Diskusi: Islam Fanatik dan Kekhilafahan Islam

Catatan:

Ini hanya catatan percakapan berisi diskusi tentang persoalan-persoalan agama bersama seorang adikku tadi malam. Apa yang membuatku menikmati interaksi kami adalah karena aku pernah berada di posisinya sebagai orang yang kebingungan, ke mana-mana membawa pertanyaan, dan alhamdulillah, ditakdirkan Allah bertemu seseorang yang membantuku untuk belajar. Jawaban-jawabanku, bacalah dengan kritis. Jangan terlalu percaya padaku karena diriku adalah sarang kekhilafan dan hanya Allah-lah yang Mahatahu atas segala hal yang terjadi.

***

3#

Dia: Menurut saya sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil dari si fanatik ini, baik positif dan negatif. Salah satu yang positif yaitu dalam hal ketaatan, kadang saya suka minder dan iri bila melihat mereka yang sangat taat, benar benar di setiap langkahnya hanya berpedoman pada Qur’an dan Hadist.

Dia: Di percakapan sebelumnya, Mbak pernah menjelaskan bahwa mengamalkan Islam paling baik tidak dengan cara fanatik atau liberal. Akhir-akhir ini ada sekelompok yang menyuarakan khilafah. Menurut Mbak, apakah mereka termasuk yang fanatik? Khilafah ini yang dalam pikiran saya, pengamalan Islam yang sempurna. Pertanyaannya, bagaimana pendapat Mbak ketika si fanatik itu mengatakan: “Terkadang, yang menjadi duri di dalam daging adalah mereka yang percaya (pada khilafah) tapi tidak ikut memperjuangkan?”

Aku: … Aku harus hati-hati merespon pertanyaanmu itu. Begini… Konsep sistem khilafah itu bukan asli ajaran Islam, melainkan hasil interpretasi sebagian ulama atas ayat-ayat Al Qur’an. Maksudku bukan asli itu, tidak seperti puasa, shalat, zakat yang jelas nash-nya. (Tidak ada dalam Al Qur’an ayat yang isinya semacam “dirikanlah khilafah…”.)

Aku: Ada sejumlah asumsi yang melandasi konsep khilafah. Satu yang menonjol adalah keyakinan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dalam arti bahwa SEMUA persoalan kehidupan sudah dijelaskan dalam Al Qur’an. Karena SEMUA persoalan kehidupan sudah ada dalam Al Qur’an, maka “dicari-cari” bagaimana sistem politik dan pemerintahan yang sesuai ajaran Islam itu. Dan para ulama itu mengkonstruk satu sistem yang bernama kekhilafahan. Sampai di situ ada yang kamu tidak setuju?

Dia: Masih setuju…

Aku: Lanjut ya.

Dia: Siap.

Aku: Indikator berdirinya kekhilafahan itu bermacam-macam. Satu yang paling menonjol adalah ditegakkannya hukum Islam atau syariat Islam dalam kehidupan. Asumsinya adalah ditegakkannya syariat adalah kunci kebangkitan Islam, kunci kemenangan umat Islam di atas umat-umat lainnya di dunia. Kita ketahui bersama sejarah kelam umat Islam di era modern, bukan? Berabad-abad dijajah bangsa kafir, sekarang pun terpuruk dalam kekacauan. Karena itu, sebenarnya penegakan kekhalifahan itu punya motif sosial yang besar. Ingin menyejahterakan umat Islam, mengembalikan masa kejayaan, dan sebagainya. Dengan tujuan yang seperti itu, kekhalifahan patut didukung. Sampai di sini sepakat?

Dia: Sepakat.

Aku: Namun, persoalannya macam-macam. Tidak hanya di masalah ketidaksesuaian cara dengan tujuannya, tetapi perbedaan pendapat ulama atas dibutuhkan/ tidak atau wajib/ tidaknya menegakkan kekhalifahan Islam. Itu karena kekhalifahan Islam jadi identik dengan pendirian negara Islam. Jadi kalau boleh disederhanakan, tantangan penegakkan kekhalifahan ada di dua hal tersebut. Mau dibahas satu-satu?

Aku: Kita mulai dari yang kedua dulu ya.

Dia: Yang wajib atau tidaknya penerapan khilafah?

Aku: Yoi. Pertanyaan mendasarnya adalah: Apakah kekhalifahan Islam HARUS SAMA DENGAN negara Islam?

Dia: Kekhalifahan malah lebih identik dengan negara perserikatan yang sangat besar, bukan Mbak?

Aku: Benar. Perserikatan negara-negara Islam di seluruh dunia. Persoalannya, negara-negara di dunia hanya segelintir yang didirikan atas dasar keseragaman agama, yaitu Islam. Kekhilafahan itu menuntut homogenisasi negara-negara berpenduduk muslim, bahwa dari A sampai Z dari negara itu harus Islam.

Dia: Betul.

Aku: Tapi, kehidupan ini luar biasa heterogen. Umat Islam bukan penguasa umat-umat lainnya, melainkan berdiri sama tinggi atau setara dengan umat-umat lain. Dalam kehidupan sosial, begitulah faktanya, meskipun dalam nash agama dikatakan bahwa umat Islam adalah umat terbaik (terbaik karena beriman dan bertakwa, bukan karena identitasnya Islam). Tubuh Islam sendiri pun sangat heterogen. Tidak hanya dalam hal mazhab fikih dan mazhab akidah. Islam di Barat berbeda kebiasaannya dengan Islam di Timur. Islam yang diamalkan di suku ini berbeda tradisi dengan Islam di suku lain.

Dia: Iya, banyak yang mempengaruhi salah satunya sejarah.

Aku: Jika ingin mendirikan negara Islam, tentu sampai di dalam-dalamnya akan ingin diseragamkan. Mulai dari mazhab fikihnya, misalnya Syafi’i. Mazhab akidahnya, misalnya Sunni. Di dalamnya lagi, mungkin ajaran salafi yang jadi ajaran resmi negara. (Golongan-golongan yang disebutkan hanya contoh.) Bagaimana dengan mazhab lainnya? Apa yang akan dilakukan terhadap orang-orang yang mazhabnya bukan Syafi’i? Apa yang akan dilakukan terhadap Syi’ah? Apa yang akan dilakukan terhadap Islam tradisional?

Aku: Kalau ingin mendirikan negara Islam, pertentangan dalam tubuh agama sendiri perlu diakurkan terlebih dahulu. Perlu ada kesepakatan internal terlebih dahulu. Tetapi, apakah golongan-golongan dalam tubuh Islam sudah siap seperti itu? Tidak, atau belum. Ada ego kelompok. Setiap golongan merasa dirinya yang paling baik sehingga ingin negara itu (dibangun) menurut penafsiran kelompoknya.

Dia: Bila, itu bisa teratasi… atau, bila ternyata tidak ada konflik seperti itu, lalu apa yang lain Mbak?

Aku: Konflik yang terjadi tidak hanya antargolongan berplatform agama lho. Termasuk antargolongan yang mendukung dan tidak mendukung pendirian negara Islam.

Dia: Bukannya khilafah itu hanya dalam hal pemerintahan saja dan tidak termasuk mazhab, salafi, sunni, dan lain lain?

Aku: Tidak mungkin khilafah itu hanya dalam pemerintahan saja. Pemerintahan butuh hukum. Setiap mazhab pendapat hukumnya berbeda-beda.

Dia: Iya.. baru sadar aku, Mbak.

Aku: (Misalnya) bagi orang salafi, orang Indonesia yang jilbabnya kecil-kecil itu salah lo. Yang benar itu yang besar. Bagi wahabi (di Arab Saudi), justru yang benar itu yang bercadar. Bagaimana menyelesaikan masalah macam itu? Andai ISIS yang keras itu yang menjadi pemerintah, orang Indonesia bisa dicap liberal semua dan dihukum mati gara-gara jilbabnya tidak seperti ajaran mereka. Itu contoh. (Itu perandaian saja.)

Dia: Iya. Paham.

Aku: Jadi, benar pertanyaan kita, mau pemerintahan yang seperti apa? Apakah benar-benar mampu ada pemerintahan yang mengakomodasi semua golongan dalam tubuh Islam? Apakah benar ada yang bahkan juga mampu mengakomodasi semua orang yang bukan Islam dalam tubuh Islam?

Aku: Ada yang berpendapat bahwa khilafah yang super ideal semacam itu adalah non-sense. Menyeragamkan semua orang dalam bendera Islam sekali pun adalah non-sense. Itu utopia. Mereka kemudian mengambil yang esensi saja dari ajaran mendirikan pemerintahan yang Islami. Mereka menanggalkan aspek lahiriah dan memelihara yang esensi dalam kehidupan nyata. Ibarat ketupat. Kerompongannya yang kaku itu adalah negara Islamnya. Yang diambil isinya saja, yaitu nasinya yang bisa dimakan banyak orang.

Aku: Pendapat kedua inilah yang hidup di negara kita, Indonesia. Itu bukannya tanpa pemikiran, bahkan berasal dari kesadaran, Indonesia ini luar biasa majemuknya. Jika menyamakan semua orang akan menimbulkan perang saudara, maka biarkanlah berbeda dengan tetap memegang esensinya demi memelihara harmoni antargolongan. Nah, jika esensi saja yang dipakai, tidakkah ini sebenarnya juga pada dasanya kekhilafahan Islam? Ketimbang melakukan revolusi total, perubahan menuju kehidupan Islami yang lebih sempurna dilakukan gradual, pelan-pelan, karena masyarakat pun perlu belajar.

Dia: Setuju.

Aku: Ada yang masih sulit meninggalkan tradisi nenek moyang, ada yang malas belajar, ada yang terpengaruh Barat, dan sebagainya. Pemerintahan pun diperbaiki pelan-pelan. Akhirnya UU perkawinan mengakomodasi hukum agama. Hukum waris, juga bisa. Sekarang semakin menjamur lembaga Amil Zakat dst… Masjid bisa di mana-mana. Sekarang pakai jilbab tidak dilarang. Di televisi, ceramah agama pagi siang sore malam.

Dia: Rohmatal lil’alamiin

Aku: Itu dalam rangka menegakkan kekhilafahan Islam, cuma “nama” dilepaskan (mungkin) untuk sementara waktu. Nanti setelah rakyat berilmu semua, Islam lebih luas diterima, rahmatnya terasa bagi seluruh Indonesia, akan ada saatnya rakyat ingin pemerintahan (dan negara) yang (lebih) Islami dengan sendirinya. Ini sama seperti memeluk agama yang tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa langsung baik, langsung sempurna, seperti yang diinginkan kelompok fanatik yang tidak sabaran. Menghidupkan agama itu juga tidak bisa dipaksakan. Mengubah negara itu lebih sulit daripada mengubah satu orang, apalagi jika penduduk negara itu ratusan juta. Memaksakan kebaikan sebelum orang siap menerima kebaikan justru bisa menimbulkan keburukan.

Dia: Jadi solusinya ada di masyarakat itu sendiri.

Aku: Itu menyambung ke persoalan pertama, tentang ketidaksesuaian cara dengan tujuan. Tujuan sudah benar, sudah sesuai dengan ajaran Islam. Tapi, cara pun harus bijak, sesuai dengan ajaran Islam. Ibarat banyak jalan menuju Roma, ada banyak jalan juga untuk membangun kehidupan yang Islami. Lewat politik, bisa. Pendidikan, bisa. Aksi sosial, bisa. Seni, bisa. Sastra, bisa. Ilmu pengetahuan, bisa. Tetapi dengan kekerasan, jangan. Dengan menindas umat lain, jangan.

Dia: Termasuk kekerasan memaksakan pemahaman, ya?

Aku: Benar, itu tidak boleh karena bertentangan dengan prinsip Islam itu sendiri, yaitu: damai, selamat. … Sebagai muslim, yang paling menyakitkan itu kalau lihat sesama muslim bermusuhan. Lebih sakit lagi kalau melihat orang-orang itu merasa benar memusuhi sesamanya…

5 thoughts on “Diskusi: Islam Fanatik dan Kekhilafahan Islam

  1. baru baca aal saya langsung pengen koment,😀
    khilafah menurut mbak adalah hasilinterpretasi para ulama, sedangkan benarkah dmikian? berarti khilafah adalah masalah ijtihadi dong? lalu bagaimana dengan hadist2 rasulullah tentang khilafah dan wajibnya kaum muslim mengangkat khalifah??🙂

  2. ah, satu hal yang paling sangat “geramkan” disini (sengaja pakai tanda kutip biar gak dikira fanatik) seolah kekhilafahan islam hanya buatan2 ulama terdahulu yang mencari2 dalil untuk mendukung dalil yang “islam kamil wa syamil” ah, adakah kamu mencari tahunya bahwa apakah memang benar khilafah itu persoalan yang dicari2, sebenarnya persoalan dalam tulisan amatlah parah, terutama bersuudzhon sama Allah, jika kita tidak mampu menerapkan hukum islam, menegakkan khilafah itu, lalu bagaimana mungkin Allah mewajibkannya? lalu bagaimana mungkin Allah membebani hamba-Nya dengan sesuatu yg diluar kemampuanhamba-Nya???

    • Kupikir, pertanyaanmu itu cuma karena kita belum satu saluran saja. Ketika aku dan temanku membicarakan khilafah, kami membicarakan dan mengkritik khilafah sebagai isu politik bahwa kekhilafahan Islam itu harus = negara Islam. Yang ingin aku sampaikan kepada dia adalah bahwa kekhilafahan itu bermakna luas dan yang terpenting bagi muslim adalah mendirikan kekhilafahan yang berarti menjalankan kehidupan yang Islami, apapun bentuk negaranya saat ini, di negara manapun ia berada. Itu lebih penting daripada khilafah yang berarti negara Islam.

      Negara yang Islami itu lebih penting daripada negara Islam. Proses ber-Islam (menjalankan kehidupan Islami) itu lebih penting daripada salah satu hasil ber-Islam (yaitu tegaknya negara Islam). Banyak orang yang berusaha menegakkan negara Islam, dia membunuh banyak orang tak berdosa, merampok, mencuri, menipu, memfitnah, mengkafirkan sesama muslim, dsb. Perhatikan kasus ISIS, atau kasus NII di Indonesia, atau kasus kampanye hitam PKS terhadap lawan politiknya waktu pemilu lalu. Demi suatu hasil, mereka gagal di proses karena berakhir melakukan hal yang diharamkan agama. Tidak benar mencapai hal yang halal dengan cara yang haram.

      Yang saya pikirkan bahwa kekhilafahan Islam itu perkara yang dicari-cari (baca: dikonstruksi) dalam agama merujuk pada kekhilafahan yang berarti negara Islam (bukan pada perintah mencari pemimpin atau menjalankan hukum Islam, seperti yang kamu pikirkan. Jadi, kendalikan pikiranmu, jangan ke mana-mana, dan jangan membuat prediksi yang tidak-tidak tentang tujuan tulisan saya. Fokus pada kekhalifahan yang berarti negara Islam. Ok?). Tidak ada perintah mendirikan negara Islam (daulah Islamiyah) dalam Al Quran sehingga itu bukan hal yang hakikatnya adalah perintah langsung dari Allah, melainkan dirumuskan manusia sebagai hasil dari menginterpretasikan ayat-ayat yang bernuansa politik ketika ia mencari petunjuk bagaimana mengatur kehidupan sosialnya. Dalam Al Quran, yang ada adalah perintah menjadi khalifah Allah di bumi, bagi semua manusia, yang mana itu berarti jadilah wakil Allah di bumi, makmurkanlah bumi berdasarkan pedoman Allah, hidupkanlah kehidupan yang Islami.

      Karena mendirikan negara Islam adalah misi yang dikonstruksi manusia, maka janganlah itu dinaiklevelkan setingkat menjadi khalifah Allah di bumi yang ditetapkan sendiri oleh Allah bagi manusia. Kalau tidak bisa ditegakkan: dosa besar, kafir, neraka jahannam! Bagus kalau bisa mendirikan negara Islam, seperti Iran (Negara Islam Iran) sekaligus kehidupan Islaminya, tetapi kalau tidak bisa ya jangan lantas ingin menghancurkan negara yang bentuknya sudah ada lebih dulu bahkan sebelum kita lahir agar bisa diubah jadi bentuk negara Islam, jangan lantas mengkafirkan dan membenci orang yang punya pemikiran lain tentang bentuk negara, dsb. Kehidupan Islami itu tidak tergantung pada bentuk negara. Pahala diterima Allah tidak tergantung bentuk negara tempat seorang muslim tinggal. Jangan jadikan masalah besar ketidakmampuan mendirikan negara Islam. Jauh lebih bermasalah jika kita tidak mampu menegakkan kehidupan yang Islami, misal: masih berkata-kata kasar dan kotor kepada orang, tidak merasa berdosa memfitnah dan berprasangka buruk pada orang lain, mudah marah dan mencela orang, buang sampah sembarangan, malas sedekah, tidak bayar zakat, bertengkar dengan saudara dan orangtua, malas belajar, dsb.

      Saya kira sikap saya sudah jelas penuh optimisme. Saya bukan 100% penolak cita-cita negara Islam sehingga kamu bisa serta-merta menilai saya anti-Islam. Saya ingin mencari jalan bagi Indonesia, yang jelas-jelas saat ini bukan negara Islam, agar bisa menjadi negara yang diridhai Allah. Bagi saya itu insya Allah bisa. Dengan menjadikannya negara yang lebih Islami, kalau bisa daripada negara Islam sekalipun. Ridha Allah itu tidak tergantung bentuk negara kita, bukan?

      “Nanti setelah rakyat berilmu semua, Islam lebih luas diterima, rahmatnya terasa bagi seluruh Indonesia, akan ada saatnya rakyat ingin pemerintahan (dan negara) yang (lebih) Islami dengan sendirinya. Ini sama seperti memeluk agama yang tidak bisa dipaksakan. Tidak bisa langsung baik, langsung sempurna, seperti yang diinginkan kelompok fanatik yang tidak sabaran. Menghidupkan agama itu juga tidak bisa dipaksakan. Mengubah negara itu lebih sulit daripada mengubah satu orang, apalagi jika penduduk negara itu ratusan juta. Memaksakan kebaikan sebelum orang siap menerima kebaikan justru bisa menimbulkan keburukan.”

      Kalau kamu pro negara Islam, silakan memeluk cita-cita itu. Saya doakan semoga terkabul di masa depan. Cuma, jangan lupa, jauh lebih penting pro kehidupan Islami dan jangan sekali-kali menegakkan negara Islam dengan cara-cara kotor dan haram, oke? Saya kira kita sama-sama setuju dalam hal ini.🙂

      • haha saya tidak bermaksud merendahkan seseorang ataupun berprangsangka buruk, atau apapun, saya berkesimpulan sepeti itu berdasarkan tulisan mbak, afwan mbak pasti tahu tentang apa itu ushul fiqih? suatu perintah yg diperintahkan tidak mesti berbentuk kata perintah (fi’il amr) didalamnya, bahkan sesuatu yg terkesan tidak ada tapi ada perintahnya itu juga ada seperti permasalahan khilafah ini, ini bukan perkara yg dibuat2, sudah dimaklumi atau disepakati oleh ulama shalafus shalih tentang kaifiyatul istidlal semacam ini, karena ini panjang, saya coba jawab pake tulisan aja, dan satu lagi. ISIS bukan khilafah, ISIS hanyalah kelompok yg bercita2 menerapkan khilafah, namun tidak mengerti bagaimana cara menegakkannya sehingga dia hanya dimanfaatkan amerika untuk memecahbelah iraq. wo jelas kami menuju cita2 itu dengan jalan yg halal, tujuan tidak menghalalkan segala cara.

  3. cuman numpang naruh tejemahan ayat, semoga bisa menjadi pencerahan buat si mba, bahwa dalam al quran pun ada sebagai dalil penegakan khilafah :

    Dan Allah telah menjanjikan kepada orang2 beriman di antara kamu dan yg mengerjakan amal soleh, bahawa mereka sesungguhnya akan dijadikan khalifah yg berkuasa di muka bumi ini
    sebagaimana telah dijadikan khalifah orang2 sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yg telah diredhaiNya untuk mereka, dan dia benar2 akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentiasa’
    An Nur: 55

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa’:59)

    saya cuman ngai dua ayat dulu. ini sedikit penegasan bahwa penegakan khalifah itu bukan perkara ijtihadiyah, tpi syariyah. dalil quran dan hadits banyak. dari buku2 terbitan antar harokah banyak, ya kalo terbitan gak ada. bisa baca buku terbitan HTI, salafy, dll. dan satu lagi, yg dilakukan para sahabat adalah sesuatu yg tidak mungkin keluar dari dalil quran dan hadits nabi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s