Hikmah dalam Buku “Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya”

Satu lagi buku yang kubaca dalam dua bulan terakhir. Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya (Zaman, 2014). Buku ini tergolong kitab klasik karena merupakan kumpulan nasihat dari delapan ulama besar Islam, yaitu: Imam al-Harits al-Muhasibi, Syekh Abu Thalib al-Makki, Imam al-Ghazali, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Syekh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, Imam Yahya al-Yamani, Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan Syekh Muhammad ‘Ali al-Birgawi, tentang rezeki.

Setelah membaca buku ini pertanyaanku cuma satu: bisakah aku menggunakan wawasan yang kuperoleh dari buku ini dalam tesisku tentang antimaterialisme itu?

Ah, bingung sekali. Sedikit bocoran tentang perkembangan tesisku, sesungguhnya aku sedang macet, buntu. Aku belum menemukan kata kunci yang tepat untuk memulai wawancara mendalam dengan subjek-subjekku. Tapi, syukur alhamdulillah, dari membaca buku ini, aku dapatkan satu kata kunci: REZEKI. Bagaimana pendapatmu tentang rezeki? Itu cukup untuk memancing penjelasan pribadi mereka tentang sikap hidup yang tidak materialistis. Insya Allah… *Ya Allah, mudahkanlah pengerjaan tesis hamba… T.T

Satu hal yang sangat kusyukuri dalam hidupku adalah Allah memudahkanku menemukan buku-buku bagus. Buku-buku bagus itu maksudnya adalah buku-buku yang membantuku menjawab persoalan-persoalan hidupku pada suatu waktu. Sejak memutuskan menyusun tesis tentang antimaterialisme dan bahkan sejak merenungkan kefakiran dan keberanian menghadapi kemiskinan berbulan-bulan yang lalu, persoalan seputar rezeki menggelayutiku. Keinginan mencari rezeki itu bukan sekedar teori, melainkan hal yang mendorong orang pada aneka praktik dan amal perbuatan, baik dan buruk. Aku mengerti rasa cemas akibat keraguan tak kebagian rezeki karena aku sendiri mengalaminya, dan membaca buku ini memperbaiki diriku.

Sangat bersyukur… Semoga Allah membalas kebaikan semua penulisnya, amiin.

***

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, dan menyempitkan (rezeki) bagi siapa yang Dia kehendaki.’ Apa pun yang kalian infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi-Rezeki Terbaik.”

QS Saba’ [34]: 39

Satu hal yang membuatku tertegun adalah ketika membaca judul pengantar buku ini, yaitu mengharap rezeki yang lancar dengan sikap hati yang benar.

Sikap hati yang benar. Itulah mutiara yang hilang dari kehidupan banyak orang. Sikap hati adalah asal-muasal persoalan rezeki, bagaimana kita memaknai apa-apa yang sampai kepada kita, apakah kurang, cukup, atau lebih, apakah sulit dan seret, atau mudah dan lancar, dan bagaimana kita menyikapinya, apakah mensyukurinya atau mengeluhkannya, apakah tetap di jalan yang halal atau justru haram, apakah bersikap tenang atau mencemaskannya.

Ibnu ‘Atha’illah menasihatkan, “Tenanglah soal rezeki.” Tapi, bagaimana dapat tenang jika kenyataannya semua serba kurang, kerja apa-apa susah, kebutuhan hidup semakin banyak… bla bla bla. Stop. Itulah masalahnya. Kita ragu pada Allah Yang Mahatahu kebutuhan kita. Meragukan Allah adalah dosa yang paling berbahaya, sedangkan ketaatan yang paling disukai adalah yakin kepada-Nya. “Pintu rezeki itu terletak pada ketaatan kepada Sang Pemberi Rezeki.” (h. 22)

Lebih lanjut, Ibnu ‘Atha’illah mengajarkan tentang cara baik untuk meminta dan mencari rezeki yang baik:

1. Mencari rezeki dengan penuh perhatian sampai-sampai melupakan Allah bukanlah cara yang baik. Sebaliknya, cara mencari rezeki yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dari Allah.

2. Mencari rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah Swt., tanpa menetapkan batasan, sebab, dan waktunya sehingga Dia akan memberikan apa yang Dia Kehendaki, dengan cara yang Dia Kehendaki, dan di waktu yang Dia Kehendaki. Itulah etika meminta rezeki.

Jangan meminta untuk dikeluarkan dari satu keadaan dan dialihkan ke keadaan yang lain. Jika kau menyadari bahwa Dia mengetahui keadaanmu, namun kau terus meinta agar dialihkan ke keadaan lain, maka permintaanmu itu termasuk adab yang buruk kepada Allah.

Bersabarlah… karena dikhawatirkan permintaanmu dikabulkan namun kau tidak merasa tenang dalam keadaan itu. … Keadaan itu sesungguhnya merupakan hukuman karena memilih dan mengatur untuk diri sendiri.

3. Meminta rezeki yang baik adalah memintanya kepada Allah Swt. dan jangan jadikan apa yang engkau inginkan sebagai tujuan doamu. Permintaan itu sesungguhnya hanyalah sarana untuk bermunajat kepada-Nya.

4. Mencari rezeki yang baik adalah dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa jatahmu telah ditetapkan dan akan mendatangimu, bukan permintaan dan usahamu yang mengantarkanmu kepadanya.

5. Meminta rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah sesuatu yang bisa mencukupimu, bukan yang melenakanmu. Jangan menghendaki sesuatu secara berlebihan. Nabi Saw. mengajarkan doa yang baik, “Ya Allah, jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekadar bisa mencukupi.” Tercelalah orang yang meminta lebih dari cukup.

6. Bentuk meminta rezeki yang baik bisa dengan cara meminta bagian dunia. Allah berfirman, “… Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat…” (QS 2: 201)

7. Bentuk meminta dengan baik adalah meminta tanpa meragukan jatah yang diberikan Tuhan serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang.

8. Bentuk meminta dengan baik adalah meminta tanpa menuntut untuk segera dikabulkan. Nabi Saw. melarang tingkah semacam itu, “Doa kalian pasti dikabulkan selama tidak berkata, ‘Aku telah berdoa tetapi belum juga terkabul.'”

9. Meminta rezeki dengan baik adalah meminta dan bersyukur kepada Allah jika diberi, dan menyadari pilihan terbaik-Nya jika tidak diberi.

10. Meminta rezeki dengan baik adalah meminta kepada-Nya agar kau berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, tidak kepada permintaanmu. Selain itu, ketika kau meminta, tetapkanlah dalam benakmu bahwa kau tidak layak mendapatkannya. Orang semacam ini sangat pantas mendapat pemberian Tuhan. Syekh Abul Hasan berkata, “Ketika meminta sesuatu, kuletakkan dosaku di hadapanku.” Maksudnya adalah agar ia tidak meminta kepada Allah dengan perasaan layak atasnya. Namun, ia hanya meminta datangnya karunia Tuhan lewat karunia-Nya pula.

***

“Orang mudah risau soal rezeki bila ia memandang rezekinya bergantung pada usahanya atau usaha orang lain. Ii memang soal cara memandang, bukan soal cara hidup. Anjuran untuk yakin bahwa Allah sudah menjamin rezeki bukanlah berarti anjuran untuk tidak berusaha. Seseorang akan lebih mudah tauhidnya, lebih tenang dan optimis hidupnya, bila memandang rezekinya bergantung sepenuhnya pada Allah. Temanilah setiap usaha dengan cara pandang ini. Kalau tidak, kita akan mudah cemas, pesimis, dan putus asa.” (h. 129)

“Bagaimana engkau percaya kepada apa yang kau miliki padahal itu semua akan hilang, dan bagaimana engkau tidak percaya kepada Allah padahal Dia tidak akan pernah hilang? Wahai yang bergantung pada makhluk dan sebab, (mengapa) engkau menafikan kekuatan dan keagungan Allah di dunia dan akhirat. Wahai yang percaya kepada yang kau miliki, (mengapa) engkau menafikan kekayaan-Nya di dunia dan akhirat.”

— Abdul Qadir al-Jailani

Jika sebelumnya kita perlu memeriksa sikap hati kita, pada bagian ini kita perlu memeriksa cara pandang kita terhadap dunia. Gagasan di atas, terutama pemikiran Abdul Qadir al-Jailana secara khusus menarik perhatianku karena ini tidak sejalan dengan teori psikologi yang kupelajari, terutama teori regulasi diri.

Psikologi yang humanis “memberikan kekuasaan” yang besar pada manusia. Orang dibuat meyakini bahwa apa-apa dalam hidup ini tergantung pada dirinya yang merupakan agen kehidupan, penanggung jawab kehidupan. Jika ingin mencapai apa yang diinginkan, kesuksesan apapun itu, termasuk kesuksesan material dan finansial, berusahalah sekuat mungkin. Besarnya usaha, kegigihan, dan ketekunan berbanding lurus dengan hasil. Dari sudut pandang psikologi, itu benar, tetapi bukan itulah yang diajarkan agama. Apa yang kita lakukan itu sekedar sebuah cara hidup, cara kita bekerja, bukan cara kita memandang hidup dan memaknainya.

Bagaimana gagasan itu pada detailnya dan apakah konsekuensinya, jujur itu masih misteri bagiku dan menjadi bahan pemikiranku akhir-akhir ini. Belum kutemukan jawabannya, karena itu, sampai di titik ini dulu tulisan ini.🙂 Semoga yang disampaikan di sini bermanfaat!

 

rezeki

4 thoughts on “Hikmah dalam Buku “Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya”

  1. d^^b
    Kalau buat aku, mungkin prinsip “nothing to lose”. Berusaha sekuat tenaga dgn maksud Allah menilainya dengan adil kemudian diikhlaskan saja harta yg mengiringinya, tdk perlu berharap muluk-muluk. Toh, insya Allah, dicukupkan oleh Allah dr pintu mana saja.
    Begitu kah? Itu yang aku pikirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s