Ketangguhan dan Kebahagiaan: Pandangan Psikologi, Antropologi, Ekonomika, Sosiologi, dan Komunikasi Massa

Hari ini, 9 Januari 2015, istimewa bagi saya karena berkesempatan ikut serta merayakan hari jadi Fakultas Psikologi UGM yang ke-50 (Sebetulnya ulang tahun fakultas tanggal 8 Januari 2015 kemarin. Wah, akan saya ingat betul karena itu juga tanggal deadline revisi proposal tesis saya.🙂 ) Ada sejumlah rangkaian acara dan salah satunya yang saya ikuti adalah seminar nasional yang bertajuk “Menjadikan Indonesia Tangguh dan Bahagia: Kajian Berbagai Perspektif”. Dalam seminar ini, dibahas persoalan ketangguhan dan kebahagiaan tidak hanya dari perspektif psikologi, tetapi juga antropologi, ekonomi, sosiologi, dan komunikasi massa. Upaya sintesis pemikiran ini menjadikan seminar ini sangat bermanfaat untuk diikuti.

Topik ketangguhan dan kebahagiaan adalah topik utama dalam psikologi, terutama psikologi positif. Meskipun demikian, permasalahan terkait dua hal itu tidak eksklusif milik psikologi saja. Mengingat ketangguhan dan kebahagiaan manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, berupa faktor budaya, ekonomi, dan kemasyarakatan, yang di dalamnya termasuk media, maka ini menjadi pembahasan yang luas di mana psikologi sendiri tidak mampu menjadi satu-satunya ilmu yang mendukung ketangguhan dan kebahagiaan manusia, meskipun dikatakan bahwa kebahagiaan 90% ditentukan oleh faktor internal, yaitu psikologi individu yang bersangkutan.

Seminar ini mengundang sejumlah ahli. Bhina Patria (dosen psikologi) membahas perspektif psikologi, Pande Made Kutanegara (dari Jurusan Antropologi) perspektif antropologi, Rimawan Pradiptyo (dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis) perspektif ekonomi, Arie Sudjito (dari Jurusan Sosiologi) perspektif sosiologi, dan Otto Lampito (Pemimpin Redaksi “Kedaulatan Rakyat”) perspektif komunikasi massa. Meskipun menggunakan perspektif yang bermacam-macam dan pemikiran yang dibawa setiap pembicara pun berbeda-beda bahkan ada yang berlawanan, ada benang merah di antara semuanya. Itulah yang hendak saya paparkan di sini.

Sebelum memulai, karena saya mahasiswa psikologi, saya mengingatkan bahwa tentu saja akan banyak penafsiran yang berbau psikologi dan bisa jadi kurang tepat dengan maksud pembicara yang sebenarnya. Semoga ada di antara pembaca yang berkenan membaca ini dan memberikan komentar sehingga diskusi kita bisa berkembang.

***

1# Ketangguhan dan Kebahagiaan: Perspektif Psikologi

Saya pribadi kurang puas dengan pemaparan pembicara tentang ketangguhan dan kebahagiaan dari perspektif psikologi. Terkhusus pada bagian kebahagiaan, apa yang disampaikan barulah separuh dari teori kebahagiaan menurut khazanah psikologi positif dan bagi saya, pembicara topik ini menyederhanakan apa itu kebahagiaan karena menyinonimkan itu dengan subjective well-being. Dalam psikologi, terdapat dua konsep well-being, yaitu subjective well-being (Diener, Suh, & Oishi, 1997) dan psychological well-being (Ryff, 1989) yang keduanya berbeda baik dalam teori maupun landasan filosofisnya.

Saya akan jelaskan kedua konsep well-being tersebut sedikit.

Subjective well-being, disingkat SWB, didasarkan pada asumsi bahwa komposisi penting dari hidup yang baik adalah bahwa orang itu sendiri menyukai kehidupannya (“the person herself likes her life”). SWB adalah evaluasi kognitif dan afektif seseorang atas kehidupannya. Evaluasi ini meliputi reaksi emosi atas peristiwa juga penilaian kognitif atas kepuasan dan keterpenuhan kebutuhan hidup. Karena itulah SWB menjadi konsep yang sangat luas yang meliputi pengalaman emosi yang menyenangkan, rendahnya level mood negatif, dan tingginya kepuasan hidup. Seseorang dikatakan memiliki SWB tinggi jika ia mengalami kepuasan hidup dan sering kali merasa gembira dan di sisi lain, ia jarang mengalami emosi tidak menyenangkan seperti sedih dan marah (Diener, Suh, & Oishi, 1997).

Konsep SWB tersebut berakar pada etika Epicurean, atau hedonisme. Menurut etika ini, kebaikan tertinggi adalah kesenangan, kepuasaan, dan kegembiraan, serta ketiadaan kesedihan, kekurangan, dan penderitaan. Etika Epicurean mempengaruhi kemunculan aliran utilitarianisme dalam filsafat yang berkembang di Eropa pada abad pertengahan. Kaum utilitarian menganggap bahwa kehadiran kesenangan dan ketiadaan kesakitan adalah ciri kehidupan yang baik. Berdasar itulah, kebahagiaan pun mendapatkan definisinya yaitu ketika seseorang mampu memaksimalkan kehadiran kesenangan dan meminimalkan kesakitan.

Berbeda dari SWB, psychological well-being, disingkat PWB berangkat dari etika Nichomacean. Kebajikan ada di titik tengah dan bahwa tujuan hidup manusia seharusnya adalah kebahagiaan yang merupakan kebaikan tertinggi. Hidup yang baik adalah hidup yang diwarnai kearifan berpikir, keberanian, kesederhanaan, dan keadilan pada diri sendiri, sesama, dan Tuhan, dan itu dicapai melalui pengendalian hawa nafsu, penyucian moral/ jiwa, dan penggunaan akal sebaik-sebaiknya sesuai fungsinya (Aristoteles, dalam Ibn Miskawaih, Tahdzibul Akhlaq). Pemikiran tersebut menginspirasi formulasi eudaimonic well-being. 

Kata Eudaimonia terdiri dari kata eu yang berarti baik dan daimon yang berarti spirit, ruh, atau jiwa yang diberikan kepada semua manusia saat kelahiran. Eudaimonia berkenaan dengan “living well or actualizing one’s human potentials”. Well-being bukanlah hasil atau keadaan akhir karena ia merupakan proses memenuhi atau menyadari daimon atau hakikat diri (true nature); proses memenuhi potensi-potensi luhur manusia dan hidup dengan cara yang seharusnya. Konsep ini diadopsi oleh para pengikuti aliran humanistik dalam psikologi (Deci & Ryan, 2008).

Formulasi eudaimonic well-being lalu dikembangkan oleh Ryff yang meneliti tentang PWB. Ryff (1989) mengkritik pandangan well-being yang hedonis dalam psikologi karena pandangan tersebut hanya menekankan pada aspek afektif dan kepuasan hidup, tetapi mengabaikan keberfungsian yang positif seseorang (positive psychological functioning) yang merupakan kunci kesehatan psikologis. Ryff (1989, 2008) pun mengajukan sejumlah karakteristik individu yang mencapai keberfungsian yang positif, yaitu: 1) self-acceptance/ menerima diri, 2) memiliki relasi positif dengan orang lain, 3) membangun autonomi, 4) environmental mastery/ memilih dan menciptakan lingkungan yang sesuai, 5) memiliki tujuan hidup, dan 6) senantiasa mengembangkan/ menumbuhkan diri. Bahagia dalam pandangan ini adalah ketika seseorang berproses menuju potensi luhur dirinya.

Kedua konsep tersebut tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk karena dua-duanya sama-sama menjelaskan kebahagiaan dan sama bermanfaatnya. Namun, definisi kebahagiaan menurut SWB-lah yang tampaknya dekat dengan indikator kesejahteraan menurut perspektif ekonomi, terutama pada aspek kepuasan hidupnya. Ini akan dibahas nanti di poin selanjutnya tentang ketangguhan dan kebahagiaan menurut perspektif ekonomi. Sementara itu, konsep kebahagiaan menurut PWB dekat dengan konsepnya menurut perspektif sosiologi. Itu kesimpulan saya.

Konsep kebahagiaan dalam psikologi unik: kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari atau dikejar. Kebahagiaan itu tidak terletak di cakrawala yang jauh sekali. Kebahagiaan bukanlah hasil dari tercapainya sesuatu. Kebahagiaan dapat dimunculkan dengan cara mengenali dan mengapresiasi apa yang kita miliki dan apa yang kita lakukan di sini dan sekarang.

Banyak sekali penelitian psikologi tentang ketangguhan dan kebahagiaan. Satu yang menarik, tentu saja, tentang metode-metode berbahagia. Ada metode yang sifatnya temporer, ada yang lebih tahan lama. Metode yang temporer dilakukan dengan induksi mood positif, lewat menonton film, membaca cerita, menerima hadiah, berimajinasi, menerima feedback positif, mendengarkan musik, melakukan interaksi sosial, dan tersenyum.

Metode yang lebih tahan lama adalah dengan banyak bersyukur atas nikmat kehidupan, berolahraga (terutama aerobik, karena secara neurologis itu mendorong sekresi endorfin), membelanjakan uang dengan motif prososial (bukan untuk mendapatkan barang bagi diri sendiri), mengembangkan hobi, memelihara harapan dalam diri, menciptakan lingkungan yang membahagiakan (seperti dengan menempel gambar inspirasional, memasang foto keluarga, tidak menonton televisi), dan berperilaku altruis.

***

2# Ketangguhan dan Kebahagiaan: Perspektif Ekonomika

Saya jujur tidak memahami ekonomika sehingga pemaparan saya di sini, selain merupakan ulangan apa yang saya dapatkan dari seminar dan kesimpulan pribadi saya sebagai mahasiswa psikologi. Kesan saya adalah terkait perbedaan peran psikologi dan ekonomika. Jelas, psikologi banyak membahas persoalan di level individual, tetapi ekonomika merengkuh konteks yang lebih besar dan memberikan lebih banyak masukan teknis bagaimana menyejahterakan masyarakat (bukan membahagiakan).

Dalam pandangan saya, ada satu keterbatasan ekonomika terkait isu kebahagiaan. Ekonomika dalam arti yang dipahami secara luas berurusan dengan bagaimana cara mengelola sumber daya yang terbatas untuk memproduksi komoditas yang berharga dan mendistribusikannya. Ekonomika berurusan dengan hal-hal yang materiil. Ekonomika yang tradisional dihadapkan pada persoalan bagaimana mengakurkan sumber daya yang terbatas dengan keinginan (wants) manusia yang tidak terbatas dan mengarah pada keserakahan.

Salah satu prinsip ekonomika adalah bahwa standar hidup di suatu negara ditentukan oleh kemampuan memproduksi barang dan jasa sehingga satu indikator kesejahteraan (ekonomi) suatu negara adalah pada Gross Domestic Product atau GDP, yaitu jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu perekonomian dalam kurun waktu tertentu. Prinsip tersebut berdampak juga pada konsepsi manusia tentang kebahagiaan. Logikanya, semakin besar produksi, semakin besar pendapatan, semakin besar konsumsi, dan harapannya semakin sejahtera manusia. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendapatan yang besar dan konsumsi ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Konsep ekonomi dan psikologi tentang kebahagiaan tidak bertemu, bahkan cenderung bertolak belakang.

Para ahli lantas berusaha menemukan di mana titik yang membuat konsep ekonomi dan psikologi tidak sejalan menuju kebahagiaan manusia. Titik itu adalah pada tujuan dari perilaku mengkonsumsi, apakah memenuhi keserakahan diri (orientasi individualistis), ataukah menjalankan fungsi kesejahteraan sosial. Hasil dari perilaku konsumsi akan berbeda, apakah suatu barang dibeli untuk memuaskan keinginan diri, atau digunakan untuk diberikan kepada orang lain yang kekurangan. Pada tujuan yang pertama, orientasi seseorang bersifat individualistis (kepuasan pribadi), sedangkan yang kedua, seseorang berorientasi pada pembangunan kesejahteraan sosial. Tujuan pertama bersifat hedonistis, yang kedua bersifat eudaimonis, seperti pembahasan sebelumnya di perspektif psikologi.

Pemahaman ini berimplikasi besar pada arah kebijakan publik, apakah kebijakan tersebut bersifat konsumtif semata atau berorientasi pada kesejahteraan sosial. Bagaimana teknisnya di pemerintahan, terutama yang mengurusi perekonomian negara, saya tidak tahu dan menunggu kesempatan belajar selanjutnya. Namun demikian, intinya telah didapat, yaitu kaitan antara psikologi dan ekonomika dalam menciptaan kebahagiaan, tidak hanya individu, tetapi masyarakat yang lebih besar.

***

3# Ketangguhan dan Kebahagiaan: Perspektif Antropologi

Berbeda dengan penjelasan sebelumnya yang lebih banyak membahas kebahagiaan ketimbang ketangguhan, pembahasan antropologis menjelaskan mengapa sebagian orang Indonesia bukanlah manusia yang tangguh jiwanya. Satu faktornya: terbiasa hidup enak dan bahagia lantaran pengasuhan yang “salah” (dalam tanda kutip).

Budaya adalah penentu nasib suatu bangsa, kata Lee Kuan Yeuw. Di dalam budaya terdapat pola-pola makna atau penafsiran atas dunia (nilai, moral, dan orientasi/ tujuan), pola-pola sikap dan perilaku, serta pola-pola dalam aspek material kehidupan, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, dan artefak, hasil kebudayaan. Satu yang disorot lantaran berpengaruh pada perkembangan ketangguhan adalah pola pengasuhan anak.

Diambil contoh pola pengasuhan anak di Jawa sebagai perwakilan Indonesia untuk dipahami secara kritis dalam perbandingannya dengan pola pengasuhan anak di dunia Barat. Anak Jawa cenderung memperoleh pengalaman pertamanya dalam lingkungan manusia yang hangat, digendong ke mana-mana, dan hampir tidak pernah dibiarkan sendirian. Begitu anak menjerit, ia langsung dihibur-hibur. Anak kecil menjadi kesayangan (mainan) orang dewasa dan anak-anak. Hidupnya dibuat senyaman dan semudah mungkin. Salah satu implikasinya: keamanan psikologis manusia Jawa bersumber pada kehadiran bersama, dalam keluarga, kelompok, atau lingkungan manusia. Berbeda dengan anak di dunia Barat yang ditekankan kuat unsur-unsur lingkungan bukan manusia dan individualitas. Sejak lahir anak dikelilingi benda-benda dan tiap hari dibiarkan berjam-jam sendiri. Anak punya hak atas hidup sendirian dan tidak boleh dipermainkan seenaknya. Anak diajarkan untuk tidak selalu membutuhkan orang lain, didorong untuk mandiri, dan berprestasi.

Secara sepintas, jika kita termasuk orang yang merasa rendah diri akan menilai  bahwa pola kehidupan di dunia Barat lebih baik ketimbang di Indonesia. Namun tidak begitu adanya. Suatu kebudayaan bukanlah kebenaran yang nyata, melainkan konstruksi sosial. Karena itu, ada relativisme. Di satu tempat, itulah yang terbaik. Di tempat lain, inilah yang terbaik. Tidak ada yang salah dengan variasi-variasi pola kehidupan. Bicara saja pada konteks Indonesia, kunci ketangguhan dan kebahagiaan orang Indonesia adalah kehidupan komunal dan relasi sosialnya. Orang Indonesia tangguh dengan bekerja sama atau bergotong-royong, dan dengan melayani sesama. Meskipun demikian, tetap harus dilatih pula kemandirian dan keberanian mengambil risiko, terutama ketika tidak selamanya seseorang hidup bersama orang lain.

Variasi budaya tidak hanya tentang pola-pola sikap dan perilaku, tetapi juga dalam makna. Setiap budaya memiliki pemaknaan yang berbeda-beda tentang apa itu kebahagiaan dan apa penyebab kebahagiaan. Inilah yang perlu dieksplorasi untuk memahami kebahagiaan orang Indonesia dan agar kebahagiaan orang Indonesia tidak dipahami dengan perspektif kebahagiaan menurut orang bukan Indonesia.

Satu yang mengkhawatirkan yang sedang terjadi adalah reduksi makna kebahagiaan yang begitu abstraknya itu (misal terungkap dalam istilah adem, ayem, dan tentrem, dalam kebudayaan Jawa) menjadi sekedar kesejahteraan fisik-material dengan nuansa ekonomika yang kental. Ini adalah bentuk penggunaan pandangan hidup asing untuk menilah kebahagiaan orang Indonesia. Kebahagiaan itu adalah persoalan batin, tidak terungkap lewat indikator-indikator sosial, seperti kepuasan atas keterpenuhannya kebutuhan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kondisi lingkungan, kondisi keamanan, kondisi rumah, aset, ketersediaan waktu luang, dan sebagainya.

Kehidupan yang tenang, damai, tidak bisa diukur dengan harta benda, tetapi rasa. Inilah yang jarang diperhatikan bahkan oleh ilmuwan sosial sekalipun, juga pemerintah yang bertugas membuat kebijakan-kebijakan sosial. Tujuan menciptakan kehidupan yang bahagia lebih tinggi daripada mencapai kehidupan yang sejahtera. Dan, di setiap kebudayaan pasti terdapat konsep tentang kebahagiaan. Inilah yang harus dieksplorasi dan dijadikan landasan bagi pembangunan negara.

***

4# Ketangguhan dan Kebahagiaan: Perspektif Sosiologi

Pemaparan tentang ketangguhan dan kebahagiaan dari perspektif sosiologi banyak berisi tentang kritik sosial. Semua diawali dengan isu-isu kerentanan sosial dan masyarakat-masyarakat yang berisiko: kemiskinan, keterbelakangan, pembodohan, konflik dan kekerasan, ketertindasan, kesenjangan, dan ketidakberdayaan. Masalah-masalah sosial itulah penghambat utama ketangguhan dan kebahagiaan. Benar-benar ada kesenjangan yang lebar antara cita-cita masyarakat yang beradab, makmur, dan bahagia dengan fakta di lapangan. Pertanyaan terbesarnya: mengapa semua masalah itu bisa terjadi?

Jawaban sosiologi terdapat pada dinamika yang tidak sehat yang terjadi di tubuh masyarakat. Pertama adalah problem struktural yang menjadi faktor penyebab diskriminasi, otoriterisme, dan ketiadaan komitmen. Kedua adalah pembiaran budaya “jinak dan demostikasi”, hidup enak (kembali ke perspektif antropologi), yang menyebabkan kemalasan, budaya konservatisme, sikap mudah menyerah, dan apatisme. Ketiga adalah penyusutan ruang publik yang dapat digunakan sebagai ruang komunikasi dan menjalin relasi sosial yang kritis. Memburuknya hubungan komunikasi dan relasi sosial adalah penyebab ketidakpekaan sosial dan kekurangpedulian pada sesama.

Faktor-faktor di atas adalah penyebab kegagalan transformasi sosial ke arah yang dicita-citakan. Orang hanya pandai berbicara dan berwacana, tetapi tidak tahu bagaimana mewujudkan semua harapan menjadi kenyataan. Di pemerintahan terutama, itulah penyebab munculnya kebijakan-kebijakan sosial yang tidak tepat sasaran, tidak menumbuhkan energi kolektif, sehingga tidak ada interaksi sosial dan kerja sama dalam memecahkan masalah bangsa.

Tidak ada masyarakat yang lemah. Yang ada adalah masyarakat yang tidak diberi kesempatan untuk belajar menjadi kuat. Kunci menangguhkan dan membahagiakan masyarakat lantas ada tiga:

Pertama, pendekatan struktural untuk mengatasi problem struktural. Ini dicapai dengan memastikan kebijakan publik yang adil, keberpihakan pada kaum yang lemah, dan menciptakan ruang atau kesempatan beremansipasi, membebaskan diri dari otoriterisme pihak-pihak tertentu di masyarakat, seperti paranormal yang mengendalikan cara berpikir mistis-tak rasional, pemuka agama yang maunya hanya ditaklid buta, termasuk juga ilmuwan-ilmuwan yang menyimpang dari semangat intelektual.

Kedua, pendekatan kultural, yaitu dengan cara memberikan otonomi untuk membangun imajinasi kultural, mengolah daya kreasinya dalam rangka menghadapi kehidupan dengan modal apapun yang dimiliki. Masyarakat harus dipahami sebagai manusia yang merupakan subjek bagi kehidupannya, buka objek. Manusia adalah subjek yang kreatif dan aktif, agen-agen sosial pembaharu. Dengan cara yang tepat, mereka akan terberdayakan untuk mampu mengenali dan menggunakan potensi positif dalam dirinya. Konsep manusia sebagai agen ini sesuai dengan teori psikologi bahwa manusia adalah agen dan mampu meregulasi dirinya menuju pencapaian tujuan.

Ketiga, pendekatan pembangunan ruang sosial. Yang dibutuhkan adalah interaksi sosial yang kritis di mana di dalamnya orang-orang dapat melakukan upaya sadar membaca fenomena, menafsir, dan memaknainya untuk kemudian pengetahuan tersebut ditransformasikan dalam praktik kehidupan bersama. Setiap anggota masyarakat memiliki tempat dan kesempatan untuk memainkan peran dan berpengaruh dalam upaya perbaikan. Ketika masyarakat memiliki inisiatif untuk berperan aktif dalam kehidupan, maka masyarakat akan berubah menjadi masyarakat yang tangguh.

Mendengarkan penjelasan ini, saya pribadi jadi ingat materi dalam pertemuan terakhir kelas Perilaku Antarkelompok yang membahas tentang aksi kolektif dan perubahan sosial. Disebutkan bahwa aksi sosial mungkin jika para pelakunya merasa berdaya dan berdaya. Dalam psikologi, pembahasan yang sebatas faktor-faktor pengaruh yang sifatnya psikologis, seperti identitas sosial dan efikasi diri kolektif. Barulah kali ini saya mengetahui adanya faktor-faktor lain yang sifatnya kemasyarakatan.

***

5# Ketangguhan dan Kebahagiaan: Perspektif Komunikasi Massa

Sesungguhnya media tidak memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan ketangguhan dan kebahagiaan seseorang atau masyarakat. Perlu dipahami sifat media. Media adalah media, saluran penyampai informasi. Meskipun informasi yang disampaikan memang dapat mempengaruhi masyarakat, selamanya masyarakat memiliki kekuatan untuk memilih dan memilah apa yang baik bagi dirinya. Berita yang baik apakah selalu membahagiakan dan berita yang buruk apakah selalu tidak membahagiakan? Tidak. Kendali ada pada orang-orang. Semakin cerdas masyarakat, semakin pandai ia menyeleksi apa yang sebaiknya ia dengar atau abaikan, maka semakin mampu ia menjaga kebahagiaan dirinya di tengah hiruk-pikuk peristiwa. Karena itu, diperlukan orang-orang yang tidak hanya bisa mengkonsumsi media, tetapi juga belajar sehingga ia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak.

***

Akan lebih menyenangkan jika pada kesempatan tadi juga mendengarkan perspektif hukum dan filsafat tentang ketangguhan dan kebahagiaan manusia. Akan menjadi sangat lengkap jika bisa mengetahui apa peran setiap cabang ilmu humaniora dalam upaya menciptakan kebahagiaan bagi manusia. Yang jelas, psikologi tidak bisa berdiri sendiri. Semakin banyak seorang ilmuwan psikologi memahami berbagai perspektif di luar perspektif keilmuannya semata, maka semakin bermanfaat dirinya. Itulah keyakinan saya.

Persoalan ketangguhan dan kebahagiaan ternyata melibatkan berbagai faktor, tidak hanya individual-psikologis, tetapi juga faktor budaya, kondisi sosial, kebijakan ekonomi, sampai berita dan media yang dikonsumsi sehari-hari. Dari beragam pandangan, ada satu kesamaan keyakinan bahwa ketangguhan dan kebahagiaan itu ada dalam diri sendiri ketika seorang manusia bisa menjadi subjek kehidupannya, ketika seorang manusia memiliki kesadaran untuk menentukan langkah apa yang terbaik untuk diambilnya untuk memiliki kehidupan yang tidak sekedar menyenangkan saja, tetapi juga bermakna dan bermanfaat bagi dirinya, sesama, dan lingkungan.

Perjalanan untuk menjadi subjek kehidupan adalah perjalanan mencapai kebahagiaan yang paling besar. Psikologi mengeksplorasi metode-metode menciptakan kebahagiaan. Antropologi mengungkap cara-cara masyarakat mencapai kebahagiaan dalam kebudayaannya. Sosiologi mempelajari proses-proses sosial yang mempengaruhi dan menentukan kebahagiaan. Ekonomika berfokus pada kesejahteraan yang turut berperan dalam bangunan kebahagiaan hidup di dunia. Komunikasi massa, tentu saja, setiap hari kita berharap ada hal-hal yang membuat orang bersyukur lewat apa yang disampaikan lewat media. Rasanya terlalu abstrak, tetapi kebahagiaan adalah tujuan semua orang apapun bidang ilmu mereka.

Ayo memilih hidup bahagia!

DIGITAL CAMERA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s