Poetry of The Week: “Tuhan, apa cerita-Mu hari ini?”

Meyakini akidah yang benar adalah benteng dari penyakit-penyakit mental, pelindung dari kesalahan-kesalahan yang mendatangkan musibah bagi dunia dan akhirat. Saat terbaik dalam hidupku adalah ketika aku mampu memahami itu semua dengan pemahaman dan kesadaran yang lebih baik. Yang paling kusyukuri sekarang adalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkanku, bahkan ketika aku begitu zalim pada diri sendiri.

Manusia belajar menjalani hidup dengan berbagai macam cara. Ada yang belajar lewat membaca atau mendengarkan guru-guru. Ada yang belajar dari mengamati orang-orang yang berbuat. Ada yang belajar dari mengamalkan apa yang dipelajari. Ada yang belajar dari mengalami sendiri akibat dari kesalahan-kesalahan. Bagiku, yang paling berat, tapi justru yang paling membekas dan menyentuh, adalah yang terakhir.

Siapa orang yang menyukai kesalahan? Siapa orang yang menyukai ketersesatan? Siapa orang yang menyukai kebodohan? Kamu suka?

Kau gila. Tapi, aku katakan di sini, aku deklarasikan saat ini: Aku adalah orang gila itu.

Bagiku, kesalahan, ketersesatan, dan kebodohan hanyalah pengetahuan yang lain. Dari kesalahan aku tahu apa yang benar sebenar-benarnya. Dari ketersesatan aku tahu mana jalan yang lurus. Dari kebodohan aku sadari Ilmu Tuhan. Semua itu memberikan satu pengalaman yang mungkin sulit dimengerti oleh orang-orang yang hidup dengan sempurna: pengalaman kembali ke pangkuan-Nya. Pengalaman tertegun, terpekur… Pengalaman memejamkan mata dan menarik napas dalam… dan yang teringat hanyalah Tuhan dan diri ini hilang dalam ketidakberartian, tetapi itu begitu menyenangkan anehnya.

Aku mencintai hidupku, jalan hidupku yang dipilihkan-Nya untuk kulalui. Aku tak punya kesimpulan yang lain.

***

Aku menyadari diriku cukup berbahaya sewaktu-waktu lantaran rasa ingin tahu yang menyebar dan berubah menjadi racun. Aku hidup dalam belantara pengetahuan teoretis. Itu bagaikan danau yang dalam dengan airnya yang tenang berwarna biru gelap yang aku kagumi keindahannya dari jauh. Tak pernah cukup bagiku hanya memandangnya, dan terhadap beberapa teori aku sering tak berpikir dua kali. Tak cukup hanya berdiri di tepiannya sehingga airnya membasahi kakiku, aku berlari ke tengah-tengah dan menenggelamkan diriku untuk mengetahui rasanya danau pengetahuan itu.

Dan beberapa kali aku mati tenggelam, tetapi kemudian Tuhan menghidupkanku kembali dan aku menjadi diriku yang lain, dengan pengetahuan-pengetahuan baru, buah dari kematian.

Begitulah aku mengalami psikologi. Dan itu membuatku merasakan betul menjadi manusia dari memahami dan mendalami diri sendiri yang mengalami ilmu tentang jiwa. Berpikir seperti ini terkadang membuatku tak ingin lagi menjadi seorang ilmuwan, peneliti, atau akademisi… Ada pengetahuan-pengetahuan yang tak akan pernah tertampung dengan baik dalam wadah-wadah intelektual dan rasional. Pengetahuan-pengetahuan ini tak membuatku menjadi apa-apa.

Hanya membuatku menjadi “manusia”. Dan itu sudah cukup.

***

Pernahkah kau merenungkan kehidupan dan ke mana kau akan menuju? Pernahkah kau merenungkan segala peristiwa, tentang segala yang terjadi dan tidak terjadi, tentang segala rencana?

Aku duduk dan mengamati langit kelabu dan hujan yang deras, bertanya-tanya tentang misteri yang paling nikmat dinikmati hanya selama ia tetap misteri. 

“Tuhan, apa cerita-Mu hari ini?”

 

Yogyakarta, 7 Maret 2015

 

Greek-lake

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s