Racun-racun bagi Perdamaian Pemikiran dan Agama

Hampir dua bulan tidak menulis seperti biasanya, aku menghabiskan waktu-waktu ini bersama beberapa buku yang membuatku banyak merenung tentang perdamaian dan upaya-upaya mencapainya yang… tidak mudah. *Membaca buku ini, rasanya jadi ingin mengikuti kelas Psikologi Perdamaian lagi. Buku-buku tersebut adalah: 1) Kontroversi Khilafah: Islam, Negara dan Pancasila yang dieditori oleh Komaruddin Hidayat (Mizan, 2014), 2) Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran karya M. Quraish Shihab (Lentera Hati, 2007), dan 3) Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam: Sebuah Narasi Sejarah Alternatif karya Graham E. Fuller (Mizan, 2014), guru besar sejarah di Simon Fraser University, Kanada.

Ketiga buku tersebut berhubungan dalam visi, meskipun apa yang dijadikan topik bahasan berbeda. Dua buku pertama membahas permasalahan internal umat Islam yang cukup berat, yaitu perbedaan pendapat tentang kekhilafahan Islam, sedangkan buku terakhir adalah tentang permasalahan Islam dalam hubungannya dengan peradaban-peradaban lain di dunia dan perkembangan sejarah global. Kesamaan ketiganya, ketiganya mencita-citakan sebuah dunia yang damai di mana Islam akan memainkan peran yang utama, bukan sebagai sumber masalah dan sebab pertikaian, melainkan solusi yang bijaksana.

Ketiga buku ini baik pada esensinya, namun rasanya tidak semua orang mampu mencapai esensi itu sehingga mampu mengesampingkan riak-riak perbedaan pendapat yang melingkupi topik-topik ini. Untuk sampai pada tujuan yang sama, terkadang orang tidak pernah sampai karena mereka justru meributkan perjalanan dan apa yang terjadi di jalan.

***

1# Racun: Ego ingin menang dan benar atas diri orang lain

Kita tahu gagasan kekhalifahan Islam di Indonesia cenderung tertolak karena pemikiran agama arus utama di Indonesia (yang didukung dan mendukung pemerintah) tidak menyepakati itu. Dengan bahasa Graham E. Fuller dalam bukunya, satu faktor yang bermain dalam aktivitas sepakat-tidak sepakat, dukung-tidak mendukung ini adalah tangan-tangan penguasa negara yang memutuskan mana ya dan mana tidak, baik penguasa politik maupun keagamaan. “Kekuasaan pasti memikat agama, dan agama memikat kekuasaan.” (h. 35)

Begitu negara bilang tidak tentang negara Islam transnasional, para ulama akan mencarikan dan memikirkan argumentasinya, yang aneh dan untungnya, selalu ada dan masuk akal karena berlandaskan Al Quran dan hadist. Mengapa kukatakan “aneh dan untungnya”, karena lawan-lawan mereka pun juga memiliki argumentasi yang sama-sama masuk akal untuk mendukung negara Islam transnasional karena berlandaskan Al Quran dan hadist. Yang terjadi kemudian, yang memperhebat konflik internal umat Islam, adalah perang ayat dan hadist, dan saling mengkafirkan, atau saling merendahkan pengetahuan bahkan keimanan lawan, atau saling melabel yang satu liberal, yang lain ekstremis.

Hanya itu yang paling banter dilakukan oleh kebanyakan orang: berdebat. Dan mereka melupakan satu wawasan terpenting bahwa segala sesuatu yang Dikehendaki Allah untuk terjadi ini adalah ujian keimanan, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya. Perbedaan pendapat ini hanya ujian, bukan penentu terakhir siapa masuk neraka, siapa masuk surga. Akhirnya mereka pun kehilangan satu kesempatan untuk melatih kemampuan memahami dan kemampuan mengendalikan nafsu atau ego ingin menang dan benar atas diri orang lain. Sangat sedikit orang yang mampu sampai ke titik ini.

Mengapa Menolak Khilafah?

Alasan yang seharusnya dapat diterima dengan hati terbuka oleh para Islamis adalah inilah takdir Allah, bahwa bangsa Indonesia telah bermusyawarah dan bersepakat dalam urusan duniawinya, terkait corak politik dan pemerintahannya, dengan menjadikan Pancasila sebagai jalan tengah dan jalan keluar terbaik bagi perbedaan-perbedaan di masyarakatnya yang dapat berpotensi memecah-belah. Ada harmoni sosial yang ingin dijaga, dan sama sekali bukan akhlak yang buruk bagi seorang muslim jika ia berusaha untuk hidup berdampingan dengan damai dan harmonis dengan tetangganya yang non-muslim.

Alasan selanjutnya adalah adanya kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan untuk ditanamkannya sistem pemerintahan baru, asing bagi kebanyakan orang, serta berisiko sosial yang tinggi. Indonesia yang majemuk adalah perwujudan yang sempurna dari firman Allah bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, Allah tidak menghendaki manusia satu dalam iman dan lantas, cara hidup. Karena itu, gagasan negara Islam adalah utopia, tidak realistis dan mengikuti sunnatullah, betapapun itu begitu indah dan menggugah keimanan untuk diwujudkan di kenyataan dunia.

Penerapan agama tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang agama itu sendiri, terutama syariat, tetapi juga pengetahuan tentang kondisi di mana agama itu hendak diterapkan. Hambatan-hambatan politik, sosial, psikologis, bahkan alam yang pasti ada bukan untuk diterjang begitu saja, melainkan dihadapi dengan bijak dan sebisa mungkin tidak pakai pertengkaran.

Alasan terakhir adalah bahwa konsep khilafah itu sendiri masih dapat diperdebatkan. Banyak orang yang memikirkan ini. Sebagian ada yang mundur jauh sampai pada sejarah pemikiran politik Islam klasik dan modern dan menemukan bahwa kekhilafahan itu, apa dan bagaimananya, berkembang dari zaman ke zaman, mulai dari masa khulafaurasyidin, dinasti-dinasti Islam (Umayyah, Abbassiyah, Seljuk Turki, dan sebagainya), sampai era modern ini. Yang menarik adalah alasan mengapa terjadi perkembangan/ perubahan konsep, yaitu realita di lapangan yang tidak memungkinkan aplikasi konsep tersebut sehingga dilakukan penyesuaian-penyesuaian.

Terlalu luas jika aku membahas semua detailnya, sehingga kuputuskan untuk membatasi ini pada zaman di mana kita sedang berada saja. Bagiku, ada kemungkinan konsep khilafah saat ini merupakan reaksi atas kolonialisme, imperialisme, dan neo-imperialisme Barat di dunia Islam. Satu hal yang menonjol dalam konsep khilafah modern adalah sikapnya yang anti-demokrasi, anti apa-apa yang berasal dari Barat. Keinginan mendirikan khilafah adalah puncak kebencian dan kemuakan terhadap dominasi dan hegemoni Barat di negara-negara Islam, bukan murni didorong oleh alasan-alasan teologis ataupun spiritual.

Perkiraan tersebut membuatku sendiri berandai-andai, seandainya Barat tidak pernah ada di dunia ini, akankah kita akan berpikir tentang kekhilafahan hari ini? Mungkin tidak. Tidak bisa dipungkiri bahwa keinginan mendirikan khilafah didorong oleh sebab-sebab ekonomi, sosial dan geopolitik. Jika konsep kekhilafahan muncul karena sebab-sebab itu, maka mengapa konsep itu tidak dapat ditolak lantaran sebab-sebab yang sama?

Muslim yang tergolong Islamis, mereka “hanya” tidak ingin sama dengan Barat yang dibenci. Ini sama seperti orang Amerika dulu, yaitu orang-orang Inggris yang hijrah ke benua baru, yang di tempat yang baru memilih cara hidup yang berbeda dari asal mereka. Alasan-alasan rasional mengapa memutuskan begitu muncul belakangan lantaran perasaan hati yang mendahului pikiran. Jika semua yang terjadi saat ini mungkin hanya ekses dari kebencian, maka pertanyaanku adalah seberapa besar Allah akan meridhai ini? Entah, bagaimana menjawab ini.

***

2# Racun: Kebencian yang berlebih-lebihan, kecintaan yang fanatis

Dalam pengantar yang diberikan Quraish Shihab dalam bukunya yang kontroversial tentang Sunni dan Syiah, beliau menekankan satu hal: perlu sekali bagi kita untuk bersikap adil dan objektif dalam menimbang pemikiran. Sering tersandungnya kita adalah di kedua titik ini, yaitu adil dan objektif. Kita tidak tahu adil itu yang bagaimana dan objektif itu yang bagaimana. Banyak dari kita yang mendefinisikan keadilan dan objektivitas secara subjektif, menurut diri kita sendiri!

“Dahulu ulama-ulama kita hidup rukun, penuh toleransi, kendali mereka berselisih pendapat. … Jangankan ulama yang masih hidup, yang telah wafat pun tetap mereka hormati pendapatnya. Imam Syafii yang dalam mazhabnya menilai ber-qunut pada shalat Shubuh adalah sunnah mu’akkadah, tetapi ketika imam ini shalat Shubuh dekat makam Imam Abu Hanifah, beliau tidak qunut, karena menghormati almarhum Imam Abu Hanifah.

Para ulama masa lampau melakukan pendekatan, bukan saja dengan pertemuan-pertemuan langsung, tetapi juga melalui surat-menyurat dan kunjung-mengunjungi, yang kesemuanya dihiasi oleh bahasa yang halus penuh persahabatan dan sopan santun.

Yang menyimpang dari tradisi ini adalah orang-orang awam atau yang memiliki pengetahuan amat terbatas dan diperparah oleh subjektivitas tinggi. ” (h. xvii-xviii).

“Hubungan harmonis antara kelompok, bahkan dua sosok, tidak dapat tercipta tanpa memahami diri sendiri dan memahami mintra kita. Anda akan dikecam kalau anda dinilai ‘tidak tahu diri‘, sebagaimana anda dikecam pula kalau tidak mengetahui apa dan siapa mitra anda. Sering kali kita menyalahkan orang lain atas nama mazhab kita, padahal mazhab kita dapat membenarkannya. Ini biasanya diakibatkan karena kedangkalan ilmu/pengetahuan kita tentang diri kita. Biasa juga kita menyalahkan orang lain karena kita menyalahpahami pendapat atau maksud mereka. Karena itu paham dan kesepahaman harus selalu diupayakan.

… Bahkan dalam konteks mencari titik temu, kalau perlu kita mundur selangkah, demi tujuan yang lebih besar. Nabi saw. bersedia menghapus kara ‘Basmalah‘ dan kata ‘Rasulullah‘ ketika mencari titik temu dengan delegasi kaum musyrik Mekkah demi suksesnya Shulh al-Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah).

Di samping itu, amat diperlukan juga keterbukaan. Semua harus dapat menyampaikan keluhan menyangkut apa yang tidak disenangi dari mitranya. Dalam konteks ini tentu saja (Sunni-Syiah, misalnya), Ahlusunnah akan sangat tersinggung jika … sahabat-sahabat Nabi yang dinilai sebagai orang-orang jujur dan berjasa, jika mereka dimaki. Sebaliknya, kelompok Syiah akan sangat tersinggung jika mereka dinilai sesat, apalagi dinilai kafir. Ini harus dihentikan dan orang-orang bijak dari kedua belah pihak dituntut untuk berperan mengikis habis sebab-sebabnya, lalu mempersilakan masing-masing hidup tenang tanpa diganggu oleh siapa pun dalam keyakinan dan kepercayaan mereka.

Selanjutnya, siapa yang mencari titik temu dalam pemikiran, maka syarat utama yang harus dipenuhinya adalah menghindari buruk sangka. Allah berpesan… Apabila mereka cenderung kepada perdamaian maka cenderung pulalah kepadanya dan berserah dirilah kepada Allah… Apabila mereka bermaksud menipumu, niscaya Alah akan melindungimu. Dia yang akan mendukungmu dengan pembelaan-Nya dan dengan keterlibatan orang-orang beriman (QS Al Anfal [8]: 61-62).

Itulah syarat-syarat jika kita ingin mendekatkan dua kelompok yang tengah berseteru.

Khusus masalah hubungan Sunni-Syiah, dalam bukunya, Quraish Shihab menemukan bahwa secara teologis kedua kelompok umat muslim ini tidak berbeda. Yang membedakan keduanya hanya satu hal, yaitu bahwa Sunni tidak mengimani imamah, sedangkan Syiah mengimani imamah. Selesai. Apapun yang dikatakan sebagai rukun iman dan rukun Islam Syiah berbeda dari Sunni, itu hanya masalah sistematika penempatan yang urutannya tidak sama, tetapi kalau dicari tetap ditemukan bahwa akar pemikiran Syiah adalah Al Quran dan hadist nabi. Ada lebih banyak persamaan ketimbang perbedaan antara Sunni dan Syiah. Ini yang seharusnya dipegang dan dijadikan pijakan oleh orang-orang untuk berbuat sesuatu.

Ada banyak hal yang disampaikan, tetapi yang patut diperhatikan adalah bahwa lagi-lagi yang memperparah perbedaan bukanlah perbedaan teologis, melainkan sejarah antara dua kelompok yang sudah terlanjur berdarah-darah lantaran ketidakadilan yang berlarut-larut dan tidak diselesaikan. Sekali lagi, perasaan hati banyak mendahului pikiran. Kita terlanjur punya stigma negatif dan sentimen-sentimen tertentu dan tidak mampu mengesampingkan itu ketika kita berusaha memahami lawan atau mitra kita. Kita punya banyak prasangka-prasangka dan ketakutan akan dicelakakan oleh mereka, sehingga kita justru menggunakan pikiran kita untuk berpikir jelek, bukan untuk belajar dan menerima pencerahan.

Semua ini kembali pada ketidakmampuan kita menjalankan perintah Allah. Kalau kita masih bertengkar dengan orang, salahkan saja diri sendiri, bukan orang lain atau keadaan.

***

3# Racun: Rabun dekat (baca: ketidakmampuan mengoreksi diri sendiri)

Akar dari masalah adalah kesalahan. Masalah apapun pasti bersumber dari kesalahan dan yang disebut kesalahan adalah hal-hal yang diperbuat secara tidak sesuai dengan aturan Tuhan. Dunia ini sungguh adalah kumpulan kesalahan-kesalahan. Banyak hal lahir dari dan berakhir karena kesalahan. Banyak yang hidup dengan dan mengandalkan kesalahan, berkubang dalam kesalahan demi kesalahan.

Membaca buku Graham E. Fuller banyak mengingatkanku pada tulisanku yang dulu tentang perdamaian di Eropa. Sejumlah pemikiranku sesuai dengannya bahwa banyak akar masalah Islam dan Barat bukan terletak pada agama, melainkan sebab-sebab yang duniawi dan manusiawi, faktor-faktor sosial dan politik. Karena itu, salah jika meng-Islam-kan semua masalah, atau mengkambinghitamkan semua masalah pada Islam sebagai agama. Meski begitu, kecenderungan negara-negara Barat adalah demikian sehingga solusi yang terpikirkan oleh mereka untuk mewujudkan perdamaian adalah dengan menciptakan Islam versi Barat, Islam versi Amerika, yaitu Islam yang mendukung kepentingan Barat dan menolak Islam-Islam yang tidak menguntungkan Barat.

Ketika yang dilakukan adalah melulu mempersalahkan agama, maka Barat sungguh telah mengalami rabun dekat. Ia tidak melihat bahwa gejolak di dunia Islam dalam rangka melawan Barat adalah akibat dari kebijakan-kebijakan Barat di masa lalu sampai sekarang yang merugikan umat Islam di berbagai belahan dunia. Jika Barat ingin memperbaiki keadaan, maka Barat perlu memperbaiki cara pandangnya terhadap Islam dan umat Islam, serta memperbaiki kebijakan-kebijakan internasionalnya.

Nah, bagaimana dari sisi Islam sendiri? Aku merasa dunia Islam perlu memiliki penulis yang menulis topik serupa tentang apa sebetulnya akar masalah di dunia Islam. Apakah tepat mem-Barat-kan semua masalah ketika kita melihat bahwa sebagian adalah tangan-tangan kita sendiri yang menghancurkan kehidupan kita sendiri? Kita tidak hanya sedang berseteru dengan dunia luar kita, tetapi juga dunia kita sendiri. Buktinya sangat jelas, apakah itu antara mereka yang mendukung khilafah atau tidak, apakah antara mereka yang Sunni atau Syiah, dan masih banyak lagi. Sering akar masalahnya bukan pada agama kita, melainkan pada diri kita yang sangat duniawi dan manusiawi.

Ya, kalau begini ceritanya rabun dekat itu bukan cuma milik Barat saja, tetapi juga kita.

***

Cukup panjang tulisan kali ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.🙂

8 thoughts on “Racun-racun bagi Perdamaian Pemikiran dan Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s