Mengenali 27 Bias Penyimpang Realitas

Di perjalanan kembali ke Yogyakarta, aku menyelesaikan membaca buku “Born to Believe: Gen Iman dalam Otak” karya Andrew Newberg dan Mark Waldman (Mizan, 2013). Andrew Newberg adalah seorang profesor di Departemen Radiologi dan Psikiatri di Rumah Sakit Universitas Pennsylvania, banyak melakukan penelitian di bidang neurologi dalam kaitannya dengan spiritualitas dan religiusitas. Sangat menarik dan bermanfaat!ūüėÄ

Dalam buku ini ada bagian yang benar-benar menarik perhatianku, yaitu tentang 27 “cara otak” menyimpangkan realitas. Dalam pandangan penulis, memahami, mengenali, dan menguasai¬†cara memiliki pengetahuan yang berimbang, adalah penting bagi siapapun yang menyatakan diri mereka beriman. Ada alasan di balik pendapat ini, yang mungkin sulit diterima bagi orang yang “hidup dalam kebenaran pribadi dan golongan”, yaitu agar orang, siapapun dia, semakin mampu menjadi pemikir yang lebih baik atau dalam bahasa yang Islami, adalah agar kita menjadi ulul albab yang adil.

Telah dibuktikan dalam banyak sekali penelitian ilmiah di bidang neuro sains, apapun pengetahuan yang kita sangka objektif sesungguhnya diterima oleh kesadaran, kognisi, alam pikir kita sebagai suatu yang sifatnya interpretatif. Atas hal yang sama, orang bisa memandangnya sebagai berbeda, itulah misalnya. Subjektif. Setiap orang membangun pemahaman yang unik, mengkonstruksi realita di dalam kepala mereka, dan menjadikan itu dasar bangunan keyakinan tentang dunia. Namun demikian, hambatannya ada dua: Pertama, penafsiran kita sifatnya perseptual (hasil persepsi). Penafsiran kita berisi asumsi, perampatan (generalisasi, pukul rata), kekeliruan, dan kesalahan, meskipun pula ada benarnya. Dengan kata lain, penafsiran kita atas apapun sedikit atau banyak mengandung bias, yang dalam psikologi dikenal dengan istilah bias kognitif. Kedua, penafsiran dan keyakinan kita juga merupakan hasil dari logika, nalar, dan konsensus sosial, yang mana faktor sosial ini dapat berperan membelokkan pemahaman kita.

Satu hikmahnya, kita lantas perlu menyadari bahwa kita tidak mampu mendapatkan kebenaran yang absolut, yang akurat, tentang realita kehidupan kita, termasuk ilmu pengetahuan dan pengetahuan agama yang sampai pada kita, dengan kemampuan manusia kita yang terbatas. Kita tidak mungkin tahu Kebenaran, Apa-Yang-Sebenarnya-Terjadi, Yang-Hakiki, dengan akal manusia kita. Kita perlu mengembalikan segalanya kepada Tuhan Yang Mahatahu, dan berendah hati dalam upaya kita mencari pengetahuan yang lebih baik lagi dari yang kita miliki sebelumnya sebagai hikmah yang lain dari keterbatasan ini.

Apa yang menjadi masalah di antara kita adalah kita tidak menyadari keterbatasan akal kita dan hidup dengan semena-mena menyebarkan kebenaran pribadi kita yang sesungguhnya tak sempurna dan terlibat berperang dengan orang lain yang juga memiliki kecenderungan yang sama. Ketidaksadaran ini melekat sebagai karakter dasar manusia yang dilahirkan untuk percaya, untuk mempercayai sesuatu sebagai benar, dan mengabaikan hal-hal di luar yang kita percayai sebagai cara kita bertahan hidup. Namun, sikap yang egoistis tersebut tidaklah menguntungkan. Kita perlu melihat hal-hal dari beragam perspektif, dari aneka sisi, dan sudut pandang. Itulah tanda kedewasaan berpikir sehingga kita mampu memiliki pemahaman yang berimbang, luas, dan fleksibel.

Selain itu, kita perlu pula tahu di titik-titik mana kita dapat tergelincir. Kedua puluh tujuh bias kognitif penyebab penyimpangan realitas ini merupakan titik-titik tersebut. Kesemuanya dirangkum dari hasil penelitian, terutama di bidang psikologi dan sosiologi, selama puluhan tahun. Berikut dapat kita baca bersama dan renungkan, apakah bias-bias ini terjadi dalam diri kita dan mempengaruhi cara berpikir dan keyakinan-keyakinan kita. Semoga bermanfaat!

Ya Allah, semoga ini bermanfaat bagi diri…

***

Cognitive Bias

1# Bias keluarga. Diri kita bersandar pada orang-orang yang penting ini (keluarga dan teman dekat) sepanjang hidup kita sehingga kita cenderung secara otomatis mempercayai informasi yang diberikan oleh mereka.

2# Bias otoritas. Kita cenderung tidak mempertanyakan orang-orang yang memiliki kekuasaan dan otoritas karena kita memberikan kepercayaan lebih kepada mereka. Otoritas dapat berupa otoritas politik, keilmuan, maupun keagamaan.

3# Bias Ketertarikan. Karena manusia menyukai keindahan, kita cenderung mempercayai orang-orang yang menarik, terutama dalam hal penampilan, misalnya lebih jangkung tubuhnya, lebih kekar, lebih cantik, dan sebagainya.

4# Bias Pengesahan. Kita cenderung menekankan informasi yang mengabaikan keyakinan kita, dan secara tidak sadar mengabaikan atau menolak informasi yang berlawanan dengan keyakinan kita.

5# Bias Melayani Diri Sendiri (Self-serving Bias). Berkaitan dengan bias pengesahan, kita cenderung pula bertahan dengan kepercayaan yang menguntungkan kepentingan dan tujuan kita.

6# Bias Kelompok Dalam (In-group Bias). Secara tidak sadar kita cenderung memberikan perlakuan istimewa terhadap anggota kelompok kita dan jarang mempertanyakan keyakinan kelompok sendiri. Diri manusia punya kecenderungan mencari penyesuaian dengan anggota lain dalam kelompoknya.

7# Bias Kelompok Luar (Out-group Bias). Kita biasanya menolak atau meremehkan kepercayaan orang-orang di luar kelompok kita, terutama jika keyakinan mereka berbeda dari kita. Orang secara alami cenderung merasa cemas jika bertemu orang yang asing, berbeda latar belakang, budaya, dan lainnya.

8# Bias Konsensus Kelompok. Semakin setuju seseorang dengan kita, maka semakin kita beranggapan bahwa kepercayaan kita adalah benar. Sebaliknya, semakin seseorang tidak sependapat dengan kita, kita semakin merasa ragu terhadap kepercayaan kita, walaupun kepercayaan kita benar.

9# Bias Kereta Kuda. Kita cenderung sejalan dengan sistem keyakinan kelompok yang kita ikuti. Semakin banyak orang di sekitar kita, maka semakin besar kemungkinan kita akan mengubah keyakinan kita agar sesuai dengan mereka.

10# Bias Perkiraan. Kita sering beranggapan tanpa memeriksa terlebih dahulu bahwa orang lain dalam kelompok kita memiliki keyakinan dan menganut nilai-nilai yang sama dengan kita, melihat dunia dengan cara yang sama dengan kita. Padahal, manusia berbeda-beda satu sama lain.

11# Bias Harapan. Ketika mencari informasi, kita cenderung “menemukan” yang kita cari. Kita menyesuaikan hal-hal dengan harapan kita karena berharap harapan kita terwujud.

12# Bias “Angka Ajaib”. Semakin besar dan dramatis sebuah angka, semakin besar dampak yang dimilikinya. Ini selanjutnya memperkuat keyakinan kita terhadap informasi yang diukur.

13# Bias Kemungkinan. Kita suka mempercayai bahwa kita lebih beruntung daripada orang lain, dan bahwa kita dapat mengalahkan rintangan. Optimisme seperti ini disebut juga bias penjudi. Jika orang melempar koin ke udara sembilan kali berturut-turut dan selalu muncul sisi A, banyak yang bertaruh pada lemparan kesepuluh akan muncul sisi A juga. Padahal itu tidak karena untuk setiap lemparan, kemungkinan muncul sisi A dan B sama-sama 50%.

14# Bias Sebab-Akibat. Kita cenderung membuat hubungan sebab-akibat antara dua kejadian, walaupun sebenarnya tak ada hubungannya. Ada banyak faktor yang sesungguhnya mengakibatkan sesuatu hal untuk terjadi.

15# Bias Kesenangan. Kita cenderung menyimpulkan bahwa kejadian yang menyenangkan lebih mencerminkan kebenaran daripada yang tidak menyenangkan.

16# Bias Personifikasi. Ini adalah fungsi persepsi dan kognitif yang menyebabkan munculnya takhayul. Kita lebih suka menganggap benda yang tidak bernyawa memiliki kualitas seperti makhluk hidup, dan melihat rangsang yang tidak jelas/ meragukan (seperti bayangan, bunyi samar, dan sebagainya) menyerupai manusia atau binatang.

17# Bias Perseptual. Kita cenderung secara otomatis menganggap bahwa persepsi dan kepercayaan kita mencerminkan kebenaran yang objektif tentang diri kita sendiri dan tentang dunia. Padahal pengetahuan tentang diri sesungguhnya juga subjektif sifatnya.

18# Bias Ingatan yang Salah. Berdasarkan penelitian, memori di dalam otak kita cenderung mempertahankan ingatan yang keliru lebih lama daripada ingatan yang akurat.

19# Bias Kekekalan. Sekali kita mempercayai sesuatu, kita akan selalu bersikeras bahwa itu benar, walaupun bukti-bukti menunjukkan yang sebaliknya.

20# Bias Memori Positif. Saat mengenang masa lalu, kita cenderung mengingat kejadian dari sisi yang lebih positif dan disukai ketimbang ketika hal itu terjadi.

21# Bias Logika. Kita cenderung mempercayai pendapat yang terdengar lebih logis dan mengabaikan informasi yang tidak masuk akal, yang tidak berguna tampaknya.

22# Bias Bujukan. Kita lebih mempercayai seseorang yang lebih dramatis dan emosional ketika berdebat tentang sesuatu.

23# Bias Kedudukan. Kita lebih memperhatikan dan lebih mudah mengingat informasi yang muncul di daftar paling atas.

24# Bias Ketidakpastian. Diri kita tidak menyukai ketidakpastian sehingga kita jadi lebih memilih untuk percaya atau tidak percaya sama sekali daripada merasa tidak pasti.

25# Bias Emosional. Emosi yang kuat biasanya bertentangan dengan logika dan nalar. Kemarahan cenderung membangkitkan keyakinan bahwa ktia benar; kecemasan menciutkan keyakinan; dan depresi membuyarkan keyakinan optimis.

26# Bias Publikasi. Editor buku, jurnal, dan majalah cenderung memilih untuk mempublikasikan hasil kerja yang memberikan hasil positif dan tidak memasukkan yang negatif. Dimensi lain dari bias ini adalah pembaca pun cenderung secara otomatis menyimpulkan bahwa semua hal yang dipublikasikan adalah benar.

27# Bias Titik Buta. Kebanyakan orang tidak mengetahui berapa bias kognitif yang mereka miliki, atau seberapa sering mereka terjebak dalam bias-bias ini. Pada tingkatan tertentu, kita semua memanipulasi orang lain agar mereka mengikuti apa yang kita percayai: guru terhadap siswa, orangtua terhadap anak, peneliti terhadap rekannya, dan seorang pencinta terhadap kekasihnya. Sayangnya, kita sering melakukan hal ini tanpa memikirkan keinginan dan kebutuhan orang lain.

Diambil dengan penyesuaian dari: Newberg & Waldman (2013, h. 386-391)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s