Diari Tesis Bag. 5: Menuju Ujian Komprehensif

Insya Allah, besok Senin, 8 Desember 2014, aku ujian komprehensif. Ujian komprehensif itu ujian proposal tesis, ujian bab satu sampai tiga. Alhamdulillah wa syukurillah, astaghfirullah…

***

Wisdom 1

 

Dari waktu ke waktu aku mencermati diriku sendiri: seberapa baik aku mengerjakan tesisku. Ukuran pertama tentu adalah seberapa tepat aku bergerak berdasarkan rencana. Tanpa sedih hati aku katakan bahwa aku lewat satu bulan dari target. Menurut rencana yang dibuat pada September lalu, aku seharusnya sudah ujian komprehensif di awal November sehingga Desember aku sudah mulai bisa ambil data. Rupanya ada banyak yang harus dilakukan. Akan kuceritakan di sini🙂

Ketika bimbingan tesis kali pertama, aku ditanyai dosen pembimbingku, “Afif, menurutmu apa yang masih perlu kamu lakukan?” Jawabku, “Saya perlu studi pendahuluan.” Jadi, bulan Oktober kugunakan penuh untuk studi pendahuluan. Ini sebenarnya sesuatu hal yang sudah kusadari pasti akan kulakukan, cuma selama ini aku menunggu gongnya berbunyi, yaitu ketika topik dan judul penelitianku diterima.

Aku tidak punya waktu yang sangat luang. Selain mengerjakan tesis, kesibukanku adalah mengikuti dua mata kuliah dan menjadi asisten di dua mata kuliah anak-anak S1. Bulan Oktober pun menjadi bulan yang sangat penuh. Senin sampai Rabu masuk pagi sampai sore untuk kesibukan-kesibukan itu. Baru setiap malam atau Kamis sampai Ahad bisa fokus mengerjakan tesis.

Seminggu pertama sejak bimbingan tesis pertama tanggal 24 September, aku melakukan sejumlah perbaikan minor atas proposal tesisku dan membuat surat izin mengambil data awal.

Di minggu kedua, mulai 2 atau 3 Oktober, aku menyusun proposal ringkas untuk dilampirkan bersama surat izin tadi dan memasukkannya ke akademik fakultas (tempatku studi pendahuluan adalah kampusku sendiri).

Di minggu ketiga, mulai 6 Oktober, aku menemui dosen-dosen untuk minta izin menyebarkan kuesioner di kelasnya. Seminggu itu juga kugunakan untuk mempersiapkan kuesioner sebanyak 140 buah.

Di minggu keempat, mulai 13 Oktober, aku mengambil data awal di tiga kelas. Sebanyak 131 mahasiswa lengkap mengisi kuesioner. Seminggu itu juga kugunakan untuk analisis data. Hasil studi awal dimasukkan dalam bab pendahuluan. Selesai revisi seluruh proposal, aku memberikan berkasku kepada dosen pembimbing untuk bimbingan selanjutnya.

Di minggu kelima, aku menunggu-nunggu kapan dosenku ada waktu dan menghubungiku. Aku sudah menghubungi beliau. Rupanya beliau lupa. Di minggu keenam, aku memberitahukan lagi bahwa aku ingin bimbingan, dan alhamdulillah beliau ada waktu. Minggu depan.

Di minggu ketujuh, 5 November 2014, aku bimbingan tesis lagi. Wah, menyenangkan rasanya hari itu. Aku bercerita panjang lebar soal isu yang kuangkat dengan beliau. Bimbingan selama satu jam lebih tidak terasa jadinya. Hari itu, aku berharap proposalku bisa diizinkan ujian komprehensif. Rupanya belum. Ada satu hal yang perlu kutambahkan, yaitu tentang kaitan topik yang hendak kuteliti dengan bidang psikologi positif. Alhamdulillah, bisa kukerjakan minggu itu juga.

Di minggu kedelapan, mulai 10 November 2014, aku berjuang mencari tanda tangan pembimbing. Kalau pembimbing dosen yang sibuk, tentu saja ada acara lari-lari dari gedung satu ke gedung yang lain untuk mengejar beliau. Selain itu, aku mulai mempersiapkan berkas. Ada sejumlah dokumen yang harus difotokopi, seperti KTM, hasil tes AcEPT dan PAPs, dan sebagainya. Proposal tesis pun perlu dikopi sebanyak empat eksemplar. Jumat, 14 November 2014, semua sudah siap. Tetapi, di detik-detik terakhir (mepet sekali aku mendaftar ujian di jam tutup kantor), aku diberitahu petugas belum membuat lembar pengesahan di keempat eksemplar proposalku. Padahal tadi sudah lari-lari dan kehujanan, lari-lari lagi ke tempat fotokopi. Penambahan itu selesai hari itu juga, tetapi tanda tangan pembimbing…

Di minggu kesembilan… di sempitnya waktu mempersiapkan diri menjadi peserta konferensi mahasiswa pascasarjana, Rabu, 19 November 2014, alhamdulillah dosen pembimbingku menghubungiku, bisa ditemui di salah satu kelasnya untuk memberikan tanda tangan di lembar pengesahan itu. Berdasarkan rencana bersama, kalau lancar, Selasa minggu depan tanggal 25 November 2014 aku bisa ujian komprehensif. Tetapi rupanya ceritanya lain…

Satu minggu sejak berkas didaftarkan, tidak ada kabar kapan aku ujian. Adanya kabar adalah salah satu dosen penguji tidak bisa menguji hari itu. Aku tunggu minggu depannya lagi, dan barulah ada kabar, insya Allah minggu depan tanggal 8 Desember 2014, pukul 10.00 di ruang A107 bersama Bu Murtini dan Pak Asmadi Alsa, aku ujian komprehensif. Wow… Lega rasanya. Ada kepastian itu melegakan, meskipun harus menunggu 12 minggu untuk sampai pada akhirnya. Dua belas itu lama, tapi tidak terasa lama. Adanya target-target kecil membuat semua terasa dinamis, sibuk, dan aku lupa kalau ternyata aku ini sebenarnya sedang “menunggu”. Seandainya aku malas-malasan dan santai-santai saja, tidak ada ceritanya 12 minggu bisa ujian komprehensif.

Alhamdulillah… wa syukurillah…

***

Rasanya akan jadi cerita yang bahagia kalau aku langsung melompat menuju hari aku selesai ujian komprehensif dan mendapatkan hasilnya apa ya… tetapi tidak begitu. Semingguan ini justru aku merasa takut dan cemas. Entah bagaimana, aku jadi gentar menghadapi ujian.

Aku berpikir-pikir apa sebabnya. Pertama, ketidakpercayaan diriku kambuh lagi. Sebenarnya, sudah lama aku berhasil mengatasi keraguanku soal topik penelitianku, yaitu antimaterialisme. Aku tahu itu topik yang tidak biasa, mungkin terdengar aneh, sulit dimengerti, dan sebagainya. Aku perlu kerja lebih untuk bisa menerangkannya dengan baik kepada orang lain.

Pada suatu hari aku membaca proposal tesisku dari A sampai Z untuk menemukan celah-celah ketidakjelasan ide dan cara berpikirku dan melakukan gerakan memperbaiki proposal dari A sampai Z. Aku perlu meluaskan wawasan tentang pendidikan karakter dan pendidikan antikorupsi. Aku perlu memahami kerangka berpikirku, juga metode penelitianku. Jadi belajar lagi tentang metode penelitian grounded theory. Setelah itu selesai, aku merasa cukup. Masalah selesai.

Tetapi, tidak. Aku cemas lagi. Persoalan kedua, aku tidak percaya diri karena hal yang lain. Aku tahu kelemahanku ada di kemampuan bicara. Aku lebih pandai menulis daripada bicara. Aku hampir selalu tidak nyaman dengan situasi di mana aku harus melakukan presentasi. Lidahku tidak lincah. Aku tidak bisa seperti teman-temanku yang pandai menghafal isi slide presentasi. Aku takut tidak bisa menyampaikan maksudku dengan baik di hadapan dewan penguji. Aku takut salah bicara. Aku bahkan takut kalau ternyata proposal tesis yang sudah mati-matian kukerjakan itu disalahkan di sana-sini.

Ahaha… rasanya aku agak terpukul sejak pengalaman menyaksikan temanku ujian komprehensif…

Suatu ketika aku dikonseling oleh temanku itu. Memang benar katanya bahwa tidak apa-apa salah. Dari salah itu justru jadi tahu apa yang kurang dan perlu diperbaiki. Dengan begitu karya kita menjadi lebih sempurna. Dia bilang semua orang ada salahnya. Bahkan si X (seorang temanku) yang jago itu juga banyak salahnya. Tidak apa-apa, katanya. Tidak perlu takut ujian. Tidak perlu takut salah.

Tapi… rasanya pemahaman itu kurang jitu. Masih saja ada rasa tidak enak di dalam hati. Aku tahu, jeleknya aku yang idealis adalah aku sulit memahami kesalahan, terutama ketika aku sudah bekerja keras dan memastikan kerjaku benar, yang kubuat ini benar. Itu sesuatu hal yang berat. Aku tahu kerja kerasku berusaha menemukan dan menemukan ulang di bagian mana kebocoran masih terjadi dan berusaha keras pula menambalnya. Aku takut, ketika aku sudah merasa benar dan seharusnya semua baik-baik saja, dosen-dosen penguji itu berhasil melihat yang tidak berhasil aku lihat. Itu rasanya berat…

Sore tadi, setelah selesai memeriksa laporan praktikum mahasiswa, aku hanya terduduk dengan air muka galau. Di dekatku ada kakak kelasku yang sudah lulus bersama temannya yang juga sudah lulus mendiskusikan kehidupan mereka. Aku cuma mendengarkan dan menangkap hal penting ketika dia bercerita tentang penerimaan. Aku parafrasekan, “Hidup itu enak kalau kita bisa menjalaninya dengan menerima segala sesuatunya. Pengerjaan tesisku panjang, banyak ceritanya. Tapi, aku tahu, aku lama bukan karena aku malas, tetapi karena memang ada banyak hal di luar kendaliku. Ya sudah. Itu diterima dan dihadapi.”

 

Wisdom 4

 

Itu membuatku jadi ingat satu kalimat indah yang pernah kubaca di sebuah buku tasawuf:

“… kita tidak pernah menjadi sempurna. Kita tidak diciptakan sempurna. … Kita diciptakan untuk membutuhkan bantuan, kemurahan hati, dan ampunan Allah. … Menjadi sempurna bukan pilihan bagi kita. … kita tidak ‘butuh’ untuk menjadi sempurna dan kita semestinya tidak mencoba ‘menjadi’ sempurna. Kendati demikian, kita harus berjuang keras ‘menuju’ kesempurnaan. … Nafsu sering kali berusaha meyakinkan kita bahwa kita harus sempurna karena tanpa kesempurnaan kita tidak akan pernah membuat kemajuan… Jika kita mengikuti bujukan nafsu, ia menang karena sesungguhnya kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. … Semestinya kita tidak merasa takut dengan apa yang tidak bisa kita lakukan, tetapi bersyukurlah atas apa yang bisa kita kerjakan. Kemudian, mintalah ampunan kepada Allah atas segala kekurangan.”

Aku berusaha mengikuti nasihat itu sampai tadi sore dan merenung-renungkan semuanya secara bersamaan.

Karena tak tahu lagi harus bagaimana dengan perasaanku, aku bangkit dan pamit dengan kedua orang seniorku itu. Dia mendoakanku dan temannya pun mendoakanku. Berjalan menyusuri lorong depan mushola fakultas dengan kepala tertunduk. Aku melihat tanah saja, dan teringat satu nasihat lagi:

“Tanamkanlah komitmen dalam diri kita untuk belajar, bukan untuk menjadi benar.”

KEPALAKU SEPERTI DIPALU.

Jadi ingat, ah iya, benar. Aku datang ke kota ini dan kuliah di universitas ini adalah untuk belajar. Aku belajar bukan untuk jadi benar, tetapi untuk menjadi pribadi yang lebih bijak. Ya, aku takut salah adalah karena tujuanku teralihkan menjadi terfokus pada ingin jadi benar, apakah itu benar dalam ide, konsep, pemikiran, dan karya. Orang yang ingin bijak tak takut kesalahan. Orang egoislah yang takut salah dan maunya benar terus.

 

Wisdom 5

 

Aneh sekali rasanya. Rasa cemasku seketika terangkat. Tentu saja, aku masih harus melakukan yang seharusnya aku lakukan. Tetapi, ketika aku berhasil menemukan kembali tujuanku yang sebenarnya, aku merasa lebih baik. Ini benar-benar Kehendak Allah.

Satu hal yang lalu aku catat hari ini dan pasti akan kutulis di halaman motto tesisku kelak jika sudah selesai:

“Kau datang ke sini untuk belajar, bukan untuk menjadi lebih pintar. Kau belajar di sini untuk menjadi lebih bijak, bukan untuk menjadi benar. Itu, obat untukmu yang takut salah dan takut tampak bodoh. Telan, jangan dimuntahkan lagi.”

Astaghfirullah atas segala kekurangan… Alhamdulillah… bisa sampai pada hari ini🙂

4 thoughts on “Diari Tesis Bag. 5: Menuju Ujian Komprehensif

  1. Semangaattt berjuaang..🙂
    Semoga Allah memudahkan dan memperlancar urusanmu..

    Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa..
    Baarakallahufiiki.

    #dibawahrintikhujanlangitJakarta

  2. Pertama kali mendengar doa itu dari Bp Ali Yasin (Semoga Allah merahmati Beliau) pada masa sekolah dahulu…😀

    Adapun terkait faedah doa tersebut sebagai berikut:
    Dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].

    Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)

    Sanad hadits ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Shahih Ibnu Hibban.

    Faedah singkat dari do’a di atas:
    1. Yang namanya kemudahan hanya datang dari Allah. Sesuatu yang sulit sekalipun bisa menjadi mudah jika Allah kehendaki.
    2. Hendaklah hati selalu bergantung pada Allah, bukan bergantung pada diri sendiri yang lemah. Jika hati terlalu yakin atau terlalu PD (percaya diri) sehingga melupakan Rabb di atas sana, maka sungguh urusan tersebut akan semakin sulit. Ingatlah bahwa barangsiapa yang senantiasa bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mempermudah urusannya.
    3. Manusia punya kehendak. Namun kehendak tersebut bisa terealisasi dengan baik dan sempurna, jika Allah menghendakinya. Oleh karena itu, hati seharusnya bersandar pada Sang Kholiq, Allah Ta’ala.
    4. Perlunya beriman kepada takdir ilahi dengan baik sehingga tidak membuat seseorang semakin sedih atas musibah atau kesulitan yang menimpanya.
    5. Takdir di satu sisi terasa menyakitkan. Namun jika kita memandang dari sisi lain, pasti ada yang terbaik dan hikmah yang besar di balik itu semua. Yakinlah!

    Semoga kita bisa mengamalkan do’a ini di kala kita sulit dan di saat mengharap kemudahan dari Allah.

    #Saya kutip dari tulisan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (rumaysho.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s