Orientasi Hidup Materialistis dan Kesejahteraan Psikologis

Makalah ini dimuat di Prosiding Seminar Nasional Psikologi dan Kemanusiaan “Perkembangan Manusia dan Kesejahteraan Psikologis” yang diadakan oleh Universitas Negeri Malang pada 13-14 Februari 2015.

***

Orientasi Hidup Materialistis dan Kesejahteraan Psikologis

 

Aftina Nurul Husna[1]

Program Magister Psikologi, Universitas Gadjah Mada

 

Abstrak

Satu persoalan psikologis yang mengancam keberlangsungan hidup manusia di masa depan adalah orientasi hidup yang materialistis. Materialisme merupakan pandangan yang berisi sikap, keyakinan, dan nilai-nilai hidup yang menekankan dan mementingkan kepemilikan barang-barang dan kekayaan material di atas nilai-nilai hidup lain, seperti spiritual, intelektual, sosial, dan budaya. Materialisme diketahui adalah akar dari berbagai permasalahan ekologis, ekonomi, akademik, sosial, dan psikologis, dan terutama berdampak negatif pada well-being dan kebahagiaan manusia.

Makalah ini adalah tulisan teoretis berisikan ulasan penelitian-penelitian tentang materialisme. Penulis akan membahas tentang orientasi materialisme dari sudut pandang psikologi berdasarkan sejumlah teori materialisme, hubungan negatif antara materialisme dan kesejahteraan psikologis, sejumlah hal yang menjadi konsekuensi dari materialisme, faktor-faktor yang mempengaruhi materialisme, pengukuran materialisme dalam rangka penelitian psikologi, dan sejumlah solusi mengatasi materialisme berdasarkan hasil penelitian di bidang ini.

Kata kunci: materialisme, kesejahteraan psikologis

 

PENDAHULUAN

 

Apa yang menjadi tujuan hidup bagi seseorang mempengaruhi pencapaiannya atas kebahagiaan. Tidak semua tujuan akan membawa pada kebaikan, bahkan beberapa di antara tujuan-tujuan tersebut ada yang berdampak negatif bagi kesejahteraan hidup. Hal tersebut akan terbukti jika kita memperhatikan kondisi masyarakat kita dan juga cerita-cerita yang beredar di ruang publik tentang orang-orang yang hidupnya hidupnya penuh masalah karena mengejar tujuan-tujuan duniawi, seperti harta, ketenaran, dan penampilan. Fenomena semacam itu dinamakan materialisme, yaitu pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indera (Materialisme, n. d.).

Sebagai suatu masalah kehidupan, materialisme lama menjadi fokus bahasan para filsuf dan agamawan, dan baru di abad modern ini menjadi perhatian psikologi dan diteliti secara ilmiah. Materialisme adalah masalah lintas bidang kehidupan sehingga ia pun dihadapi bersama-sama oleh para ilmuwan dari berbagai bidang, seperti sosial, ekonomi, lingkungan, dan pendidikan. Karena ia punya dampak tertentu pada kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, materialisme termasuk kecenderungan manusia yang berusaha dicari penyelesaiannya dalam psikologi positif.

Studi tentang materialisme di dunia Barat telah berlangsung sekitar 30 tahun lamanya dan masih sedikit yang bisa diketahui tentang apa anteseden dan konsekuensi dari materialisme di Asia, terutama Indonesia. Memahami materialisme adalah penting dalam rangka memelihara sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak sedikit masalah masyarakat yang berakar pada orientasi hidup materialistis, seperti korupsi dan konflik-konflik sosial. Bahkan arah pembangunan Indonesia pun dikritik karena orientasinya yang cenderung materialistis, lebih pada ekonomi/ material, ketimbang jiwa dan raga manusia Indonesia.

Upaya penelitian materialisme membutuhkan dukungan konseptual. Untuk tujuan itulah makalah ini dibuat. Ini akan merupakan tulisan teoretis yang berisikan ulasan tentang materialisme, teori-teori yang melandasinya, pengukuran-pengukuran psikologis materialisme, anteseden dan konsekuensi materialisme, dan sejumlah solusi mengatasi materialisme dari perspektif psikologi. Makalah ini terutama diharapkan bermanfaat bagi para akademisi, peneliti sosial, dan mahasiswa yang hendak melakukan penelitian dengan topik ini. Secara umum, pemahaman teoretis yang disampaikan diharapkan bermanfaat bagi semua orang yang ingin menjalani hidup yang tidak materialistis, sejahtera dan bahagia.

 

FENOMENA MATERIALISME

 

Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bagaimana perubahan nilai di negara tersebut selama sekitar empat dekade terakhir. Studi tersebut dilakukan terhadap hampir seperempat juta mahasiswa baru dari tahun 1965-2005 dan mendapatkan temuan bahwa nilai materialistis meningkat, sementara spiritualitas menurun. Generasi muda masa kini memandang bahwa kesuksesan finansial adalah hal yang sangat penting dan esensial, melampaui nilai penting membangun filosofi hidup, menjadi ahli di bidang yang digeluti, membantu orang lain yang kesusahan, dan membangun keluarga (Dey, Astin, & Korn, dalam Myers, 2008).

Gejala yang sama tampak terjadi di Indonesia. Meskipun belum ada penelitian serupa itu, dapat dirasakan pula semakin tingginya aspirasi finansial. Berdasarkan pengamatan penulis pada lingkungan pendidikan, banyak mahasiswa terarahkan oleh pola pikir bahwa hal utama yang menjadi tujuan di dunia pascakampus adalah bekerja dan meraih kesuksesan yang mana ukuran utamanya adalah sukses finansial, karena itu setelah kuliah, kerja. Sekolah-sekolah dinilai kualitasnya dari sejauh mana lulusannya cepat terserap ke dalam dunia kerja dan apa pekerjaan mereka. Suatu ketika penulis pernah melihat iklan sebuah sekolah dengan iming-iming lulusan akan cepat mendapatkan pekerjaan.

Memandang fenomena tersebut secara kritis, sesungguhnya tidak ada yang salah dari aspirasi finansial. Namun, masalah terjadi ketika aspirasi tersebut dijadikan yang terpenting sehingga mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting. Dari sudut pandang pendidikan karakter, generasi muda perlu diarahkan dalam memutuskan tujuan hidupnya dan meyakini fokus etis, seperti seperti mengembangkan akal sehat, menjadi anggota komunitas, membantu sesama, menemukan makna hidup, dan membangun identitas etis dan integritas, sebagai tujuan hidupnya yang paling prinsip. Maka dari itu, kecondongan pada materialisme dapat dinilai sebagai masalah moral dan karakter (Nucci & Narvaez, 2008).

Masalah-masalah yang berakar pada materialisme tidaklah sedikit dan menyentuh berbagai area kehidupan. Menjadi berita setiap hari tentang pejabat negara dan anggota dewan yang melakukan tindak pidana korupsi, sekalipun gaji mereka sudah besar. Belum lama ini publik Indonesia dibuat prihatin atas kasus anak dan menantu yang menggugat ibu mereka Rp 1 milyar gara-gara sengketa tanah (Ramadhan, 2014). Hal itu menunjukkan bagaimana kepentingan material menggerus nilai moral kekeluargaan. Di dunia pendidikan meluas kritik terhadap kebijakan sertifikasi yang menyebabkan motivasi bekerja para guru adalah uang dan itu melemahkan semangat kerja dan karakter mereka (Susila, 2014).

Uang dan harta benda memiliki nilai yang luar biasa karena memberikan beragam fungsi instrumental maupun simbolis bagi pemiliknya. Dengan uang, berbagai kebutuhan dapat dipenuhi, jaminan keamanan dapat diperoleh, dan bahkan meningkatkan harga diri lewat perbandingan sosial. Orang yang berpunya selalu menempati tempat yang istimewa di masyarakat dan setiap orang selalu ingin memobilisasi dirinya naik ke status sosial yang lebih tinggi. Uang pun menjadi parameter kesuksesan dan dipandang menjadi kunci kebahagiaan. Orang-orang takut tidak punya uang dan menjadikan perolehan uang dan harta kekayaan hal sentral dalam hidupnya. Pemaparan di atas adalah sekelumit gambaran tentang orientasi materialistis di level individual.

Secara tidak langsung, materialisme pun tidak lepas dari sistem sosial dan ekonomi yang tengah berlangsung. Materialisme erat kaitannya dengan konsumerisme (Dittmar, 2008), yang mana itu identik dengan perilaku menkonsumsi atau membeli barang-barang. Materialisme tidak hanya berwujud nilai yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap harta benda, tetapi juga dimanifestasikan dalam perilaku-perilaku yang kompleks. Di sini materialisme pun berdampak buruk dengan menimbulkan persoalan ekonomi dan lingkungan karena dorongan mengonsumsi menuntut peningkatan produksi yang mana itu berarti eksploitasi sumber daya. Materialisme pun ditandai oleh gaya hidup yang berlebih-lebihan sampai mewah, di mana tidak ada tempat bagi kesederhanaan.

Tepat yang dikatakan Mahatma Gandhi (1869-1948): “The world has enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.” Itulah mengapa materialisme dipandang sebagai salah satu ancaman bagi keberlanjutan hidup manusia di masa depan (Myers, 2008). Diakui oleh Myers (2008) tentang masalah kemanusiaan sebagai dampak materialisme di Amerika Serikat dan ini menjadi peringatan bagi negara-negara lain:

 

“… we have big houses and broken homes, high incomes and low moral, more comfortable cars and more road rages. We excel at making a living but often fail at making a life. We celebrate out prosperity but yearn for purpose. We cherish our freedoms but long for connection. In an age of plenty, we feel spiritual hunger”

 

(… kami punya rumah yang besar dan keluarga yang hancur, pendapatan yang tinggi dan moral yang rendah, mobil yang lebih nyaman dan lebih banyak kekerasan jalanan. Kami unggul dalam mencari penghidupan tetapi gagal membangun kehidupan. Kami merayakan kemakmuran tetapi kehilangan tujuan. Kami menjunjung kebebasan tetapi merindukan hubungan. Di zaman yang serba berkelimpahan, kami merasakan kelaparan spiritual) (Myers, 2008, h. 583-584).

 

TEORI-TEORI MATERIALISME

 

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, materialisme berarti “pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indera” (Materialisme, n. d.).

Dalam psikologi, materialisme didefinisikan pandangan yang berisi orientasi, sikap, keyakinan, dan nilai-nilai hidup yang menekankan atau mementingkan kepemilikan barang-barang material atau kekayaan material di atas nilai-nilai hidup lainnya, seperti yang berkenaan dengan hal-hal spiritual, intelektual, sosial, dan budaya (Kasser, 2002).

Pada definisi yang lain, materialisme mencerminkan suatu set keyakinan yang berkenaan dengan seberapa penting perolehan dan pemilikan objek (barang) dalam hidup (Richins & Dawson, 1992). Materialisme adalah “a preoccupation with, desire for, and emphasize on, material goods and money to the neglect of other matters” (Garðarsdóttir, Janković, & Dittmar, 2008, h. 74). Ia mengacu pada kepuasan dan kebahagiaan yang orang ekspektasikan diperoleh dari barang-barang material, merupakan orientasi yang menekankan barang milik dan uang demi kebahagiaan personal dan peningkatan status sosial.

Dalam psikologi, terdapat empat teori yang menjelaskan materialisme, yaitu: 1) kepribadian materialistik (Belk, 1985), 2) materialisme sebagai orientasi nilai individual (Richins & Dawson, 1992; Richins, 2004), 3) materialisme sebagai aspirasi hidup (Kasser & Ryan, 1993, 1996), dan 4) materialisme sebagai pengejaran tujuan identitas (Shrum dkk, 2014). Dari keempat teori tersebut, teori materialisme sebagai orientasi nilai dan aspirasi hidup adalah yang paling populer.

 

Materialisme sebagai Orientasi Nilai

Richins dan Dawson (1992, h. 308) mendefinisikan materialisme sebagai “satu set keyakinan utama yang dianut tentang arti penting barang milik dalam kehidupan seseorang”. Bagi seorang yang materialistis, harta benda dan pemerolehannya adalah tujuan hidup garis terdepan yang mendiktekan “cara hidup”.

Individu yang materialistis dikenal meyakini tiga keyakinan yang mana ketiganya merupakan aspek-aspek nilai materialistis, yaitu: 1) acquisition centrality/ perolehan barang adalah sentral kehidupan, 2) acquisition as the pursuit of happiness/ perolehan barang sebagai pengejaran kebahagiaan, dan 3) possession-defined success/ kesuksesan didefinisikan dengan barang milik (Richins & Dawson, 1992).

  1. Acquisition Centrality

Keyakinan bahwa barang milik material dan uang adalah tujuan hidup yang sangat/ paling penting. Individu yang materialis menempatkan barang tersebut dan pemerolehannya di pusat kehidupan mereka. Barang milik memberikan makna bagi hidup dan memberikan tujuan bagi aktivitas atau usaha keseharian. Pada titik ekstremnya, seorang materialis dapat dikatakan memuja benda-benda, dan pengejaran atas benda-benda tersebut menggantikan tempat agama dalam menstruktur kehidupan dan mengarahkan perilaku mereka (Richins & Dawson, 1992).

 

  1. Acquisition as the Pursuit of Happines

Keyakinan bahwa barang dan uang adalah jalan utama untuk mencapai kebahagiaan personal, kehidupan yang lebih baik, dan identitas diri yang lebih positif. Satu alasan mengapa harta benda dan perolehannya menjadi sangat penting bagi individu yang materialis adalah karena mereka memandang ini penting bagi kepuasan hidup dan well-being mereka. Seorang materialis mengejar kebahagiaan lewat perolehan barang ketimbang lewat cara yang lain, seperti hubungan personal, pengalaman, atau prestasi (Richins & Dawson, 1992).

 

  1. Possession-Defined Success

Keyakinan bahwa barang milik dan uang merupakan alat ukur untuk mengevaluasi prestasi diri sendiri juga orang lain. Individu yang materialis cenderung untuk menilai kesuksesan diri dan orang lain dari jumlah dan kualitas barang yang dikumpulkan. Mereka memandang kesejahteraan atau well-being material sebagai bukti kesuksesan dan kelurusan cara berpikir (right-mindedness). Nilai suatu barang milik tidak hanya dari kemampuannya untuk memberikan status, tetapi juga memproyeksikan kesan diri yang diinginkan dan identitas seseorang sebagai partisipan dalam kehidupan sempurna yang dibayangkan (Richins & Dawson, 1992).

 

Berdasarkan aspek-aspek tersebut, Richins dan Dawson (1992) dan Richins (2004) mengembangkan skala yang bernama Material Value Scale (MVS).

 

Materialisme sebagai Aspirasi Hidup

Konseptualisasi materialisme sebagai aspirasi finansial dilatarbelakangi oleh keprihatinan kecenderungan masyarakat kapitalis yang memandang kesuksesan dan kebahagiaan tergantung pada kemampuan mencapai kekayaan finansial. Menjadikan kesuksesan finansial sebagai aspirasi atau tujuan hidup pada dasarnya adalah pilihan yang berisiko. Dari sudut pandang teori humanistik, dikatakan bahwa manusia yang sehat seharusnya terdorong hidup dengan motivasi aktualisasi diri (Kasser & Ryan, 1993, 1996).

Konsep yang ditawarkan Kasser dan Ryan merupakan terobosan baru memahami materialisme sebagai suatu isi tujuan yang dimiliki seseorang. Mereka berpendapat bahwa isi tujuan seseorang berhubungan dengan sejumlah implikasi psikologis. Tujuan yang dimiliki seseorang mencerminkan pengejaran pribadi, rencana personal, apa yang menjadi perhatian saat ini, tugas-tugas hidup, dan diri yang mungkin (Kasser & Ryan, 1993, 1996).

Aspirasi materialistik identik dengan aspirasi finansial, yaitu aspirasi mengumpulkan kekayaan dan mencapai kesuksesan material (Kasser & Ryan, 1993, 1996). Aspirasi ini berkaitan dengan keinginan meningkatkan status ekonomi. Dalam perkembangannya, aspirasi materialistis memiliki dua jenis lain selain aspirasi finansial, yaitu ketenaran (fame) dan citra (image) (Kasser, 2002).

Terlalu mengutamakan aspirasi-aspirasi materialistis diketahui merugikan well-being. Orang yang termotivasi oleh tujuan yang ekstrinsik menjadikan diri mereka mudah terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh eksternal, seperti paksaan atau pengakuan orang lain, sementara tujuan yang intrinsik memotivasi orang lantaran apa yang ada dalam tujuan itu memberikan kesenangan dan pemenuhan yang sejati (Kasser, 2002).

Untuk mengetahui aspirasi seseorang dan apa yang diprioritaskannya, Kasser dan Ryan (1993) menyusun skala yang bernama Aspiration Index (AI).

 

FAKTOR YANG BERPERAN DAN KONSEKUENSI MATERIALISME

 

Orientasi materialisme pun bukan tanpa sebab. Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi orientasi materialistis seseorang. Ada berbagai pengaruh eksternal maupun internal yang tidak sehat, yang mengaktivasi materialisme pada diri seseorang, seperti:

  • Faktor psikologis, berupa harga diri yang rendah (Park & John, 2011) dan kecemasan akan kematian dan rasa tidak aman (Kasser & Sheldon, 2000; Rindfleisch & Burroughs, 2004);
  • Faktor keluarga, berupa pengasuhan keluarga yang tidak suportif dalam membangun self-esteem yang positif, orangtua yang tidak nurturant, dan (hanya) menekankan kesuksesan finansial (Chaplin & John, 2007, 2010; Kasser dkk, 1995) dan stres dan konflik dalam keluarga (Flouri, 2007);
  • Faktor pergualan, berupa penolakan teman dan pengaruh teman yang materialistis, serta perbandingan sosial dengan teman atau figur di media (Banerjee & Dittmar, 2008; Chan & Prendergast, 2007);
  • Faktor lingkungan, berupa lingkungan yang menggoda dan media yang mendorong konsumerisme (Bauer dkk, 2012; Chan, Zhang, & Wang, 2006); dan
  • Faktor religius, berupa rendahnya religiositas dan kebersyukuran (Polak & McCullough, 2006; Rakrachakarn dkk, 2013).

 

Penelitian tentang materialisme juga menghasilkan temuan bahwa level materialisme yang tinggi adalah sebab dari berbagai persoalan psikologis, sosial, ekonomi, akademik, dan lingkungan. Materialisme yang tinggi adalah anteseden bagi:

  • Rendahnya well-being, ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan hidup, dan tingginya stres dan depresi (Brouskeli & Loumakou, 2014; Dittmar & Kapur, 2011; Garðarsdóttir, Janković & Dittmar, 2008; Karabati & Cemalcilar, 2010; Konow & Earley, 2008; Tatzel, 2002; Tsang, dkk, 2014);
  • Perilaku compulsive dan excessive buying (Dittmar, 2005; Müller, dkk, in press, 2011; Pham, Yap, & Dowling, 2011);
  • Sikap negatif terhadap pernikahan dan memiliki anak (Li dkk, 2010);
  • Ketidaksukaan menabung dan sekolah pada anak, rendahnya motivasi belajar intrinsik, meningkatnya motivasi belajar ekstrinsik, dan rendahnya performa akademik (Goldberg dkk, 2003; Ku, Dittmar, & Banerjee, in press; 2012).
  • Rendahnya sikap dan perilaku pro lingkungan (Hurst dkk, 2013; Kilbourne & Picket, 2008).

 

Materialisme berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis. Orang yang materialistis meyakini bahwa memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi harta kekayaan dan barang material adalah kunci hidup yang baik (Dittmar, 2008; Kasser, 2002). Implikasinya adalah perlombaan yang tak ada habisnya mengumpulkan barang-barang material, kekayaan, keindahan, dan kemewahan, dan penghamburan uang untuk membeli demi menjamin hubungan sosial dan identitas diri di antara orang-orang (Ahuvia, 2008; Goldsmith, Flynn, & Clark, 2011; Hudders & Pandelaere, 2012). Orang yang materialitis diketahui sulit menabung, memiliki manajemen keuangan yang buruk, dan karenanya dihantui kecemasan finansial (Garðarsdóttir & Dittmar, 2012; Goldberg dkk, 2003).

 

MENGENDALIKAN ORIENTASI MATERIALISTIS

 

Kasser dan rekan (2014) melakukan penelitian untuk mengetahui apakah perubahan dalam materialisme berhubungan dengan perubahan dalam well-being. Mereka melakukan tiga penelitian longitudinal dan satu eksperimen dan mendapatkan sejumlah temuan penting bahwa nilai dan orientasi yang materialitis dapat diubah (diturunkan) dan itu berdampak pada perubahan (perbaikan) well-being. Cara yang dilakukan adalah dengan memperbaiki urutan prioritas aspirasi hidup dan mengurangi fokus pada kesuksesan finansial, atau dengan kata lain, melakukan reorientasi diri dan penanaman nilai-nilai hidup yang lebih sehat.

Kasser dkk (2014) menegaskan bahwa orientasi materialitis seseorang sangat dipengaruhi oleh orientasi lingkungan, mulai dari tingkat yang rendah berupa faktor orientasi dan nilai keluarga dan teman sampai yang tinggi berupa faktor budaya. Negara yang menekankan rakyatnya untuk memprioritaskan aspirasi materialitis cenderung memiliki rakyat dengan well-being yang rendah. Untuk memelihara well-being, orang-orang perlu dibentengi dengan resiliensi dalam menghadapi pesan-pesan materialitis atau dibantu untuk mengatasi rasa tidak aman yang mendorong orang untuk menjadi materialitis. Hal terpenting yang disarankan adalah perlu dimulai upaya mendukung nilai-nilai yang berlawanan dengan materialisme, seperti nilai sosial dan spiritual-keagamaan.

 

PENUTUP

Orientasi hidup yang materialistis dipandang sebagai masalah yang mengancam keberlanjutan hidup manusia di masa depan. Ia disebabkan oleh dialaminya ketidakbahagiaan dan selanjutnya menyebabkan pula ketidakbahagiaan. Ia dapat muncul lantaran kurang terpenuhinya kebutuhan hidup tertentu sehingga mendorong seseorang membangun aspirasi akan dimilikinya uang dan harta benda.

Dalam tulisan ini, materialisme didekati dari perspektif psikologi. Dipaparkan pandangan dua teori tentang materialisme, sejumlah temuan penelitian tentang anteseden dan konsekuensi materialisme bagi individu, sosial, dan lingkungan, serta sedikit gambaran tentang bagaimana solusi mengendalikan materialisme.

Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi dan membantu siapa saja yang hendak meneliti tentang materialisme, terutama dalam kaitannya dengan kesejahteraan psikologis dalam konteks masyarakat Indonesia. Di Indonesia, belum banyak penelitian tentang ini, padahal isu kesejahteraan psikologis penting disorot dari perspektif nilai dan aspirasi hidup individu untuk menemukan solusi yang paling baik bagi perbaikannya. Materialisme terbuka untuk diselidiki pengaruhnya bagi kehidupan sosial, performa kerja dan belajar, serta kaitannya dengan masalah-masalah psikologis. Ini menjadi rekomendasi bagi studi-studi selanjutnya.

 

REFERENSI

Ahuvia, A. C. (2008). If money doesn’t make us happy, why do we act as if it does? Journal of Economic Psychology, 29, 491–507. doi: 10.1016/j.joep.2007.11.005

Banerjee, R. & Dittmar, H. (2008). Individual differences in children’s materialism: the role of peer relations. Social Psychology Bulletin, 34(17), 17-31. doi: 10.1177/0146167207309196

Bauer, M. A., Wilkie, J. E. B., King, J. K., & Bodenhausen, G. V. (2012). Cuing consumerism: situational materialism undermines personal and social well-being. Psychological Science, 23(5), 517-523. doi 10.1177/0956797611429579

Belk, R. W. (1985, December). Materialism: trait aspects of living in the material world. Journal of Consumer Research, 12, 265-280.

Brouskeli, V. & Loumakou, M. (2014, April). Materialism, stress and health behavior among future educators. Journal of Education and Training Studies, 2(2), 145-150. doi: 10.11114/jets.v2i2.252

Chan, K. & Prendergast, G. (2007). Materialism and social comparison among adolescents. Social Behavior and Personality, 35(2), 213-228.

Chan, K., Zhang, H., & Wang, I. (2006). Materialism among adolescents in urban China. Young Consumers, Quarter 1, 64-77.

Chaplin, L. N. & John, D. R. (2007). Growing up in a material world: age differences in materialism in children and adolescents. Journal of Consumer Research, 34(4), 480-493. doi: 10.1086/518546

Chaplin, L. N. & John, D. R. (2010). Interpersonal influences on adolescent materialism: a new look at the role of parents and peers. Journal of Consumer Psychology, 20, 176-184. doi: 10.1016/j.jcps.2010.02.002

Dittmar, H. (2005). Compulsive buying – a growing concern? An examination of gender, age, and endorsement of materialistic values as predictors. British Journal of Psychology, 96, 467-491. doi:10.1348/ 000712605X53533

Dittmar, H. (2008). Understanding the impact of consumer culture. Dalam H. Dittmar. Consumer culture, identity, and well-being (pp. 1-23). Hove, East Sussex: Psychology Press.

Dittmar, H. & Kapur, P. (2011, January-March). Consumerism and well-being in India and the UK: identity projection and emotion regulation as underlying psychological processes. Psychology Study, 26(1), 71-85. doi: 10.1007/s12646-011-0065-2

Flouri, E. (2007). The relationship between parenting and materialism in British mothers and fathers of secondary school age children. The Journal of Socio-Economics, 36, 167-176. doi: 10.1016/j.socec.2005.11.052

Garðarsdóttir, R. B. & Dittmar, H. (2012). The relationship of materialism to debt and financial well-being: The case of Iceland’s perceived prosperity. Journal of Economic Psychology, 33, 471-481. doi: 10.1016/j.joep.2011.12.008

Garðarsdóttir, R., Janković, J, & Dittmar, H. (2008). Is this as good as it gets? Materialistic values and well-being? Dalam H. Dittmar. Consumer Culture, Identity, and Well-Being (pp. 71-94). Hove, East Sussex: Psychology Press.

Goldberg, M. E., Gorn, G. J., Peracchio, L., & Bamosy, G. (2003). Understanding materialism among youth. Journal of Consumer Psychology, 13(3), 278-288.

Goldsmith, R. E., Flynn, L. R., & Clark, R. A. (2011). Materialism and brand engagement as shopping motivations. Journal of Retailing and Consumer Service, 18, 278-284. doi: 10.1016/j.jretconser.2011.02.001

Hudders, L. & Pandelaere, M. (2012). The silver lining of materialism: the impact of luxury consumption on subjective well-being. Journal of Happiness Studies, 13, 411-437. doi: 10.1007/s10902-011-9271-9

Hurst, M., Dittmar, H., Bond, R., & Kasser, T. (2013). The relationship between materialistic values and environmental attitudes and behaviors: a meta-analysis. Journal of Environmental Psychology, 36, 257-269. Retrieved from http://dx.doi.org/10.1016/j.jenvp. 2013.09.003

Karabati, S. & Cemalcilar, Z. (2010). Values, materialism, and well-being: a study with Turkish university students. Journal of Economic Psychology, 31, 624-633. doi: 10.1016/j.joep.2010.04.007

Kasser, T. (2002). The high price of materialism. London: MIT Press.

Kasser, T., Rosenblum, K. L., Sameroff, A. J., Deci, E. L., Niemiec, C. P., Ryan, R. M., … Hawks, S. (2014). Changes in materialism, changes in psychological well-being: evidence from three longitudinal studies and an intervention experiment. Motivation and Emotion, 38, 1-22. doi: 10.1007/s11031-013-9371-4

Kasser, T. & Ryan, R. M. (1993). A dark side of the American aream: correlates of financial success as a central life aspiration. Journal of Personality and Social Psychology, 65(2), 410-422.

Kasser, T. & Ryan, R. M. (1996, March). Further examining the American dream: differential correlates of intrinsic and extrinsic goals. Personality & Social Psychology Bulletin, 22(3), 280-287.

Kasser, T., Ryan, R. M., Zax, M., & Sameroff, A. J. (1995). The relations of maternal and social environments to late adolescents’ materialistic and prosocial values. Developmental Psychology, 31(6), 907-914.

Kasser, T. & Sheldon, K. M. (2000, July). Of wealth and death: materialism, mortality salience, and consumption behavior. Psychological Science, 11(4), 348-351.

Kilbourne, W. & Pickett, G. (2008). How materialism affects environmental beliefs, concern, and environmentally responsible behavior. Journal of Business Research, 61, 885-893. doi: 10.1016/j.jbusres.2007. 09.016

Konow, J. & Earley, J. (2008). The hedonistic paradox: is homo economicus happier? Journal of Public Economics, 92, 1-33. doi: 10.1016/j.jpubeco.2007.04.006

Ku, L., Dittmar, H., & Banerjee, R. (in press). To have or to learn? The effects of materialism on British and Chinese children’s learning. Journal of Personality and Social Psychology.

Ku, L., Dittmar, H., & Banerjee, R. (2012). Are materialistic teenagers less motivated to learn? Cross-sectional and longitudinal evidence from United Kingdom and Hongkong. Journal of Educational Psychology, 104(1), 74-86.

Li, N. P., Patel, L., Balliet, D., Tov, W., & Scollon, C. N. (2010). The incompatibility of materialism and the desire for children: psychological insights into the fertility discrepancy among modern countries. Social Indicators Research, 101(3), 391-404. doi: 10.1007/s11205-010-9665-9

Materialisme. (n. d.) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan (Edisi Ke-3). Retrieved from http://kbbi.web.id/materialisme

Müller, A., Claes, L., Georgiadou, E., Möllenkamp, M., Voth, E. M., Faber, R. J., Mitchell, J. E., & de Zwaan, M. (in press). Is compulsive buying related to materialism, depression or temperament? Findings from a sample of treatment-seeking patients with CB. Psychiatry Research. Retrieved from http://dx.doi.org/10.1016/j.psychres.2014.01.012i

Müller, A., Mitchell, J. E., Peterson, L. A., Faber, R. J., Steffen, K. J., Crosby, R. D., & Claes, L. (2011). Depression, materialism, and excessive Internet use in relation to compulsive buying. Comprehensive Psychiatry, 52, 420-424. doi: 10.1016/j.comppsych.2010.09.001

Myers, D. G. (2008). Social psychology. Ninth edition. New York, NY: McGraw-Hill.

Nucci, L. P. & Narvaez, D. (2008). Handbook of moral and character education. New York, NY: Routledge.

Park, J. K. & John, D. R. (2011). More than meets the eye: the influence of implicit and explicit self-esteem on materialism. Journal of Consumer Psychology, 21, 73-87. doi: 10.1016/j.jcps.2010.09.001

Pham, T. H., Yap, K., & Dowling, N. A. (2012). The impact of financial management practices and financial attitudes on the relationship between materialism and compulsive buying. Journal of Economic Psychology, 33, 461-470. doi: 10.1016/j.joep.2011.12.007

Polak, E. L. & McCullough, M. E. (2006). Is gratitude an alternative to materialism? Journal of Happiness Studies, 7, 343-360. doi: 10.1007/s10902-005-3649-5

Rakrachakarn, V., Moschis, G. P., Ong, F. S., & Shannon, R. (2013). Materialism and life satisfaction: the role of religion. Journal of Religion and Health. doi: 10.1007/s10943-013-9794-y

Ramadhan, M. (2014, 23 September). Ini kronologinya ibu 90 tahun digugat Rp 1 M oleh anak kandungnya. Merdeka.com. Retrieved from http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kronologi-ibu-90-tahun-digugat-rp-1-m-oleh-anak-kandungnya.html

Richins, M. L. (2004, June). The material vales scale: measurement properties and development of a short form. Journal of Consumer Research, 31(1), 209-219. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/10.1086/383436

Richins, M. L. & Dawson, S. (1992, December). A consumer values orientation for materialism and its measurement: scale development and validation. Journal of Consumer Research, 19(3), 303-316.

Rindfleisch, A. & Burroughs, J. E. (2004). Terrifying thoughts, terrible materialism? Contemplations on a terror management account of materialism and consumer behavior. Journal of Consumer Psychology. 14(3), 219-224.

Shrum, L. J., Wong, N., Arif, F., Chugani, S. K, Gunz, A., Lowrey, T. M., … Sundie, J. (2014). Reconceptualizing materialism as identity goal pursuits: Functions, processes, and consequences. Journal of Business Research, 66) 1179-1185. http://dx.doi.org/10.1016/j.jbusres.2012.08.010

Susila, S. (2014, 1 April). “Devide et Impera” dalam pendidikan. Kompas, h. 6.

Tatzel, M. (2002). ‘‘Money worlds’’ and well-being: an integration of money dispositions, materialism and price-related behavior. Journal of Economic Psychology, 23, 103-126.

Tsang, J., Carpenter, T. P., Roberts, J. A., Frisch, M. B., & Carlisle, R. D. (2014). Why are materialists less happy? The role of gratitude and need satisfaction in the relationship between materialism and life satisfaction. Personality and Individual Differences, 64, 62-66. Retrieved from http://dx.doi.org/10.1016/j.paid.2014.02.009

[1] Mahasiswa  Program Magister Psikologi, Universitas Gadjah Mada dengan minat utama Psikologi Pendidikan. Saat ini sedang menyelesaikan tesis tentang sikap hidup antimaterialistis pada mahasiswa. Email: aftina.nurul.h@ugm.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s