Kontroversi Khilafah: Sebuah Pengantar oleh Komaruddin Hidayat

Hari ini saya membeli sebuah buku berjudul “Kontroversi Khilafah: Islam, Negara, dan Pancasila” (Penerbit Mizan, 2014). Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan dan dieditori oleh Prof. Komaruddin Hidayat, disusun sebagai respon terhadap gagasan mendirikan negara Islam dan kekhalifahan yang berhembus dari wilayah Timur Tengah lewat gerakan ISIS atau Islamic State in Iraq and Syria.

Buku ini saya beli karena secara pribadi saya mengalami kehausan untuk memahami perpolitikan dalam dunia Islam. Mengapa ada terlalu banyak persoalan, perselisihan, pertumpahan darah, dan semuanya berujung pada ironi: orang-orang ini ingin mendirikan negara Islam, tetapi mengapa dengan cara yang menciderai ke-Islam-an mereka sendiri? Lama mengamati dan membuat analisis, saya memiliki sejumlah jawaban dan itu tertuang setidaknya dalam satu atau dua tulisan saya sebelum ini. Namun demikian, itu tidaklah cukup karena akan lebih baik jika saya pun mengerti pandangan para ahli dan ulama. Saya ingin tahu sejauh mana pemikiran pribadi saya sesuai atau bertentangan.

Buku ini lantas adalah buku kedua saya dalam rangka memahami sistem khilafah. Saya menyadari, membaca dan menulis ini akan mengundang pendapat pro dan kontra dari sebagian pembaca, tetapi tolong diingat saja, ini adalah proses belajar bagi saya dan sebenarnya, bagi kita semua. Dalam suatu pendapat dan pemikiran tentang sistem sebaik apapun, pasti terdapat sisi baik dan buruk, kekuatan dan kelemahan, dan itu perlu untuk dimengerti sebelum diyakini dan diikuti. Itu adalah tanggung jawab kita sebagai manusia, yaitu untuk menggunakan akal terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan apapun.

Selama beberapa waktu ke depan saya akan menulis hasil membaca saya dan komentar pribadi saya tentang isi buku ini. Untuk yang pertama, saya ingin menulis kata pengantar yang dibuat oleh Prof. Komaruddin Hidayat untuk buku ini (hal. vii-xii). Meskipun hanya kata pengantar, isinya memberikan banyak informasi yang memberikan pemahaman dasar tentang topik buku ini, yaitu sistem khilafah. Saya ingin membaginya untuk teman-teman pembaca, semoga ada manfaat bersama yang bisa kita dapatkan.🙂

***

Oleh:

Komaruddin Hidayat

Hubungan modernisasi dan agama yang berlangsung di dunia Barat berbeda dari pengalaman di dunia Islam, khususnya Indonesia. Para pemikir ilmu sosial Barat meramalkan bahwa posisi agama akan semakin melemah dan terpinggirkan akibat proses modernisasi dan demokratisasi dalam sebuah masyarakat. Teori dan ramalan itu ternyata meleset dalam konteks Indonesia. Ketika Nurcholis Madjid melontarkan gagasan dan hipotesis “Islam Yes, Partai Islam No?” pada era 70-an, maka sejak itu semakin terlihat proses desakralisasi partai politik Islam. Islam sebagai kekuatan kultural dan gerakan intelektual semakin semarak, sementara partai politik Islam juga semakin terbuka. Lebih dari itu, partai politik yang semula dianggap sekular juga semakin apresiatif dan akomodatif terhadap aspirasi dan tokoh-tokoh agama untuk bergabung.

Kita memang kecewa terhadap kinerja partai politik, termasuk yang kental dengan identitas keagamaan. Namun secara politis-kultural, posisi dan aspirasi umat Islam tetap kuat. Ini sangat terlihat terutama menjelang pemilihan umum, baik pemilihan legislatif maupun presiden, para politisi ramai-ramai sowan minta restu dan dukungan para tokoh agama. Pasangan Capres-Cawapres keluar-masuk pesantren minta dukungan para kiai dan ulama. Kita tidak tahu persis apa yang mereka diskusikan ketika politisi dan kiai itu bertemu. Kita juga tidak tahu persis seberapa jauh pengetahuan kiai tentang teori dan praktik bagaimana mengelola pemerintahan modern yang sarat dengan birokrasi dan jebakan korupsi.

Negara Berketuhanan

Satu hal yang pasti, itu semua menunjukkan betapa dekat dan lekatnya antara aspirasi keagamaan dan politik. Hubungan agama dan negara di Indonesia mengambil bentuk yang sangat unik. Mengamati ritual dan mekanisme demokrasi yang berlangsung, Indonesia tak ubahnya dengan negara sekular. Kedaulatan di tangan rakyat. Wakil rakyat, bukan wakil Tuhan, yang menyusun dan mengesahkan undang-undang. Dasar konstitusi negara bukan kitab suci, melainkan produk pemikiran para wakil rakyat atau para anggota DPR. Namun begitu, konstitusi Indonesia menyatakan negara ini berketuhanan sebagaimana tertera dalam Pancasila. Oleh karenanya, kita memiliki Departemen Agama yang mengatur dan memfasilitasi kehidupan beragama. Indonesia merupakan negara kebangsaan (nation state), tapi memiliki komitmen kuat untuk melindungi dan memfasilitasi kehidupan beragama. Bahkan terdapat 70.414 madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah, 10% berstatus negeri. Terdapat pula sekolah tinggi maupun institut serta universitas yang berciri Islam dan sekaligus berstatus negeri, seperti STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) sebanyak 28, IAIN (Institut Agama Islam Negeri) sebanyak 17, dan UIN (Universitas Islam Negeri) sebanyak 8 buah. Semua ini mendapatkan perhatian dan dana dari pemerintah.

Mengingat Indonesia merupakan negara yang berketuhanan, maka simbol dan tradisi agama juga masuk di lingkungan istana. Hari-hari besar keagamaan selalu diselenggarakan secara resmi oleh pemerintah, bahkan mengambil tempat di lingkungan istana negara, seperti halnya peringatan maulid Nabi Muhammad Saw. maupun peringatan Nuzulul Quran. Lebih dari itu, semua agama di Indonesia memiliki hari besar yang ditandai sebagai hari libur nasional, yang tidak dijumpai di negara lain. Kenyataan ini saja sudah menunjukkan bahwa sistem dan kultur politik di Indonesia sangat religius. Kalaupun ada tudingan oleh sebagai kelompok masyarakat bahwa pemerintah Indonesia adalah thaghut, yaitu mengingkari dan melawan hukum Tuhan, mungkin hal itu lebih merupakan kekecewaan pada praktik dan realisasi ajaran Pancasila dalam kehidupan politik dan sosial. Korupsi terjadi di hampir semua lini dan tingkat, penegakkan hukum sangat lemah, sementara agama lebih menonjol pada aspek ritual dan acara seremoni lewat panggung tablig dan mimbar TV, tetapi aktualisasinya sangat lemah dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam penegakan etika sosial.

Kontroversi Khilafah

Melihat kenyataan di atas, maka sulit diterima tuduhan bahwa Indonesia ini negara sekular, dalam artian anti agama, tidak peduli terhadap agama, atau mengeluarkan agama dari urusan negara. Penilaian saya, yang mendekati kebenaran adalah, pemerintah lemah dalam menerapkan etika agama untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan mewujudkan prinsip-prinsip keadilan yang sangat dijunjung tinggi oleh agama. Lalu, mengapa muncul gagasan dan gerakan untuk mendirikan negara Islam ataupun mendirikan kekhilafahan Islam sebagai ganti negara kebangsaan (nation state) yang berideologi Pancasila? Terdapat banyak kemungkinan jawaban dari pertanyaan ini.

Pertama, ini merupakan implikasi logis-psikologis dari iklim kebebasan yang demikian terbuka dan longgar. Kelompok-kelompok kecil yang semula merasa tertindas dan terpinggirkan oleh kekuasaan dan modernisasi, kini merasa memperoleh kesempatan dan kebebasan untuk protes dan berbicara menyampaikan emosi dan gagasannya. Dalam era demokrasi, biasanya suara yang paling vokal datang dari mereka yang sudah lama menyimpan lelah dan marah pada keadaan yang dirasakan menindas.

Kedua, ketika berbagai instrumen dan rasionalitas sekular untuk membangkitkan emosi massa dirasa kurang efektif, maka slogan dan idiom keagamaan sangat efektif dijadikan instrumen politik untuk melakukan protes serta mencari dukungan massa, terlebih bagi masyarakat yang memiliki tradisi agama cukup kuat. Hal ini juga terlihat menjelang pemilu presiden, berapa seringnya para politisi berkunjung ke pesantren untuk mendapatkan dukungan kiai. Mereka melakukan pencitraan sebagai politisi yang peduli pada agama serta berperilaku agamis.

Ketiga, cara pandang dunia Islam dan Barat terhadap hubungan agama dan negara memang sangat berbeda. Umat Islam memiliki ingatan kolektif dan pemahaman yang selalu dilestarikan bahwa agama dan negara itu menyatu dengan merujuk pada masa hidup Rasulullah di Madinah yang diteruskan oleh khalifah pengganti Nabi yang empat, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Ingatan kolektif dan doktrin teologis ini tidak dimiliki masyarakat Kristen karena karier Yesus berakhir di tiang salib, sementara Muhammad mewariskan negara Madinah yang merupakan entitas politik dan agama.

Keempat, sejarah dan agenda kekhalifahan sesungguhnya merupakan pembauran antara semangat kesukuan, persaingan perebutan sumber ekonomi, dan promosi paham mazhab keagamaan, yang semua ini tipikal sejarah Arab. Dalam konteks Indonesia, semangat sukuisme dan kesultanan justru melebur masuk dalam rumah besar negara kebangsaan dalam bentuk republik (demokrasi), yaitu NKRI dengan ideologi Pancasila. Sedangkan di Timur Tengah, sukuisme dan dinastiisme tetap bertahan dari zaman ke zaman sampai hari ini. Sehingga, meskipun mereka sama-sama berbahasa Arab, menganut agama yang sama, yaitu Islam, namun tradisi dan semangat kabilahisme masih tetap bertahan. Umat Islam di Timur Tengah terbagi menjadi lebih dari 20 negara. Realitas ini jelas sekal berbeda dari sejarah dan ingatan kolektif rakyat Indonesia yang jumlah umat Islam lebih banyak dari dunia Arab, namun menjadi satu warga negara.

Kelima, dalam sejarahnya, istilah dan konsep khilafah berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Semakin jauh dari masa Rasulullah maka semangat sukuisme-dinastiisme semakin menonjol ketimbang semangat keislamannya, mengingatkan kembali watak dunia Arab pra-Islam yang selalu terlibat peperangan memperebutkan sumber mata air dan padang rumput, yang dalam konteks sekarang adalah memperebutkan ladang-ladang sumber minyak.

Keenam, karena sebagian umat Islam Indonesia sulit membedakan antara Islamisme dan Arabisme, maka setiap gerakan yang bernuansa politik keagamaan dengan menggunakan idiom Arab yang memiliki asosiasi dengan sejarah kejayaan Islam di masa lalu, seperti kata “khilafah”, maka dengan mudah sebagian umat Islam merespon dengan semangat jihad, sebagai pembelaan dan solidaritas sesama umat Islam. Terlebih lagi jika gerakan itu dikaitkan dengan semangat anti Yahudi yang menindas Palestina. Namun dalam konteks ISIS, sesungguhnya Yahudi yang kelihatannya justru diuntungkan ketika umat Islam di Timur Tengah saling berantem. Bahkan gerakan ISIS itu sendiri menyimpan misteri, siapa sesungguhnya mereka itu.

Demikianlah, masih banyak yang bisa dikemukakan berbagai silang pendapat seputar khilafah dan formula hubungan antara Islam dan negara. Buku ini secara singkat menyajikan analisis awal mula munculnya kekhalifahan dalam sejarah Islam yang dimulai sejak sepeninggal Rasulullah yang kemudian mengalami perubahan karakternya. Lalu disajikan berbagai pendapat pemikir atau ulama Islam ternama yang selalu menjadi rujukan ketika kita membahas teori politik dalam Islam. Pembahasan buku ini ditutup dengan melihat sejarah dalam kondisi objektif umat Islam Indonesia yang lahir dan tumbuh dalam rumah besar Indonesia, yang justru sekian banyak kesultanan yang pernah ada melebur mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka dari itu, agenda umat Islam Indonesia yang paling pokok adalah bagaimana meneruskan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang realisasinya masih jauh. Bukan mengganti atau mendirikan negara baru yang ongkos sosial-politiknya pasti sangat mahal dan mengancam eksistensi bangsa dan negara Indonesia yang dengat amat susah payah telah diperjuangkan oleh para pejuang terdahulu. Kita jangan sampai menjadi generasi perusak dan pengkhianat tehadap pejuang-pejuang bangsa dan agama yang telah gugur di medan juang demi membela rakyat Nusantara ini.

Ciputat, 23 September 2014

***

20 thoughts on “Kontroversi Khilafah: Sebuah Pengantar oleh Komaruddin Hidayat

  1. sebelum komen, saran saya ke mba: belajar aqidah yang benar, baca buku jangan dari satu sisi – pemikir barat- saja.
    pertama. pelabelan, penyebutan, daulah islam/khekhilafahan yg sudah terbentuk dengan sebutan ISIS adalah keluar fakta. setelah 1 ramadhan tahun lalu, ISIS tidak ada. yang ada daulah islam (islamic state).
    kalimat”orang-orang ini ingin mendirikan negara Islam, tetapi mengapa dengan cara yang menciderai ke-Islam-an mereka sendiri?” ini harus ditegasi, maksudnya apa? contohnya seperti apa?

    itu komentar pembuka untuk si empunya blog. berikutnya komentar atas tulisn copas dari QH.
    kedua. islam sebagai bentuk din (agama) dan mencampurinya dengan hiruk pikuk politik modern (demokrasi) adalah cara berpikir barat yg dipakai selama ini. menalar agama dari konteks demokrasi adalah metode berpikir yg tidak bisa diterima secara logis. karena islam berlepas diri dg demokrasi,, konteks politik indonesia kekinian. bila masih mencampurinya dg demokrasi, akidah pemikir pelu dipertanyakan. demokrasi dan islam adalah bagai minyak dan air. tidak bisa dicampur, haq dan bathil jelas tidak bisa digabung. cara berpikir yg salah inilah yg mengakibatkan orang awam, cendikia ‘kebarat-baratan’, mengambi langkah yang salah dalam ber-indonesia. mereka pikir, islam akan kuat dg ikut berdemokrasi, sibuk berpolitik dalam konteks modern yg jauh dari keimanan yg benar dari islam.

    dan harus saya tegaskan, tidak ada dalam sejarah, islam menjadi kekuatan politik dalam konteks demokrasi.

    ketiga. pada sub judul “negara beketuhanan”, pak QH jelas menulis “Indonesia tak ubahnya dengan negara sekular.” tapi dia mencoba menafikkan (membalik nalar agamanya) dg menyertakan keberadaan lembaga atas nama agama, ritual keagamaan yg diada-adakan.

    pak QH mencoba menolak penyataan awalnya sendiri tentang negara sekuler “Kedaulatan di tangan rakyat. Wakil rakyat, bukan wakil Tuhan, yang menyusun dan mengesahkan undang-undang. Dasar konstitusi negara bukan kitab suci, melainkan produk pemikiran para wakil rakyat atau para anggota DPR.”

    pak QH tahu, bahwa rujukan tertinggi negara adalah pancasila. dan itu salah secara aqidah islam karena pancasila bertentangan dengan islam. dia tahu bahwa pancasila sila pertama dan bahwa lima sila dalam pancasila adalah bertentangan dengan akidah yg benar. dia tahu yg benar, tapi mencoba membuat orang awam yg tidak belajar benar tentang aqidah menjadi goyah keimanannya.

    terbukti dengan pernyataan pak QH selanjutnya, “Kalaupun ada tudingan oleh sebagai kelompok masyarakat bahwa pemerintah Indonesia adalah thaghut, yaitu mengingkari dan melawan hukum Tuhan…” dia mencoba membuat pembenaran dengan kalmat “…..mungkin hal itu lebih merupakan kekecewaan pada praktik dan realisasi ajaran Pancasila dalam kehidupan politik dan sosial.”

    keempat. untuk sub judul “kontroversi khilafah”. penalarannya masih sama, seperti biasa, cara dia menganalisis selama ini, sepengetahuan sy. lihat poin keempat dan poin keenam saja sudah cukup menyimpulkan bagaimana QH berpikir.

    pernyataan “sejarah dan agenda kekhalifahan sesungguhnya merupakan pembauran antara semangat kesukuan, persaingan perebutan sumber ekonomi, dan promosi paham mazhab keagamaan, yang semua ini tipikal sejarah Arab.” dan “karena sebagian umat Islam Indonesia sulit membedakan antara Islamisme dan Arabisme,” itu analis2 yg biasa dipakai orientalisme.

    untuk bisa memahami pikiran sy, atau menelaah pikiran pak QH, coba baca buku2 bertema oksidentalis.

    pak QH menyamakan sejarah kekhilafahan dg semangat sukuisme adalah ahistoris, keluar dari ajaran islam sebenarnya. apalagi persaingan perebutan sumber ekonomi, dan promosi paham mazhab keagamaan. ini tidak benar. kalaupun imam mazhab muncul di salah satu era kekhilafahan itu bukan berarti khilafah tersebut menggunakan salah satu mazhab, atau perebutan sumber ekonomi. itu salah besar. namun bila disandingkan dengan dan untuk melawan musuh islam, maka perebutan sumbe ekonomi itu dibenarkan untuk dipakai semaksimal mungkin bagi umat islam.

    dan yg palnig lucu untuk sekaliber doktor, dg jam terbang yg tinggi, kok bisa2 pak QH gak tahu fakta, mengurai fakta, mencari fakta, sehingga dia menulis “Namun dalam konteks ISIS, sesungguhnya Yahudi yang kelihatannya justru diuntungkan ketika umat Islam di Timur Tengah saling berantem. Bahkan gerakan ISIS itu sendiri menyimpan misteri, siapa sesungguhnya mereka itu.” itu pernyataan bodoh untuk era digital, milenium, seperti saat ini.
    eh, malah bawa2 yahudi segala. “umat islam” yg mana jgua maksudnya. syiah rafidhah yg kafir masih dianggap islam ama pak QH? bener2 mesti belajar aqdah tuh bapak doktor.

    ya sekian dulu. lain kali saya baca lagi tulisan si mba.

    • Baru tadi pagi saya membaca di berita internasional KOMPAS 12 Januari 2015. Kelompok Boko Haram di Nigeria, kelompok yang ingin menegakkan khilafah Islam, cabang Al Qaedah di Afrika, melakukan serangan bom bunuh diri. Caranya dengan memasang bom ke tubuh anak perempuan, dan diduga diledakkan dengan kendali jarak jauh. Semacam itulah yang saya maksudkan dalam kalimat: “Orang-orang ini ingin mendirikan negara Islam, tetapi mengapa dengan cara yang menciderai ke-Islam-an mereka sendiri?”

      Mungkin, pemikiran kita tidak bertemu karena kita memiliki sensitivitas yang berbeda. Anda punya fokus dalam hal bagaimana menerapkan syariah, tetapi saya punya fokus dalam isu-isu kemanusiaan dan masalah-masalah sosial, yang mana dalam keyakinan saya seharusnya, idealnya, hal-hal itu tidak terjadi jika seseorang atau sekelompok muslim benar-benar hidup dengan Islam.

      Bagi seorang ahli syariah seperti Anda, bagaimana pendapat Anda tentang kasus di atas? Bagaimana pendapat Anda dengan peristiwa pembantaian yang dilakukan ISIS terhadap kelompok-kelompok yang dipandang menghalangi cita-cita mereka? Bagaimana pendapat Anda dengan aksi-aksi terorisme yang bermotifkan agama, dalam rangka menegakkan khilafah Islam?

      Siapa yang sesungguhnya sedang melanggar ajaran Islam: mereka kelompok ekstremis atau saya yang mengkritisi mereka? Saya mengerti, menulis semacam ini sungguh berisiko, mulai dari pencapan liberal sampai pendukung Barat. Tidak sedikit orang yang menyuruh saya belajar dan meluruskan kembali akidah Islam, membaca lebih banyak buku-buku Islam daripada buku-buku Barat. Tetapi, setelah saya melakukan itu semua, saya justru semakin menemukan kesenjangan yang semakin besar antara yang ideal dan yang dipraktikkan.

      Bagaimana menjelaskan itu? Bagaimana memahami yang tengah terjadi ini?

      Orang-orang semacam Anda benar-benar tidak memberikan solusi karena kalian adalah bagian dari pihak yang berkontestasi dalam keyakinan, pemikiran, dan gerakan. Terhadap orang semacam saya, selalu dikatakan: “Belajar lagi, belajar lagi, belajar lagi sana…” seakan-akan kalian adalah manusia yang tidak membutuhkan belajar dan semua orang selain kalian adalah yang butuh belajar. Kebenaran ada pada kalian, sedangkan yang ada di dalam pikiran orang lain adalah kebingungan dan kesesatan. Kalian adalah ulama, sedangkan orang-orang di luar kalian adalah orang awam yang tidak mengerti apa-apa soal agama.

      Jika ingin berdiskusi secara adil, saya sarankan pada Anda untuk sejenak “turun gunung”, turun dari ketinggian kebenaran Anda yang membuat Anda mudah menyalahkan dan menutup telinga dari pendapat orang lain, dan ikut belajar bersama orang-orang yang sungguh-sungguh belajar untuk mencari hikmah.

      • hehehe… kok dibilang ahli syariah. gk juga. sy juga belajar terus ini. saya dulu aktif belajar sosiologi. buku2 sosial politik masih banyak tuh di rak perpustakaan sy. siapa yg gak kenal antony giddens dg teori strukturasinya, durkheim, webber, dll. buku2 tebal mereka masih di rak lemari buku sy. tapi saya juga menyandingkan buku2 itu dg buku yg berbau ekstrimis – meminjam istilah kamu- sperti buku2 jihad dan tauhidnya abdullah azzam, buku2 taqiyuddin an nabhani, dll.

        pertama. membaca refrensi. kita harus tahu refrensi mana yg pas yg sebuah kritik. dalam metode ilmiah mana pun – pasti ini kamu udah pelajari – haruslah cocok, antara ide dan nalar bagi yg ingin kita kritisi atau untuk menyimpulkan kebenaran. jadi tidak benar dari satu sisi saja. bila mengambil perbandingan dari sisi saja maka hasil kesimpulan akan pincang, berat sebelah, akan pincang. jadi mesti “both side”. kalo cuman baca media liberal, media anti penegakan syariah, maka tidak akan ada berita yg benar kita dapati. artinya sandingkan berita tsb dg sumber lain. kroscek, tabayunkan berita tsb dg berita lain. nah saran sy untuk baca berita ttg islam (atau ttg dawlah islam – inget loh tidak ada itu ISIS) baca muqawamah dot com, al-mustaqbal dot net, shoutusalam dot net dan lain2. maka kamu pasti ngerti apa itu boko haram.

        kedua. bom bunuh diri? nah kan keliatan banget otakmu udah tercemari dg pemikiran sesat penolak syariat. penggunaan istilah pun kamu salah. ini pun tidak dibenarkan dalam metode ilmiah mana pun. dalam mengiritisi sesuatu, refrensi yg dipakai dan istilah dalam refrensi itu harus benar. harus sesuai dg yg dikritisi. tidak ada bom bunuh diri dalam konteks jihad dalam islam. jadi ketika mengritisi kegiatan dalam konteks agama yg dikritisi pakailah istilah yg benar dalam agama itu. kamu ini kayak gak pernah meneliti saja. istilah yg kamu pakai tidak benar. mereka yg tidak menerima syariat sengaja menyandingkan – bahkan mengganti – banyak istilah dalam agama untuk membingungkan dan mengerdilkan istilah dalam agama tsb.
        tidak ada bom bunuh diri, yg benar istihadiyah. dalam konteks jihad ini pernah dilakukan sahabat nabi muhammad dalm berperang. bahwa sahabat nabi masuk k sel inti musuh untuk merusak musuk dari dalam dg mengorbankan dirinya sendiri.
        “mencederai mereka sendiri”? ah kamu ini kayak gak pernah baca terjemahan al quran saja. coba deh cari di al quran (ayatnya gak saya kasih tau, biar ini jadi PR buat kamu yg sukaa kritis), disana kamu akan menemukan bahwa tidak mujahid ada dalam yg mati dalam jihad, firman Allah, mereka tetap hidup walau jasad mereka hancur. kamu percaya saya atau kata Tuhan mu Allah?

        ketiga. “pemikiran kita tidak akan bertemu karena kita memiliki sensivitas yg berbeda” siapa yg bilang gak bisa. jangan buru2 men-judge sesuatu. saya dulu kayak kamu. sy mahasiswa sosiologi dalam arti umum. apalagi sy juga dulu aktivis kiri. kamu tau PRD? atau LMND? atau semisalnya. komunitas sy dulu di sana. tapi karena sy dulu juga asik ama pemikiran2 al ghazali, akhirnya di akhir semester sy berubah haluan. ada tuh buku al ghazali yg cocok buat kamu yg suka baca, judulnya neraca kebenaran. jadi saya gak baca buku politik kiri atau filsafat atau hanya sosiologi sj.
        isu2 kemanusiaan, masalah sosial juga dibahas dalam islam. pernah baca buku ali syariati gak? itu buku tokoh syiah yg menggugat keadilan. atao bisa baca buku berjudul “teologi pembebasan” asghar ali enginner.
        ah “idealnya”? saya yakin kalo kamu baca yg saya saranin kamu bakal berbalik arah cara berpikirmu. dan itu pasti terjadi bila kamu (dan siapapun) yg muslim benar2 hidup dg islam.

        pendapat saya ttg kasus di atas? saya ngikut kata2 dalil dalam al quran dan sunah saja, mba.

        pembantaian yg dilakukan tentara daulah? terorisme dalam rangka menegakkan agama? ah kamu ini, istilah saja gak bener gimana saya mau jawab dg bener.
        tapi saya ngerti maksud kamu, jadi sy jawab aja. pertama ttg istilah pembantaian dan terorisme.
        bahwa daulah islam (atau ISIS dalam istilah kamu) melakukan pembantaian terhadap orang kafir, pemenggalan atau menembak langsung di kepala. dalam konteks daulah, bahwa yg mereka kerjakan selalu koridor syariah dan itu dibenarkan. untuk lebih lengkap saran sy kamu bisa baca blog seorang ustadz – yg sekrg sedang ditahan pihak indo – di millahibrahim dot wordpress dot com. kalo saya jelasin dalil syar’inya dsini bakal jadi panjng banget kolom komentar ini. kedua terorisme. dalam konteks islam, Allah pun memerintahkan membuat orang kafir merasa diteror, ditakuti, bahkan kafir harus berada di bawah muslim. itu prinsip penting. karena Allah membuat islam lebih tinggi dari orang2 kafir. yg diperangi oleh daulah islam, dalam sejarah khilafah , sejarah mana pun yang kamu baca, bahwa mereka memerangi orang kafir. syiah rafidhoh adalah kafir dari segi mana pun. dia bukan salah satu sekte dalam islam, aqidahnya pun berbeda dg aqidah ahlul sunnah wal jamaah. yg daulah perangi adalah kafir amerika, tentaranya, maupun yg berkoalisi dg mereka. walaupun dia terlihat sebagai muslim, bila dia dalam koalisi kafir maka muslim itu menjadi murtad. ini prinsip.

        kelima. tidak mungkin kamu menemukan kesenjangan bila belajar dg benar dg dalil syar’i, dalam halaqah belajar yg konsisten. kamu ini kayak ahmad wahib. tau ahmad wahib kan. dia belajar yg tidak tuntas, eh keburu mati. mati dlam mempertanyakan keimanannya sendiri.

        saya tidak memberi solusi? pihak yg berkontestasi dalam gerakan? saya tidak belajar? yg lain kebingungan? yg lain orang awam? kamu terlalu cepat menghakimi. ya saya wajar aja, mungkin, kamu sampe sekarang gak punya kelompok diskusi paling kiri, liberal, sekelas LMND, atau berkecimpung dalam diskursus liberalnya IAIN. kalau mau adil, pasti kamu akan mencari pembanding2 dalam berpikirmu. atau mungkin kamu udah nyaman dg nalarmu, nyaman dg wilayahmu. ah saya gak tau itu.

        saya udah turun gunung sejak lama. lebih lama dari kamu. saya aktif di organisasi sejak SMA. hingga di usia dua puluh lima, saya mengambil jalan yg berbeda dg kawan2 saya dlu.

        jadi saran saya yg terakhir, baca ttg aqidah – oleh mereka yg keluar dari fakta menyebutnya kelompok takfiri – di blog millahibrahim dot wordpress dot com, portal berita al-mustaqbal dot net dll yg berhaluan jihad.
        tambah koleksi buku2mu dg buku abdullah azzam, taqiyuddin an nabhani, dll yg sehaluan. senang bisa berdiskusi dg kamu.

    • Ya benar… “tidak ada bom bunuh diri dalam konteks jihad dalam islam”.

      Berita bom di Bali, bom di Pakistan, bom di Iraq, bom di Nigeria… Berita bom mobil, bom bunuh diri, bom dengan meledakkan anak perempuan… Berita ISIS yang membunuh kelompok minoritas, mengusir ribuan orang dari tanah mereka, mengeksekusi wartawan, mengupload videonya di Youtube… Dan ISIS sendiri…

      Semua itu tidak ada. Semua itu berita buatan. Buatan Barat yang membenci Islam, buatan kelompok liberal yang membenci syariah.

      Semua yang dilakukan “daulah Islam/ ISIS”, dan orang-orang yang mendukungnya adalah benar. Sementara itu, semua yang dilakukan orang-orang di luar itu adalah salah.

      Akhirnya, saya bisa menyimpulkan satu hal tentang apa yang membuat pemikiran kita tidak bisa bertemu. Kita meyakini realita yang berbeda. Saya tidak tahu pikiran siapa yang sebenarnya bermasalah di sini, tetapi tentu saya, bagi Anda, itu saya.

      Terima kasih sudah berkunjung, semoga banyak sekali pengetahuan yang sudah Anda miliki itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat Anda🙂

      Cuma nasihat saya, juga untuk diri saya sendiri tentu, jangan merasa aman dengan semua itu. Kita semua diintai neraka. Terkadang, orang merasa dirinya telah benar, lurus, dan mengadakan perbaikan, bukan karena dirinya benar demikian keadaannya, melainkan terjebak dalam tipu daya syetan yang terkutuk. Bagus jika kita tidak berhenti belajar. Tetapi yang lebih penting, jika kita tidak berhenti berhati-hati.

      Silakan Anda dengan cita-cita menegakkan kehidupan yang Islami, salah satunya dengan mendirikan khilafah. Saya pribadi bukan orang yang anti terhadap itu, tetapi saya memiliki pendapat bahwa janganlah cita-cita itu dicapai dengan cara-cara yang justru menimbulkan pertumpahan darah, permusuhan, pelanggaran hak hidup manusia lain, fitnah, dan pengkafiran muslim lain. Saya tidak tahu apakah kita bersepakat dalam hal ini, tetapi saya punya pengalaman bahwa kelompok-kelompok ekstrem punya seribu dalil untuk membenarkan tindakan-tindakan mereka. Entahlah bagi Anda.

      • loh kok gitu. ya gak gitu juga (gak sefang ngambek kan, he). ada yg berita yg valid dari daulah. contoh eksekusi wartawan, eksekusi mata2, eksekusi kaum kafir minoritas yg ikut memerangi daulah (kaum kafir syiah rafidi) eksekusi2 itu dalam rangka penegakan hudud dan strategi. dan setiap yg memerangi umat islam, dia kafir di negeri aman (di negeri ini) atau perang (ikut dalam koalisi memerangi daulah islam) adalah halal darahnya. yg jelas dan yg harus diklarifikasi adalah tidak benar daulah islam membunuhi minoritas yg tidak memerangi daulah.

        minoritas suku yazidi tidak disentuh, tidak dibunuh di iraq. jadi berita yg di blowup ama musuh islam adalah tidak benar.

        saya tidak selalu benar dan kamu pun tidak selalu salah. cuman semua harus proporsional dan berdasar.

        salam.

      • Terkait bersikap proporsional, saya jadi ingat pengalaman lama saya pernah bertanya kepada salah satu orang penting Hizbut Tahrir di sebuah kota. “Apa kekurangan dari ideologi, gerakan, dan kelompok Hizbut Tahrir?” Orang itu tidak mampu menjawab dan pertanyaan saya hanya mengundang tawa para hadirin.

        Apa Anda dapat membantu saya dengan memberikan jawabannya? Tidak hanya tentang Hizbut Tahrir, tetapi juga organisasi-organisasi lain yang ingin menegakkan kekhalifahan Islam?

        Organisasi-organisasi itu ada benar dan ada salahnya, sama seperti yang Anda katakan sendiri bahwa orang pun ada benar dan ada salahnya. Saya terlalu sering bertemu orang-orang yang meyakini bahwa organisasi keislamannya selalu benar. Saya mencari perimbangan pandangan di dalam mereka, tetapi tidak ada yang bisa menunjukkan saya.

        Setiap orang tentu membela apa yang mereka yakini, apakah itu diri mereka sendiri ataukah organisasi tempat mereka bergerak. Kemampuan melakukan evaluasi internal adalah kemampuan yang langka dan luar biasa. Bagaimana menurut Anda?🙂

    • Kata pengantar yg menarik dari tokoh jil dan komentar di blog ini jg tdk kalah menariknya🙂
      Jika melihat komentar anda, saya yakin anda berpendapat bhwa jalan utk mendirikan khilafah islam yaitu dg jalan jihad?

      Klo benar begitu. Izinkan saya utk bertanya, pertanyaan yg mengganggu saya selama ini. Pertama, bagaimana pendapat anda terhadap jamaah muslim yg tdk mengakui khilafah islam yg didirikan oleh isis, krn pendirian khilafah tsb tdk sesuai metode Rasulullah SAW yaitu thalabun nusrah, pemahaman yg dianut oleh syeikh taqiyuddin an nabhani, diperangi kah atau bgaimana?

      Kedua. Misal ada jamaah muslim, tdk harus hizbut tahrir, berhasil mendirikan khilafah sesuai metode Rasulullah SAW, syarat2 pendiriannya jg terpenuhi, apa yg akan dilakukan daulah islam (isis) trhdp khilafah ini? Diperangi kah atau bgaimana?

      *oya, kalo anda bukan pro isis, anda tdk perlu mnjawabnya.🙂

      • sy bukan posisi yg bisa berpendapat secara pribadi, sy hanya mengutarakan dari pengetahuan dan ilmu yg sy tau sj.

        jihad itu merupakan bentuk dari kekuatan sebuah negara (daulah islam), selain perintah agama, jihad adalah cara penaklukkan sebuah wilayah yg dikuasai kaum kafir. yg sebelumnya oleh pemilik kekuatan militer daulah islam (tentara/mujahid) memberi opsi pada orang kafir tsb : tunduk pada syariat atau diperangi.

        jadi perang (jihad) adalah opsi terakhir setelah kaum kafir tidak mau tunduk pada syariat islam, bahkan mereka mencoba memerangi islam.

        thalabun nusrah memang pernah dicontohi oleh nabi, tapi tidak melulu (digarisbawahi) nabi+sahabat thalabun nusrah. dari sejarah dan dalil (syariat) tidak benar nabi melakukan thalabun nusrah (atau bahasa sy : ngemis mendirikan negara/kekuatan) pada orang kafir yg memerangi islam.

        yg dilakukan nabi adalah meminta perlindungan pada penguasa kafir yg tidak memerangi islam.

        dan HTI faktanya meminta perlindungan pada penguasa kafir yg memerangi islam.

        nabi tidak melakukan thalabun nusrah seperti yg dilakukan HTI sekarang. malah bila mengatakan bahwa sejarah mencontohinya, maka saya katakan pada mereka (HTI): kamu menganggap nabi+ajarannya adalah lemah, islam di bawah yg lain, pdahal Allah mengatakan dg jelas islam tinggi dan tidak ada yg melebihinya.

        fakta pertama: daulah islam telah dibentuk sesuai syariat islam. pendirian khilafah memang tidak pakem, dalam arti: syarat (juklak) harus ttp terpenuhi walau dalam pelaksanaan (juknis) bisa berbeda2.

        fakta kedua: sampai hari ini, HTI dan harokah lain yg tidak memerangi daulah islam, tidak berbaiat, maka mereka tidak diperangi. yg tidak berbaiat tidak dianggap kafir, tidak diperangi, tidak seperti fitnah2, berita hoax yg disebarkan musuh islam untuk membuat kebingungan umat islam dan menjatuhkan daulah islam.

        seperti dalam syariat, bahwa kepemimpinan yg diterima adalah kepemimpinan yg pertama sj. bila ada orang kedua mendirikan khilafah/daulah islam, maka koridor yg diberikan islam adalah membunuh pemimpin yg kedua (pemimpin yg belakangan/terakhir).

        semoga itu menjawab pertanyaan.

      • Ya sy sudah mendapat jawabannya dg jelas. Maka datanglah, perangi kami bunuh kami sebagaimana kalian membunuh saudara kami ust mustafa khayal krn mengatakan khilafah yg didirikan isis melenceng dari apa yg dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW.

      • loh kok klaimnya gitu. emang bener yg bunuhin isis? berarti pembunuhnya tidak ada. isis kan udah gak ada. kalao daulah islam kamu sebut isis berarti kamu gak pake fakta. udah tabayun gak siapa pembunuh khayal? jangan klaim sepihak dong. dan sebagaimana biasanya, bila bener tentara daulah islam membunuh khayal maka daulah islam pasti akan mengeluarkan rilis, pernyataan sikap resmi, seperti yg sudah2. firman Allah kalau ada berita dari kaum nifak maka tabayun, apalagi dari musuh islam. islam mengajar untuk kroscek. dan saya tegaskan, daulah islam tidak akan membunuh orang yg tidak memerangi/memprovokasi untuk memerangi daulah. lebah saja kalo diganggu bakal nyengat. gitu analoginya.

    • oh orang yang komentar ini ternyata suka komentar dimana-mana, menebar ‘kebencian’, seolah2 mewakili Islam yang paling benar saja. Keminter. Padahal islam itu membawa kedamain. Ndak berani pakek nama sebenarnya lagi. Saran saya buat penulis: Jangan hiraukan.

      Terima kasih share tulisanya🙂

      • di kampung saya sy dipanggil amaq aziz, nama asli sy ibrahim. kalau bapak datang ke pulau lombok, nanti diskusi sama sy dan teman2 di kelompok diskusi budaya dan agama “akar rumput”. sy dan teman2 disini pasti akan senang diskusi ilmiyah dg bapak.

  2. Pingback: bukan pencitraan | awal langkah

  3. Pingback: bukan pencitraan | ngopi saja

  4. Pingback: Kontroversi Khilafah: Sebuah Pengantar oleh Komaruddin Hidayat | Bunga Rampai Tulisan Prof. Komaruddin Hidayat

  5. Aftinanurulhusna…..membaca tulisan anda,saya yakin anda punya bakat nulis yg bagus dan kritis!!!Anda sangat mencintai NKRI!!!terus maju dan berkarya untuk NKRI kita!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s