“Manusia Indonesia” Mochtar Lubis

Alhamdulillah hari ini bisa menyelesaikan membaca satu buku yang baik sekali berjudul “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis. Buku ini, diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia (2013), sebenarnya adalah pidato yang disampaikan Mochtar Lubis hampir 40 tahun yang lalu, tepatnya pada 6 April 1977, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pidato ini mengupas terutama sifat-sifat negatif orang Indonesia, seperti: munafik atau hipokrit, enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatan, bersikap dan berperilaku feodal, percaya takhayul, dan lemah watak atau karakternya. Meski demikian, ada satu sifat yang cukup baik, yaitu artistik atau berbakat seni.

Apa yang membuat pidato ini menarik dan penting adalah betapa sesuainya kondisi yang dipaparkan pada waktu itu dengan situasi atau realita bangsa Indonesia saat ini. Pidato tersebut memang dibuat dalam rangka menghadapi Indonesia tahun 2000. Pada saat itu, tahun 70-an, situasi Indonesia tidak ubahnya seperti Indonesia sekarang: elit politiknya korup, para pengusahanya tersandera kepentingan asing, dan yang paling penting, kepribadian (sebagian) penduduknya buruk. Ada kesenjangan yang sangat lebar antara orang Indonesia yang seharusnya, entah itu berdasarkan standar budaya, agama, maupun ideologi Pancasila, dan orang Indonesia yang senyatanya. Begitu banyak ciri manusia ideal yang dicita-citakan bangsa Indonesia, tetapi itu hanya berakhir sebagai pedoman moral, pepatah, pembicaraan, atau wacana, tanpa laku nyata.

***

Ciri pertama yang cukup menonjol adalah manusia Indonesia itu hipokritis atau munafik. “Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang.” (h. 18). Sebabnya adalah manusia Indonesia sejak lama sekali dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka rasakan, pikirkan, atau inginkan karena takut akan mendapatkan hukuman atau balasan yang mendatangkan bencana bagi diri mereka. Salah satu kekuatan eksternalnya adalah sistem feodal yang melahirkan sikap asal-bapak-senang. Agar bisa bertahan hidup, orang jadi harus pandai bermanis muka dan belajar berkata “tidak” atau menyampaikan ketidaksetujuan atau kritik dengan cara yang lain, yang halus, yang terselubung.

Ciri kedua adalah manusia Indonesia segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, keputusannya, kelakuannya, dan pikirannya. Ini tampak dari kalimat populer “bukan saya” sebagai bentuk saling lempar tanggung jawab. Digambarkan bagaimana seorang atasan menggeser tanggung jawab atas suatu kesalahan kepada bawahannya, tetapi bawahan pun pandai mengelak dengan berkata, “Saya hanya melaksanakan perintah atasan.” Sebaliknya, jika situasinya adalah kesuksesan, orang Indonesia suka tampil ke depan dan menerima penghargaan. Buruknya, itu diiringi sikap tidak menghargai dan membalas dengan layak jerih-payah orang-orang lain yang ikut bekerja keras bersama dirinya.

Ciri ketiga adalah berjiwa feodal, tampak dari tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi istri PNS dan TNI, dan dalam pencalonan istri pembesar negeri dalam pemilu. Dalam organisasi-organisasi, istri komandan atau istri menteri otomatis jadi ketua, bukan karena kecakapan dan kemampuan memimpinnya, melainkan kedudukannya. (h. 23). Feodalisme di kalangan atas tampak dari kalangan atas yang mengekspektasikan agar orang-orang “di bawah kedudukannya”, baik dalam hal kepangkatan, kedudukan, kekuasaan, dan kekayaan, mengabdi kepadanya dengan segala cara dan rupa; patuh, hormat, takut, merendah diri, tahu diri, tahu tempatnya, dan menerima dan melakukan segala hal yang menyenangkannya. Di kalangan bawah, feodalisme tampak dari betapa semangatnya orang-orang mengabdikan diri kepada pembesar. Hubungan yang seperti ini sangat tidak sehat. Yang berkuasa jadi tidak suka mendengar kritik dan yang dikuasai sangat segan memberikan kritik sehingga koreksi sangat sulit dilakukan jika terjadi penyimpangan. Yang terjadi justru represi dari atas ke bawah. “… salah tafsir sikap feodal, bahwa kuasa adalah sama dengan bijaksana, pandai, mahatahu segala, mahabenar senantisa.” (h. 26)

Ciri keempat adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, sungai, pohon, patung, bangunan, keris, dan sebagainya punya kekuatan gaib dan keramat sehingga ia harus mengatur hubungan khusus dengan hal itu semua. Untuk menyenangkan agar tidak diganggu atau dimusuhi, lantas mereka memuja, memberi sesajen, membaca doa-doa, dan meminta berkah. Mereka juga percaya hantu-hantu, tuah, hari naas-hari baik, dan sebagainya. “Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe.” (h. 28) Sampai di zaman modern pun, manusia Indonesia tetap suka membuat jimat, mantera, dan lambang, hanya saja dengan bahasa yang berbeda. Saat ini ada istilah “rule of law”, pemberantasan korupsi, kemakmuran adil dan merasa, dan sebagainya. Itu semboyan dan lambang yang dibuat sendiri, tetapi sayangnya disangka bahwa “jika telah dibicarakan, telah diputuskan, dan telah diucapkan niat hendak melakukan sesuatu, maka hal itu pun terjadi.” (h. 29) Manusia Indonesia pandai bermain kata-kata, manusia semboyan dan lambang.

Ciri kelima adalah artistik. “Karena sikapnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah, dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. … hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya… dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan…” (h. 33)

Ciri keenam, manusia Indonesia punya watak yang lemah, karakter yang kurang kuat. “Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ‘survive‘, bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.” (h. 34)

Ciri ketujuh adalah ciri-ciri lain manusia Indonesia:

1. Tidak hemat dan cenderung boros, suka berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta.

2. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Ini tampak dari banyaknya orang yang ingin segera menjadi kaya sampai-sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana agar segera dapat pangkat, dan dengan pangkat kedudukannya, bisa cepat jadi kaya. Jadi PNS adalah idaman utama. Orang jadi PNS bukan karena hendak mengabdi kepada rakyat, tetapi karena lambang dan status PNS, serta keuntungan yang didapat. Generasi muda pun inginnya kaya seketika, sukses seketika, tak berpikir bahwa keberhasilan butuh susah-payah, butuh menderita bertahun-tahun dahulu.

3. Kurang sabar dan tukang menggerutu, tetapi jika menggerutu, tidak berani secara terbuka. Ia berani hanya jika bersama teman-temannya yang sepaham dan sama perasaan dengan dia.

4. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih daripada dirinya. Dia kurang senang melihat orang lebih maju, lebih kaya, lebih berpangkat, lebih berkuasa, lebih pintar, lebih terkenal.

5. Gampang senang dan bangga dengan yang hampa-hampa.

6. Tukang tiru, tiru-tiru kulit luar yang mempesonakan dan bergonta-ganti kulit. Buatan luar negeri selalu lebih menarik daripada buatan dalam negeri.

7. Memiliki sifat-sifat manusia yang buruk: bisa kejam, bisa meledak, mengamuk, membunuh, membakar, khianat, menindas, memeras, menipu, mencuri, korupsi, dengki, hipokrit.

8. Cenderung bermalas-malasan, akibat alam yang begitu murah hati sehingga untuk hidup diperhitungkan hanya dari hari ke hari. Manusia Indonesia kurang menyimpan untuk masa depan, dan tidak berhitung jauh ke depan.

9. Lemah dalam mengaitkan antara sebab dan akibat. Ini ditambah dengan sikap nrima, percaya pada takdir, semua sudah ditakdirkan Tuhan, semakin kendur proses logikanya. Jika rakyat menderita akibat banjir tiap tahun, maka orang hanya menghela napas dan tawakal menerima cobaan dari Tuhan. Hanya sedikit yang memikirkan bahwa banjir tersebut adalah akibat dari kesalahan manusia.

10. Tidak atau kurang peduli dengan nasib orang, selama tidak mengenai diri sendiri atau orang yang dekat dengannya. Jika tidak mengenai diri sendiri dan orang dekat, maka merasa tidak berkepentingan. Sebaliknya, jika mengenai diri sendiri atau orang yang kenal dekat, keadaan bisa berubah sama sekali.

Ciri selanjutnya, yang cukup baik, adalah manusia Indonesia punya hubungan yang mesra dengan sesamanya. Ia mudah menolong yang meminta bantuan, dan antara ibu-bapak dan anak pun ada ikatan kasih yang kuat. Ikatan kekeluargaan adalah modal utama untuk menyelamatkan bangsa. Selain itu, manusia Indonesia juga punya rasa humor yang cukup baik. Ia dapat tertawa dalam kesulitan dan penderitaan. Ia juga cepat belajar, mudah dilatih untuk menjadi terampil.

***

Membaca pidato ini, saya menangkap begini. Satu permasalahan besar Indonesia yang mengancam kelangsungan hidupnya di masa depan adalah persoalan karakter manusia-manusianya. Selama ini, orang-orang bersembunyi di balik semboyan dan wacana manusia Indonesia yang ideal, dan tidak mau melihat wajah dirinya yang sesungguhnya buruk rupa. Orang-orang memakai topeng di muka umum, menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya, takut dan khawatir wajah yang sebenarnya tersingkap, bahkan untuk dirinya sendiri. Padahal, perubahan dan perbaikan tidak bisa dilakukan tanpa sebelumnya dikenali sisi diri yang perlu diubah dan diperbaiki itu.

Namun, bagaimana mungkin perubahan pribadi terjadi jika orang-orang di sekitar pribadi, masyarakat dan lingkungan tidak berubah memperbaiki nilai-nilai dan sikap hidup yang dianut? Karena itulah pidato ini menyasar “manusia Indonesia” dan menjadi kritik sosial, tidak mengangkat persoalan karakter individu per individu. Pidato ini adalah tentang masalah sosial. Ada banyak hal mendasar dalam jiwa manusia Indonesia (yaitu nilai-nilai dan sikap hidup) yang perlu diubah secara sadar. Karena itulah pidato ini bertujuan menyadarkan orang-orang, “Hei, inilah diri Anda! Inilah wajah Anda! Lihat dan perhatikan buruknya. Apakah Anda suka dan tetap mau dengan wajah seperti ini?”

“Kita harus berani mengakui pada diri kita, bahwa sedikitnya semenjak kedaulatan Indonesia mendapat pengakuan, telah timbul jurang yang semakin besar antara pretensi-pretensi nasional kita (Pancasila, masyarakat Pancasila, menegakkan rule of law, keadilan, kemakmuran yang merata dan adil, menjamin hak-hak kebebasan dan kemuliaan insan pembangunan, dan lain-lain yang muluk-muluk) dengan tingkah laku pribadi kita sebagai manusia Indonesia atau sebagai kelompok, dan kenyataan dalam masyarakat kita.” (h. 53)

Permasalahan besar lain yang dihadapi Indonesia adalah kebingungan arah tujuan kehidupan bersama sebagai suatu bangsa. Bangsa Indonesia tidak memiliki visi atau tujuan akan menjadi bangsa yang seperti apa dan berakhir membebek cara-cara hidup masyarakat negara maju, dalam hal ini negara-negara di Amerika Utara dan Eropa Barat yang kapitalis-materialistis. Menurut Mochtar Lubis, “Kita harus memakai otak untuk mencari sasaran-sasaran lain untuk kebahagiaan dan damai hati dan kebajikan bangsa kita.” (h. 50).

“Ukuran yang dipakai untuk mengkotak-kotakkan negara-negara maju (developed) dengan yang belum maju (underdeveloped atau developing) sepenuhnya berdasarakan ukuran ekonomi… Rumusan demikian menimbulkan kesan yang salah seakan-akan negari-negeri kaya itu lebih maju dalam segala bidang peradaban dan kebudayaan manusia, dan menimbulkan rasa kurang pada umat manusia yang dikotakkan sebagai negeri-negeri terbelakang atau yang sedang berkembang. Padahal jika kita bandingkan nilai-nilai lain selain ekonomi, cukup banyak nilai-nilai budaya dan manusia, masyarakat yang ekonominya tidak se’maju’ mereka, yang lebih maju dari masyarakat-masyarakat kaya raya.

Hal ini membawa kita kembali pada keharusan kita merumuskan untuk diri kita sendiri, apa yang dimaksudkan dengan ‘maju ekonomi’. Apakah ‘maju ekonomi’ untuk manusia Indonesia yang hendak kita kejar itu serupa dengan ‘maju ekonomi’ negara-negara kaya sekarang dengan segala segi-segi negatif dan bencana yang ditimbulkannya terhadap manusia, alam, dan nilai-nilai kemasyarakatan dan manusia? Atau maju ekonomi buat kita hendaknya berarti jangan ada manusia Indonesia yang lapar, cukup pakaian dan rumah tinggal, punya kesempatan bersekolah dan belajar yang formal maupun nonformal, ada kesempatan bekerja yang layak, ada jaminan agar lahir dan mati jangan menjadi suatu yang mewah dan terlalu mahal?” (h. 54, 60-61)

***

Pemikiran Mochtar Lubis tentang manusia Indonesia menimbulkan kegemparan, saya membayangkannya. Di bagian terakhir buku “Manusia Indonesia” ini saya membaca beberapa tulisan yang mengomentari, baik yang pro maupun kontral terhadap Mochtar Lubis. Ada tulisan Sarlito Wirawan Sarwono yang sekarang menjadi Guru Besar Psikologi di Universitas Indonesia, Margono Djojohadikusumo (ayah dari Soemitro Djojohadikusumo dan kakek dari Prabowo Subianto), Dr. Abu Hanifah (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun 1949-1950 dalam Kabinet RIS), dan Wildan Yatim (ahli biologi-sastrawan). Dua yang pertama menyanggah pemikiran Mochtar Lubis dengan alasan dan argumentasi masing-masing, sedangkan dua yang kedua mendukung.

Saya yang membaca tidak ingin ikut termasuk dalam kubu manapun. Di satu sisi memang tidak tepat benar memukul rata bahwa itulah karakter manusia Indonesia seluruhnya, tetapi di sisi lain memang bukan kasus khusus lagi bahwa karakter tersebut memang tertanam dalam diri banyak orang di Indonesia. Gambaran yang diberikan oleh Mochtar Lubis tentang manusia Indonesia memang suram, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi dan dipecahkan.

“… jika hari ini kita tidak berani atau sungkan melihat wajah manusia Indonesia yang sebenarnya, yaitu bopeng dan buruk, dan kita tidak memperbaikinya dengan penuh kesadaran, maka manusia Indonesia yang berpegang pada nilai-nilai … yang baik akan punah sama sekali. … Saya memberikan lukisan yang suram, tetapi saya tidak melihat hari depan manusia dengan mata yang suram. Mereka yang sempat membaca naskah ceramah saya yang panjang itu, akan melihat sendiri bahwa saya punya keyakinan, kita dapat memperbaiki diri kita, memperbaiki masyarakat, bangsa dan negara kita…

“… saya ingin mengundang kawan-kawan yang menanggapinya agar jangan memakai ukuran dirinya sendiri, tetapi meletakkan persoalannya ke tingkat bangsa dan masyarakat kita. Cocokkah atau tidak ciri-ciri, tingkah laku manusia Indonesia yang saya uraikan itu, jika diletakkan di atas pola gejala dan segala rupa perkembangan manusia dan masyarakat yang kini kita lihat sehari-hari terjadi di sekeliling kita di seluruh tanah air kita?” (h. 107-108).

4 thoughts on ““Manusia Indonesia” Mochtar Lubis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s