Diskusi: Konspirasi Global, Dehumanisasi, dan Penuhanan Idealisme

Catatan:

Ini hanya catatan percakapan berisi diskusi tentang persoalan-persoalan agama bersama seorang adikku tadi malam. Apa yang membuatku menikmati interaksi kami adalah karena aku pernah berada di posisinya sebagai orang yang kebingungan, ke mana-mana membawa pertanyaan, dan alhamdulillah, ditakdirkan Allah bertemu seseorang yang membantuku untuk belajar. Jawaban-jawabanku, bacalah dengan kritis. Jangan terlalu percaya padaku karena diriku adalah sarang kekhilafan dan hanya Allah-lah yang Mahatahu atas segala hal yang terjadi.

***

4#

Dia: Apakah benar ada konspirasi global yang menjadikan negara kita seperti ini?

Aku: Aku pribadi tidak percaya. Tapi, kalau demi kepentingan suatu negara kaya dan besar seperti AS, lalu negara-negara yang lebih lemah jadi korbannya, aku percaya. Aku tidak percaya kalau “melemahkan negara kecil” menjadi tujuan negara besar.

Dia: Ada yang bilang Syiah, ISIS… itu rekayasa orang Barat untuk memecah-belah Islam karena bahkan mereka percaya dan takut bila Islam terutama khilafah akan bangkit.

Aku: Manusia itu alamiah, manusiawi, berorientasi utama melindungi dirinya sendiri, meskipun dengan cara mengorbankan manusia lain. Negara pun begitu. Berorientasi utama melindungi bangsa sendiri, meskipun dengan mengorbankan bangsa lain. Secara teori, tidak mungkin ada manusia normal yang punya orientasi utama menghancurkan manusia lain. Kalaupun ada korban, itu sebagai dampak dari keinginan melindungi diri sendiri. Kalaupun ada manusia yang orientasinya menghancurkan begitu, pasti orang itu sudah jadi psikopat, atau berubah menjadi iblis yang memang misinya mencelakakan manusia.

Aku: Interaksi yang melibatkan kebencian terhadap kelompok lain aku pelajari juga dalam psikologi. Apa yang kamu ceritakan itu adalah bukti nyata terjadi fenomena yang namanya DEHUMANISASI, menganggap manusia bukan manusia lagi, melainkan lebih rendah dari itu, entah itu benda, hewan, atau iblis. Jika kebencian sudah mendalam, ada dehumanisasi terhadap kelompok yang dibenci. Itu lalu menjustifikasi tindakan-tindakan seperti melakukan penyerangan, kekerasan, penindasan, peperangan, dan sebagainya. Karena musuh kita “bukan” manusia, melainkan syetan. Syetan itu harus dihancurkan bagaimana pun juga.

Aku: Begitu pola pikirnya. Karena mereka syetan, pasti semua tentang mereka jahat semua. Merencanakan tipu daya, rencana jahat. Keinginan mereka jahat semua, dsb. Itulah dampak dehumanisasi. Jadi lupa, kalau musuh sekalipun itu sama-sama manusia, punya naluri melindungi diri juga. Misal dikembalikan ke kasus Sunni vs Syiah. Perang yang terjadi itu sebenarnya adalah bentuk saling mempertahankan diri. Kedua belah pihak saling mengancam karena sama-sama merasa terancam oleh keberadaan yang lainnya. Bukan karena yang satu syetan, yang lainnya malaikat.

Aku: Antara ISIS vs AS dkk juga begitu. Jika melihat ISIS yang brutal, negara mana yang tidak takut dicaplok dan dibantai rakyatnya, makanya mereka berusaha menghancurkan ISIS. Tetapi, ISIS pun lahir dari ketakutan umat Islam dihancurkan Barat, makanya untuk melindungi umat Islam, mereka ingin mendirikan negara. Itu bukan karena yang satu syetan, yang lain malaikat. Itu justru karena semuanya manusia biasa.

Aku: Manusia itu aneh ya, Dik. Ketakutannya pada sesamanya sendiri membuatnya berani melawan Tuhan. Ketakutan diri terbunuh, dirampok, dan ditipu membuatnya berani membunuh, merampok, menipu, dan sebagainya.

Dia: Saya jadi ingat kisah mahabharata Mbak…

Aku: Bagaimana ceritanya?

Dia: Begitulah… perebutan tahta kerajaan terbesar daerahnya oleh keturunan mereka sendiri sampai-sampai terjadi perang saudara. Pada saat perang itu, mereka melakukan apa yang Mbak sebutkan tadi. Ketakutan diri terbunuh, dirampok, dan ditipu membuatnya berani membunuh, merampok, menipu, dan sebagainya. Sayangya, akidahnya Hindu.

Aku: Pertanyaan mendasar yang seharusnya dijawab semua orang yang peduli masa depan Islam: apa makna kebangkitan Islam? Itu lebih merupakan cita-cita duniawi atau cita-cita ukhrawi? Karena ada masalah serius dalam akidah jika yang terjadi justru PENUHANAN idealisme.

Dia: Duniawi?

Aku: Tidak mungkin bisa ada dua cinta dalam satu hati. Jika cinta dunia, tak akan ada tempat bagi akhirat. Jika cinta akhirat, tak ada tempat bagi dunia. Islam itu agama yang unik. Jika benar-benar dihayati, ajarannya justru membuat orang menjauhi cita-cita semacam mencapai kebangkitan dan kemakmuran duniawi.

Dia: Bukannya cinta akhirat akan membawa dunia kepada kita, Mbak?

Aku: Bukan seperti itu. Itu sama saja dengan mencari dunia dengan kendaraan akhirat.

Dia: Baiklah… Jadi, satu cinta dalam satu hati tadi yang membuat Islam menjadi banyak golongan, iya kah?

Aku: Eh, aku nggak mudeng pertanyaanmu.

Dia: Tidak mungkin bisa ada dua cinta dalam satu hati. Jika cinta dunia, tak akan ada tempat bagi akhirat. Jika cinta akhirat, tak ada tempat bagi dunia -jadi ada dua tipe orang, cinta dunia dan cinta akhirat. Bila keduanya sama sama memeluk Islam, maka yang satu hablumminalloh saja/ lebih banyak sedangkan yang lain hablumminannas saja/ yang lebih banyak. Inikah, asal muasalnya Islam jadi berkelompok-kelompok?

Aku: Aku ndak mengartikan “Tidak mungkin bisa ada dua cinta dalam satu hati” seperti itu. Ini lebih ke sikap hidup seorang muslim. Ini persoalan batiniah. Persoalan batiniah yang berdampak pada hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sama, berdampak pada kehidupan di dunia dan di akhirat.

Dia: Oh ya, soal cita cita tadi ya… Penuhanan idealisme.

Aku: Idealisme segala-galanya. Padahal apakah yang ideal itu? Cuma angan-angan manusia, pemikiran manusia tentang apa yang seharusnya. Mengapa sampai harus mengharuskan sesuatu? Pertarungan ideologi itu kan sebenarnya seperti itu. Yang satu berkata seharusnya begini, yang lain berkata seharusnya begitu. Bayangkan jika 70 golongan punya seharusnya sendiri, mempertarungkan apa yang ideal, padahal apa yang baik itu ada di Sisi Allah. Apa yang ideal di mata manusia belum tentu ideal di mata Allah, dan sebaliknya. Lewat agama, Allah mau manusia tidak saling bunuh dan tidak saling fitnah. Tapi, kenapa demi idealisme, demi idiologi, manusia justru saling bunuh dan saling fitnah? Meskipun ideologi itu Islamis…

Aku: Islam itu juga jadi ujian bagi orang-orang yang memeluknya. Islam yang penuh rahmat, jika dipeluk dengan nafsu juga akan menghasilkan keburukan. Itulah makanya ada Islam liberal, Islam fundamentalis, dsb. Liberal pada Islam liberal itu mencerminkan keinginan meliberalkan/ membebaskan diri, dan begitulah seterusnya. Sifat-sifat yang diterakan pada Islam semacam itu mencerminkan keinginan-keinginan manusia, sehingga manusia itu tidak cukup dengan Islam saja. Islam jadi masih perlu diliberalkan atau dikeraskan lagi. Yang benar itu Islam mengikuti keinginan manusia atau menusia mengikuti keinginan Islam (Allah)?

Dia: Manusia mengikuti Allah.

Aku: Dalam Al Qur’an sudah dikatakan, agama ini mudah bagi manusia. Jadi, mengapa ada orang yang mempersulitnya (dengan bersikap fanatis, ekstrem). Dalam agama ini ada perintah dan larangan, jadi mengapa ada orang yang ingin memudahkannya lagi (dengan bersikap liberal). Islam itu agama pertengahan.

Aku: Allah membebaskan manusia bercita-cita, tetapi janganlah sampai menuhankan cita-cita sampai melakukan segala macam cara untuk mencapainya, tak lihat halal-haram. Meskipun cita-cita itu sejalan dengan perintah Allah, tetapi jika dicapai dengan jalan yang haram, ya jatuhnya tidak benar. Akhir dari usaha itu tergantung pada Allah, mau itu berhasil atau gagal, itu atas kehendak Allah. Esensi tawakal itu salah satunya adalah lebih memikirkan bagaimana berproses secara ideal ketimbang mencapai hasil yang ideal. Jadi, berproses dengan halal meski gagal itu lebih baik daripada berproses dengan haram meski sukses. Di Sisi Allah, gagal itu bisa ternyata baik bagi manusia, dan sukses pun bisa ternyata justru buruk.

Aku: Islam di akhir zaman itu “ditakdirkan” jadi “agama gagal”, makanya akan ada hari kiamat sebentar lagi. Di masa depan, akan ada lebih banyak kekacauan dan huru-hara, ketimbang kedamaian. Dan sekarang aku pikir sebabnya itu adalah justru pada orang-orang yang mati-matian mencitakan perdamaian, tetapi abai dalam proses yang halal, pada orang yang ingin Islam tegak, tetapi menegakkannya dengan cara yang haram. Hih, jadi ngeri sekarang rasanya.

Dia: Bagaimana jika yang kita anggap proses haram itu, bagi mereka adalah pengorbanan? Apa akunya aja ini kali ya yang lagi condong ke satu pihak…

Aku: Aku tidak berhak (berwewenang) mengubah cara berpikir seseorang atau sekelompok orang. Peganganku adalah yang haram sudah jelas, yang halal sudah jelas. Mau ikut atau tidak? Jangan membuat penafsiran sendiri atas apa yang sudah digariskan sedemikian jelas dalam Al Qur’an.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s