Bulan Sabit di Langit Eropa: Telaah Psikologi Kehidupan Minoritas Muslim di Eropa

Bulan Sabit di Langit Eropa *

Aftina Nurul Husna

 

           Minoritas Kaum Migran Muslim di Belanda: Pemikiran Ulang

 

Netherland

 

Kurang tepat menilai bahwa kelompok minoritas muslim di Belanda mengalami kekerasan struktural dari pihak kelompok mayoritas, yaitu warga asli Belanda. Bagi saya, apa yang dipresentasikan kelompok penyaji cenderung pada upaya mencocok-cocokkan realita kehidupan masyarakat Belanda dengan teori kekerasan (Galtung, 1990). Membaca sendiri tulisan Mudzakkir (2007) tentang minoritas kaum migran muslim di Belanda yang dijadikan acuan oleh kelompok penyaji, saya memiliki penafsiran lain di luar kerangka teori kekerasan.

Mudzakkir (2007) memaparkan tentang dinamika relasi kelompok mayoritas dan minoritas di Belanda, menunjukkan bagaimana masyarakat senantiasa beradaptasi dan ingin berkembang menjadi lebih baik. Dalam perjalanannya, seiring dengan perubahan zaman (dalam hitungan abad, tidak hanya dari tahun ke tahun), tak terelakkan terdapat berbagai hambatan dan tantangan. Saya pribadi tidak menilai konsekuensi yang kemudian tampak sebagai kekerasan sebagai kekerasan yang hakiki dalam arti ketidakadilan, penyalahgunaan, perusakan, pemaksaan, dan perundungan oleh institusi sosial. Benar terjadi konflik antara kelompok mayoritas dan minoritas dan berbuntut berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan, tetapi semua itu tidak lantas bernilai kekerasan yang hanya membuahkan kerugian. Saya justru memandang itu sebagai tanda sedang terjadi transisi dalam masyarakat.

Fakta bahwa kelompok minoritas muslim masih ada dan bisa hidup sampai saat ini di Eropa seharusnya dihargai lebih sebagai hasil dari upaya perdamaian yang berat dan panjang. Perlu disadari bahwa sejak kali pertama, umat Islam dan masyarakat Barat bertemu dan saling berkenalan dalam interaksi yang tidak ideal. Ada sejarah panjang peperangan, mulai dari Perang Salib (abad 11 sampai 13), kolonialisme dan imperialisme bangsa-bangsa Barat (abad 15 sampai 20) atas negeri-negeri berpenduduk muslim, sampai yang terakhir, yaitu perang kembali antara dunia Barat dan Islam, ditandai oleh peristiwa WTC 9/11 tahun 2001. Tanpa adanya penghargaan dan harapan bersama akan perdamaian dan koeksistensi, kelompok migran muslim tentu sudah terusir atau tidak pernah selangkah pun menginjakkan kaki di benua Eropa.

Satu persoalan yang lantas ingin dibahas dalam tulisan ini adalah terkait ragam upaya pengintegrasian kelompok minoritas muslim ke dalam masyarakat Eropa di berbagai negara Eropa. Bagi saya, itu sudut pandang ini lebih penting bagi khazanah psikologi perdamaian karena menyorot kreativitas negara-negara menghadapi masalah perdamaian. Meskipun demikian, tulisan ini mungkin akan kehilangan kedalaman karena tidak membatasi fokus pembahasan pada satu negara saja, melainkan beberapa negara.

Cara yang saya lakukan adalah dengan studi sejumlah literatur, buku-buku dan jurnal penelitian, serta berita-berita di media tentang umat Islam di Eropa. Dalam memaparkan, pertama saya akan membahas tentang hambatan terbesar perdamaian di Eropa yaitu ketakutan terhadap Islam dan muslim, kedua tentang ragam inisiatif pemerintah dan komunitas di negara-negara Eropa terhadap kelompok minoritas muslim, ketiga perspektif psikologi tentang persoalan integrasi, dan terakhir adalah penutup yang menyimpulkan semua pembahasan.

 

           Memahami Ketakutan Eropa: Islamofobia

 

Islamophobia 3

 

Istilah “Islamofobia” tidak populer di masyarakat sampai terjadi peristiwa WTC 9/11. Islamofobia adalah sikap atau emosi negatif yang tidak pandang bulu (indiscriminate) yang diarahkan kepada Islam atau muslim (Bleich, 2011). Islamofobia dicirikan dengan adanya ketakutan, kebencian, dan kecemasan terhadap Islam dan ajarannya, muslim dan budaya-budayanya, adanya penilaian Islam sebagai musuh, “orang lain”, yang berbahaya dan menetap, serta layak menerima permusuhan dari masyarakat Barat, adanya penolakan terhadap Islam, kelompok muslim, dan individu muslim atas dasar prasangka dan stereotipe (Bleich, 2011).

Sejumlah stereotipe yang dijadikan dasar di antaranya: Islam itu agama yang statis, tidak merespon perubahan, memisahkan diri, inferior dari Barat, barbar, tidak rasional, primitif, kasar, agresif, seksis, mengancam, mendukung terorisme, merupakan ideologi politis dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau militer, dan maka dari itu, permusuhan anti-muslim adalah hal yang alami dan normal. Dalam stereotipe orang Eropa, muslim digambarkan sebagai kelompok orang-orang yang sangat religius dan semuanya menganut Islam versi fundamentalis (European Monitoring Centre/ EUMC, 2006).

Studi yang dilakukan oleh European Monitoring Centre (EUMC, 2006) memberikan gambaran yang lengkap tentang persoalan minoritas muslim di Eropa, mulai dari situasi demografis, isu-isu sosial (marginalisasi, alienasi, isu wanita terkait penggunaan jilbab, dan tindak kriminal terhadap muslim), sampai persoalan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan perumahan. Hubungan kelompok muslim dengan masyarakat Eropa semakin buruk sejak isu terorisme mencuat, mengakibatkan mereka mengalami marginalisasi dan alienasi karena identitas agama. Satu dari tiga orang muslim dilaporkan mengalami diskriminasi pekerjaan; ditolak dalam akses mendapatkan pekerjaan, kehilangan promosi, dan dilecehkan di tempat kerja. Satu dari empat orang muslim mengalami diskriminasi transaksi ekonomi; ditolak dalam akses perumahan dan mendapatkan kredit atau pinjaman.

Adanya diskriminasi mengakibatkan ketidakpuasan di kalangan migran muslim terhadap status mereka di masyarakat (EUMC, 2006). Namun, persepsi secara sistematis didiskriminasi juga mempengaruhi integrasi dan sosialisasi mereka. Kelompok yang paling merasa didiskriminasi adalah mereka yang paling merasa terisolasi, tidak terintegrasi, dan kurang bersosialisasi dengan masyarakat. Hubungan ini benar-benar seperti dilema “telur dan ayam”, mana yang terjadi lebih dahulu. Selain itu, perlu dicatat bahwa tidak di semua negara muslim mengalami diskriminasi. Muslim rentan mengalami diskriminasi di Spanyol, Italia, Belanda, dan Portugal, tetapi tidak begitu di Austria, Belgia, Jerman, Yunani, Prancis, Inggris, dan Irlandia.

Kekerasan dalam bentuk marginalisasi, alienasi, dan diskriminasi yang disebabkan oleh Islamofobia lebih merupakan reaksi alamiah individu-individu dalam masyarakat yang secara kolektif merasa terancam, rentan, tidak percaya, dan curiga (lihat Eidelson & Eidelson, 2003), bukan kekerasan struktural. Buktinya, di Eropa terdapat Dewan Komisi Eropa Melawan Rasisme dan Intoleransi (Council of Europe’s Commission against Racism and Intolerance/ ECRI). Dewan tersebut mengeluarkan kebijakan rekomendasi untuk melawan intoleransi dan diskriminasi terhadap muslim, serta rasisme dan diskriminasi rasial di Eropa berdasarkan kesadaran bahwa komunitas-komunitas muslim rentan menjadi objek prasangka. Dewan tersebut bekerja berdasarkan prinsip negara-negara anggota Uni Eropa untuk mendukung, melindungi, dan memelihara masyarakat sekuler terbuka dengan hak-hak dan kesempatan yang sama. Setiap negara lantas memiliki tugas untuk memastikan bahwa sikap kritis apapun terhadap manifestasi religius tertentu tetap harus menghargai prinsip kesetaraan (EUMC, 2006).

 

            Upaya Pemerintah dan Komunitas Mendukung Integrasi-Melawan Islamofobia

 

muslimah 65 Germany

 

Dewan Eropa meyakini prinsip bahwa integrasi adalah proses akomodasi mutual yang bersifat dua arah dan dinamis oleh semua imigran dan penduduk negara-negara anggota (EUMC, 2006). Tindakan yang terutama dilakukan adalah memastikan ketiadaan diskriminasi dalam area-area kunci kehidupan sosial, terutama pendidikan dan pekerjaan bagi semua komunitas minoritas. Meskipun agama bukan salah satu hal yang diakui resmi di Eropa, baik Komisi Eropa dan Parlemen Eropa menekankan pentingnya dialog antarbudaya demi kohesi komunitas, termasuk membangun dialog dengan komunitas muslim.

Di berbagai negara Eropa dilakukan program-program aksi komunitas untuk melawan diskriminasi atas dasar ras, agama atau keyakinan, disabilitas, usia atau orientasi seksual, (EUMC, 2006). Konsep integrasi sosial dan kohesi komunitas diterjemahkan dalam bentuk kebijakan dan usaha yang relevan. Banyak dari usaha-usaha tersebut berbasis di kota-kota di mana kaum migran terkonsentrasi dan di mana masalah-masalah tertentu terjadi berkenaan dengan marginalisasi sosial, pengangguran, dan diskriminasi. Meskipun program ini sebenarnya bersifat umum (tidak khusus untuk minoritas muslim), program ini melibatkan komunitas-komunitas muslim.

Gambaran program dari beberapa negara adalah sebagai berikut (EUMC, 2006):

Belgia. Pemerintah federal Belgia meluncurkan program dialog antarbudaya. Dialog ini berfokus pada empat tema, yaitu prinsip-prinsip fundamental pemfungsian pelayanan umum (ekualitas, non-diskriminasi, dan netralitas) dan implementasinya dalam konteks antarbudaya, kewargaan (citizenship) sebagai penawar bagi ketakutan terhadap orang lain, kesetaraan antara pria dan wanita sebagai nilai emansipasi, dan penempatan dan pengakuan ekspresi religius dalam masyarakat yang demokratis dan pluralis.

Denmark. Pemerintah Denmark melakukan upaya integrasi. Pernah pada 18 April 2005 Menteri Integrasi Denmark secara resmi mengadakan pertemuan dengan para imam untuk membahas integrasi. Gereja-gereja Kristen pun aktif mengadakan konferensi, pembicaraan, dan kerjasama antaragama dengan komunitas-komunitas muslim. Kegiatan ini sebagian didanai oleh Kementerian Kegerejaan.

Yunani. Yunani merangkul komunitas muslim lewat partisipasi politik. Contohnya, partai oposisi utama Yunani mengundang wanita muslim Yunan untuk menjadi kandidatnya di salah satu prefektur. Anggota parlemen Yunani pun ada yang muslim.

Perancis. Pemerintah Perancis memberikan dukungan resmi pendirian Foundation for Islam, yaitu yayasan untuk semua usaha-usaha muslim di Perancis. Yayasan tersebut bekerja sebagai institusi swasta yang didanai oleh donasi pribadi dan dana yang dikumpulkan digunakan untuk membangun masjid dan mengadakan pelatihan para imam Perancis. Berdasarkan testimoni perdana menteri Perancis pada waktu itu, upaya ini adalah jalan legal terbaik untuk membangun Islam di Perancis. Selain itu, pemerintah pun mengadakan upaya-upaya antaragama dan antarbudaya.

Inggris. Inggris adalah negara Eropa yang memiliki paling banyak program integrasi, di antaranya: upaya integrasi umum (agenda kohesi komunitas untuk menurunkan Islamofobia di jalanan dan lingkungan tempat tinggal), partisipasi politik, program kepolisian, seperti pengadaan sistem komplain pada polisi secara terbuka, efisien, dan adil, terutama terkait kejadian rasisme dan Islamofobia, asistensi dan bantuan terhadap korban Islamofobia, dan peningkatan relasi dengan komunitas muslim, dan pendidikan.

Di komunitas, upaya meningkatkan integrasi dan melawan Islamofobia lebih beragam (EUMC, 2006). Program yang luas dilakukan di masyarakat adalah dialog antaragama, terutama antara Kristen dan Islam. Dialog difasilitasi oleh misalnya pusat studi Islam-Kristen, organisasi non-pemerintah, dan bahkan stasiun televisi (contoh, dalam acara debat keagamaan antara empat pemimpin agama perwakilan komunitas Islam, Kristen, Yahudi, dan Sikh di Denmark). Terdapat pula program lainnya, seperti acara membuka masjid untuk umum untuk menyebarkan informasi yang benar tentang Islam, lokakarya dan pelatihan (contoh, dengan tema mengurangi prasangka di tempat kerja atau mengatasi Islamofobia), progam-program untuk anak sekolah, acara seni dan sastra dengan tema Islam dan Barat, upaya media (seminar bagi para jurnalis dan perwakilan media tentang Islam agar menyajikan informasi yang kredibel tentang Islam dan muslim), dan program kesehatan bagi komunitas muslim. Semua itu adalah upaya-upaya perdamaian dalam rangka menjadikan kelompok minoritas muslim bagian dari masyarakat Eropa.

 

            Perspektif Psikologi tentang Persoalan Kekerasan dan Upaya Integrasi

 

Islamophobia 4

 

Setiap orang perlu berhati-hati dan objektif dalam menilai suatu persoalan sosial agar tidak membesar-besarkan masalah. Mengintepretasikan bahwa diskriminasi yang dialami minoritas muslim di Eropa sebagai upaya kekerasan struktural adalah berlebihan karena tidak didukung fakta kebijakan sosial yang justru mengupayakan perdamaian.

Jika dikembalikan kepada teori kekerasan (Galtung, 1990), kebanyakan kekerasan yang terjadi lebih tepat dimasukkan sebagai kekerasan langsung atas inisiatif individu atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Dakwaan dan tuntutan pertanggungjawaban atas perbuatan dapat ditimpakan kepada individu atau kelompok pelaku, bukan institusi sosial, seperti pemerintah, kepolisian, keagamaan, pendidikan, dan kesehatan. Dengan demikian, muslim manapun yang menjadi korban langsung-tidak langsung kekerasan atau siapapun yang menjadi sekedar pengamat dari luar Eropa dapat memiliki respon tidak suka atau sikap negatif yang proporsional dan tidak tergeneralisasi ke level negara, kepada seluruh bangsa Eropa, atau kepada peradaban Barat, budaya, dan agama masyarakatnya. Ini dapat mencegah konflik yang lebih besar.

Pemahaman mengapa kekerasan dan konflik terjadi dapat dilakukan dengan memahami dinamika psikologis dalam diri orang-orang. Salah satu faktor penyebabnya adalah dianutnya keyakinan-keyakinan tertentu di level individu yang berkembang ke level masyarakat (Bar-Tal, 2000; Eidelson & Eidelson, 2003). Keyakinan-keyakinan itu, yang berakar pada memori kolektif, emosi kolektif, dan identitas sosial, menentukan seberapa kuat konflik membandel dan sulit diselesaikan (Bar-Tal, 2000, 2007).

 

“There is perhaps no more dangerous force in social relations than the human mind. People’s capacities to categorize, interpret, and go ‘beyond the information given’ readily lead to the stereotyping and dehumanization that escalate and entrench group conflict.” (Keltner & Robinson, dalam Eidelson & Eidelson (2003, h. 182)

 

Menurut Eidelson dan Eidelson (2003), ada hubungan yang paralel antara keyakinan inti individu (core belief) dengan worldview kolektif kelompok yang berperan dalam interpretasi pengalaman bersama (shared experience) dan dapat memicu kekerasan. Terdapat lima jenis keyakinan, yaitu superioritas, ketidakadilan, kerentanan, ketidakpercayaan, dan ketidakberdayaan. Dalam kasus hubungan minoritas muslim-masyarakat Eropa, keyakinan-keyakinan tersebut ada baik dalam diri kelompok minoritas maupun mayoritas, di mana yang menonjol adalah superioritas, ketidakadilan, kerentanan, dan ketidakpercayaan.

Superioritas adalah keyakinan bahwa seseorang lebih baik daripada orang lain dan di level kelompok ini tercermin dalam keyakinan akan dimilikinya superioritas moral, keterpilihan (chosenness), ke-berhak-an (entitlement), dan takdir istimewa (special destiny) (Eidelson & Eidelson, 2003). Dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaannya kini, masyarakat Eropa memandang muslim sebagai inferior, barbar, dan primitif, tetapi interpretasi atas ajaran Islam yang mengatakan bahwa umat Islam adalah umat pilihan, umat terbaik di antara segala umat (misalnya, lihat Quran Surat Ali Imran [3]: 110), juga menjadikan muslim memandang masyarakat Eropa yang kafir sebagai inferior, primitif secara religius dan spiritual.

Ketidakadilan adalah keyakinan berdasarkan perasaan telah diperlakukan salah oleh orang lain atau dunia dan di level kelompok ini memiliki signifikansi dan menjustifikasi kemarahan (grievance) terhadap kelompok lain. Ketidakadilan ini dapat dirasakan dari mengalami pengalaman kelompok yang traumatis di mana korbannya sama-sama merasakan rasa malu, penghinaan, dan rasa tak berdaya (Eidelson & Eidelson, 2003). Sejarah konflik, peperangan berabad-abad, dan kekerasan yang senantiasa berulang antara Eropa dan dunia Islam bisa dinilai sebagai sumber dari keyakinan ini.

Kerentanan adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya hidup dalam bahaya sehingga karenanya merasa takut dan cemas akan masa depannya. Hal yang sama juga terjadi di level kelompok di mana rasa takut mengarahkan orang-orang untuk melakukan kekerasan terhadap sumber ancaman, meningkatkan solidaritas kelompok mereka, dan mengetatkan batas-batas kelompok (Eidelson & Eidelson, 2003). Islamofobia masyarakat Eropa terhadap Islam dan muslim, serta sikap anti-Barat dan anti-Amerika yang memicu radikalisme, fundamentalisme, dan gerakan jihad di kalangan muslim mengindikasikan adanya keyakinan ini.

Ketidakpercayaan adalah keyakinan yang berfokus pada persangkaan bahwa orang lain atau kelompok lain memusuhi dan memiliki niat jahat terhadap diri maupun kelompok sendiri. Elemen utama ketidakpercayaan secara kolektif adalah menyebarnya ketidakjujuran dan ketakterpercayaan, serta paranoia (Eidelson & Eidelson, 2003). Keyakinan ini berkaitan dengan keyakinan sebelumnya tentang kerentanan. Islamofobia dan sikap anti-Barat menggambarkan adanya ketidakpercayaan antara muslim dan masyarakat Barat.

Kesadaran akan adanya peran kognisi berupa keyakinan-keyakinan yang merugikan dalam benak kolektif terhadap satu sama lain akan bermanfaat mengarahkan kebijakan sosial yang tepat sasaran dan efektif. Aspek kognisi ini dijadikan sasaran utama lewat berbagai program integrasi sosial dan perlawanan terhadap Islamofobia, seperti dialog antaragama dan antarbudaya yang terbuka di ruang publik, aktivitas-aktivitas komunitas bersama, berbagai seminar, lokakarya, dan pelatihan, pemberian kepercayaan kepada anggota masyarakat dari kelompok minoritas muslim untuk menduduki jabatan publik, dan sebagainya. Saya belum mendapatkan data tentang bagaimana pengaruh usaha-usaha tersebut saat ini, tetapi secara hipotetis, usaha-usaha tersebut tentu memberikan pengaruh yang positif.

 

            Penutup

Islam dan kelompok minoritas muslim adalah tantangan bagi Eropa, menjadi isu global, regional maupun lokal di negara-negara Eropa. Persoalan terkait muslim sesungguhnya tidak hanya berkenaan dengan Islamofobia dan persoalan integrasi sosial, tetapi bermacam-macam, seperti diaspora muslim atau perpindahan penduduk dari negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan menuju Eropa yang membawa konsekuensi demografi, relasi interdependensi antara pengusaha di Eropa dan pekerja migran muslim yang membawa konsekuensi ekonomi, hubungan internasional antara negara-negara Eropa dengan negara-negara berpenduduk muslim di berbagai bidang, pengaruh globalisasi dan pertemuan-percampuran budaya, dan sebagainya. Mau tidak mau interaksi pasti terjadi dan demi kebaikan masing-masing, semua pihak harus belajar menjalin interaksi yang positif.

Tidak mudah sepenuhnya mendamaikan kekerasan yang akar penyebabnya sudah tertanam begitu dalam dan lama dalam diri orang-orang secara kolektif. Namun yang patut dihargai adalah inisiatif pemerintah dan masyarakat di negara-negara Eropa dalam mengupayakan perdamaian lewat program-program anti-Islamofobia dan integrasi sosial yang menyentuh psikologi masyarakat sehingga kelompok mayoritas Eropa dan minoritas migran muslim mau berbaur, meluruskan kesalahpahaman, saling memahami (terutama tentang perbedaan agama dan budaya), menghilangkan stereotipe dan stigma sosial, dan hidup bersama tanpa ketakutan dan kecemasan. Tujuan akhirnya adalah menjadikan kelompok minoritas muslim bagian dari masyarakat Eropa dan aktif berpartisipasi sebagai warga negara.

Hal yang patut diapresiasi pula adalah upaya para ilmuwan sosial Eropa dengan riset-riset sosialnya. Sejak peristiwa WTC 9/11 banyak sekali riset dilakukan terkait Islamofobia dan konsekuensi-konsekuensinya di masyarakat, serta bagaimana itu dijadikan masukan bagi program-program anti-Islamofobia. Berbagai buku pun telah ditulis untuk menggambarkan kehidupan muslim di Eropa sebagai kelompok minoritas dan usaha negara-negara berusaha merangkul mereka, membahas problem-problem kemigrasian, identitas, integrasi dan kohesi sosial, multikulturalisme, dan peran kelompok minoritas muslim di benua Eropa dari masa ke masa (contoh, Al-Azmeh & Fokas, 2007; Bosswick & Husband, 2005; Emerson, 2011).

Upaya yang tidak kalah esensial adalah inisiatif dari sarjana muslim sendiri dalam merumuskan cara hidup yang sebaiknya sebagai kelompok minoritas di Eropa. Satu yang terpenting adalah peninjauan kembali ajaran Islam dan mencari dalam agama tuntunan hidup sebagai kelompok minoritas, diistilahkan sebagai fikih minoritas atau fiqh al-aqalliyyat al-muslimah atau Islamic jurisprudence for muslim minorities (Ghazali, 2012; Rafeek, 2012).

Dengan semua usaha itu, dilandasi cita-cita koeksistensi yang harmonis, diharapkan di masa depan ada saat di mana bulan sabit bercahaya langit Eropa, bukan lagi sebagai simbol konflik, kekerasan, dan ketakutan, melainkan perdamaian dan keamanan seperti arti kata “Islam” yang sebenarnya: damai dan selamat.

 

Crecent moon 2

 

Referensi

Al-Azmeh, A. & Fokas, E. (Eds.). (2007). Islam in Europe: diversity, identity and influence. Cambridge: Cambridge University Press.

Bar-Tal, D. (2000). From intractable conflict through conflict resolution to reconciliation: psychological analysis. Political Psychology, 21(2), 351-365.

Bar-Tal, D. (2007). Sociopsychological foundations of intractable conflicts. American Behavioral Scientist, 50(11), 1430-1453. doi: 10.1177/0002764207302462

Bleich, E. (2011). What is Islmophobia and how much is there? Theorizing and measuring an emerging compartive concept. American Behavioral Scientist, 55(12), 1581-1600. doi: 10.1177/0002764211409387

Bosswick, W. & Husband, C. (Eds.). (2005). Comparative European research in migration, diversity and identities. Bilbao: University of Deusto.

Eidelson, R. J. & Eidelson, J. I. (2003). Dangerous ideas: five beliefs that propel groups toward conflict. American Psychologist, 58(3), 182-192. doi: 10.1037/0003-066X.58.3.182

Emerson, M. (2011). Interculturalism: Europe and its muslims in search of sound societal models. Brussels: Centre for European Policy Studies.

European Monitoring Centre/ EUMC. (2006). Muslims in the European Union: Discrimination and Islamophobia. Retrieved from http://fra.europa.eu/sites/default/files/fra_uploads/156-Manifestations_EN.pdf

Galtung, J. (1990). Cultural violence. Journal of Peace Research, 27(3), 291-305.

Ghazali, A. M. (2012). Fikih mayoritas dan fikih minoritas: upaya rekonstruksi fikih lama dan merancang fikih baru. Tashwirul Afkar, 31, 42-59. Retrieved from http://www.lakpesdam.org/acrobat/edisi31/risetredaksi3.pdf

Haddad, Y. Z. (Ed.). (2002). Muslims in the West: from sojourners to citizens. Oxford: Oxford University Press.

Mudzakkir, A. (2007). Minoritas kaum migran Muslim di Belanda. Jurnal Kajian Wilayah Eropa, 3(3), 36-51.

Rafeek, M. (2012). Fiqh al-aqalliyyat (jurisprudence of minorities) and the problems of contemporary muslim minorities of Britain from perspective of Islamic jurisprudence. Dissertation. University of Portsmouth, UK.

 

*Tulisan ini adalah esai untuk tugas akhir semester mata kuliah Psikologi Perdamaian yang kuikuti. Semoga tulisan ini bermanfaat dan jika ada yang sekiranya ada yang perlu ditanggapi, dikritisi, dikoreksi, atau diperbaiki, silakan disampaikan dan diskusikan dengan saya🙂

4 thoughts on “Bulan Sabit di Langit Eropa: Telaah Psikologi Kehidupan Minoritas Muslim di Eropa

  1. Saya tertarik dengan diskusi kebijakan yang dilakukan oleh Jasser Auda di Roma terkait pencarian solusi mengenai problem Muslim minoritas di Eropa ini. Jasser dan kawan-kawannya dalam diskusi tersebut menganjurkan agar Eropa mengizinkan dibukanya universitas Islam yang sejajar dengan universitas Kristen, Yahudi, atau agama-agama lain. Hanya saja, bagi Jasser, universitas Islam yang dibangun didesain agar menghasilkan lulusan Muslim yang bercorak Eropa, bukan Muslim yang bercorak Arab. Upaya ini bisa memperkuat upaya integrasi kelompok minoritas dengan kelompok mayoritas di Eropa.

    Barangkali, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di sini: https://www.facebook.com/jasser.auda/posts/760948067294428?pnref=story

    Namun, lebih dari itu, tulisanmu ini bagus sekali. Perspektifnya cukup kaya. Menambah wawasan baru buat saya…..

    • Alhamdulillah, tulisan ini bermanfaat. Terima kasih sudah mampir membaca. Lama tidak bersua🙂 semoga kabar baik.

      Saya sudah membuka link tersebut, saya tertarik betul dengan gagasan pendidikan tersebut.

  2. “Dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaannya kini, masyarakat Eropa memandang muslim sebagai inferior, barbar, dan primitif, tetapi interpretasi atas ajaran Islam yang mengatakan bahwa umat Islam adalah umat pilihan, umat terbaik di antara segala umat (misalnya, lihat Quran Surat Ali Imran [3]: 110), juga menjadikan muslim memandang masyarakat Eropa yang kafir sebagai inferior, primitif secara religius dan spiritual.”
    –>menarik sekali tulisannya, secara timbal balik segala bentuk perasaan superior itu memang akan menghasilkan konflik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s