebasan yang semacam itu hanyalah ilusi. Allah tetap Menggenggam erat nasib dan jiwa manusia. Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari Kuasa-nya.

Dalam Islam, benar kita diajarkan untuk berusaha/ ikhtiar, berdoa, dan tawakal ketika kita bertekad ingin melakukan dan mencapai sesuatu. Ketiga hal tersebut tidak berdiri sendiri. Usaha kita sendiri tidak cukup. Berdoa saja tidak cukup. Memasrahkan diri saja tanpa usaha pada keputusan Allah juga tidak benar. Meskipun demikian, ada satu sikap yang luput diingat ketika seseorang berhasil mencapai apa yang diinginkannya. Meskipun sudah berusaha, keberhasilan atau kegagalan adalah Kehendak Allah. Semua kebaikan adalah atas Rahmat Allah. Keburukan yang terjadi adalah atas Izin-Nya.

Dengan iman yang benar, seseorang tidak memberikan pengaruh yang hakiki terhadap sebab-sebab dari segala sesuatu. Dalam berusaha, kita memperhatikan sebab-sebab dan apa saja akibat yang ditimbulkannya. Tetapi, sebaik apa pun pengetahuan kita tentang sebab-sebab dari segala sesuatu sehingga kita mampu membuat prediksi dan melakukan pengendalian, tidak hanya hasil yang ada dalam Genggaman Allah, sebab-sebab itu pun ada dalam Genggaman Allah. Termasuk pula manusia yang berusaha mengendalikan sebab-sebab, ia ada dalam Genggaman Allah.

Begitu banyak hal di dunia ini yang tidak mampu dan tidak bisa kita kendalikan. Begitu banyak hal yang sudah ada di dalam tangan kita lepas dan bebas, menjadi tak terkendali. Tidak hanya terhadap benda dan hal-hal di luar diri kita, kita bahkan sulit mengendalikan diri kita sekalipun kita mengerti apa-apa yang harus diatur. Keinginan-keinginan manusia melayang satu demi satu. Adakah yang bisa menyelamatkan manusia dari keterpurukan jika di dalam hatinya tidak ada iman dan keyakinan bahwa di balik semua yang terjadi ada peran Tuhan dan Tuhan tidak pernah bermain-main?

Itulah… Manusia itu sungguh sangat kecil, betapa pun besar cita-cita dan angan-angannya. Mungkin seharusnya dengan merenungkan keberadaan milyaran gemintang di langit sana, manusia jadi menyadari kedudukannya di alam semesta yang seperti debu, begitu kecil, nyaris tak terlihat. Di saat seperti itu, di tengah kesadaran penuh akan keterbatasan yang nyata, ego tak memiliki keinginan apa-apa lagi kecuali berserah diri kepada Tuhan.

One thought on “Mutiara Tasawuf untuk Psikologi Islami

  1. Pingback: “Kebenaran” Menurut Psikologi Sufi dan Neuro Sains | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s