Diskusi: Islam Fanatik, Islam Liberal, ESQ, Liberalisme, dan Pluralisme Agama

Catatan:

Ini hanya catatan percakapan berisi diskusi tentang persoalan-persoalan agama bersama seorang adikku tadi malam. Apa yang membuatku menikmati interaksi kami adalah karena aku pernah berada di posisinya sebagai orang yang kebingungan, ke mana-mana membawa pertanyaan, dan alhamdulillah, ditakdirkan Allah bertemu seseorang yang membantuku untuk belajar. Jawaban-jawabanku, bacalah dengan kritis. Jangan terlalu percaya padaku karena diriku adalah sarang kekhilafan dan hanya Allah-lah yang Mahatahu atas segala hal yang terjadi.

1#

Dia: Mbak… aku pingin tanya pendapat tentang beberapa kelompok Islam yang muncul akhir akhir ini, Islam fanatik dan Islam liberal. Apakah istilah itu tepat? Apakah istilah itu memang benar adanya? Atau hanya perbedaan pemahaman para pemberi istilah tersebut? Lalu saya penasaran, ada apa sebenarnya di balik pelabelan tersebut? Apa manfaatnya, apa mudhorotnya? Atau… apakah mungkin mereka berbeda hanya dalam cara dakwah mereka saja?

Aku: Pertanyaan yang serius… Kita pakai analogi saja ya.

Ada dua orang sama-sama mau pergi ke suatu tempat, sama-sama cari kendaraan. Mereka bertemu dan membicarakan bagaimana sebaiknya agar sampai ke sana, tetapi akhirnya jadi berdebat. Si A mengotot bahwa idealnya itu untuk sampai ke sana harus naik kendaraan ini. Spesifikasinya begini, berangkat pukul sekian, dengan kecepatan sekian, kalau tidak begitu tidak akan selamat. Kalau tidak dengan kendaraan itu, dsb dsb, celaka!

Sementara si B, dia bilang, “Ah, yang penting sampai.” Dia berangkat saja dengan apa saja yang dia punya. Panas, hujan diterjang. Yang penting sampai. Naik becak, sepeda, andhong, semua macam kendaraan, menurutnya semua bisa dipakai. Kan yang penting sampai. Si B akhirnya jalan duluan, sementara si A ditinggalkannya menunggu dan melakukan yang ideal menurutnya itu.

Singkat cerita, keduanya sama-sama tidak sampai. Keduanya tidak tahu bahwa sebetulnya tempat yang mereka tuju itu sebenarnya terjangkau/ tidak jauh sekali. Memang ada jalan yang rusak di sana-sini, tetapi masih bisa dilalui, dan perjalanan dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat dengan kendaraan yang tepat, misalnya mobil.

Si A tidak sampai karena dia menghabiskan waktu menunggu/ mewujudkan kendaraan idealnya, yaitu pesawat terbang. Dia maunya cuma itu dan harus itu, dengan segala syaratnya. Ia bahkan sampai mencegah orang pergi yang mau pakai kendaraan lain dengan menakut-nakuti bahwa mereka bisa celaka di jalan.

Si B juga tidak sampai karena dia justru kena musibah di jalan. Dia pergi sesuka hatinya tanpa memperhatikan setidaknya sejumlah persyaratan minimal, bahwa kendaraannya harus sehat, tangki bensin penuh, uang cukup, dsb. Karena persiapannya asal-asalan, di tengah perjalanan persediaannya habis. Dia ganti moda transportasi ke becak, ke sepeda, ke truk, ke macam-macam. Kecapekan di jalan, kecelakaan dia.

Begitulah… Keduanya bernasib sial. Yang pertama karena terlalu kaku dan keras pada diri sendiri, yang kedua karena terlalu seenaknya. Selesai deh ceritanya.

Aku: Kembali ke persoalanmu, si A adalah si fanatik ekstremis, sedangkan si B adalah si liberal. Kesalahan si A adalah ia mempersempit agama pada jalan yang ia tahu benar saja dan tidak percaya bahwa ada jalan lain yang benar dan juga bisa dilalui, yang mungkin bahkan lebih mudah. Kesalahan si B adalah ia membuka diri pada semua jalan, padahal agama sudah menjelaskan bahwa tidak semua jalan bisa dilalui sehingga seharusnya ia lebih berhati-hati dan pandai memilih.

Aku: Dalam kenyataan kehidupan, yang terjadi tentu tidak sesederhana itu. Jika dikatakan perbedaan hanya pada cara dakwah, itu menyederhanakan persoalan. Mereka berbeda di banyak hal: cara hidup, cara ibadah, sikap terhadap masalah, sikap terhadap orang lain, pendapat-pendapat, keyakinan, pemikiran, dan sebagainya, meskipun tujuan keduanya sama ingin selamat sampai di akhirat.

Aku: Kalau lalu kamu tanya pengamalan Islam yang benar itu yang seperti apa, jawabnya adalah yang di pertengahan antara si A dan si B.

***

2#

Dia: Oke, saya paham… tapi saya masih pingin tanya lagi satu hal. Mbak pernah denger penggagas teori ESQ, bapak Ary Ginanjar? Sudah pernah baca bukunya belum?

Aku: (Sudah. Bahkan punya semua bukunya.)

Dia: Jadi beliau menulis beberapa buku tentang teorinya tersebut dan pelatihan pelatihan tentang character building. Menurut saya bapak ini berada di antara si A dan si B, tapi tadi saya iseng-iseng searching di Google, ada kelompok yang mengatakan teorinya sesat… bla bla bla… Ini link nya http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2010/07/27/8596/akhirnya-ary-ginanjar-akui-kekeliruan-esq/;#sthash.9KNyIZxz.dpbs.

Dia: Menurut mbak, apakah seperti itu sesatnya bapak Ary ini? Atau ada yang salah dengan yang mengatakan beliau sesat?

Aku: Kalau disimpulkan, ESQ Ary Ginanjar itu dipandang sesat karena:

1. Menjadikan suara hati sebagai sumber kebenaran yang universal. Argumentasi ESQ adalah bahwa suara hati adalah materi inti dalam kecerdasan spiritual. Itu bertentangan dengan Islam karena dalam ajaran Islam, suara hati itu tidak bebas dari bisikan syetan. Ingat konsep penyucian hati? Itu karena hati bisa kotor. Kalau hati bisa kotor, bagaimana bisa jadi sumber kebenaran yang hakiki?

2. Mengajak orang-orang berakhlak dengan “akhlak Allah” yang termanifestasikan dalam asma’ul husna. Didoktrinkan bahwa asma’ul husna itu harus diikuti. Itu tidak benar karena ajaran Islam memerintahkan kita untuk meniru akhlak Rasulullah, bukan akhlak Allah. Allah itu Tuhan, bagaimana bisa perbuatannya ditiru manusia?

3. ESQ dipandang mendukung liberalisme karena menafsirkan Al Qur’an dan sunnah secara bebas dan pluralisme karena mengajarkan bahwa dasar ajaran semua agama adalah sama dan benar.

4. Mendakwakan bahwa Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian dan bahwa rujukan utama kebenaran adalah logika, bukan Al Qur’an dan hadist.

5. Mengikari mukjizat karena mukjizat dipandang tidak masuk akal lagi di zaman sekarang yang mana apa-apa didekati dengan logika.

6. Menyamakan ibadah Islam dengan ajaran agama atau tradisi non-Islam, seperti membaca Al Fatihah berkali-kali = bushido orang Jepang.

7. ESQ itu dikatakan training manajemen, bukan training agama, tetapi membawa-bawa ajaran agama untuk keberhasilannya. Jadi, ini semacam ajaran agama dijadikan alat untuk menyukseskan ESQ, agar ESQ laku dijual.

Aku: Dik, orang salah itu biasa. Salah baca, salah pikir, salah ngomong, salah nulis, salah mengartikan, salah berbuat, dsb. Orang salah itu normal. Semua orang belajar dari kesalahan. Cuma, jeleknya sebagian orang itu adalah melebih-lebihkan suatu keadaan. Sedikit-sedikit melabel sesuatu hal “sesat”, padahal itu cuma salah atau keliru atau perlu belajar lagi. Orang yang sesat itu ibarat orang yang lepas di jalan yang ruwet dan tidak bisa pulang/ kembali lagi ke jalan yang benar. Kalau seseorang masih bisa belajar dan memperbaiki diri, dia tidak sesat, cuma salah biasa.

Aku: Soal beberapa hal yang dijadikan sebab pelabelan ESQ sesat, sebagian pendapatku pro dan sebagian kontra dengan itu. Kadang-kadang ulama yang terpaku pada fikih dan syariat lahiriah itu memang terlalu kaku dan meninggalkan esensi atau tidak mau menerima penjelasan lain.

Aku: Untuk persoalan no. 1, hati nurani. Aku belajar psikologi, jadi aku sedikit banyak belajar tentang “hati” atau kalbu. Ada bukti nyata bahwa semua manusia punya hati yang universal, meskipun tidak pernah diteliti secara empiris. Kamu pernah punya pengalaman lihat peminta-minta di pinggir jalan, di hari terik mengemis? Kamu lihat keadaannya yang cacat, misalnya. Kalau di dadamu kamu rasakan rasa “sakit” dan kamu tiba-tiba merasa kasihan dan ingin menolong orang itu, itulah suara hati nurani.

Yang seperti itu ada dalam diri setiap orang. Allah menciptakan manusia menurut fitrah-Nya. Pada penyempurnaannya, Allah meniupkan ruh-Nya, mengilhamkan kepada manusia jalan ketakwaan dan kefasikan. Ada bagian dari diri manusia yang berasal dari Allah. Itulah mengapa sifat-sifat manusia yang baik sama seperti nama-nama Allah yang mulia. Manusia bisa penyayang kepada sesama adalah karena Allah Maha Penyayang. Manusia bisa mengenal keadilan karena Allah Maha Adil. Manusia punya kelembutan dalam hatinya karena Allah Maha Lembut, dst.

Ini menyambung ke persoalan no. 2 ya. Karena Nabi Muhammad itu manusia, berarti ia diciptakan dengan fitrah yang indah seperti itu juga. Karena ia Nabi, tentu sensitivitasnya dan kemampuannya hidup dengan sifat ilahiah jauh lebih baik daripada manusia biasa. Meneladani akhlak Nabi sebenarnya meneladani sifat-sifat Allah. Cuma Allah itu Tuhan yang Mahabesar, terlalu besar untuk dipahami manusia. Nabi Muhammad itu menjadi mediatornya, “menerjemahkan” Allah untuk manusia. Kalau berdasarkan hadist shahih dikatakan akhlak Nabi adalah Al Qur’an, sedangkan di dalam Al Qur’an bertebaran asma’ul husna, sebenarnya tidak salah mengatakan manusia perlu meniru sifat-sifat Allah yang mulia itu. Begitu pikirku…

Aku: Soal no. 3 liberalisme dan pluralisme. Memang salah jika Al Qur’an dan hadist ditafsirkan secara bebas, dalam arti sesuka hati. Makna Al Qur’an dan hadist jadi mengikuti kemauan manusia, padahal manusialah yang seharusnya mengikuti Al Qur’an karena Al Qur’an berisi apa yang dikehendaki Allah pada diri manusia.

Apa yang liberal itu punya dua arti: 1) tidak terbatasi oleh sikap, pandangan, dan dogma yang sudah terbangun, tradisional, atau otoritarian, dan 2) memihak pada reformasi, terbuka pada ide baru tentang kemajuan, berpikiran terbuka, dan toleran terhadap ide dan perilaku kelompok lain.

Dalam memahami ajaran agama, seseorang seharusnya tahu apa yang membatasi dan membebaskannya dalam berpikir, misalnya. Terkait batas, ini sangat jelas dalam Qur’an. Misalnya, jangan memikirkan zat Allah, jangan memperturutkan hawa nafsu dalam menafsir, jangan ikuti kemauan orang yang kafir dan munafik, dsb. Sedangkan yang dibuat para ulama, misalnya kalau mau menafsir perlu ahli bahasa Arab dulu, belajar ilmu-ilmu keislaman, seperti akidah, fikih, ushul fikih, ilmu hadist, dsb, dsb. Jadi, harus punya bekal dulu yang cukup.

Tapi, ajaran agama pun memberikan kebebasan. Manusia disuruh untuk menggunakan akal, memikirkan alam semesta, merenung, bertafakur, memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi. Manusia disuruh belajar, mencari hikmah dari mana saja, termasuk dari ilmu orang kafir.

Dalam Islam, salah jika kita mempertentangkan penggunaan Al Qur’an, hadist, logika, dan hati nurani karena semuanya terpakai dalam kehidupan. Al Qur’an memang sumber hukum tertinggi, tetapi memahami Al Qur’an perlu hati yang bersih dan akal yang jernih. Semacam itu. Pada satu sisi, kita sebagai pribadi boleh menafsirkan Al Qur’an sesuai rasa ingin tahu kita, kita merenungkannya dan mencari apa maksudnya untuk diri kita. Tetapi di sisi lain, kita perlu mengecek kembali hasil perenungan kita itu dengan ilmu keislaman yang sudah ada. Apakah pemahaman kita kurang tepat, atau sudah pas?

Bagi manusia, kebenaran itu memang dicari dan salah satunya didapat dari pengalaman hidup. Tetapi, keberhasilan pencarian itu atas Kehendak Allah juga. Dengan perspektif itu, memang pada akhirnya semua bersumber dari Allah dan atas izin Allah kita bisa tahu. Jadi, jangan dipertentangkan hal-hal yang semacam itu.

Aku: Soal pluralisme agama… ini sebenarnya tidak mudah dijelaskan, meskipun bisa. Agama itu memang bermacam-macam, tetapi dalam keragaman ajarannya itu ada persamaan dan perbedaan. Misalnya, benar, secara akidah teologis, agama-agama itu berbeda. Ada yang monoteis, ada yang politeis, dsb. Itu memang tidak bisa disamakan. Tetapi, ada sejumlah ajarannya yang sama, dan kesamaan itu paling banyak terdapat di aspek moral atau ajaran tentang akhlak.

Kesamaan ajaran akhlak, misal semua agama mengajarkan agar saling mencintai sesama manusia, suka menolong, membantu yang lemah, menegakkan kebenaran dan keadilan, bersikap bijak, dsb… ada di semua agama. Itu universal. Itu adalah pijakan orang-orang yang menganut pluralisme.

Apakah mereka salah? Ada salah, ada benar. Salah jika mereka menyamakan semua ajaran akidah itu benar. Tetapi, mereka benar jika mengakui adanya kesamaan ajaran moral. Kesamaan ajaran ini adalah unsur penting dalam persatuan dan perdamaian umat-umat beda agama. Akhlak itu dekat dengan relasi antarmanusia atau kehidupan sosial. Secara sosial, silakan bersikap plural. Terima semua pihak yang membela kebenaran sebagai teman (termasuk menimba ilmu darinya). Tetapi secara akidah, bersikap tegas dan penuh keyakinan bahwa Islam adalah yang benar. Jangan mengorbankan akidah demi kehidupan sosial.

Dia: Jadi bila saya simpulkan, yang menyesatkan ESQ adalah yang mengambil/ melihat penjelasannya sepotong sepotong saja… Begitukah? Kecuali (mungkin) poin ke tujuh. Bahkan menurut saya poin itu masih ada sisi baiknya, yaitu membawa islam sebagai background si penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s